Mourent menatap air yang tumpah dari langit melalui jendela kaca yang menjulang tinggi di sampingnya, matanya masih bengkak karena kejujuran Kanaya, dia menolak mengatakan apapun saat ini, mereka sedang menunggu seseorang yang ada di antara mereka, yaitu Alexy.
"Mourent," panggil Kanaya, dia juga sedang bersedih saat ini, namun dia juga tidak bisa melihat sahabatnya seperti ini, mereka telah melalui banyak hal bersama, dan hanya karena dia menuruti sedikit hawa nafsunya, dia terperangkap dan tidak bisa kembali.
Mourent tidak menjawab panggilan Kanaya, dia masih menatap kosong pada hujan yang semakin deras, di luar Mourent melihat sosok yang berlari membelah hujan, dia berlari dan menggunakan jaketnya untuk melindungi kepalanya agar tidak basah oleh hujan saat turun dari sepeda motornya.
Alexy langsung berlari masuk dan mencari seseorang yang memangilnya yaitu Mourent, dan dia tersenyum saat melihat gadis itu sedang duduk di dekat kaca besar sedang melihat ke luar, dan tanpa pikir panjang dia langsung menghampiri Mourent, namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang duduk di depan kekasihnya itu.
"Alexy?" Kanaya yang terlebih dulu menyadari kehadiran Alexy.
Alexy melanjutkan langkahnya menghampiri dua wanita itu, dia menatap Mourent dan Kanaya bergantian, namun dia memaksakan tersenyum dan menyapa Mourent.
"Sayang, maaf aku lama, aku terjebak hujan," kata Alexy sambil mengambil satu kecupan di puncak kepala Mourent, namun gadis itu sama sekali tidak merespon, dia masih tetap diam meski Alexy memperlakukannya begitu sangat manis.
Mungkin jika ini sebelumnya, Mourent akan selalu tersenyum dan merasa bahagia karena perlakuan romantis dari Alexy, semua orang mengatakan jika Mourent beruntung mendapatkan Alexy, dia pacar idaman banget. Dia perhatian, romantis, dan juga wajah yang cukup menarik, Alexy juga sangat baik, sopan santunnya selalu dia gunakan dengan epik.
Tapi siapa sangka jika dia balik itu, dia memiliki kemampuan manipulatif yang sangat lihai, Mourent sangat tertipu akan wajahnya yang tidak memiliki beban meski dia memiliki rahasia besar di balik punggungnya.
"Apakah kamu sakit?" tanya Alexy menyentuh kening Mourent, Mourent sendiri tidak memiliki tenaga untuk meladeni Alexy yang masih sama seperti dulu, baik, perhatian dan romantis. Meski di depan mereka ada wanita yang sudah menjadi korbannya.
"Mourent, kamu kenapa?" Alexy menangkup pipi Mourent dan membuatnya menatap mata Alexy.
"Ada apa? Kenapa matamu bengkak, siapa yang membuatmu menangis?" Laki-laki nampak begitu khawatir pada keadaan Mourent yang tidak mau mengucapkan satu patah kata pun.
"Mourent?"
"Apa kamu yakin ingin tahu siapa yang membuat aku seperti ini?" Akhirnya Mourent membuka mulutnya.
"Siapa?" Meski Alexy sudah memiliki filing namun dia masih bertanya dengan susah payah, dia menelan ludahnya sambil menatap mata Mourent yang basah. Apalagi di sana ada Kanaya yang sedari tadi hanya menjadi penonton mereka.
"Kamu," jawab Mourent singkat.
"Aku?" Alexy masih berlagak bodoh di depan Mourent.
"Apa yang aku lakukan padamu?"
"Alexy, sudahlah. Mourent sudah tahu semuanya," Akhirnya Kanaya tidak tahan lagi dan menyela pembicaraan mereka.
"Apa yang kamu katakan, tahu apa?" Alexy masih berakting di depan Mourent.
"Aku sudah menceritakan semuanya tentang kita, aku hamil anakmu."
"Gila, siapa yang menghamili mu?" Alexy meninggikan suaranya, dan kini kembali menatap Mourent sambil menggenggam tangannya.
"Jangan percaya sayang, dia berbohong. Kita sudah merencanakan pernikahan kita setelah kamu lulus kuliah, kita sudah merencanakan banyak hal untuk masa depan kita."
"Kamu tidak berperasaan Alexy? Bagaimana kamu masih bisa mengatakan hal itu setelah mempermainkan dua wanita?"
