“Saraaaa!!! Cepet udah telat nih” teriak Clara dari luar kos.
“iya, iya bentar” jawab Sara.
Sara dan Clara adalah dua murid SMA kelas 3 yang cukup berprestasi mereka pun masuk melalui jalur prestasi. Mereka mulai menjadi sabahat sejak mereka kos di rumah bu Nina. Clara yang ingin mencoba mandiri dengan memilih kos ketimbang tinggal dengan keluarga dari ayahnya karena kebetulan orang tua Clara sering berpindah kota karena pekerjaan ayahnya. Sara sendiri memilih untuk tidak merepotkan neneknya yang sudah berumur, Sara sejak kecil sudah yatim piatu, kedua orang tuannya meninggal karena kecelakan.
Meskipun mereka jauh dari keluarga masing-masing tapi mereka saling menjaga, di tambah bu Nina yang memperlakuan mereka layaknya anak sendiri.
“Pada berangkat sekolah nak?” tanya bu Nina
“iya bu” jawab Sara dan Clara
“Hati-hati di jalan, inget sarapan jangan kelewat ya nak, belajar yang rajin juga jangan lupa” seru bu Nina
“siap bu” Jawab serentak Clara dan Sara sambil melemparkan senyum kepada bu Nina.
Mereka bedua pun melanjutkan perjalanan mereka kesekolah, kebetulan sekolah mereka tidak begitu jauh kalau jalan hanya butuh 30 menitan dari kos mereka. Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan sama sekali terlebih lagi mereka sudah kesiangan.
Sesampainnya mereka disekolah mereka bergegas ke kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran pertama untung saja saat itu guru yang mengajar belum masuk.
Mereka mengikuti Pelajaran dengan begitu fokus, mereka berdua anak yang cerdas, keduanya selalu mendapatkan juara kelas setiap tahunnya. Terkadang waktu istirahat pun mereka gunakan untuk sekedar membaca buku di perpustakaan.
4 jam kemudian
Jam istirahat sudah tiba, Clara memutuskan untuk ke kelas Sara. Mereka memang susah dekat dengan teman yang lainnya mereka terkadang telihat tidak berbaur dengan murid yang lainnya. Teman mereka pun dapat di hitung jari.
“Sar?” sapa Clara “ayo”
“iya sebentar” jawab Sara
Sara dan Clara memutuskan untuk menghabiskan waktu istirahat di kanti yang sebenarnya jarang mereka lakukan.
“Sar mau makan apa?” Tawar Clara
“Mie ayam” jawabnya singkat
“oke” Clara pun memesan dua mangkuk mie ayam untuk mereka, disana mereka memilih kursi paling pojok dan agak sepi. Sambil menikmati makanan mereka mengobrol kecil meski jawaban Sara tidak seperti biasanya. Hari ini Sara sedikit lebih pendiam, entah apa yang ada di dalam pikirnnya. Clara yang merasa aneh dengan tingkah temannya ini akhirnya bertanya dan firasatnya bilang ini tenang mimpi yang Sara alami tadi malam.
“Sar, kamu gak apa-apa?” tanyanya sedikit khawatir
“hmm, enggak kok, gak kenapa-kenapa” sanggah Sara
“gak apa-apa cerita aja aku pasti aku dengerin”
“enggak kok aku baik-baik aja”
“bohong ya, pasti mimpi semalem ya?” tebak Clara
Sara hanya membalas dengan senyum kecil seakan enggan untuk menceritakan mimpinya kepada Clara. Sebenarnya mimpi itu tidak begitu menakutkan hanya saja sejak mimpi itu Sara memiliki perasaan tidak nyaman yang tidak dapat dijelaskan. Dia merasakan perasaan was was yang muncul begitu saja.
Hati kecil Sara bergejolak di satu sisi dia tidak ingin menceritakannya, di satu sisi dia tidak ingin membuat temannya ini khawatir.
Sara mehela nafasnya sebelum bercerita kepada temannya.
“Jadi semalam tuh aku mimpi kita pergi liburan bareng Doni dan Reno juga” cerita Sara “kita itu pergi kaya ke pedesaaan gitu” lanjut Sara
“Dalam rangka apa kita liburan?” ucap Clara sambil sedikit bercanda agar Sara tidak begitu tegang.
