"Ayahku selalu sibuk, pak. Dia tak pernah ada di rumah."
"Tapi, untukmu sendiri, apa ketidakhadiran ayahmu memberi pengaruh negatif bagimu?"
"Negatif mungkin iya, pak, tapi tidak semua, kok," ucapku sambil tersenyum. "Kurasa aku jadi lebih mandiri dan dewasa dibandingkan anak seumurku. Aku hanya bisa memaklumi kesibukkannya karena itulah satu-satunya hal yang dapat kulakukan saat ini untuk membantunya."
"Lalu siapa yang menemanimu di rumah? Ibumu?" tanya guruku lagi.
"Ibu... dia meninggal ketika melahirkanku."
"Oh, bapak minta maaf."
Klasik.
Ucapan semua orang yang usai menanyakan ibuku selalu sama. Mereka selalu ikut-ikutan merasa bersedih atau meminta maaf. Padahal mereka tidak bersalah dan aku sendiri pun tak pernah bersedih mengenai ibu. Toh, aku juga tidak mengenalnya. Hal yang kuketahui tentang ibu hanyalah wajahnya yang terpampang di sebuah foto pernikahan ayah.
Di sepanjang perjalanan menuju kelas, aku memikirkan kehidupan ayah. Sudah 12 tahun semenjak ibu meninggal, tapi ayah tidak pernah berniat untuk mencari istri yang baru. Entah karena ayah sangat setia kepada ibu atau terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Kira-kira, apa yang bakal ibu katakan kalau dia hidup kembali, ya?
Kembali ke kelas, aku segera duduk di bangkuku. Pelajaran telah dimulai sedari tadi, tapi hanya anak-anak di baris pertama yang mendengarkan dengan seksama. Kebanyakan dari teman di kelasku hanya bercanda dengan satu sama lain. Bahkan, anak-anak di baris belakang sibuk untuk melanjutkan mimpinya.
"Lebih dari seribu tahun yang lalu, Nestrein adalah daratan tak bernama yang dipenuhi oleh pertumpahan darah. Dua kerajaan besar, Azeroth dan Nestrein, memperebutkan kekuasaan atas daratan ini. Tentunya Nestrein keluar sebagai pemenangnya dan kedamaian terus bertahan hingga sekarang. Sejarah mencatat bahwa 4 naga penguasa ikut membantu Nestrein meraih kemenangan melawan Azeroth yang dibantu oleh seorang penyihir. Akan tetapi, hingga kini, baru 3 fosil naga saja yang ditemukan. Fosil Andh'kaar yang disebut-sebut sebagai pemimpin para naga hingga kini belum ditemukan," jelas guru sejarahku.
Aku mengangkat tanganku. "Kenapa naga penguasa membantu Nestrein, pak? Bukankah mereka tidak peduli terhadap manusia?"
"That's a good question," puji guruku. "Hingga saat ini, tak ada jawaban pasti untuk menjawab pertanyaan tersebut. Banyak teori-teori yang bermunculan, tapi semuanya dapat dipatahkan dengan mudah. Seandainya fosil Andh'kaar berhasil ditemukan, mungkin saja alasan para naga membantu Nestrein akan terungkap—"
Tiba-tiba teriakan yang akan selalu kuingat itu pun terdengar, memutus ajaran dari guru sejarah. Teriakan seorang perempuan yang menggema di langit. Dari balik jendela kelas, aku melihatnya. Sebuah retakan yang terjadi di langit akibat teriakan yang begitu memekakkan telinga. Cahaya dari retakan itu menyebar melewati celah-celah awan, menyinari daratan Nestrein. Butiran-butiran salju hitam mulai berjatuh dari retakan itu.
Bel sekolah berbunyi disertai dengan pengumuman dari kepala sekolah. Beliau membatalkan segala kegiatan ajar-mengajar dan menyuruh kami untuk segera pulang. Tentunya, kami yang masih kecil merasa senang karena diliburkan. Tak seperti anak-anak lain yang menunggu kedatangan orang tua mereka, aku memakai masker dan jaketku lalu segera berlari ke rumah. Ayahku adalah orang yang sibuk dan tidak mungkin datang untuk menjemputku. Bahkan, tak jarang dia hanya pulang sekali dalam sebulan.
Di sepanjang jalan, mobil polisi dan ambulans melewatiku silih berganti. Orang banyak tampak berkumpul diluar sebuah taman yang ditutup oleh garis polisi. Aku mencoba mengintip dan melihat butiran-butiran yang jatuh tadi. Warnanya hitam keabu-abuan. Beberapa orang yang berada di taman tampak terbatuk-batuk akibat butiran salju yang berjatuhan.
