"Ayah bangun!"
Suara seorang anak perempuan membuat Gral terbangun di sebuah ruangan yang begitu familiar. "Car...la?" Gral memegangi kepalanya yang terasa pusing. "Ini... kamarku?"
"Sayang, kenapa kau lupa?"
Sebuah rangkulan yang sangat Gral rindukan kini ia rasakan kembali.
"Camille? Kukira kau sudah—"
"Meninggal? Itu tidak mungkin sayang." Camille memegang wajah suaminya. "Sekarang lihatlah baik-baik siapa wanita di depanmu ini? "
Gral tertawa pelan lalu memeluk istrinya. "Aku merindukanmu."
"Sekarang Carla, bisakah kau keluar sebentar, nak? Ibu ingin membahas sesuatu dengan ayah." Perempuan berambut pendek itu mengangguk lalu berlari keluar kamar. "Hey, jangan lupa untuk menutup pintu—ugh!" Camille beranjak untuk menutup dan mengunci pintu yang lupa ditutup oleh Carla lalu kembali ke pangkuan Gral.
"Sabarlah, sayang. Nanti keriputmu cepat bermunculan," ucap Gral sambil mengelus manja helaian rambut coklat gelap Camille. Camille tersenyum dan balas mengelus rambut Gral. Sedetik kemudian, Gral tiba-tiba memeluk istrinya dari belakang sambil menangis.
"Aku benar-benar gila karena merindukanmu selama ini," ucap Gral sambil terisak. "Saat kau tertabrak, rasanya kehidupanku telah hancur."
"Hey, hentikan tangisanmu. Masa seorang suami dari Camille menangis?" ucap Camille dengan lembut. Wanita itu menyentuh wajah suaminya dan menaikan kepalanya yang tadi tertunduk sehingga kedua mata mereka kini bertatapan. "Aku akan selalu berada di kamar ini, kau tahu?"
"Kau janji tidak akan meninggalkanku?"
Camille mengangguk. "Aku akan berada di sini selama yang kau inginkan."
Tiba-tiba teriakan Carla terdengar dari luar ruangan. Teriakan itu kemudian dilanjutkan dengan sebuah isakan pelan. Kedua pasangan itu saling bertatapan. Suhu kamar mereka yang tadinya hangat tiba-tiba mendingin. Begitu pula dengan tubuh Camille yang saat ini berada dalam dekapan Gral.
"Sayang, kurasa Carla sedang dalam masalah. Apa kau mau mengeceknya?"
"Tapi... Aku takut jika aku tak akan bisa melihatmu lagi," ucap Gral.
"Tidak apa-apa. Aku akan selalu berada di sini."
Gral pun perlahan turun dari kasurnya dan berjalan menuju pintu kamarnya yang tertutup dengan rapat. Dia memegang gagang pintu yang ada di hadapannya, namun tidak memutarnya karena sejujurnya, dia tak ingin meninggalkan istrinya lagi. Akan tetapi, baru saja dia ingin membalikan badannya, sebuah pelukan hangat dirasakannya dari belakang dan sentuhan yang lembut terasa menyentuh permukaan tangannya dan mendorongnya untuk membuka pintu tersebut.
"Jaga anak kita baik-baik, ya. Ingat, aku akan menunggumu di sini," bisik Camille.
"Pasti," jawab Gral lalu menutup pintu kamarnya.
***
Gral terbangun dari mimpinya. Dia berada di sebuah ruangan yang penuh dengan bau obat-obatan. Seorang perempuan yang baru saja memasuki ruangannya segera mengahampiri pria yang tengah terbaring itu sambil melambaikan tangannya.
"Hai, Gral! Selamat datang di masa depan!" sapa perempuan itu.
"Umm... halo?" balasnya.
"Elisa Gayle," katanya sambil menyerahkan tangannya.
"Gral Davrav," balas pria itu sambil menjabat tangan milik Elisa. Gral mencoba bangkit, tapi begitu menyadari jika tubuhnya saat ini tidak tertutup oleh sehelai benang pun. Dia langsung menaikan sprei yang menutup separuh tubuhnya.
"Anu..."
"Ah, sebentar, ya," ucap Elisa. Rupanya perempuan itu telah melihat apa yang terjadi dengan Gral. Wajah pemuda itu pun memerah sambil menerima celana baru dari Elisa. "Kau ditemukan oleh Noa pingsan, hampir terkubur salju. Lalu setelah sekitar seminggu tak sadarkan diri, kau demam hingga mengigau. Baru kali ini aku lihat orang berumur 40 tahunan mengigau."
"Umurku masih 36, kok. Belum 40."
"Ups," ucapnya pelan. "Well, sebagai permintaan maaf, akan kuberitahu kau umurku. Aku 25 tahun." Elisa pun berlari ke arah pintu. "Aku panggilkan Noa dulu, ya."
