"Kalian semua tahu tugas masing-masing, kan?" tanya Noa untuk memastikan kembali. Semua orang pun mengangguk dan berpencar. Noa bergerak untuk menghabisi makhluk yang telah diideteksi bermunculan di rumah-rumah penduduk, Marco dan pasukannya berpencar untuk mencari dan menolong penduduk yang mungkin terjebak dan tidak dapat melarikan diri, sementara Elisa kembali ke gedung pusat CAST untuk membantu Noa mencari makhluk yang belum terdeteksi.
Untuk saat ini, CAST menyebut makhluk sebagai mutan. Hal ini disebabkan karena kemunculannya yang tiba-tiba dan memiliki sifat yang berbeda dengan shadow. Meskipun seluruh tubuhnya juga hancur ketika terkena blackstone, adanya tubuh inang yang disimpannya di dalam tubuhnya lah yang membedakan mutan dengan shadow.
"Apa kau tidak apa-apa kutinggal di sana, Noa?" tanya Elisa dari tranceiver.
"Lakukan saja tugasmu dan tidak usah pedulikan aku. Lagi pula hanya aku yang saat ini mampu menghabisi para mutan itu, kan?"
"Fine. Ingat, jangan memaksakan diri. Kondisimu belum pulih sepenuhnya."
Noa pun sampai di sebuah pemukiman penduduk, di mana noda darah bercipratan di mana-mana. Banyak bangunan telah rusak dan menjatuhkan puing-puing yang berserakan di jalanan. Akan tetapi, sejauh mata memandang, belum terlihat satu pun mutan yang berkeliaran.
"Di sebelah barat daya, rumah berwarna biru. Aku mendeteksi ada mutan di sana."
Noa bergegas pergi menuju tempat yang dikatakan oleh Elisa dan benar saja, sebuah mutan tampak berjalan tanpa arah, keluar dari rumah dengan tembok berwarna biru. Dengan bergerak cepat, tanpa menimbulkan suara sekecil pun, Noa berhasil tiba di belakang mutan itu tanpa diketahui olehnya. Sedetik kemudian, tangan kiri Noa telah menancap di tubuh mutan itu dan dia pun menarik keluar seonggok daging dari dalam mutan itu. Mutan itu pun terkapar tak bernyawa dan berubah kembali menjadi seorang manusia.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Noa yang masih kebingungan.
"Ceritanya panjang. Nanti akan kuceritakan setelah masalah ini selesai."
Setiap mutan yang dibunuh oleh Noa selalu mati dengan hal yang sama. Ketika mati, ada seorang manusia yang berada di dalam tubuh mereka.
"Ini aneh," ucap Noa. "Kita tak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Kenapa baru sekarang terjadi?"
"Seseorang memulai masalah ini," kata Elisa.
"Bagaimana kau tahu?"
"Salah satu penambang di Gua Blackstone berkata kalau dia bertemu dengan seseorang yang mencurigakan di tempatnya bekerja. Dia yakin kalau penyebab dari segala permasalahan ini ada padanya."
"Lalu di mana penambang itu?" tanya Noa lagi.
"Dia sudah meninggal. Kau ingat dengan mutan yang kau lawan pertama kali?"
Noa mengingat betul yang terjadi beberapa saat yang lalu. Saat di mana tangannya menyentuh daging penambang yang masih hangat itu. Jika saja dia tahu kalau mutan ini memiliki seorang manusia di dalamnya. Apa mungkin Noa tidak segan-segan untuk membunuh mutan tersebut seperti sekarang ini?
"Marco kepada Noa. Tolong respon."
"Noa di sini. Ada apa?"
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, tepat di pintu gerbang Shanaz."
"Baiklah, aku ke sana sebentar lagi."
Setelah membereskan sisa-sisa mutan dan memastikan bahwa tak ada mutan yang tersisa di daerahnya, Noa segera bergegas menuju lokasi yang telah ditunjukkan oleh Marco. Mendekati gerbang Shanaz, sebuah aura yang begitu berat dirasakan oleh Noa dan Elisa secara bersamaan.
"Dia di sini," ucap Elisa memberitahu Noa.
Seorang pemuda berdiri di sebelah Marco sambil melihat ke sekitarnya, memandang Kota Shanaz yang tampak sepi dan berantakan. Melihat Noa datang mendekat, pemuda itu pun bergerak pula ke arahnya. Tanpa diduga, dia justru mencengkram baju Noa dan menariknya hingga kedua dahi mereka berbenturan.
"Apa yang terjadi selama aku pergi?" tanyanya.
