"Sydney suka masak?" tanya ibu Kiev di sela-sela makannya. Suasana makan malam di rumah Sydney malam ini terasa lebih seru dibanding malam-malam sebelumnya yang memang hanya ada Sydney dan kedua orang tuanya saja.
"Suka, Tante, tapi ya hanya ala kadarnya aja." jawab Sydney sambil tersenyum. Ibu Kiev ikut tersenyum sambil mengangguk angguk. Dan kemudian berceletuk.
"Sydney mau nggak jadi menantu tante?" mulut Sydney berhenti mengunyah saat pertanyaan ajaib itu keluar dari bibir ibu Kiev. Dia tahu, jika ada maksud dari pertemuan yang diadakan malam ini oleh kedua perempuan paruh baya itu. Tapi apa harus se to the poin itu?Pikirnya.
Suasana berubah hening. Bahkan ayah Kiev yang berada tepat di samping istrinya harus mencubit paha perempuan tersebut untuk menginterupsi. Tapi ibu Kiev bukan tipe perempuan yang akan mudah menyerah, alih-alih 'mengkonfirmasi' ucapannya, perempuan itu malah kembali menatap Sydney dalam.
"Sydney udah punya pacar ya?" tanyanya dengan nada yang terdengar sedih saat pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban. Mendengar pertanyaan yang kedua dari ibu Kiev, Sydney langsung menggeleng dan menjawab.
"Saya nggak punya pacar kok Tante." ibu Sydney hanya geleng-geleng sambil tersenyum melihat putrinya di intograsi oleh temannya itu. Paham, jika ibu Kiev memang terlalu blak-blakan. Sedangkan Kiev hanya bisa menyebut nama Tuhan berkali-kali melihat aksi ibunya yang menurutnya terlalu berlebihan.
Suasana makan malam dipenuhi oleh obrolan-obrolan ringan dari para orang tua. Ayah Kiev memang selalu bisa mengalihkan obrolan yang menurutnya sudah dalam mode canggung.
Sedangkan Kiev dan Sydney hanya mendengarkan perbincangan mereka, tanpa adaniatan untuk masuk ke dalamnya.
Sydney sesekali mengarahkan pandangannya kearah Kiev yang duduk tepat di depannya. Menilai secara diam-diam bagaimana sosok lelaki tersebut. Gadis itu tahu, jika secara fisik, Kiev memang tampan, sama sekali tidak pelit senyum. Dia paling tidak suka dengan pria yang petentang-petenteng sok cool, dan menganggap dirinya paling keren. Dia akan merasa ilfil jika ada pria seperti itu, dan Kiev sepertinya berbeda. Dan itu adalah penilaian dari tampilan luar, Sydney baru akan tahu sifat asli dari pria itu jika memang mereka sudah saling mengenal secara baik dan dekat.
Akhirnya, makan malam mereka berakhir. Obrolan mereka berlanjut sampai di ruang keluarga.
Dan di sinilah Kiev dan Sydney sekarang. Di gazebo belakang rumah Sydney, sama-sama memandang air kolam renang yang bergerak tertiup angin. Dan lagi-lagi, kedua wanita paruh baya itulah yang berinisiatif menyuruh mereka 'memisahkan' diri dari para orang tua. Belum ada yang berniat memecah keheningan yang terjadi antara keduanya.
Hampir beberapa menit mereka diam, sampai Kiev mencoba untuk mengeluarkan suaranya.
"Maaf atas pertanyaan Mama yang tadi." Sydney menengokkan kepalanya kearah kirinya, dimana Kiev berada. Gadis itu tersenyum sebelum menjawab.
"Nggak papa. Saya paham kok."
Kiev mengangguk merespon jawaban Sydney. "Ngomong-ngomong, terima kasih juga karena sudah menolong mama waktu itu. Sepertinya itu sebuah kebetulan yang menyenangkan." Kata Kiev lagi masih sambil menatap Sydney dari samping.
"Haha, ya. Kebetulan yang menyenangkan. Sama-sama, kebetulan juga saya juga ada di sana waktu itu. Jadi ya, saya bisa menolong Tante." dihadapkan oleh suasana seperti ini memang tidak semua orang bisa menguasai keadaan. Kecanggungan akan selalu mendominasi.
"Sejak kapan ikut taekwondo?" Kiev kembali mengawali, dia tidak ingin terlihat bodoh hanya karena rasa 'tertariknya' kepada Sydney membuatnya gaguk.
