Lima hari berlalu semenjak Noa dan Gral pergi dari Shanaz, namun mereka masih belum memasuki Aleska. Sepanjang perjalanan, tak sedikit shadow yang mereka temui. Akan tetapi, berkat pengalaman dan keahlian Noa serta arahan dari Elisa membuat perjalanan yang mereka lalui tampak tidak berbahaya. Di sisi lain, Gral tampaknya masih belum bisa berapdatasi dengan cuaca Nesterin yang terbilang cukup ekstrim, di mana salju hitam terus mengguyur mereka tanpa henti dan suhu pun menurun secara drastis di tempat-tempat yang tertumpuk butiran salju.
"Hey, Gral," panggil Noa tiba-tiba. "Bagaimana Nestrein 200 tahun yang lalu?"
Gral pun memutar kembali memori kehidupannya. "Pepohonan dipenuhi oleh burung-burung, orang-orang selalu berlalu-lalang, entah siang maupun malam. Lalu ironisnya, di akhir tahun, orang-orang justru menunggu datangnya salju karena mereka akan berkumpul lagi bersama keluarga terdekatnya."
"Menarik. Kudengar di zamanmu salju itu berwarna putih?" tanya Noa lagi.
"Itu benar," jawab Gral.
"Aku penasaran bagaimana rasa dari salju berwarna putih," kata Noa sambil membasahi bibirnya yang mengering akibat kedinginan.
"Hey, Noa. Apakah normal bagi para pemilik kekuatan untuk memakan salju hitam langsung sepertimu?" tanya Gral yang keheranan melihat tingkah laku Noa. Ketika dia mengingat-ingat kembali, Noa tengah asik menyantap salju hitam ketika ia bertemu dengannya saat pertama kalinya.
"Tidak semua bisa memakan salju hitam langsung sepertiku," jawab Noa.
"Tapi kenapa—"
Pertanyaan Gral harus terputus ketika sebuah jari telunjuk menyentuh bibirnya.
"Semakin sedikit yang kau tahu, semakin baik," ucap Noa sambil tersenyum datar.
***
Aleska merupakan sebuah wilayah di sebelah barat Kota Shanaz. Wilayah ini terdiri dari 3 kota kecil yang menjadi pemukiman bagi segelintir manusia. Kota-kota tersebut tentunya memiliki pertahanannya masing-masing, meskipun tidak seketat Shanaz yang merupakan pusat dari CAST. Oleh karena kecilnya pasukan pertahanan yang ada, tak jarang kota-kota tersebut meminta bantuan dari kota-kota besar, seperti Shanaz.
Uniknya, masing-masing dari kota tersebut berperan besar dalam membantu berlangsungnya kehidupan manusia. Kota Alto merupakan salah satu penyedia bahan pangan terbesar di daratan Nestrein. Lalu ada Kota Elcrima yang menyediakan perlengkapan bagi pasukan CAST, seperti pakaian latex dan peralatan canggih yang ada di dalamnya. Terakhir, Kota Trixia merupakan satu-satunya kota yang menjadi palang pintu bagi kedua kota lainnya dari dunia luar. Ketiga kota ini bekerja secara bersama-sama, sehingga ketika salah satu dari mereka terganggu, maka kota-kota lainnya pun juga ikut terganggu.
"Sekitar 200 meter lagi, ada sebuah sungai beku yang harus kalian seberangi," ucap Elisa dari tranceiver.
"Apakah ada shadow yang terdeteksi?" tanya Noa.
"Sejauh ini tidak ada yang terdeteksi, tapi jika kau mau menyeberanginya, berhati-hatilah."
"Bagaimana menurutmu, Gral? Apa kita seberangi sungainya sekarang atau istirahat terlebih dahulu?" tanya Noa meminta pendapat dari Gral.
"Ayo kita seberangi. Lebih cepat, lebih baik, kan?" ucap pria itu.
Kedua orang itu pun kini telah sampai di tepi sungai, mengamati kondisi sungai yang sepenuhnya beku itu. Lapisan es yang sangat tebal terlihat ketika Noa menyibakkan butiran-butiran salju yang menggunung di atasnya. Kemudian dia menghentak-hentakkan kakinya di atas permukaan es itu untuk mengetes seberapa kuat permukaan es tersebut menahan beban dua manusia dewasa yang akan menyeberang.
Hasilnya pun positif. Permukaan es tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda akan pecah, bahkan retak pun tak terlihat sedikitpun.
Noa pun mengambil langkah awalnya untuk memulai menyeberang. Setelah yakin dengan pijakannya, dia melangkahkan lagi kakinya yang satu sambil merentangkan kedua tangannya guna menyeimbangkan tubuhnya yang berdiri di atas permukaan es yang licin. Dia pun memberi kode kepada Gral untuk mengikuti langkahnya.
