Sirine darurat berbunyi memekakan telinga. Banyak robot keluar dari gedung CAST dan mengantarkan para penduduk yang ketakutan untuk kembali ke rumah mereka. Sementara itu, puluhan pasukan pertahanan yang datang sebagai bala bantuan masih belum cukup untuk membantu Elisa dan Marco untuk menghadapi makhluk bertentakel yang ada di hadapan mereka. Banyak pasukan pertahanan yang berdatangan untuk mengalahkan makhluk bertentakel itu, namun korban terus berjatuhan.
"Tangkap makhluk itu hidup-hidup! Kita mungkin bisa mendapat informasi darinya!" sahut Marco kepada pasukan bantuan yang baru saja datang. Keberadaannya sebagai orang pertama yang menghadapi makhluk itu membuatnya memegang pimpinan penuh terhadap pasukan yang baru saja datang.
"Apa kau yakin untuk menangkapnya hidup-hidup, Marc?" tanya Elisa.
"Sebenarnya tidak. Tapi, kalau bisa menangkapnya hidup-hidup, CAST mungkin dapat mengidentifikasi penyebab manusia yang kita temui berubah menjadi makhluk seperti ini," ucap Marco. "Ngomong-ngomong, apa kau punya ide untuk menangkapnya?"
"Tidak. Belum pernah ada shadow yang berbentuk seperti ini," jawab Elisa. "Bahkan aku pun tidak yakin kalau pasukan penjelajah dapat melawan makhluk ini."
Sebuah tentakel menjulur mengarah ke arah Elisa, namun Marco berhasil menebas tentakel tersebut hingga terputus dari tubuh induknya. Sayangnya, bagian tentakel yang telah terputus itu kembali tumbuh. Sementara itu, tentakel yang telah ditebas oleh Marco menggeliat selama beberapa detik hingga akhirnya terdiam dan berubah menjadi serpihan salju hitam. Melihat hal itu, Marco segera berteriak dan memerintahkan pasukan pertahanan yang tengah melawan makhluk itu untuk mundur.
Marco menoleh ke arah Elisa, memberi sebuah kode dan akhirnya mereka berdua pun segera berlari ke arah makhluk itu. Marco yang berlari di depan Elisa membukakan jalan dengan menebas segala tentakel yang berusaha untuk menggapai mereka berdua. Ketika telah mendekati makhluk itu, Marco segera menyingkir, seolah mempersilakan Elisa untuk dapat mengayunkan palunya dengan leluasa dan memukul makhluk itu dengan palu besarnya dan mementalkannya ke arah mulut Gua Blackstone.
Beberapa tentakel yang ada di tubuh makhluk itu menyentuh dinding gua yang dipenuhi oleh blackstone dan seketika itu juga, jerit kesakitan mengalir keluar dari mulut makhluk tersebut. Para pasukan yang ada di sekitar tempat itu menutup telinganya akibat bisingnya teriakan makhluk itu. Bahkan, ada beberapa dari mereka yang mengeluarkan darah dari telinganya. Di tengah jeritannya, tentakel dari makhluk itu pun perlahan-lahan berjatuhan dan berubah menjadi salju hitam. Tak berselang lama, jeritan yang memekakan itu pun berhenti.
Makhluk itu pun kembali berdiri. Akan tetapi, tak ada lagi tentakel yang memenuhi kedua lengannya dan kondisinya pun tampak tak bertenaga. Melihat hal itu, salah seorang pasukan pertahanan segera maju untuk membunuh makhluk itu. Namun, tanpa diduga, sebuah tentakel keluar dari mulut makhluk itu dan menancap tepat di lambung dari pemuda yang ingin membunuhnya. Kemudian, cairan pemuda itu mulai dihisap oleh makhluk itu.
"To...long..." ucap pemuda itu sambil merintih kesakitan.
Para pasukan yang menyaksikan hal itu segera berlari untuk menolong teman mereka. Sayangnya, pedang yang mereka tebaskan seketika patah ketika menyentuh tentakel itu. Tak untuk ditolong, pemuda itu pun meninggal dalam kondisi yang mengenaskan. Tubuhnya seolah-olah tinggal tulang berbalut kulit karena dagingnya menciut akibat kurangnya pasokan cairan. Kulitnya keriput seperti seorang kakek berusia 100 tahun.
Usai menghisap cairan korbannya, makhluk yang tadinya merupakan seorang manusia itu kembali seperti semula. Tentakel-tentakel kembali tumbuh dari kedua lengannya. Begitu pula dengan tentakel yang keluar dari mulutnya. Daging berwarna hitam kemerahan itu pun kembali lagi ke dalam mulutnya seolah tak pernah ada.
Marco menggertakan giginya. Ia menyadari bahwa keputusannya untuk mencoba menangkap makhluk itu hidup-hidup dapat membahayakan semua yang tinggal di Shanaz. Dia terlalu menganggap enteng bahwa makhluk itu dapat dikalahkan dengan gabungan pasukan pertahanan.
"Bunuh makhluk itu! Pakai cara apapun yang dapat digunakan!" perintah Marco sambil mencoba untuk melakukan trik yang sama untuk menyerang makhluk itu. Dia bergerak maju bersama dengan Elisa yang berlari di belakangnya. Marco kembali membukakan jalan bagi Elisa yang telah bersiap untuk mengerahkan tenaganya untuk kembali mementalkan makhluk itu ke dinding gua.
