Hawa dingin serta rasa lelah yang amat menusuk membuat Marco dan pasukannya tak bisa menahan rasa kantuk yang menyerang. Akan tetapi, di sisi lain, Elisa yang berjalan ke arah datangnya pancaran aura shadow yang ia rasakan bertemu dengan seorang penambang yang terduduk lemas yang mengatakan bahwa dirinya mungkin bukanlah seorang manusia. Tentunya Elisa tak mempercayai hal ini karena semuru hidupnya, dia tidak pernah sekalipun bertemu dengan shadow berwujud manusia. Akan tetapi, dia pun juga belum pernah menemukan seorang manusia yang mengeluarkan aura shadow seperti itu.
"Maaf untuk menanyakan hal ini, tapi apakah anda berhubungan dengan ledakan yang terjadi di gua ini?" tanya Elisa.
Penambang itu pun mengangguk. "Akulah yang menyebabkan ledakan tersebut." Jawaban pria itu tentunya membuat Elisa terkejut. "Tenanglah nona, maksudku tidaklah buruk. Aku melakukan hal itu untuk melindungi teman-temanku."
"Tapi kenapa? Apa alasannya?"
Penambang itu pun menyuruh Elisa untuk mengarahkan senter yang dibawanya kepada tangannya. Cairan hitam nampak mengalir keluar dari pergelangan tangannya. Elisa merobek bagian baju pelindung yang menutupi pergelangan tangan pria itu dan melihat bahwa bercak hitam memenuhi tangannya dan telah menjalar hingga mendekati perutnya.
"Kau sudah divaksin, kan?"
"Tentu saja. Hanya saja, bercak hitam ini bukan kudapat dari salju hitam yang ada di luar sana. Seseorang menularkannya padaku," ucapnya.
"Bisakah kau beritahu selengkap mungkin kepadaku?"
Well, 2 hari yang lalu, seseorang terjatuh di salah satu cabang yang ada di gua ini. Pakaiannya waktu itu cukup aneh karena dia memakai jubah warna hitam dan memakai penutup wajah. Saat itu, aku tidak memedulikan pakaiannya karena yang ada di pikiranku hanyalah menolongnya. Dia menggenggam tanganku dan berterima kasih lalu segera berlari keluar dari gua. Beberapa menit setelahnya, bercak hitam mulai tampak di tanganku. Akan tetapi, aku tidak memedulikan hal itu karena aku tahu aku telah divaksin dan mungkin saja bercak itu hanyalah efek yang ditimbulkan karena bergesekan dengan blackstone yang sedang kutambang."
"Kau harus segera kuantar menuju rumah sakit."
"Aku juga ingin. Hanya saja, ketika aku tidak berpegang pada blackstone yang ada di dinding gua ini, bercak hitam yang ada di tanganku semakin cepat menjalar dan kesadaranku rasanya semakin hilang."
"Coba kau pegang pisau ini," ucap Elisa sambil mengambil pisaunya yang telah patah dan memberikannya pada pria itu. "Setiap senjata yang kumiliki terbuat dari blackstone. Seharusnya dapat menekan bercak hitam yang ada pada tubuhmu."
Penambang itu menerima pisau milik Elisa dan menempelkannya pada permukaan kulitnya. Sesuai dugaan, pisau milik Elisa menahan laju penyebaran bercak hitam di kulitnya. Elisa pun segera membangunkan Marco dan kedua anggotanya lalu menceritakan apa yang terjadi.
"Bukankah terlalu berisiko untuk membawanya memasuki kota?" ucap Marco setelah mendengarkan temannya itu.
"Lalu apa kita harus meninggalkannya sendirian di sini?"
"Dengar Elisa. Bercak hitam yang ada pada kulitnya berbeda dari biasanya. Coba kau pikir. Kenapa dia yang sudah divaksin tetap terkena bercak hitam? Seandainya kita membawanya keluar gua, kemungkinan terjadinya wabah akan semakin besar."
"Tapi, Marc—"
"Sebagai salah satu pasukan pertahanan, aku mempunyai kewajiban untuk mengeliminasi segala hal yang mengancam kota, termasuk dia," ucap Marco sambil menunjuk ke arah penambang itu.
"Kau gila? Di mana letak peri kemanusiaanmu? Bagaimana pun juga, dia adalah manusia yang butuh pertolongan!" teriak Elisa penuh amarah.