Melihat Elisa telah pergi, Gral segera memakai celananya lalu berjalan melihat-lihat peralatan yang ada di ruangan itu. Sebuah jarum suntik dan buku-buku tebal berserakan di sebuah meja. Apa benda-benda ini tidak pernah dirapikan? Pemuda itu mengumpulkan jarum suntik yang berceceran tersebut dan menaruhnya dalam sebuah gelas. Kemudian, dia merapikan buku-buku tebal itu dan menumpuknya di dekat meja. Dia tersenyum melihat ruangan yang berantakan seperti ruang tempat kerjanya dulu kini telah lebih rapi. Perhatiannya kini tertuju pada sebuah lemari di sudut ruangan. Berbeda dengan benda-benda lainnya, lemari itu tampak terlihat tua, tapi terawat.
Beberapa saat kemudian, Elisa masuk bersama dengan Noa. Tidak seperti saat bertemu dengan Gral pertama kali, pakaiannya kali ini terlihat lebih terbuka. Tak ada lagi jaket bulu tebal yang menutupinya. Hanya sehelai kaos putih tanpa lengan dengan celana pendek ketat yang kini ia kenakan. Di tangan kirinya, terlihat bercak hitam yang menjalar dari bahu hinga jemarinya. "Halo, Noa," sapa Gral. "Aku minta maaf karena telah merepotkanmu." Wanita itu seolah tak memedulikan permintaan maaf dari pria di hadapannya itu. DIa berjalan melewati Gral, menuju lemari besar yang sempat menarik perhatian pria itu. Noa mengintip ke dalam lemari tersebut.
"Kau tidak membuka lemari ini, kan?" tanya Noa.
"Ti-tidak, kok." Entah kenapa Gral merasa tegang, padahal tak ada kesalahan yang ia lakukan.
"Bagus kalau begitu," ucap Noa sambil menutup kembali lemari tersebut..
Noa mulai menyadari tatapan Gral yang selalu mengarah pada tangan kirinya. "Kau tertarik dengan lengan kiriku? Fetish-mu aneh, ya?" tanya Noa. Gral hanya terdiam, tak berani berkata apapun. "Ini bukti kalau aku bukanlah manusia," ucap wanita itu membuat Gral terkejut mendengarnya.
"Bercandaanmu sungguh keterlaluan, Noa," ucap Elisa dari belakang Gral. "Ini, kau belum makan sejak sadar, kan?" Elisa menyerahkan semangkok bubur yang dipegangnya kepada Gral. Pemuda itu pun segera menyantap hidangan yang diterimanya. Akan tetapi, baru sesuap, Gral tahu jika bubur itu tak memiliki rasa. "Karena Black Mark, bahan pangan sulit untuk dicari, kau tahu? Termasuk bumbu dapur juga. Terlebih, adanya kejadian ledakan di Gua Blackstone beberapa hari yang lalu," keluh Elisa.
"Lebih enak kalau kau memakan salju hitam," goda Noa. Mendengar itu, Gral menyemburkan bubur yang ada di mulutnya lalu terbatuk-batuk. Elisa memberikan segelas air kepada Gral untuk melancarkan tenggorokannya yang tersedak.
"Hey, Elisa. Coba kau ke sini," perintah Noa. Elisa yang dipanggil pun berjalan mendekat menghampiri Noa. "Sekarang putar badanmu, menghadap pemuda itu." Elisa pun memutar badannya sehingga kini dia menghadap Gral yang tengah memakan bubur tawarnya. Sedetik kemudian, Noa tiba-tiba mengangkat pakaian Elisa sehingga terpampanglah dua buah bukit yang sedari tadi tersembunyi di balik pakaian yang dikenakannya.
Elisa menjerit lalu berlari keluar kamar, sementara Gral terkejut dengan pemandangan yang ia lihat dan ia kembali tersedak. Di sisi lain, Noa tertawa terbahak-bahak. Sambil mengelap matanya yang berkaca-kaca, dia berkata, "Dunia ini tidak lagi sama seperti duniamu 200 tahun yang lalu. Tanpa bercak hitam ini, kau tidak akan bisa mencari anakmu itu."
"Tapi, bukankah bercak hitam itu adalah tanda kalau seorang manusia terkena Black Mark?" tanya Gral kebingungan.
"Kau pikir dalam 200 tahun manusia hanya berdiam diri dan pasrah meratapi nasib?" ucap Noa. "Daripada menyebutnya sebagai penyakit, kurasa Black Mark lebih cocok disebut sebagai kekuatan."
"Apa maksudmu?" tanya Gral yang masih kebigungan.
"Dalam 200 tahun, manusia berhasil menemukan sebuah vaksin yang menetralisir efek buruk dari Black Mark. Sayangnya, efek vaksin tersebut pada tubuh manusia tidaklah konsisten. Ada manusia yang mampu mengendalikan Black Mark seperti Elisa, tapi ada juga yang tidak bisa. Well, setidaknya Black Mark bukan lagi musuh utama umat manusia."
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Gral untuk kesekian kalinya.
"Bukankah sudah kubilang sebelumnya? Aku bukanlah manusia. Itu artinya, aku tidak perlu divaksin," ucap Noa sambil pergi keluar dari ruangannya, meninggalkan Gral yang kini justru bertambah bingung.
Beberapa detik berselang, Noa kembali. "Benjamin memanggilmu. Kalau buburmu telah habis, silakan langsung pergi menuju lift. Elisa dan aku akan menuntunmu," ucapnya.