Di tengah salju hitam dan cuaca yang dingin, Gral tanpa sengaja bertemu dengan Gedson. Raut wajahnya yang tadinya ceria berubah menjadi datar ketika menyadari bahwa tak ada Noa yang men. Anggota pasukan penjelajah itu tampak tak senang melihat Gral yang berjalan menuju Shanaz sendirian tanpa rekan dari Gral.
"Aku membuat sebuah kesalahan dan Noa akhirnya menyuruhku untuk kembali," ucap gral mencoba untuk menjelaskan.
"Lalu kau meninggalkannya sendirian dan tak berada di dekatnya, mencoba untuk membayar kesalahanmu?"
"Apa yang bisa kuperbuat? Kalau aku memaksakan diri berada di dekat Noa, aku hanya akan menghambatnya," ucap Gral mencoba membela dirinya.
"Aku tak peduli dengan alasanmu," ujar Gedson sambil bergegas untuk membantu Noa.
"Hey, Elisa. Apa kau bisa mendengarku?" tanya Gral.
"Yup, semua terdengar jelas."
"Ada apa dengan pemuda bernaman Gedson itu? Apa dia suka dengan Noa?"
"Suka?" Elisa pun tertawa terbahak-bahak.
"Maksudku, tingkahnya sangat aneh. Dia seperti sangat peduli dengan perempuan bermulut kasar itu. Lalu kenapa pula dia bisa mengubah tujuannya begitu saja ke arah Noa?"
"Aku bisa menjelaskannya, tapi aku bingung harus memulai dari mana," ucap Elisa. "Singkatnya, Gedson dan Noa adalah 2 anggota CAST terbaik saat ini. Mereka selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik dari tahun ke tahun. Untuk saat ini, Gedson dicap sebagai yang terbaik, mengalahkan Noa."
"Bagaimana bisa? Bukankah Noa luar biasa kuat?"
"Itu benar. Namun, kekuatan Gedson juga tidak bisa dianggap remeh. Dia adalah satu-satunya anggota CAST yang memiliki kekuatan untuk menyerap segala hal yang berhubungan dengan shadow, termasuk kekuatan Black Mark itu sendiri."
"Maksudmu, dia bahkan mampu menyerap kekuatan Black Mark para pasukan penjelajah jika dia mau?" tanya Gral untuk kesekian kalinya.
"Yah, tapi tentunya dia tak bisa menggunakan kekuatannya sesuka hati. Untuk Gedson sendiri, setahuku, kekuatannya membuatnya tak mampu untuk menggunakan panca inderanya. Semakin sering dia menggunakan kekuatannya, semakin lemah juga panca inderanya."
"Lalu kenapa dia bisa begitu peduli dengan Noa? Bukankah mereka bersaing?"
"Dia sangat suka bersaing. Baginya, persaingan dengan Noa dapat membantu CAST untuk menjadi lebih baik lagi. Lalu karena Gedson merupakan anggota CAST yang terkuat, dia diberikan keluasaan untuk menjalankan misinya."
"Ah, karena itu dia dapat pergi begitu saja menuju Noa walaupun tengah menjalankan misi?"
"Betul. Selama misi yang dijalankannya berhasil, dia dapat berbuat yang dia mau selama proses menyelesaikan misi. Sekarang ayo fokus kembali untuk pulang."
***
Sementara itu, Noa tengah berjalan menuju Kota Alto sambil mebopong anak yang ia temui di Kota Trixia. Alasan mengapa Noa menuju Kota Alto adalah karena kota ini memiliki banyak sumber makanan dan harus dipertahankan bagaimana pun juga. Akan masuk akal jika orang-orang melarikan diri ke Alto daripada Elcrima.
Beberapa saat kemudian, Noa merasakan adanya gerakan pada punggungnya. Rupanya, anak yang dibawanya telah tersadar.
"Bagaimana? Apa kau bisa ingat namamu?"
"Drian, anu... kalau kakak?"
"Noa. Maaf untuk menanyakan hal ini, tapi apakah kau tahu orang-orang yang berada di Panti Asuhan Vixen?" tanya Noa.
"Aku kurang tahu karena saat aku pergi untuk bersembunyi di sana, banyak orang-orang yang ikut bersembunyi juga. Tapi kalau tidak salah, aku tidak melihat Pak Tua Jenkins yang biasa menjaga panti asuhan itu."
"Terima kasih atas informasinya, Drian."
Dari informasi yang diberikan oleh Drian, Noa dapat menyimpulkan bahwa pemilik panti asuhan dan anak-anak yang ada di sana telah terlebih dahulu mengungsi, entah menuju Alto atau pun Elcrima. Hal itu dapat dia simpulkan karena dia tak melihat adanya jasad anak-anak yang bergelimpangan di dalam panti asuhan.
