Pasukan pertahanan yang menjaga gerbang Shanaz berharap cemas. Mereka semua tidak menanti kepulangan Elisa dan Marco, tapi hanya berharap jika Noa berhasil dihentikan bagaimana pun caranya. Pasukan pertahanan tak ingin jika Noa yang saat ini tak dapat mengendalikan dirinya mendadak mengubah arahnya untuk menyerang Shanaz. Selain mencoreng nama baik mereka, hal ini juga memperburuk hubungan kedua pasukan di dalam CAST itu sendiri.
Tidak jauh dari gerbang Shanaz, Elisa dan Marco terengah-engah menghadapi Noa. Suhu di daratan Nestrein mungkin saja rendah, namun keringat tetap bercucuran membasahi permukaan kulit mereka dibalik seragam yang mereka gunakan. Sebuah pukulan mengarah ke perut Elisa, namun berhasil ia tahan. Sebuah ayunan palu kembali membuka jarak antara dirinya dengan Noa. Momen itu dimanfaatkan oleh Marco. Dengan kecepatannya, dia segera memasuki celah yang telah dibukakan oleh orang yang disukainya itu dan segera menebas Noa dengan kedua bilah pedangnya.
Teriakan terdengar begitu keras ketika Noa memegangi kedua bola matanya yang luka akibat serangan Marco. Melihat Noa yang sempoyongan dan buta untuk sesaat, Elisa segera menyerang Noa dengan sekuat tenaganya di tengkuknya, membuat wanita itu terjerembab dan tak dapat bergerak.
"Bagaimana? Apa sudah selesai?" tanya Marco.
Elisa datang mendekati Noa yang tidak dapat bergerak sama sekali. Dia membalikkan tubuh temannya itu sehingga kini, kedua wajah mereka saling bertatapan. Elisa membuka kelopak mata Noa dan melihat bahwa bola matanya masih sepenuhnya hitam dan tidak ada tanda-tanda bahwa dirinya akan kembali dalam waktu dekat. "Dia sudah kulumpuhkan. Kita bawa dia dan kembali sekarang," ucap Elisa.
Marco segera menggendong Gral, menaikan pria itu kepunggungnya. Sementara itu, Elisa memegang lengan Noa dan mengalungkannya di lehernya. Akan tetapi, belum sepenuhnya ia mengangkat tubuh Noa, salju hitam datang bertubi-tubi dan menyelimuti seluruh tubuh Noa bagaikan kepompong, seolah-olah melindunginya dari Elisa dan Marco.
"Ini gawat," ucap Elisa sambil mengais-ngais salju hitam yang menyelimuti Noa. Akan tetapi, seberapa keras pun ia berusaha, Noa tak kunjung terlihat.
"A-apa yang terjadi?"
"Kekuatannya jauh lebih besar daripada yang kuduga. Walaupun tubuh Noa tidak dapat digerakkan, tidak kusangka Black Mark di dalam Noa mempunyai kesadaran untuk mengendalikan salju hitam di sekitarnya."
Elisa mengambil palunya dan menghantamkan palu tersebut pada salju hitam yang melindungi Noa. Tentunya, Black Mark yang menguasai tubuh Noa tak tinggal diam. Dengan sisa-sisa kekuatannya, dia kembali membentuk sebuah jarum hitam dan meluncurkannya ke arah Elisa. Darah pun bercucuran dari perut Elisa. Akan tetapi, perempuan itu terus-menerus menghajar gumpalan salju hitam di hadapannya.
"Kembalikan Noa!" teriak Elisa sambil terus memukul.
Lagi dan lagi, jarum-jarum hitam meluncur ke arah Elisa. Ukurannya kali ini lebih kecil, tapi jumlahnya banyak. Elisa menutup matanya, tapi jarum yang ia tunggu untuk menusuk dirinya tak kunjung datang. Ketika ia membuka matanya, Marco berlutut di depannya, dengan kedua tangannya yang terbuka untuk melindungi Elisa. Belasan jarum hitam menancap di punggungnya. Seketika itu juga, darah bercipratan keluar dari mulutnya.
"Apa yang kau lakukan? Hey!" teriak Elisa yang terkejut melihat apa yang dilakukan Marco.
"Kau... baik-baik saja... syukurlah," ucap Marco sebelum akhirnya ambruk.
Isak tangis Elisa pun pecah mendapati salah satu temannya harus bersimbah darah tepat di hadapannya. Dia pun mulai putus asa melihat kondisi yang semakin memburuk. "Tolong... kembalilah, Noa. Tidakkah cukup kau membuat orang-orang yang menyayangimu terluka?" ucapnya sambil meninju pelan gumpalan salju tersebut.
Sedetik kemudian, sebuah retakan kecil muncul dan perlahan semakin membesar dan meluas. Sebuah tangan perlahan keluar dan mulai menarik keluar tubuh yang berada dalam gumpalan salju tersebut. Bersamaan dengan itu, Noa mulai keluar dari gumpalan salju itu perlahan-lahan. Hal itu membuat Elisa yang sudah berlumuran darah dengan sigap mengambil palu besarnya.
"Noa? Apa itu kau?"
Wanita yang dipanggil oleh Elisa itu tak menjawab. Dia hanya terdiam sambil menunduk sambil berjalan gontai ke arah Elisa.