Kini, kedua orang itu telah berada di tengah aliran sungai yang membeku. Fokus mereka harus semakin ditingkatkan karena permukaan es di tengah sungai akan lebih tipis dibandingkan dengan pinggiran sungai. Dengan sangat berhati-hati Noa melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah. Matanya bergitu fokus untuk mengamati bagian es yang akan dipijaknya karena sedikit kesalahan dapat berakibat fatal, bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk rekannya juga. Selain itu, setiap langkah yang diambilnya harus diputuskan secepat mungkin untuk mengurangi risiko pecahnya permukaan es akibat dirinya yang terlalu lama berdiri di titik yang sama.
Di langkahnya yang kesekian saat dia menyeberangi sungai, Noa melihat sebuah siluet shadow yang terperangkap di bawah permukaan es. Ragu dengan langkahnya, dia pun menyuruh Gral untuk mundur beberapa langkah. Sayangnya, Gral salah mengartikan kode dari Noa dan justru malah berjalan mendekati rekannya itu. Mereka pun berada di satu titik dan hal yang tak diinginkan pun terjadi. Permukaan es perlahan mulai meretak.
"Lari!" seru Noa.
Mereka pun berlari menjauhi retakan pada permukaan es yang terus memanjang. Sayangnya, perbedaan pengalaman dan stamina pun terlihat jelas membedakan kedua orang ini. Noa dengan mudahnya berlari dengan cepat menuju tepian sungai, sementara Gral harus berulang kali nyaris terpeleset. Beruntung, Noa yang melihat rekannya tengah kesulitan segera menarik rekannya itu ke tepian sungai.
"Tetap fokus! Ini belum berakhir!" ucap Noa.
Retakan es terus melebar hingga ke tepian. Noa dan Gral yang telah berhasil menyeberang terus mengamati apa yang terjadi pada sungai yang membeku itu dengan kedua mata mereka. Beberapa kepingan es mulai beterbangan ketika kumpulan shadow yang terperangkap dalam sungai berhamburan keluar.
"Hentikan mereka sebelum mereka sampai di Trixia!" perintah Elisa.
Sebuah shadow meluncur tepat ke arah Noa dan Gral, tetapi dengan mudahnya ditinju oleh Noa hingga shadow tadi pun terpental dan mati seketika. Akan tetapi, Noa yang baru saja meninju sebuah shadow belum siap untuk menahan belasan shadow yang meluncur melewatinya begitu saja menuju Kota Trixia.
"Gral! Jangan biarkan mereka lewat!" teriak Noa.
Sayangnya, Gral yang belum berpengalaman tak sanggup menahan shadow itu satu buah pun. Dia justru meringkuk ketakutan ketika shadow-shadow itu bergerak melewati dirinya. Hal itu membuat Noa mulai menyesali keputusannya untuk membawa Gral untuk menjalankan misi bersamanya. Dia berjalan ke arah Gral, tidak peduli dengan shadow-shadow yang bergerak melewatinya untuk kesekian kalinya. Tanpa diduga, wanita itu justru meninju rekannya tepat di wajahnya.
"Hentikan Noa! Apa yang kau lakukan!?"
"Kalau kau tidak bisa menjalankan misi ini, pulang saja kau, bodoh!" maki Noa menghiraukan ucapan Elisa.
"Kau berharap aku melakukan apa? Tujuanku ikut denganmu, kan, untuk mencari anakku. Bahkan Tuan Benjamin memperbolehkanku untuk pergi begitu saja kalau keadaanku terdesak," ucap Gral membela dirinya. "Apa yang kau tahu tentangku yang kehilangan satu-satunya anggota keluargaku?"
Noa pun menampar Gral.
"Aku tahu rasanya kehilangan keluarga. Asal kau tahu, kedua orang tuaku dibunuh tepat di depan kedua bola mataku," ucap Noa sambil mencengkram jubah yang dikenakan oleh Gral. "Jangan seolah-olah karena anakmu menghilang, kau membawa-bawa namanya seolah-olah jika dia telah tiada!"
Mendengar hal itu, Gral pun tak lagi bisa berkata-kata.
"Sekarang pulang saja kau. Hey, Elisa," panggil Noa. "Pandu orang bodoh untuk kembali ke Shanaz. Jangan sampai dia meninggal di perjalanan, paham?"
"Baik, Noa."
"Asal kau tahu, Elisa memintaku untuk membawamu ke Vixen. Kau mau tahu di mana Vixen? Panti asuhan itu berada tepat di jantung Kota Trixia," ucap Noa sambil meninggalkan Gral yang mulai meneteskan air matanya.