"Kalau boleh tahu, orang tuaku ada di mana, ya? tanya anak yang tengah dibopong oleh Noa.
Perempuan yang ditanyai oleh Drian itu pun memutar otaknya. Meskipun terkadang mulutnya bertindak semaunya, dia tentunya harus menjawab pertanyaan yang dilontarkan anak itu tanpa menyakiti hatinya. Hal ini rupanya lebih sulit daripada membunuh sebuah shadow bagi Noa.
"Err... Entahlah. Apa kau ingat di mana terakhir kali kau bertemu dengan orang tuamu?" tanya Noa berusaha untuk mengulur-ulur waktu sambil mencari jawaban yang tepat.
"Orang tuaku meninggalkanku sendirian di kamar mandi dan membawa adikku untuk bersembunyi di kamar tidur," jawab Drian. "Lalu ada suara teriakan dan itu adalah hal terakhir yang kuingat."
"Mungkin saja orang tuamu bersembunyi dan keluar saat shadow-shadow itu telah lewat? Kita pasti bisa menemukan mereka jika pergi ke Alto," ucap Noa. Sayangnya, Noa tahu di mana kedua orang tua Drian. Mereka telah meninggal di atas tempat tidur sambil mendekap adik dari Drian yang juga telah meninggal.
Beberapa jam kemudian, langit perlahan-lahan mulai menggelap meskipun matahari dan bulan tidak terlihat akibat tebalnya salju hitam yang terus mengguyur Nestrein. Noa pun mencari tempat persinggahan yang aman untuk dirinya dan Drian.
"Malam ini mungkin akan sedikit dingin, tapi kuharap kau bisa melaluinya," kata Noa sambil membalutkan jubah bulunya menutupi tubuh kecil Drian. Anak itu pun hanya mengangguk lalu berusaha untuk tidur. Sementara itu, Noa terus menggosok-gosokkan kedua tangannya lalu memeluk Drian untuk menjaga kehangatan tubuh mereka berdua.
Baru beberapa menit Drian terlelap, Noa merasakan adanya shadow yang tengah berjalan di sekitar mereka. Shadow-shadow itu pun juga merasakan kehadiran Noa dan Drian. Sambil mengelap ingusnya yang mengalir keluar, Noa berjalan gemetaran untuk menghadapi shadow-shadow itu. Pakaian latex yang ia kenakan sama sekali tak dapat membantunya menghalau dinginnya suhu Nestrein di malam hari.
Dia berusaha untuk terus bergerak ketika melawan shadow-shadow yang kini makin banyak berkumpul. Akan tetapi, hangat yang dihasilkan dari gerakan-gerakan yang ia lakukan belum cukup untuk menghangatkan dirinya. Noa menggigil hebat ketika berhadapan dengan shadow sehingga kecepatannya pun melambat. Dirinya tak dapat bergerak secepat yang ia harapkan dan berbagai luka pun ia dapatkan hany untuk mengalahkan sebuah shadow.
"Ayo maju lagi!" teriak Noa yang kembali pulih usai memakan segumpalan salju hitam.
Tentunya salju hitam yang telah dimakan oleh Noa mampu memulihkan dirinya dengan cepat, sehingga luka yang ia alami seolah-olah tak pernah terjadi. Selain itu, santapannya itu juga menambah kekuatan Black Mark yang dimilikinya. Akan tetapi, dinginnya suhu tetap mempengaruhinya, membuat stamina Noa semakin cepat terkuras. Sayangnya, perempuan itu tak punya banyak pilihan. Jika dirinya kalah, bukan hanya dirinya yang akan tewas, tetapi juga Drian dan bahkan penduduk Alto dan Elcrima.
Sebuah shadow berserker mengendap-endap dari belakang Noa. Dia pun berhasil menusuk perut perempuan itu usai Noa terlambat untuk bereaksi. Dia pun membanting Noa ke salju hitam berulang kali. Merasa tak ada respon, dia pun menghentikan bantingannya. Akan tetapi, ketika dia menghentikan bantingannya, di saat itu juga, Noa melancarkan serangan baliknya.
Dia memegang lengan dari shadow berserker yang telah menusuknya dan mematahkannya hingga shadow itu menjerit begitu kencang, Bertumpu pada lengan itu juga, dia melompat dan meninju wajah dari shadow itu hingga terjatuh. Noa pun memukul shadow itu bertubi-tubi hingga akhirnya shadow itu pun berubah menjadi butiran salju hitam.
"Lawan berikutnya silakan maju," ucapnya sambil mengayunkan telunjuknya yang bergetar hebat akibat kedinginan kepada kumpulan shadow yang semakin banyak mengelilingi dirinya dan Drian.