Berada di dalam sebuah kamar bertuliskan "Noa" di pintunya, tiga orang tengah berkumpul dalam suasana panas. Noa membanting pintu kamarnya lalu merebahkan dirinya di tempat tidurnya, Elisa duduk dengan manis di sebuah kursi, sementara Gral hanya terdiam di pojokan, tak tahu ingin melakukan apa.
"Sialan. Seenaknya saja dia memasukkan orang asing ke dalam tim kita," keluh Noa diikuti dengan umpatan-umpatan.
"Tenanglah Noa. Setidaknya dia tidak akan mengganggu kita. Benar, kan, Gral?" tanya Elisa untuk memastikan.
"Aku pasti tidak akan mengganggu—"
"Oh, benarkah?" potong Noa. "Apa kau pernah mengalahkan shadow sebelumnya?"
"Belum, tapi—"
"Tapi? Kau pikir ini main-main? Bagaimana juga caranya mengalahkan sebuah shadow kalau kau tidak mempunyai kekuatan Black Mark?" tanya Noa bertubi-tubi. Gral pun hanya bisa terdiam karena semua perkataan Noa sedari tadi adalah benar. Dia tidak mengetahui apapun tentang masa ini. Apa yang ia janjikan kepada Noa semata-mata agar dia dapat keluar dari Shanaz dan mencari Carla, putrinya.
Elisa tiba-tiba memisahkan Noa dan Gral, mencoba untuk meredakan ketegangan yang terjadi. "Sudah, sudah. Kita beri Gral kesempatan dulu, oke? Toh, dia juga memiliki tujuan tersendiri." Elisa pun menarik Gral, membawanya menjauhi Noa yang sedang emosi.
Keluar dari kamar Noa, Elisa membawa Gral menuju lift. Lift itu pun membawa mereka menuju permukaan. Mereka berdua pun melangkahkan kaki dan keluar dari Gedung CAST dan seketika itu juga, baik Gral maupun Elisa pun melihat Kota Shanaz yang hancur. Banyak rumah-rumah penduduk yangrusak parah dan puing-puing yang berserakan di jalanan.
"Menganggetkan, bukan?" tanya Elisa.
Gral mengangguk. "Apa seperti ini tempat tinggal manusia selama ini?" Gral balik bertanya.
"Tentu saja tidak. Ini semua terjadi beberapa hari yang lalu, saat kau masih belum sadarkan diri. Beberapa penambang dari Gua Blackstone tiba-tiba berubah menjadi sebuah shadow dan menghancurkan kota."
"Bagaimana mereka bisa melakukan hal itu?" tanya Gral lagi.
"Entahlah. Sekarang ikuti aku," ajak Elisa.
Wanita itu membawa Gral berjalan menuju sebuah penginapan yang telah beralih fungsi menjadi rumah sakit sementara. Dia menunjukkan kartu identitasnya dan diperbolehkan oleh penjaga di sana untuk masuk ke dalam tempat itu. Di sana, banyak orang yang terluka parah. Ada pula anak kecil yang terbatuk-batuk dan hampir separuh dari tubuhnya dipenuhi oleh bercak hitam. Melihat anak itu, mengingatkannya kembali dengan Carla.
"Mengenaskan, bukan?" ucap Elisa. "Inilah sebenarnya kenapa Noa tidak suka ketika kau dimasukkan oleh Tuan Benjamin ke dalam tim kami. Meskipun dia terkesan kasar, sebenarnya dia khawatir kepadamu dan justru marah terhadap Tuan Benjamin."
"Aku tahu kalau ini berbahaya, tapi bagaimana mungkin aku berdiam diri di sini sementara anakku ada di luar sana sendirian?"
"Baguslah kalau kau sudah bertekad seperti itu."
Perbincangan mereka pun terputus ketika seorang pemuda berjalan mendekati mereka lalu memanggil Elisa. "Hey, Elisa." Wanita yang dipanggil oleh pemuda itu pun membalikkan badannya dan mengenali pemuda yang memanggilnya itu.
"Hi, Gedson. Tumben sekali kau berada di sini?"
"Yah, aku sedang bosan. Toh, kekuatanku lumayan berguna di sini," ucapnya. "Ngomong-ngomong, siapa pria itu?"
"Dia Gral," kata Elisa memperkenalkan pria yang ada di sebelahnya. "Tuan Benjamin memasukkannya ke dalam timku dan Noa."
"Oh benarkah?" tanya Gedson dengan nada yang semangat. Secepat mungkin dia mengulurkan tangannya ke hadapan Gral, membuat Elisa sedikit berjalan mundur menjauhi Gedson. Akan tetapi, Gral justru melakukan hal yang berkebalikan dari Elisa dan menjabat tangan Gedson.
"Aku Gral Davrav," ucapnya.
