Banyuwangi 9 Maret satu tahun yang lalu.
Gadis itu membiarkan kulitnya terpapar sinar matahari, dia sedang menikmati ombak yang cukup besar di hadapannya, angin datang cukup besar membuat rambut panjang Mourent terbang dan acak-acakan, namun gadis itu tidak memperdulikannya dia masih menatap lurus pada laut biru, buih-buih datang ke pantai dan kadang menyentuh kakinya.
Mourent melepaskan alas kakinya dan menentengnya sambil menyusuri pantai, jarum jam di tangannya menunjukkan pukul 15:12, meski sudah menjelang sore matahari masih sangat terasa panas di pipinya, dia membelakangi matahari dan mulai berjalan di bibir pantai sendirian.
"Mourent ...," panggil seorang wanita yang lebih muda darinya, dan Mourent hanya mengangkat dagunya dan seraya tersenyum.
"Aku mau beli minum dulu," Gadis itu sedikit berteriak karena jarak mereka yang sedikit jauh dan deru ombak yang cukup besar.
Mourent hanya membalasnya dengan anggukan kepala, dan dia kembali berjalan santai, dan sesekali memperhatikan pengunjung lainnya yang juga sedang menikmati keindahan pantai, semua hal mengingatkan dengan kisah cintanya yang kelam meski dia sudah mencoba melupakan namun tetap saja itu terpatri di benaknya. Dia bisa teringat meski hanya dengan hal kecil, misalnya bungkus permen. Terlihat konyol namun itu malah menyiksa untuk Mourent.
Bagaimana dia bisa melupakan hal besar yang terjadi di hidupnya, dia di hiyanati oleh dua orang sekaligus yang sudah Mourent kenal dan dekat selama bertahun-tahun.
Beberapa tahun yang lalu Mourent pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki saat mereka masih sama-sama duduk di kelas 11, semuanya baik-baik saja selama dua tahun, Mourent ada seorang gadis yang sebelumnya belum pernah membuat komitmen dengan siapapun karena dia tidak mudah untuk di taklukkan, namun karena kegigihan Alexy membuatnya luluh dan akhirnya menerimanya, yang tidak di ketahui Mourent ternyata sahabatnya sendiri lebih dulu menaruh hati padanya sebelum mereka saling jatuh cinta.
Mourent tidak mengetahuinya karena Kanaya tidak pernah mengatakan hal itu, dia sangat tertutup, bahkan Mourent yang sudah berteman dekat tidak mengetahui jika gadis itu sudah menaruh hati pada Alexy, dia sangat pandai menyembunyikan perasaannya, dia bisa tersenyum dengan sangat lebar meski hatinya berdarah-darah.
Kekacauan dimulai saat Mourent harus pergi melanjutkan pendidikan di luar kota atas permintaan orang tuanya, jarak yang jauh bukanlah halangan namun ada pepatah mengatakan, jika fisik terpisah maka hati pun ikut menjauh.
Itulah yang terjadi pada hubungan Mourent dan Alexy, Mourent bukanlah orang yang bisa membuka hatinya dengan mudah namun tidak dengan Alexy meski mereka sudah menjalin hubungan selama dua tahun, tapi semua bisa berubah dengan berjalannya waktu.
Satu tahun dua tahun tidak ada yang terjadi mereka masih seperti dulu meski hanya beberapa kali bertemu dalam satu tahun, Mourent dan Alexy mempunyai komunikasi dengan baik, Vidio Coll ataupun hanya sekedar chatting, mereka selalu bertukar kabar satu sama lain, di jaman yang super canggih ini jarak benar-benar bukanlah sebuah alasan untuk saling mengetahui keadaan satu sama lain.
Namun tetap saja jika sudah ada niatan dan kesempatan, orang akan punya seribu jalan untuk mengambil jalan lain, di tahun kelima hubungan mereka, Mourent mendapati sesuatu yang sangat menyakitkan, waktu itu dia sedang liburan dan kembali ke kota asalnya.
Mourent bertemu dengan Kanaya di sebuah resto, mereka sudah membuat janji sebelum Mourent pulang, itu atas permintaan Kanaya seminggu sebelum Mourent pulang, dan Mourent sangat khawatir karena Kanaya nampak pucat.