Sara sangat ingin memelototi temannya ini yang suka bercanda di saat yang kurang tepat.
“ha ha maaf, muka mu lucu soalnya tegang gitu” candanya
“lanjut jangan nih?” tanya Sara sambil sedikit sebal.
“lanjut dong”
“iya pokoknya kita tuh pergi ke suatu tempat deh nah tapi tiba-tiba kalian tuh ngilang” ungkap Sara
“ngilang?”
“iya tiba-tiba ngilang gitu aja gue sendirian di tempat itu, jalannya juga udah rusak banget aku panggil-panggil juga gak ada yang nyaut” Sara terdiam sebentar “bentar kok aku jadi degdegan gini ya” perasaan was-was itu muncul kembali.
“gak ada apa-apa kok jangan nakutin deh, lanjutin aja deh”
“iya udah, karena gak ada jawaban ya aku coba cari dulu, cuman makin lama tempat itu makin kaya hutan gt” ungkap Sara “Jalannya makin rusak udah kaya tanah, pohon makin gede-gede”
Sara menceritakan mimpi yang dialami dengan begitu detail, Clara mendengarkan dengan seksama sampai mereka lupa waktu. Bel pun terdengar kembali menandakan waktu istirahat sudah selesai.
“udah bel lagi, yu ke kelas lagi” ajak Sara
“ok nanti lanjut lagi ya”
“iya”
Sara dan Clara ke kelas mereka masing-masing kebetulan kelas Sara melewati tangga menuju ke lantai 2, sekelibat dia melihat ada yang lewat. Disana dia merasakan perasaan tidak nyaman lagi “firasat aneh apa ini” pikirnya
Firasat aneh itu membuat Sara menoleh ke arah tangga itu, diatas sana dia melihat seekor kucing berwarna hitam seakan menatap kearahnya. Rasa takut membuatnya seakan tidak bisa bergerak. Sara berusaha keras untuk segera Kembali ke kelasnya lagi dengan ketakutan.
“Sar kenapa kok kaya ketakutan gitu?” seseorang bertanya kepadanya, suara seorang lelaki yang dia kenal yaitu Reno.
“enggak ada apa-apa kok” sanggahnya mencoba menghilangkan rasa takut yang menyelimutinya.
Pertanda apa ini pikir Sara kemarin malam dia bertmimpi bertemu sosok menakutkan dan kucing hitam, sekarang dia melihat kuncing hitam yang mirip dengan mimpinya, meski Sara mencoba berpikir positif bahwa kucing hitam di dunia ini gak cuman satu bisa saja mirip.
Jam sekolah pun selesai Sara menunggu Clara yang masih sibuk piket kelas terlebih dahulu. Lagi-lagi dia melihat kucing hitam itu tepat di seberang gedung dimana dia berada sekarang. Lagi-lagi dia mencoba membuang pikiran aneh yang ada di kepalanya. “enggak kucing itu banyak bukan cuman satu, ini mirip aja kayanya” pikir Sara.
Setelah Clara menyelesaikan piket mereka pun bergegas pulang, waktu pun semakin sore matahari mulai terbenam dan lampu-lampu jalan sudah hampir dinyalakan. Suasana disana tidak begitu sepi masih banyak orang yang berlalulalang.
Sesampainnya di kosan mereka segera bersih-bersih dan mengerjakan tugas sekolah bersama-sama. Malam ini entah kenapa Sara merasa tidak tenang, Dia pun memutuskan untuk sesegera mungkin menyelesaikan tugasnya dan lekas tidur.
“Clar aku tidur duluan ya?” Ungkap Sara
“Lah, tumben baru juga jam 8”
“iya nih udah ngantuk”
Sara pun beranjak tidur, suasana malam semakin sepi sedangkan Clara masih sibuk dengan tugas sekolah dan persiapan ujian yang sebentar lagi akan di mulai.
