Gral tiba di depan sebuah lift. Tampak Elisa dan Noa yang menunggu dirinya lengkap dengan seragam yang mereka pakai. Seragam yang dipakai oleh Noa terlihat tertutup dengan setelan latex hitam yang menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kaki hingga leher. Namun, seragam yang berbeda dikenakan oleh Elisa. Tak ada setelan latex yang dipakai olehnya. Hanya kemeja putih dengan garis biru di bagian lengan kiri dan celana pendek sepanjang setengah paha dengan ikat pinggang yang melingkari pinggangnya.
Noa memasukkan sebuah kartu ke slot yang berada dekat dengan lift. "Selamat datang di CAST, ke manakah tujuan kita, Nona Noa?" tanya lift tersebut.
"Lantai B-12," ucap Noa.
Lift pun turun dan membawa ketiga orang itu pada tujuan mereka. "Kita telah sampai. Perhatikan barang bawaan anda dan terima kasih."
"Kau kenapa?" tanya Noa ketika dia melihat Gral yang melongo takjub dengan lift bersuara yang pertama kali ia lihat.
"Kau memanggilku, Noa?" tanya Gral balik.
"Lupakan saja."
Combat Android Support Team, atau biasa disebut CAST merupakan organisasi yang awalnya didirikan untuk menciptakan robot yang berfungsi untuk membantu Nestrein dalam melakukan ekspansi menuju daratan lainnya. Akan tetapi, semenjak Black Mark mewabah, CAST beralih fungsi untuk membantu keberlangsungan hidup manusia. Berpusat di Shanaz, organisasi ini pun menjadikan kota ini sebagai pusat destinasi manusia dipermukaan. Dipmpin oleh Benjamin Skylark, CAST berhasil menjadikan Shanaz kota yang bebas shadow baik di permukaan, maupun di bawah tanah.
"Jadi, hampir seluruh kegiatan di tempat ini didukung oleh robot," kata Elisa. Perempuan itu kemudian menunjuk ke salah satu robot yang membawa bahan makanan ke dapur sebagai contohnya.
"Selamat siang Nona Noa dan Nona Elisa!" sapa robot itu.
"Selamat siang!" balas Elisa. Sementara itu, Gral yang hanya melambaikan tangannya tak digubris oleh robot tersebut. "Kau belum terdaftar sebagai pasukan di CAST, makanya kau hanya dianggap sebagai penduduk biasa dan tidak disapa oleh para robot," kata perempuan itu lagi.
Mereka bertiga pun sampai di depan sebuah gerbang besar yang terbuat dari logam yang tebal. Tak ada lagi robot yang berlalu-lalang di sekitar tempat itu. Beberapa orang berseragam seperti Noa, namun dengan tambahan pelindung d**a terlihat menjaga gerbang tersebut.
"Mulai dari sini, jaga sikap kalian," kata Noa.
Noa dan Elisa memberi hormat kepada penjaga pintu diikuti dengan Gral yang tampak terlihat canggung. Penjaga pintu pun membalas hormat mereka dan membukakan pintu yang besar itu.
"Oi, pria tua. Aku membawa Gral, nih," ucap Noa begitu dia masuk ke dalam ruangan. Seorang pria berkumis tipis yang sedang duduk membelakangi mereka memutar kursinya dan memakai kacamatanya.
"Selamat datang, Noa dan Elisa... dan juga Tuan Gral! Saya Benjamin Skylark, pemimpin CAST, sekaligus pelindung Kota Shanaz. Silakan duduk." Noa pun langsung duduk, diikuti oleh Gral dan Elisa.
"Kerja bagus untuk kalian berdua, Noa dan Elisa," puji Benjamin. "Kalian berhasil membawa Tuan Gral dengan selamat. Bagaimana pendapatmu dengan masa ini, Tuan Gral?"
"Sejujurnya, saya masih belum tahu banyak tentang masa ini. Carla terbaring kesakitan, saya memesan alat cryo dari CAST, lalu wabah Black Mark, semua terasa seperti baru terjadi kemarin," ucap Gral.
"Semoga anda bisa beradaptasi dengan masa ini," ucap Benjamin. Pria itu kemudian mengarahkan pandangannya kepada Elisa. "Nona Elisa, tolong antarkan Tuan Gral ke lantai B-3 untuk divaksin, ya. Lalu Noa, ada hal yang harus kubicarakan denganmu." Elisa pun segera beranjak, diikuti oleh Gral, meninggalkan Noa dan Benjamin berdua di ruangan itu.
***
"Tuan Benjamin itu seperti apa orangnya?" tanya Gral kepada Elisa.
"Beliau baik, bersahabat dengan bawahannya. Bahkan, banyak yang berkata kalau CAST di bawah kepemimpinannya lebih baik dibandingkan dengan pendahulunya. Terdengar perfect, bukan?"