"Udah lama sih sebenernya. Sejak SMP. Hampir mau keluar waktu itu karena malas, tapi Papa nggak ngizinin. Jadi ya mau nggak mau sampai selesai. Ternyata ada gunanya juga sih." kata Sydney sambil tersenyum kecil. Mau tidak mau, Kiev tertular dengan senyuman Sydney yang menurut Kiev adalah sebuah keindahan.
"Ya. Kadang apa yang nggak kita suka, bukan berarti nggak berguna."
"Benar. Kalau Mas sendiri, suka olahraga apa?" ada yang berdesir di hati Kiev saat panggilan 'mas' keluar dari bibir Sydney. Senyumnya kembali terbit memperlihatkan dimplenya yang terlihat benar-benar sexy di mata Sydney.
"Nggak ada olahraga yang saya kuasai sih sebenernya, tapi memang kalau ada waktu luang, saya sempetin fitnes."
"Oh ya? Saya juga suka fitnes kok. Biasanya mas suka fitnes dimana?"
"Nggak pasti sih. Biasanya nggak jauh dari rumah, kadang juga di deket kantor. Kalau kamu?"
"Saya biasanya di JR fitnes, soalnya saya kenal yang punya." Kiev mengangguk paham. "Saya juga pernah kok ke sana. Kapan-kapan, mungkin kita bisa fitnes bareng." kata Kiev menawarkan. Sejujurnya itu hanya omongan basa-basi Kiev untuk formalitas saja. Tapi saat Sydney menyetujui, hatinya entah kenapa lega luar biasa.
"Boleh." jawab Sydney singkat.
Perkenalan singkat malam ini, sepertinya akan membawa kesuksesan besar dalam hubungan mereka. Dan kedua ibu mereka yang memiliki rencana memperkenalkan mereka satu sama lain jugaakan merasa bahagia biasa seandainya hubungan mereka sukses.
°•°
"Gimana sama Sydney?" mereka baru saja sampai di rumah, sang ibu dengan tidak sabarnya langsung menanyakan pendapat putranya tentang gadis yang diperkenalkannya.
"Mama nih apa deh, biarin anaknya nafas dulu kek. Nggak sabaran banget." sang ayah menegur ibunya karena merasa jika sang istri terlalu berlebihan.
"Emang dari tadi Kiev nggak napas apa?Papa mah lebay." ayah Kiev hanya mengedikkan bahunya tak acuh dan langsung menyalakan tivi yang ada di depannya.
Kiev duduk di sofa dengan tenang sebelum menjawab pertanyaan ibunya. "Aku setuju sama Mama kalau Sydney berbeda, dia menarik dengan caranya." sang ibu tersenyum senang sambil bertepuk tangan karena jawaban sang putra yang melegakannya.
"Tapi kita perlu waktu untuk saling mengenal. Aku bisa saja tertarik sama Sydney, tapi kita belum tahu kan gimama Sydney ke aku." Kiev tidak ingin terlalu percaya diri jika Sydney juga tertarik kepadanya.
"Bener juga sih. Tapi mama yakin kok kalau Sydney juga tertarik sama kamu, kamu kan anak mama yang paling ganteng."
"Iya, emang paling ganteng. Anak mama kan emang cuma satu." sang ayah menimpali dengan santai sambil masih fokus dengan tontonannya. Kiev hanya bisa tertawa melihat ibunya yang mencak-mencak tak karuan.
"Pokoknya sayang, kamu harus pepet dia terus. Jangan sampai lepas. Mama udah suka banget sama dia, pengennya dia jadi menantu mama."
"Sebulan yang lalu mama juga bilang gitu kan pas mau ngenalin Kiev ke anak temen mama?" tanya ayahnya dengan wajah sok polos miliknya, yang membuat ibunya kembali sebal bukan main.
"Kiev ke kamar ya Ma, Pa. Capek." pria itu langsung berjalan ke kamarnya untuk bisa segera beristirahat. Rasanya tubuhnya begitu lelah. Dari pada mendengar ibu dan ayahnya yang 'berdebat' lebih baik dia pergi, karena setelah itu nanti ibunya pasti akan merajuk dan berakhir mendengar gombalan sang ayah yang merayu sang ibu.
Kiev sudah kenyang dengan drama picisan ala ibu dan ayahnya.