"Diam," Alexy membentak Kanaya, karena memperkeruh keadaannya dengan Mourent.
Di luar resto hujan sangat deras dan angin kencang, namun Mourent merasa sangat panas, dia menangis sambil menutup matanya menggunakan satu tangan, pundaknya bergoyang karena menangis.
Ini adalah kali pertamanya dia patah hati, karena Alexy adalah cinta pertamanya dan itu hancur karena sahabatnya sendiri yang sudah lama dia kenal sebelum bertemu dengan Alexy.
"Stop, stop ...," Mourent menghentikan Alexy yang masih terus berdebat dengan Kanaya.
"Apa yang kalian ributkan? Bukankah seharusnya aku yang marah di sini?" Mourent berdiri dari tempatnya duduk, membuat kedua orang itu berhenti berdebat dan melihat Mourent.
"Kalian tidak perlu menyalahkan satu sama lain, aku yang salah di sini, aku yang bodoh," ucap Mourent dengan berlinangan air mata, suara tidak begitu lantang namun menyayat hati.
"Aku yang salah bukan kalian, aku terlalu bodoh karena mempercayai orang yang sangat dekat denganku, tapi sekarang kalianlah yang menorehkan luka paling dalam di sini," Mourent menunjuk dadanya.
"Aku bodoh," Satu tamparan dilakukan oleh Mourent pada dirinya sendiri.
"Mourent," Alexy berteriak karena kaget dia memegang tangan Mourent namun segera Mourent melepaskannya, dan dia menampar pipinya lagi sambil menangis.
"Bodoh," lirih Mourent.
"Hentikan Mourent," Alexy mencoba menghentikan Mourent yang menyakiti dirinya sendiri.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Ha?" tanya Mourent pada Alexy, Alexy tidak bisa menjawab, dia hanya mengeleng tiada arti.
"Apakah kamu ingin aku marah pada kalian?" tidak ada yang menjawab.
"Haruskah aku meluapkan amarahku pada kalian," Mourent mengambil gelas jus alpukat yang masih penuh di hadapannya, dan bersiap untuk menyiramkan ke salah satu orang yang bada di hadapannya.
Bahkan Alexy dan Kanaya sudah bersiap menggunakan kedua tangannya untuk menangkis jus yang ada di tangan Mourent, namun keduanya di buat tercengang dan tidak menyangka jika jus alpukat yang ada di tangan Mourent tidak untuk mereka malah untuk di siramkan ke kepala Mourent sendiri.
Mourent tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya terus menangis sambil menunduk, dia tidak peduli jika saat ini dia di buat tontonan banyak orang yang ada di sana.
Seorang wanita yang sudah tidak lagi nampaknya karena tertutup oleh jus alpukat yang pekat, dan dia sedang menangis, terlihat nampak begitu menyedihkan. Mourent mengambil tas miliknya dan bersiap untuk pergi, dia sudah tidak tahan lagi berada di sana menghirup oksigen yang sama dengan dua orang yang sudah menorehkan luka paling dalam.
"Mourent, Mourent, tunggu," Alexy mencoba menghentikan Mourent yang akan pergi.
"Lepaskan," ucap Mourent pada Alexy yang menggenggam pergelangan tangannya.
"Mourent."
"Stop, kamu tidak perlu membuang tenaga mu untuk menjelaskan semuanya, semuanya sudah terlalu jelas bagiku."
"Mourent," Alexy hanya sanggup memanggil namanya saja.
"Biarkan aku pergi, aku berjanji tidak akan mengganggu kehidupan kalian, aku bisa mengurus diriku sendiri, lebih baik jika kamu mengurus pernikahan dengan wanita pilihan mu dan calon anak kalian."
"Tidak Mourent, aku memilihmu."
"Tapi aku tidak."
Mourent membalikkan tubuhnya dan segera pergi, Alexy ingin menyusul Mourent namun di tahan oleh Kanaya dan mereka mulai berdebat lagi, Mourent sudah tidak mau tahu dengan kedua orang itu, urusannya dengan mereka sudah selesai di sini dan saat ini dia memiliki masalah besar yaitu dengan dirinya sendiri.
Mourent keluar dari resto dan menerjang hujan yang sangat lebat, dari ujung kepalanya yang penuh dengan jus alpukat kini sudah bersih tersapu dengan air dari langit, mungkin mulia saat ini Mourent memiliki fobia dengan jus alpukat, yang dulunya adalah minuman favoritnya. Karena akan mengingatkan dirinya pada kejadian hari ini.