"Yah, bisa dibilang begitu," ucap Gral.
"Masalahnya, menurutku beliau terlalu memercayai bawahannya begitu saja. Untuk jangka pendek mungkin bagus. Akan tetapi, aku khawatir dengan efek jangka panjangnya," keluh Elisa.
Gral paham dengan maksud Elisa. Sebagai pria yang bekerja di dunia perkantoran, dia paham betul bahwa sebuah adanya kepercayaan antar atasan dengan bawahan sangat diperlukan demi mendukung komunikasi yang baik. Akan tetapi, jika atasan memberikan kepercayaan yang berlebih kepada bawahannya, kepercayaan itu rentan disalahgunakan oleh bawahannya.
Kini, kedua orang itu telah sampai di tempat vaksinasi. Elisa menunggu di luar ruangan, sementara Gral berjalan sendirian memasuki sebuah ruangan. Sebuah tabung raksasa adalah hal yang pertama kali dilihat oleh Gral ketika ia menginjakan kaki di sana.
"Gral Davrav, benar?" tanya seorang pemuda yang berpakaian layaknya seorang doktor. Gral mengiyakan pertanyaan doktor tersebut. "Silakan masuk ke dalam tabung ini untuk divaksinasi."
Bersamaan dengan itu, pintu tabung tersebut perlahan terbuka. Gral pun melangkah masuk dan ketika ia telah masuk, pintu tabung pun menutup. "Pejamkan mata dan bernafaslah dengan tenang. Rileks dan santai saja," ucap dokter itu sambil menekan sebuah tombol. Dari segala penjuru, semprotan gas pun keluar mengarah pada Gral.
Beberapa detik berselang, semprotan gas pun berakhir dan pintu tabung terbuka. Dokter mempersilakan Gral untuk keluar dan membacakan Gral hasil vaksinasinya.
"Selamat atas vaksinasinya. Anda sudah terbebas dari bahaya Black Mark. Sayangnya, anda tidak mampu berasimilasi dengan Black Mark sehingga anda tidak mampu memiliki kekuatannya," ucap doktor itu sambil menyerahkan lembaran kertas hasil vaksinasinya kepada Gral. Pria yang telah divaksin itu tersenyum lalu berterima kasih kepada doktor itu dan berjalan kembali kepada Elisa.
"Bagaimana?" tanya Elisa.
"Vaksinasinya berhasil, tapi aku tidak mampu memiliki kekuatan Black Mark katanya."
"Sayangnya, itu berarti kau tidak boleh keluar dari Kota Shanaz."
"Lalu bagaimana aku bisa mencari Carla?" ucap Gral.
"Untuk saat ini, sebaiknya kita kembali lagi menemui Tuan Benjamin. Kurasa beliau bisa membuat pengecualian untukmu."
***
Di sisi lain, Noa dan Benjamin terlihat masih dalam perbincangan. Noa tampak marah mendengar permintaan dari Benjamin. Bahkan, dia sempat menggebrak meja yang berada di antara dirinya dengan pemimpin CAST itu. "Apa maksudmu menyuruh Gral untuk tinggal di kamarku!?" teriak Noa penuh emosi.
"Akibat kejadian yang baru saja terjadi kemarin, banyak korban jiwa yang berjatuhan. Rumah sakit kehabisan ruangan, sehingga penginapan-penginapan pun dialihfungsikan menjadi tempat sementara untuk merawat pasien," jelas Benjamin.
Noa mengepalkan tinjunya dan mengacungkannya tepat di wajah Benjamin. "Seandainya aku tidak mengenalmu, tinju ini pasti sudah bersarang di wajahmu."
"Tenang saja, aku akan menyediakan kasur tersendiri bagi Gral."
"Tsk," decak Noa. "itu, kan, hal yang sudah seharusnya."
Beberapa saat kemudian, ketukan di pintu terdengar. Elisa diikuti oleh Gral pun masuk. Mereka menyerahkan hasil vaksinasi yang telah dilakukan oleh Gral kepada Benjamin. Pria tersebut membaca kertas yang dipegangnya sambil sesekali membetulkan kacamata yang dikenakannya.
"Kau normal, ya?"
"Itu benar," jawab Gral.
Benjamin terdiam untuk beberapa saat. Kemudian, dia pun menelpon seseorang dan berbincang untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia menutup teleponnya kembali.
"Aku telah mengurus semuanya. Kau akan kutempatkan di tim Noa agar kau dapat mencari putrimu."
Sukacita tampak terpancar dari wajah Gral, begitu pula dengan Elisa. Sayangnya, kebahagiaan tidak nampak pada wajah Noa.