Sara mulai memimpikan lagi mimpi yang sebelumnya, namun sekarang dalam mimpi itu bukan hanya ada dia. Clara pun ada dalam mimpi itu. Dalam mimpi itu dia tetap di kejar sesok makhluk besar. Dia dan Clara terus berlari dari kejaran sosok itu, namun sosok itu begitu cepat dan dengan mudah dapat mendahului mereka. Mereka berusaha menghindari sosok itu namun apa daya kecepatan mereka tidak sebanding.
Clara yang sudah mulai kelelahan akhirnya berhasil tertangkap, Sara yang melihatnya temannya di seret makhluk itu hanya bisa berteriak dan berusaha membuat perhatian makhluk itu kepadanya.
“woi, lepasin teman aku” teriaknya sambil melempar kerikil ke arah makhluk itu, namun sepertinya makhluk itu tidak tertarik sama sekali dan terus menyeret Clara.
Sara tidak mau menyerah dia terus mencoba mengambil perhatian makhluk itu, hingga akhirnya makhluk itu tertarik dan mengejar dia Kembali. Sambil terus berlari sesekali dia menoleh ke belakang dia melihat temannya yang terbaring di tanah tak bergerak. Dalam hati dia berharap agar temannya cepat bangun dan bersembunyi namun tidak ada pergerakan sama sekali.
Makhluk itu seakan tidak tertarik kepada Sara dia memilih untuk kembali ke arah Clara dan menyeretnya kembali.
“Clar bangun cepet lari” teriak Sara dari kejauhan, tidak ada tanggapan sama sekali Clara hanya bisa melihat ke arah Sara tak berdaya.
“Clara!!!” teriaknya lemas “Tolong, siapapun tolong temen aku” air matanya mulai bergulir bercampur rasa takut.
“Sar!” sebuah suara memanggilnya
“Sar bangun woi” dia merasakan ada yang menggoyangkan bahunnya “Sara ayo bangun”
Sara terbangun dari tidurnya, lagi-lagi dia bermimpi seakan kelanjutan dari mimpi sebelumnya. Mimpi itu begitu nyata baginya. Dia termenung sejenak dan ari mata pun jatuh.
“Sar kenapa malah nangis udah malem jangan bikin parno ah” ungkap Clara “kamu mimpi lagi sampai teriak-teriak gitu”
Tidak ada jawaban sama sekali dari Sara, Clara memberinya minum sambil mencoba menenangkan Sara yang seperti ketakutan. Malam masih begitu panjang Sara merasa takut untuk tidur kembali. Sisa malam itu Sara beberapa kali terbangun dalam tidurnya karena takut jika mimpi itu hadir kembali.
Clara pun yang tidur di sampingnnya menjadi tidak karuan, sesekali Clara melihat kondisi temannya yang terlihat sedikit murung.
“kamu bener gak apa-apa?” tanya Clara penu kekhawatiran
“gak apa-apa kok, cuman kaget aja”
“tidur lagi nanti malah jadi sakit lagi”
“iya sebentar lagi”
Malam semakin larut Clara pun sudah tidur nyenyak, Sara mencoba untuk tidur kembali juga, meski dia ketakutan dia tetap harus memikirkan hari esok pikirnya. Sebelum dia akan tidur, tiba-tiba dia mendengar suara kucing di luar kosan. Deg… apalagi ini pikirnya. Sara memberanikan diri untuk melihat kea rah luar sana.
Dia membuka gordeng kamarnya perlahan, mengintik dari jendela, disana dia melihat seekor kucing dengan warna yang sama dan warna mata yang sama melihat ke arahnya dari sebrang kamar.
“kucing yang sama lagi” ucapnya dalam hati “apa dia ngikuti, kok aneh sih” detik itu Sara sudah tidak dapat berpikir positif lagi. Dia tak bisa menggap hanya kebetulan lagi, jika pun benar kebetulan tapi ini sudah terlalu aneh.
Entah pertanda apa, terus di datangin kucing hitam yang sama berkali-kali, mimpi yang seakan berkelanjutan di tambah dengan perasaan aneh yang terus mucul yang entah membuatnya merasa was-was terus-terusan. Sebenarnya pertanda apa semua ini?
Sara terus bertanya-tanya sebenarnya pertanda apa ini, apakah akan terjadi hal buruk kepada dia? Atau ada hal lain yang menantinnya?