Seminggu berlalu setelah peristiwa itu. Sekolah kembali diadakan dan aktivitasku berjalan seperti biasa. Akan tetapi, satu hal yang berubah adalah bercak hitam yang muncul di lengan beberapa temanku. Mereka berkata jika bercak hitam itu adalah bagian yang sempat tersentuh oleh salju yang turun. Saat aku kembali ke rumah, berita menyebutkan jika bercak hitam itu juga ada pada beberapa orang di daratan Nestrein, tempatku tinggal. Sejauh ini, mereka yang mendapatkan bercak hitam itu masih beraktivitas normal, seolah menganggap jika bercak itu hanyalah semacam penyakit kulit.
Pemerintah menyebutkan bahwa salju hitam itu merupakan tanda pencemaran lingkungan yang semakin memburuk. Banyak yang mendukung opini dari pemerintah tersebut hanya untuk menenangkan diri mereka. Kenyataannya, mereka tahu bahwa kejadian ini merupakan bencana yang bahkan tak dapat dijelaskan oleh para ahli. Tak seorang pun dari mereka mampu menjelaskan secara pasti asal teriakan yang menyebabkan keretakan pada langit yang menjadi awal jatuhnya salju hitam itu.
Beberapa hari berlalu, hari itu pun tiba. Hari di mana aku tertular penyakit ini. Seorang pemuda dengan bercak hitam di sekujur tubuhnya terjatuh di depan rumahku. Aku yang melihatnya segera berlari untuk menolongnya. Begitu pula dengan tetanggaku. Kami membopongnya masuk ke salah satu rumah. Sayangnya, baru saja masuk, orang itu terbatuk berulang kali dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Tanpa masker atau pelindung lainnya, tentu aku tertular pada saat itu. Namun, aku belum sadar karena belum ada gejala yang tampak.
Satu hal yang aneh adalah dia yang meninggal, tak lagi menyisakan apapun. Jasad mereka berubah menjadi salju hitam yang bercampur dengan tanah ketika ditiup angin.
Berita ini tersebar dengan cepat sebagai kematian pertama penyakit yang diberi nama Black Mark tersebut. Penyakit ini menggerogoti tubuh korbannya secara perlahan. Korban yang mendapat bercak hitam akan mengalami batuk berkepanjangan. Setiap kali korban batuk, mereka menyemburkan salju-salju hitam berukuran mikro yang tak dapat dilihat kasat mata. Inilah mengapa Black Mark dapat menyebar di seluruh Nestrein hanya dalam hitungan minggu walaupun jasad korban telah tak ada.
Beberapa hari berselang semenjak aku menolong seseorang, aku mulai mengalami batuk berkepanjangan. Saat ini, aku sadar kalau penyakit ini telah menggerogotiku. Aku hanya bisa pasrah dan berharap agar ayah berada di sampingku untuk saat ini. Dering telepon terus berbunyi ketika aku menekan nomor telepon ayah dan tak menunggu waktu lama, ayah mengangkat panggilanku.
"Halo, Carla," ucapnya dari seberang telepon.
"Halo, ayah. Apa ayah ada rencana pulang akhir pekan ini?"
"Pekerjaan ayah masih menumpuk. Kalau sudah selesai, nanti ayah akan pulang."
"Baik, yah."
"Fokus sekolah, ya. Oh iya, jangan lupa untuk memakai masker. Ayah dengar ada korban meninggal di dekat rumah."
Percakapan yang singkat itu memupus rencanaku untuk memberitahu ayah. Aku tak ingin membebani ayah, aku tak mau ayah khawatir dan membuatnya sedih. Permasalahanku dan penyakitku pun kupendam dalam-dalam.
Sayangnya, cepat atau lambat, semua rahasia akan terbongkar. Aku yang memaksakan untuk bersekolah diusir oleh petugas keamanan sekolah karena mereka takut jika aku menularkan Black Mark kepada murid-murid. Pihak sekolah pun menelpon ayah dan penyakitku pun diketahuinya. Sambil mengelus rambutku, dia mengajakku masuk ke dalam sedannya dan mengantarku kembali ke rumah. Seingatku, itu adalah kali pertama ayah mengantarku pulang ke rumah.
Setidaknya, berkat kejadian ini, ayah kini bekerja di rumah. Aku pun dapat menghabiskan waktu bersama ayah jauh lebih banyak dari pada biasanya. Beberapa hari semenjak ayah bekerja di rumah, kondisiku memburuk dan aku harus berbaring di tempat tidur sambil terbatuk terus menerus. Gejala Black Mark pun menampakkan dirinya. Kamarku ditutupi oleh plastik tipis yang memisahkanku dari sentuhan ayah sehingga butiran-butiran salju hitam yang kukeluarkan tak mengenai ayah. Entah berapa lama lagi aku dapat bertahan.
Ingatan terakhirku adalah senyuman ayah yang begitu datar disertai hawa dingin dan rasa kantuk yang begitu tak tertahankan.
Aku pun terlelap.