"Well, ada ledakan di Gua Blackstone. Lalu muncul makhluk-makhluk aneh, ah, kami menyebutnya mutan."
"Mutan?"
"Yep, mereka memiliki manusia di dalam tubuh mereka dan dapat berubah kembali menjadi manusia. Itulah sebabnya kami menyebut mereka sebagai mutan. Anehnya, sepertinya mereka semua seperti lepas kendali secara bersamaan untuk saat ini."
"Menjauh dariku," ucap pemuda itu sambil melepaskan cengkramannya. Dia pun kemudian membuka kedua sarung tangannya dan memperlihatkan kedua tangannya yang dipenuhi oleh bercak hitam.
"Tunjukkan kepadaku di mana para mutan tersebut."
Noa pun kini bergerak bersama dengan pemuda itu sambil menjaga jaraknya. Meskipun Noa terkenal akan kekuatannya, dia tetap saja tak mau untuk bermain-main dengan orang yang bergerak bersamanya.
"Gedson, ada mutan sekitar 20 meter di sebelah kananmu," ucap Elisa.
Pemuda bernama Gedson itu menoleh ke sebelah kanan dan segera memegang mutan itu tanpa ada rasa takut. Meskipun banyak tentakel telah melilitnya, dia sama sekali tak memancarkan aura ketakutan. Beberapa detik kemudian, sang mutan yang melilit Gedson justru perlahan mengendurkan lilitannya dan berjalan gontai menjauhi pemuda itu hingga akhirnya dia terjatuh dan mati.
"Sepertinya manusia yang ada di dalam mutan ini masih mati," ucap Noa sambil menyayat-nyayat muta tersebut. "Apa kau tidak bisa mengendalikan sedikit kekuatanmu itu?"
Gedson menggeleng. "Aku tidak dapat melakukan itu."
Noa merupakan salah satu anggota terkuat di pasukan pertahanan, bahkan di seluruh CAST. Sayangnya, dia bukanlah satu-satunya. Gedson merupakan pemuda yang juga menjadi anggota terkuat, bahkan digadang-gadang menjadi kandidat terkuat untuk menjadi pemimpin CAST ketika pimpinan saat ini, Benjamin Skylark mengundurkan diri. Dia tidak sekuat dan selincah Noa dalam pertarungan fisik.
Akan tetapi, kekuatan Black Mark yang ia miliki berbeda dari yang lain. Dia mampu menghisap atau memblock setiap Black Mark yang membahayakan dirinya. Mau itu shadow, mutan, atau bahkan Black Mark milik Noa sekalipun dapat diserapnya. Hal itu jugalah yang membuat Noa untuk menjauh darinya. Gedson mungkin merupakan satu-satunya orang yang dapat menang mudah melawan Noa.
Sayangnya, seiring dengan bertambahnya kekuatan, tanggung jawab yang diambil oleh Gedson pun juga bertambah. Tak jarang ia mengambil misi ysng sangat sulit dan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menyelesaikannya. Dia pun jarang kembali ke Shanaz dan akhirnya membuat sebuah rumah sebagai tempat tinggalnya ketika dia selesai menjalankan misi.
"Kukira penduduk kota ini sudah punah," ucapnya kecewa.
"Well, untuk saat ini hanya ada aku yang mampu untuk membunuh muta-mutan itu sebelumnya," ucap Noa. "Kau tahu, kan, kalau aku tak mampu mengalahkan musuh seefektifmu?"
"Kalau begitu, untung saja aku kembali tepat waktu," ucap Gedson memuji dirinya sendiri.
Berkat bantuan Gedson, semua mutan yang menyerang Shanaz pun mati. Begitu pula dengan manusia yang menjadi induk mereka. Keberhasilan pun juga diraih juga oleh pasukan pertahanan yang mampu menolong para penduduk yang masih terjebak di reruntuhan bangunan dan membutuhkan pertolongan.
***
Usai membereskan segara masalah yang terjadi, Gedson pun segera berlari menuju gedung CAST untuk menemui Benjamin dan melaporkan misinya. Begitu puloa dengan Noa, di mana dia sangat ingin untuk menyebarkan informasi yang telah ia ketahui.
"Hey, Gedson," panggil Noa. Pemuda itu pun menoleh ke arah lawan bicaranya itu. "Bukankah ini terasa terlalu mudah?"
"Tentu saja," jawabnya. "Kita, kan, duet terkuat di CAST."
"Kau benar," ucap Noa sambil tersenyum datar.
Kedua orang itu pun kini telah berada di depan gerbang ruangan milik pemimpin CAST dan melangkah bersama untuk bertemu dengan Benjamin.