Dilingkupi oleh kubah kaca yang melindungi seluruh penduduk dari shadow dan salju hitam yang berjatuhan, Kota Shanaz merupakan tempat yang paling damai di daratan Nestrein yang hancur. Seorang perempuan yang membawa sebuah palu logam yang besar terlihat berlari tergesa-gesa keluar dari gedung CAST menuju gerbang Shanaz. Banyak orang ditabraknya, namun ia sama sekali tak peduli. Hanya ada satu tujuan di pikirannya, yaitu menyelamatkan temannya.
"Berhenti! Kondisi di balik gerbang berbahaya!" teriak salah seorang pasukan pertahanan CAST.
"Aku anggota pasukan penjelajah, Elisa Gayle! Cepat bukakan gerbang!" katanya sambil memberikan kartu identitasnya.
"Maaf nona, tapi situasi saat ini sedang buruk. Kami harus menjamin agar shadow itu tidak melewati gerbang—"
"Makanya biarkan aku keluar dan menangani masalah ini!" potong Elisa. Dia mencengkram kerah pemuda di depannya dan membantingnya. Dia pun menggenggam erat palu besar yang dibawanya itu, siap untuk mendobrak gerbang raksasa yang menghalanginya. Hanya saja, sebuah tangan menyentuh pergelangannya dan menahan aksinya itu. Elisa menolehkan pandangannya dan melihat seorang remaja menyuruhnya untuk bersikap lebih tenang.
"Buka gerbangnya sekarang juga," ucap remaja itu.
"Ta-tapi—"
"Kami ditugaskan oleh ketua untuk menghabisi shadow abnormal itu. Buka atau kau kukeluarkan dari pasukan." Remaja itu mengancam pasukan pertahanan sehingga mereka tak memiliki pilihan lain selain membuka gerbang itu.
Pasukan pertahanan dan pasukan penjelajah adalah dua pasukan yang berada langsung di bawah arahan CAST. Meskipun begitu, sudah menjadi rahasia umum jika kedua pasukan ini selalu bergerak secara terpisah. Hal itu dikarenakan tanggung jawab berbeda yang dibebankan kepada mereka. Pasukan pertahanan diharapkan mampu menjaga keamanan di dalam daerah kekuasaan CAST. Mereka difokuskan untuk menghalau shadow agar tak memasuki kota dan juga melenyapkan segala tindak kriminalitas yang terjadi di dalam kota. Sementara itu, pasukan penjelajah mengurus segala hal yang berada di luar kota, seperti menjalankan misi dan lainnya. Mereka dilatih khusus untuk menghadapi shadow.
Sejak shadow meneror kehidupan manusia, sedikit sekali adanya serangan shadow di dalam kota. Hal ini membuat pasukan pertahanan kurang memiliki pengalaman ketika berhadapan dengan shadow. Pandangan publik terhadap pasukan pertahanan pun juga menurun karena mereka menganggap pasukan penjelajah lebih hebat dari pasukan pertahanan. Tak jarang orang-orang membandingkan kedua pasukan ini secara langsung sehingga menimbulkan persaingan tak sehat di antara kedua pemegang kekuatan terbesar dalam CAST ini.
Gerbang raksasa yang memisahkan Shanaz dengan dunia luar pun perlahan terbuka. Elisa segera berlari, diikuti oleh remaja yang membukakan gerbang untuknya. "Kenapa kau mau membantuku? Pasti ada hal yang kau inginkan," ucap Elisa sambil sesekali melirik ke arah lawan bicaranya itu.
"Hey, aku begini karena aku adalah temanmu."
"Bagus lah kalau kau tulus membantuku."
"Sebenarnya, ada satu hal yang ingin kuminta, sih," ucap Marco. "Kau tahu ledakan yang terjadi di dalam Gua Blackstone baru-baru ini?" Elisa mengangguk. "Aku mendapat tugas untuk menyelidiki masalah itu. Kalau kau ada waktu, 3 hari lagi kita bisa bertemu di mulut Gua Blackstone. Nanti akan kujelaskan lebih detil lagi."
"Well, aku mau membantumu, tapi Noa pasti tidak suka melihatku bertemu denganmu," ucap Elisa sambil terus berlari.
"Aku tahu," keluh Marco. Dia menghela nafas dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Suatu hari nanti, aku ingin membuktikan bahwa Noa salah menilai ayahku."
"Itu mustahil," ucap Elisa sambil terus berlari. " Harusnya kau yang paling tahu, kan, Marco? Ayahmu membunuh—"
Marco perlahan-lahan berhenti berlari. "Ayahku tidak bersalah," katanya sambil menatap Elisa. Pandangannya yang membara seolah meyakinkan Elisa bahwa keyakinannya selama ini tidak salah meskipun fakta yang ada berkata lain.
"Jangan khawatir. Aku selalu percaya kalau Paul tidak bersalah, kok," ucap Elisa sambil mengulurkan tangannya, mengajak Marco untuk kembali bergerak.
***
Di sisi lain, shadow abnormal itu memukul Noa yang tak sadarkan diri bertubi-tubi. Salju yang hitam di tanah, kini berubah menjadi kemerahan. Dia menggigit lengan kiri Noa yang penuh dengan bercak hitam dan menariknya hingga robek bagaikan harimau yang mengoyakkan daging buruannya. Lengan kiri Noa pun putus, menumpahkan lebih banyak lagi darah ke tanah. Begitu terputus, lengan itu pun berubah menjadi butiran salju yang bercampur dengan tanah.