"Gedson, anggota pasukan penjelajah. Salam kenal," balas Gedson dengan tatapan yang sedikit keheranan. "Hey, apa betul kau dimasukkan oleh Pak Tua Ben ke dalam tim Noa? Aku tak merasakan adanya sedikitpun kekuatan Black Mark pada dirimu."
"Dia bukan pemilik kekuatan seperti kita, Gedson," ucap Elisa. "Tuan Benjamin membuat pengecualian khusus untuknya karena ada hal yang harus ia cari di luar sana."
"Apa aku boleh tahu? Mungkin saja aku dapat membantu," kata Gedson menawarkan bantuannya. Tentu saja hal ini disambut baik oleh Gral yang dengan segera memberitahu Gedson mengenai anaknya yang hilang. "Umurnya masih belasan, ya? Mungkin saja dia ada di Vixen."
"Vixen?"
"Sebuah panti asuhan di sebelah barat Shanaz. Jaraknya sekitar 30 kilometer dari sini," jelas Elisa.
"Terakhir kali aku ke sana, kudengar ada seorang kakek yang mengantar anak perempuan yang tersesat ke sana. Bisa jadi itu anakmu, kan?"
"Bagaimana menurutmu, Gral? Aku bisa meminta Noa untuk mengantarmu ke sana jika kau mau," tawar Elisa.
Mata Gral berbinar-binar begitu mendengar tawaran Elisa. Tanpa berpikir panjang, dia segera mengiyakan tawaran Elisa. Setelah mengucapkan terima kasih dan berpisah dengan Gedson, kedua orang itu pun segera kembali ke gedung CAST menuju kamar Noa.
Baru saja Elisa mau memutar gagang pintu kamar Noa, pintu yang ada di hadapannya telah terlebih dahulu terbuka dan seorang wanita dengan seragam latex serta jubah bulunya yang lebat keluar dari kamar itu.
"Cepat bersiap, kita mendapat misi," ucap Noa. Wanita itu kemudian memandang ke arah Gral yang sedari tadi memandanginya tanpa henti lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Fine, kau boleh ikut."
***
Ketiga orang yang telah bersiap dengan segala perlengkapannya itu kini berada di hadapan ketua CAST, Benjamin Skylark. Tanpa berbasa-basi, pria tua itu segera memberikan misi bagi Noa dan timnya. "Kumpulan shadow dalam jumlah besar tertangkap tengah bergerak menuju Aleska. Tugas kalian adalah mencegah shadow-shadow itu memasuki wilayah Aleska. Paham?"
"Paham!" sahut ketiga orang yang ada di hadapan Benjamin dengan serentak.
"Lalu terkhusus untuk Gral," ucap Benjamin. Gral yang tiba-tiba dipanggil itu pun segera menjawab. "Saya tahu kalau anda bukan bagian resmi dari tim Noa. Oleh karena itu, saya memperbolehkan anda untuk mundur ketika misi ini mulai membahayakan nyawa anda."
"Baik, Tuan!" sahut Gral.
"Jaga tamu kita ini tetap aman, yan, Noa," ucap Benjamin sambil menyenggol Gral.
"Tenang saja, pak tua," ucap Noa dengan percaya diri.
Barisan pun dibubarkan dan mereka pun segera bergerak menuju posnya masing-masing. Noa pergi menuju Gerbang Shanaz, diikuti oleh Gral. Sementara itu, Elisa bergerak menuju ruang kerjanya untuk memberikan arahan kepada Noa dan Gral selama misi berlangsung.
Sebelum berangkat, Noa memberikan sebuah batangan logam kepada Gral. "Terima ini," ucapnya. Gral yang kebingungan pun bertanya tentang barang yang baru saja diterimanya itu. "Itu adalah senjata untukmu. Batangan itu telah kulapisi dengan kekuatan Black Markku jadi seharusnya efektif untuk menghabisi para shadow."
"Terima kasih, Noa," ucap Gral.
"Nah, sebelum berangkat, apa kau bisa menunjukkan kepadaku bagaimana kuda-kudamu saat bertarung?" pinta Noa. Pria yang memegang batangan logam itu pun memegang erat senjata miliknya dengan kedua tangannya lalu membungkukkan sedikit badannya dan memundurkan selangkah kaki kanannya.
"Tidak buruk," puji Noa. "Tapi, akan lebih baik kalau kau menggenggam senjatamu dengan salah satu tanganmu. Berbeda dari manusia, gerakan shadow tidak dapat diprediksi. Dengan memegang senjata hanya dengan salah satu tanganmu, maka kau akan lebih leluasa untuk bergerak dan mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga."
Kini, Gral dan Noa pun telah siap untuk pergi menuju Aleska. Gerbang pun terbuka dan mereka pun melangkahkan kaki memasuki daratan Nestrein yang dingin.