Akan tetapi, makhluk itu sadar dengan apa yang akan dilakukan oleh kedua orang itu. Dia pun meluncurkan tentakel dari mulutnya secara tiba-tiba. Melihat hal itu, Marco menangkis serangan makhluk itu sehingga jalan bagi Elisa kembali terbuka lebar. Perempuan itu pun segera mengayunkan palunya ke badan dari makhluk itu. Sayangnya, tentakel yang belum terpotong oleh Marco berhasil melilit lengan dari Elisa dan menahan pergerakannya. Sementara itu, Marco tidak dapat berbuat banyak karena ia sibuk untuk menangkis tentakel yang keluar dari mulut makhluk itu. Hal yang sama juga terjadi pada pasukan lainnya yang berusaha untuk meredam tentakel yang kini keluar dari tubuh makhluk itu.
Kekuatan tentakel itu tidak main-main. Elisa yang mempunyai stamina di atas rata-rata itu pun perlahan terseret mendekati makhluk itu. Merasa jarak antara dirinya dan perempuan yang mengancam nyawanya telah dekat, makhluk itu segera memasukkan tentakel yang ada di mulutnya dan menyemburkannya ke arah Elisa. Perubahan yang tiba-tiba itu pun membuat Marco selangkah lebih lambat untuk bergerak dan mencegah tentakel itu untuk menusuk tubuh Elisa.
Elisa memejamkan matanya dan menunggu tentakel itu untuk menusuk dirinya. Akan tetapi, apa yang ia tunggu tak kunjung datang. Dia membuka perlahan kedua matanya dan melihat seorang wanita berdiri di depannya.
"Sepertinya aku tepat waktu," ucap Noa sambil memegangi tentakel makhluk itu dengan tangan kirinya.
Melihat Noa telah bergabung ke dalam pertempuran, membuat moral pasukan pertahanan pun kembali naik. Bagaimana tidak? Noa merupakan salah satu anggota pasukan penjelajah terkuat telah datang. Bahkan, meskipun tidak dalam kondisi terbaiknya, banyak orang yakin kalau wanita itu dapat membuat perbedaan dengan kekuatan yang dimilikinya.
"Semuanya, jangan sentuh makhluk ini!" perintah Noa. "Dia adalah buruanku."
"Apa kau bisa menangkap makhluk ini hidup-hidup?" pinta Marco.
"Kau bercanda, kan?" tanya Noa sambil mencengkram tentakel yang dipegangnya sekuat tenaga. Tentakel yang tak mampu ditebas oleh pedang itu pun seketika patah dan hancur berkeping-keping sebelum akhirnya berubah menjadi butiran salju. "Aku tidak pernah membiarkan buruanku untuk hidup."
Melihat bahaya yang mengancam nyawanya, makhluk itu segera bersiap untuk kabur. Akan tetapi, Noa berhasil menangkap salah satu tentakel makhluk itu dan membantingnya ke tanah. Wanita itu pun menancapkan pisau yang dibawanya ke beberapa tentakel yang tersisa untuk menahan pergerakannya. Selanjutnya, dia memukul makhluk itu bertubi-tubi dan memasukan tangannya ke dalam tubuh makhluk itu untuk mengoyakkan tubuhnya dari dalam. Akan tetapi, dia merasakan sebuah benda yang asing, yang biasanya tidak ada di dalam sebuah shadow.
"Apa dia bukan shadow?" tanya Noa keheranan. "Aku merasakan adanya kehangatan di dalamnya."
"Dia adalah manusia yang tiba-tiba berubah menjadi sebuah makhluk mirip shadow," ucap Marco. "Itu sebabnya aku memintamu untuk menangkapnya hidup-hidup."
Mendengar hal itu, Noa mencoba untuk menarik benda asing yang dipegangnya untuk keluar dari tubuh makhluk itu. Dia pun harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengeluarkan benda itu karena makhluk itu seolah-olah tak ingin melepaskan dirinya dari benda asing yang ada di dalam tubuhnya itu.
"Makhluk bodoh ini tidak mau melepaskannya!" ucap Noa sambil terus menarik benda asing itu. Sementara itu, makhluk itu menjerit kesakitan sambil terus berusaha untuk menahan Noa. Sayangnya, usaha yang dilakukan makhluk itu pun sia-sia. Noa berhasil menarik keluar benda asing yang berada di dalam tubuh makhluk itu.
"Ini... daging?" ucap Noa keheranan. Dia cukup terkejut usai menemukan seonggok daging dari dalam tubuh makhluk itu.
Makhluk itu pun akhirnya mati dan berubah kembali menjadi sang penambang yang terjebak di dalam gua. Hanya saja, penambang itu tak lagi bernyawa karena adanya lubang yang menganga diperutnya.
"Aku tidak mengerti. Apa yang baru saja kubunuh?" tanya Noa.
Semua orang kelelahan, namun dari wajah mereka terpancar kebahagiaan karena mampu melindungi Shanaz dari kehancuran. Setidaknya hingga seorang anggota dari pasukan pertahanan berlari pontang-panting ke arah mereka semua.
"I-ini gawat! Makhluk yang sama kembali muncul di salah satu rumah penduduk!"