Weekend kembali tiba. Kievyang biasanya akan menghabiskan weekendnya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tidak ada habisnya. Atau kadang hangout bersama teman-temannya. Ya. Hanya kadang-kadang saja, karena Kiev lebih tertarik dengan pekerjaannya dibandingkan dengan aktifitas 'cuci mata' yang sering dilakukan kebanyakan orang. Tapi berbeda dengan weekend kali ini. Mengingat ada pameran sepatu di salah satu mall di Jakarta, Kiev tentu tak mau ketinggalan, mengingat dia suka mengkoleksi sepatu.
Butuh waktu hampir satu jam setengah hanya untuk sampai di mall tersebut karena jalanan Jakarta yang begitu padat. Apalagi weekend seperti ini semua orang ingin menghabiskan harinya di luar rumah.
Mata Kiev seolah dimanjakan oleh jenis sepatu pria yang berjejer. Ternyata bukan hanya sepatu saja, tetapi ada baju-baju formal untuk pekerja kantor, jas, dan apapun yang diperuntukkan untuk pekerja kantoran.
"Silahkan Mas." seorang penjaga salah satu stand menyapanya dengan senyum. "Ada yang bisa di bantu?" tanyanya dengan ramah. Kemudian mempromosikan jualannya.
"Coba yang hitam itu Mbak." tunjuknya pada sepatu hitam mengkilap yang berjejer di rak. Karyawan tersebut mengambilkan untuknya dan memberikan kepada Kiev. Pria itu meneliti bahan sepatu tersebut, apakah kulit asli atau tidak. Merasa puas meneliti, Kiev langsung membelinya.
Dia memang tidak terlalu ribet dengan pilih yang ini atau pilih yang itu, merasa suka, maka dia akan membelinya.
Kini pria itu melangkahkan kakinya di stand jas. Dia merasa perlu membeli jas baru, itupun kalau ada yang menarik hatinya. Kiev tidak pernah memplaning kapan dia harus belanja, mengingat dia lelaki single yang masih harus membeli apapun sendiri. Tapi ketika dia keluar seperti sekarang, dia bisa memborong apapun yang menarik hatinya.
Pandangannya jatuh pada jas berwarna hitam. Seperti jas pada umumnya, tapi dia tertarik untuk melihat jas tersebut.
"Mbak saya mau lihat jas yang di sana." karyawan tersebut melihat jas yang ditunjuk oleh Kiev dan langsung menatap Kiev menyesal.
"Maaf Mas, mas pilih jas yang lain aja ya, soalnya itu hanya pajangan. Bukan untuk di jual."
"Loh, kenapa gitu?" bukannya semua yang dipajang memang untuk di jual ya, itu pikir Kiev.
"Saya kurang mengerti Mas, soalnya begitu yang diperintahkan sama bos kami. Atau kalau enggak, yang ini aja gimana Mas? Bahannya sama kok." karyawan tersebut mencoba menawarkan jas yang lain. Tapi Kiev menggeleng. Menolak tawaran tersebut.
"Saya suka yang itu mbak." kata Kiev kukuh.
"Mohon maaf sekali Mas, saya benar-benar tidak berani. Atau Mas bisa bilang langsung ke bos kami saja, meskipun saya nggak yakin beliau akan memberikannya. Tapi sayangnya beliau sekarang tidak ada di sini." jelas karyawan tersebut.
Kiev masih tidak menyingkir dari sana. Begitulah Kiev, kalau sudah menyukai suatu barang, tidak bisa untuk mengabaikannya.
"Loh, Ibu datang?" ucapan karyawan tersebut yang tiba-tiba juga membuat Kiev mengalihkan tatapannya dari jas yang bertengger di mannequin yang tertutup kotak kaca kearah seseorang yang dimaksud karyawan tersebut.
"Iya Sa, saya bosen di rumah." Kiev yang melihat dari samping tidak bisa mengenali siapa wanita itu, karena rambutnya yang tergerai yang menutupi wajahnya, hanya saja dia merasa pernah mendengar suaranya, entah kapan.
Merasa ada yang mengawasinya, gadis itu mengarahkan tatapannya kearah samping kanannya. Keduanya merasa suasana tiba-tiba hening, hanya ada mereka berdua.
"Sydney?"
"Mas Kiev?"
Ucap keduanya bersamaan.
•°•