"He-hey, Noa, bisa kau berikan aku sedikit respon?" pintanya sambil perlahan mendekati Noa.
Kini, mereka berdua berhadapan tanpa ada jarak yang memisahkan. Elisa mencoba menyentuh wajah temannya itu, mencoba menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya. Akan tetapi, tangan kiri Noa tiba-tiba memegang lengan Elisa dan menahannya.
"Kau... teman Noa...?"
Seketika itu juga, Elisa terkejut mendengar suara serak yang keluar dari mulut Noa. Dia mencoba menjauh, namun genggaman Noa begitu kuat dan tak dapat dilepaskan.
"Si-siapa kau?" tanya Elisa.
"Entitas yang... biasa kalian sebut.... Black Mark."
Elisa sangat kaget mendengar suara dari Black Mark. Tak pernah ia dengar sebelumnya tentang kekuatan yang dapat berbicara saat dia mengambil alih tubuh dari penggunanya. "Bisakah kau mengembalikan kesadaran Noa kembali? Aku mohon," pinta Elisa. Kakinya bergetar hebat, tangannya berusaha melepaskan diri, namun tak bisa.
"Dia akan... sadar... sebentar lagi. Aku... di sini... hanya untuk... menjaganya," ucap suara serak yang keluar dari mulut Noa itu. "Jangan pernah... membuat anak... ini... lepas kendali... lagi."
Genggaman erat yang sedari tadi terasa pada pergelangan tangan Elisa, perlahan mulai mengendur. Sklera putih mulai menampakan wujudnya kembali pada bola mata Noa. Wanita itu pun akhirnya tersadar setelah sebelumnya berada dalam penguasaan kekuatannya sendiri. Melihat hal itu, Elisa segera memeluk rekannya itu. Rasa bahagia tampak terpancar dari raut wajahnya yang telihat letih.
Noa yang baru saja tersadar masih berusaha memproses apa yang sedang terjadi. Kepalanya terasa begitu sakit dan tubuhnya terasa lemas. Begitu melihat Marco yang terkapar penuh darah, Noa pun langsung memuntahkan isi perutnya. Kenangan buruk yang ia alami muncul kembali dalam ingatannya.
Usai menenangkan dirinya, dia pun bertanya kepada Elisa tentang apa yang terjadi selama kesadarannya diambil alih oleh kekuatannya. Elisa pun menceritakan semuanya, mulai dari ia datang bersama dengan Marco hingga kekuatan Black Mark di dalam Noa berbicara kepadanya.
"Berbicara? Dalam bahasa manusia?" tanya Noa tak percaya.
"Iya. Dia berpesan supaya jangan sampai kau mengalami hal seperti ini lagi."
"Itu... aneh, tapi menarik," ucap Noa. Dia pun melirik ke arah Marco yang terluka parah. "Anak itu kenapa di sini?"
"Marco membantuku supaya dapat mengubah pemikiranmu untuk tidak membunuh ayahnya," jawab Elisa.
"Masih mencoba untuk mengubah pemikiranku?" tanya Noa. "Kurasa dia tidak tahu bagaimana rasanya melihat orang tuanya dibunuh tepat di depan matanya sendiri, huh?"
"Dia juga memintaku untuk menjalankan misi bersamanya di Gua Blackstone, sih," ucap Elisa sambil mengoyangkan salah satu kakinya.
Noa menghela nafasnya sambil menatap langit lalu mengarahkan pandangannya ke arah Marco dan menyeret tubuhnya kembali ke Shanaz. "Aku benci sekali dengan ayahnya. Tapi, bocah ini melindungimu, kan?" Elisa mengangguk. "Nanti akan kubicarakan lagi ketika dia siuman."
Noa berdiri dan merenggangkan badannya yang terasa sakit. Bekas luka akibat pertarungan perlahan-lahan menutup, tapi lelah secara mental tidaklah semudah itu disembuhkan. Tak menunggu lama, mereka pun tiba tepat di depan gerbang Shanaz. Noa berhenti sejenak sebelum melangkah masuk ke Shanaz. "Kau jadi menjalankan misi dengannya?" tanya Noa kepada Elisa.
"Aku... aku tidak tahu. Kalau kau tidak suka, aku dapat menolaknya," jawabnya dengan penuh keraguan.
"Kau bercanda, kan? Hey, aku, kan, bukan ibumu. Bukan berarti segala kehidupanmu harus kuatur."
"Tapi... kau tahu, kan, aku merasa tidak enak denganmu. Kita biasanya selalu menjalankan misi bersama. Akan terasa aneh juga bagiku untuk langsung terjun ke lapangan dan mungkin bertarung melawan musuh."
"Lalu kenapa? Hidupmu, ya hidupmu. Jangan terlalu memedulikanku," ucap Noa sambil menyentil pelan dahi Elisa. "Berjanjilah saja agar kau selamat saat menjalankan misimu bersamanya."
Beberapa menit berselang, beberapa anggota pasukan pertahanan datang. Mereka memborgol tangan Noa dan menyuntikkan cairan bius padanya. Hal ini bertujuan untuk mencegah Noa kehilangan kendali ketika berada di Shanaz. Dituntun oleh pasukan pertahanan, Elisa pun masuk dengan membawa Gral dan Marco yang masih tak sadarkan diri.