"Kanaya, apakah kamu sakit? Kamu terlihat sangat pucat" kata Mourent pada Kanaya setelah dia memerlukannya. Namun Mourent tidak menunggu jawaban dari Kanaya karena perhatiannya malah teralihkan pada perut buncit Kanaya.
Saat Mourent memeluknya tadi, ada sesuatu yang aneh dan berbeda saat mereka berpelukan setiap kali mereka bertemu. Mourent menatap perut Kanaya yang nampak sedikit buncit, dan Kanaya menundukkan kepalanya tidak ingin bertatapan langsung dengan Mourent.
"Duduklah," ucap Mourent pada Kanaya, dan wanita itu menuruti perkataan Mourent, Kanaya mengambil duduk di depan Mourent, mereka saling berhadap-hadapan dan Mourent memegang tangan sahabatnya itu.
"Naya ...," panggil Mourent lembut, sangat berhati-hati. Kanaya mengangkat kepalanya namun kemudian dia menunduk lagi.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kamu bisa bercerita padaku."
"Aku ..., a-aku," Bibir Kanaya terasa kelu.
"Baiklah aku yang bertanya jika kamu sulit memulainya dari mana," Mourent mengungkapkan dua tangannya untuk menggenggam tangan Kanaya yang ada di atas meja.
"Berapa bulan," Mourent bertanya dengan sangat hati-hati agar tidak menyakiti perasaan sahabatnya itu.
"5," jawab Kanaya sangat lirih.
"Siapa dia? Apakah aku mengenalnya?"
Kanaya tidak langsung menjawabnya, namun matanya terasa sangat panas dan air matanya begitu saja meluncur dengan bebas tanpa ijin darinya, Kanaya menganguk dua kali namun tidak berani menatap mata Mourent.
"Kamu tidak pernah bercerita jika kamu sedang dekat dengan seseorang, padahal kita sering chatting?" Mourent dan Kanaya lebih sering chatting dari pada video call karena Kanaya sering menolak panggilan darinya.
"Lalu apa yang bisa aku bantu sekarang, apa yang harus aku lakukan untukmu?" Mourent menawarkan jasa karena tidak sampai hati melihat kondisi sahabatnya saat ini yang memperhatikan.
Kali ini saat mendengar Mourent menawarkan bantuan, Kanaya mengangkat kepalanya dan memperlihatkan matanya yang masih penuh dengan air mata.
"Apa kamu yakin mau membantuku?" ucap Kanaya dengan suara lemahnya.
"Aku akan bantu sebisaku, selagi aku masih bisa membantumu aku akan lakukan," jawab Mourent sambil tersenyum.
"Aku takut, kamu tidak bisa melakukannya."
"Apa yang kamu inginkan?"
"Aku ingin, aku ingin ...."
Mourent menunggu Kanaya menyelesaikan ucapannya dengan sabar, tautan tangan mereka masih terjalin. Dan Mourent terus memandangi Kanaya yang gugup, kata-katanya tersangkut di tenggorokan, Mourent juga tidak membuat tekanan pada Kanaya agar cepat-cepat bicara.
"Mourent, Mourent maafkan aku," Air mata itu turun lagi bahkan kini lebih banyak.
"Apa? Untuk apa kamu minta maaf padaku?" tentu saja Mourent di buat binggung oleh Kanaya.
"Aku, aku ingin kekasihmu menikahiku."
Di detik ini Mourent membuka mulutnya lebar namun dia sama sekali tidak bereaksi, dia hanya menatap lurus pada Kanaya yang masih menagis, tapi di detik selanjutnya Mourent melepaskan tautan tangannya dengan Kanaya.
"Mourent maafkan aku," Untuk yang kesekian kalinya Kanaya meminta maaf pada Mourent.
"Apa? Apakah aku mengalami gangguan pendengaran?" Mourent memasukkan jari telunjuknya ke lubang telinganya, dia menjatuhkan tangannya yang tidak mampu berpura-pura, Mourent tanpa sadar juga ikut menitihkan air mata.
"Sejak kapan? Sejak kapan kalian bermain gila di belakangku?"
"Sudah lama," jawab Kanaya jujur.
"Sudah lama? Sudah lama! Dan aku seperti orang bodoh diantara kalian."