"Ini bukan soal peri kemanusiaan dan lainnya, tapi keputusan ini menyangkut nyawa ratusan orang! Coba bayangkan kalau satu kota akan terkena penyakit ini."
"Aku tidak butuh ceramahmu, bagiku, dia tetap harus ke rumah sakit."
"Baiklah," kata Marco sambil mengangkat kedua tangannya. "Kalau itu maumu, lakukan sesukamu karena aku tidak akan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi."
***
Kelima orang yang terjebak di gua itu pun akhirnya mencoba mencari jalan keluar setelah jalan masuk mereka tertutup. Elisa dan Marco memimpin jalan mereka di depan dengan sang pria penambang berada di tengah dan sisa pasukan pertahanan berada di belakangnya. Formasi ini dipilih untuk melindungi sang penambang jika adanya serangan dari shadow. Setelah berjalan tanpa arah selama beberapa menit, penambang itu mulai mengenali daerah yang mereka lewati saat ini.
"Daerah ini seingatku merupakan jalur pembuangan," ucap si penambang. "Seharusnya, beberapa meter di depan sana ada banyak tumpukan alat-alat tambang yang sudah usang."
Benar saja, cahaya senter yang dipegang oleh Marco dan Elisa menyoroti berbagai peralatan menambang. Sayangnya, banyak dari mereka yang telah rusak dan tak layak pakai.
"Kalau kau tahu tentang daerah ini, berarti kau hafal jalan keluar dari gua ini, kan?" tanya Marco kepada penambang itu.
"Tentu saja. Jika kita berjalan terus ke depan, kita akan dihadapkan oleh 3 buah cabang. Ambil cabang bagian terkiri dan kita bisa keluar."
Mereka mengikuti perkataan penambang itu dan samar-samar, angin pun mulai terasa walau hanya sedikit. Setidaknya, itu merupakan pertanda bahwa mereka berada di jalan yang benar. Seiring berjalannya mereka, perlahan-lahan cahaya mulai terlihat, menandakan kini mereka telah berhasil keluar dari gua tersebut.
Rasa lega dan bahagia terpancar jelas dari wajah mereka. Mereka seperti telah bertahun-tahun tidak melihat Kota Shanaz, tidak menghirup udara segar. Anehnya, Sang penambang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi bahagia seperti orang-orang pada umumnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Elisa ketika melihat raut wajah yang berbeda dari sang penambang.
Pria yang ditanya oleh Elisa itu tidak menjawab dan hanya menggeleng pelan.
"Bertahanlah, kita sebentar lagi sampai—"
Belum usai Elisa berbicara, sang penambang terbatuk-batuk dan akhirnya muntah. Dia memuntahkan cairan berwarna hitam dari perutnya.
"Tolong menjauh dariku," ucap penambang itu. Tubuhnya begitu lemas dan sudah tidak kuat untuk menahan bercak hitam yang menggerogoti tubuhnya. Akan tetapi, Elisa justru mendekati pria itu untuk mencoba menenangkannya. Sayangnya, pria itu justru mendorong Elisa begitu kuat hingga perempuan itu terjatuh.
Ketika Elisa melihat ke arah si penambang, sebuah sayap hitam tiba-tiba muncul dari punggung pria itu. Beberapa detik kemudian, banyak tentakel menyeruak keluar, membuat tangan dari sang penamang harus terputus dari bagian tubuhnya.
"Hey, apa kau masih sadar?" tanya Elisa untuk memastikan keadaan sang penambang.
Sayangnya, sang penambang tidak menjawab sama sekali. Dia justru mengibaskan tentakelnya ke arah Elisa secara mendadak. Spontan, Marco segera memeluk Elisa dan mendorongnya untuk menghindari kibasa ekor sang penambang yang kehilangan kesadarannya.
"Dia sudah sepenuhnya dikuasai oleh Black Mark," ucap Marco. Dia pun segera menyuruh kedua anggotanya untuk membunyikan tanda bahaya dan meminta penduduk di sekita untuk segera mengungsi. Beberapa saat kemudian, alarm darurat pun berbunyi dan penduduk setempat pun langsung mengungsi ke provinsi lainnya.
"Sepertinya, kita harus bekerja sama kembali seperti pada saat Noa kehilangan kendali," kata Marco sambil terkekeh.
"Well, kurasa aku tidak bisa menolak."
Pertarungan mereka pun tak dapat dielakkan lagi.