Noa tak lagi bergerak. Wanita itu terkulai lemas, diapit oleh rahang shadow itu. Merasa buruannya telah meninggal, shadow itu melahap Noa bulat-bulat lalu berjalan ke arah Gral yang masih tak sadarkan diri. Dia memegang baju pelindung Gral dan bersiap untuk memangsanya. Akan tetapi, sebuah tangan merobek tubuhnya dari dalam. Shadow abnormal itu mengerang kesakitan dan melepaskan Gral dari genggamannya.
Tangan Noa yang telah diputuskan oleh shadow itu tumbuh kembali. Wajahnya yang penuh luka dan tak berbentuk, kini ditutupi oleh bercak hitam. Daging merah dan kulit pun perlahan menutupi bercak hitam tersebut dan wajahnya pun kembali normal, seolah tak mengalami kerusakan apapun. Melihat hal itu, shadow berserker yang abnormal itu kembali menyerang Noa. Sebuah hantaman kembali menghujam rusuk Noa. Bukannya rusuk Noa makin patah, hal yang berbeda justru terjadi. Shadow itu mengerang kesakitan, seolah tangannya meninju tembok tebal.
Noa membuka kedua matanya, memperlihatkan kedua matanya yang sepenuhnya telah menghitam. Tak ada lagi sklera putih yang membedakan pupil dengan bola matanya. Menyadari jika kondisi telah berbalik, shadow itu pun segera kabur. Akan tetapi, satu tebasan yang dilayangkan oleh tangan kiri Noa membelah tubuh musuhnya itu. Bersamaan dengan itu, salju-salju hitam di tanah mulai terangkat dan membentuk jarum dalam jumlah banyak dan menghujam tubuh shadow itu bertubi-tubi dan seketika itu juga, shadow abnormal itu pun mati, berubah menjadi salju hitam.
Sementara itu, Elisa dan Marco yang baru saja datang tak lagi menemui satupun shadow. Mereka hanya menemukan Gral yang terbaring sendirian, masih tak sadarkan diri. Tak ada Noa, tak ada shadow abnormal itu. Hanya ada bekas pertempuran hebat berupa noda darah yang meresap ke dalam salju, membuat bercak merah di sekitar Gral.
"Noa lepas kendali," ucap Elisa pelan.
"Kau ada rencana untuk menghentikannya?" tanya Marco.
Elisa menggeleng. "Sejujurnya, aku sendiri pun tak tahu apakah aku dapat menghentikannya. Saat ini, dia sendiri sudah lebih berbahaya daripada shadow abnormal sekalipun."
"Sama sekali tidak bisa dihentikan?"
Elisa diam untuk beberapa detik. Otaknya sibuk memikirkan cara untuk membawa Noa kembali dalam kondisi hidup. "Well, saat ini kekuatan Noa sedang mengalami kebocoran. Kita dapat menenangkannya dengan membuatnya menghabiskan kekuatannya," ucap perempuan yang sedang memutar-mutarkan palunya.
"Jadi kita hanya harus bertahan hidup dari Noa, begitu?" tanya Marco memastikan pemikirannya.
"Intinya seperti itu. Ada cara lain, sih. Tapi yang ini lebih gila dari yang pertama," kata Elisa sambil menatap wajah Marco. "Kita bisa melawan Noa secara langsung."
"Kau serius!?" ucap Marco terkejut.
"Yup. Lagipula cara ini lebih efektif. Kita dapat membuatnya lumpuh sesaat dengan menyerang tengkuknya. Selain itu, Noa dapat menghabiskan kekuatannya yang bocor dengan lebih cepat jika melawan kita berdua, bukan?"
"Kalau begitu kita pakai cara kedua," ucap pemuda itu sambil merenggangkan jari-jarinya.
"Kau tidak takut mati?" tanya Elisa.
"Tidak. Setidaknya, tidak di tangan Noa."
Bertepatan dengan itu, baik Elisa serta Marco merasakan sebuah tekanan yang amat berat dari belakang mereka yang membuat seluruh bulu kuduk mereka berdiri. Mereka menoleh dan melihat Noa yang berjalan lunglai, seperti pemabuk ke arah mereka. Matanya yang masih hitam terbuka lebar dan tangan kirinya terangkat ke udara. Bersamaan dengan itu gumpalan salju hitam ikut terangkat dan membentuk dua buah jarum raksasa. Noa mengayunkan tangan kirinya dan kedua jarum itu pun meluncur ke arah Elisa dan Marco.
Dengan palu besarnya, Elisa memukul balik jarum itu, menghancurkannya hingga kembali lagi menjadi kepingan salju hitam. Sementara itu, Marco berguling menghindari jarum tersebut. Keduanya selamat, setidaknya untuk saat ini.
"Sejak kapan Noa bisa melakukan hal yang seperti itu!?" tanya Marco panik.
"Tidak... Noa masih belum bisa. Ini adalah potensi kekuatan Black Mark miliknya yang bocor dan menguasai dirinya."
"Gila," celetuk Marco.
Seolah mendengar, Noa pun segera berlari ke arah dua targetnya dan menyerang mereka. Pertarungan tak lagi dapat dihentikan, kini Elisa dan Marco harus berjuang demi hidup mereka sendiri.