Kejadiannya terjadi begitu cepat saat keduanya sekarang berada di salah satu kafe di mall tersebut. Masih ada rasa canggung diantara keduanya, tapi mereka berusaha mengurainya.
"Terima kasih Mbak." kata Sydney saat pesanan mereka datang diantarkan oleh salah satu pelayan.
"Saya nggak nyangka bisa ketemu di sini." ucap Kiev memulai. Sydney mengangguk menyetujui. Takdir memang tidak bisa di tebak.
"Benar. Saya sebenernya nggak ada niatan buat datang, tapi malas juga di rumah nggak ngapa-ngapain."
"Jadi, stand itu punya kamu pribadi, atau gimana?" Kiev sudah mulai merasa nyaman dengan kebersamaan mereka. Menumpukan tangannya di meja, pria itu memandang fokus kearah satu titik. Yaitu Sydney.
"Ya, itu milik saya pribadi. Saya punya usaha kecil-kecilan berupa butik yang saya dirikan hampir tiga tahun ini. Dan acara seperti ini memang lumayan ngebantu juga sih."
"Bukannya kamu bekerja di perusahaan keluarga ya?" tanya Kiev lagi, pasalnya ibunya sempat mengatakan jika Sydney memang bekerja kantoran.
"Itu juga benar," Sydney meminum jus jeruknya sebelum melanjutkan. "Perusahaan itu milik kakek, beliau dulu hanya seorang penjahit biasa yang sukses membangun perusahaan sampai sebesar sekarang. Jadi meskipun saya sudah lelah bekerja di perusahaan, saya juga pengen membangun bisnis saya sendiri. Bener-bener usaha saya sendiri, tanpa campur tangan Papa atau pun Mama."
"Saya suka dengan jas hitam yang di pajang di sana tadi." ucap Kiev tiba-tiba, membuat Sydney mengernyitkan dahinya. Pasalnya jas yang di pamerkan memang kebanyakan memiliki warna yang sama, yaitu hitam.
"Jas hitam yang mana?" tanya Sydney meyakinkan.
"Yang tertutup kotak kaca."
"Uhuk." Sydney tersedak oleh makanannya mendengar jawaban yang dilontarkan Kiev.
"Kenapa?" refleks, Kiev mendekati Sydney yang duduk berseberangan dengannya. Memijat tengkuk gadis itu untuk meredakan batuk akibat tersedaknya. Tersedak memang terkadang bisa sangat menyakitkan.
"Terima kasih." kata Sydney dengan pelan, entah kenapa ada Kiev tepat disampingnya membuat gadis itu salah tingkah.
Mereka lagi-lagi merasa canggung karena suasana yang tiba-tiba hening. Sydney hanya bisa memainkan sendok yang ada di atas piring cakenya, dan Kiev hanya bisa duduk diam di samping Sydney tanpa melakukan apapun.
Dua orang pengusaha, yang terbiasa menghadapi banyak karakter manusia di bumi, juga akan merasa kikuk saat berhadapan dengan orang yang menarik hatinya.
"Jas itu bukan untuk di jual kok Mas." setelah berpikir begitu lama, akhirnya salah satu dari mereka bisa mengakhiri keheningan yang mereka ciptakan sendiri.
"Kenapa? Apa itu jas pertama buatan kamu? Atau memang itu sebuah karakter di butik kamu?" Kiev merasa penasaran dengan jas hitam yang menariknya itu.
"Bukan-bukan," Sydney memutar tubuhnya ke kanan untuk bisa menatap Kiev langsung, tidak nyaman rasanya mengobrol dengan memunggungi lawan bicaranya.
"Ada sedikit history tentang jas itu. Tapi maaf, saya nggak bisa menceritakannya. Tapi kenapa Mas bisa suka dengan jas itu?"
Kiev mengedikkan bahunya, "Saya juga nggak tahu, pas lihat jas hitam itu bisa langsung suka aja. Itu beneran nggak dijual ya?" kata Kiev kembali meyakinkan. Sydney tersenyum mendengar pertanyaan dengan nada meyakinkan itu.
"Nggak Mas. Beneran nggak dijual." keduanya sama-sama saling memandang, tidak ada yang bisa mengalihkan mata mereka dari objek menarik di depannya.
Dan saat itulah, keduanya merasa jika hatinya sudah berdetak tak karuan karena reaksi tiba-tiba yang muncul dari ketertarikan yang memang sudah timbul saat pertemuan pertama.
°•°
Sydney merasa hatinya masih berdentang tak karuan saat malam sudah menggantikan siang.
Beginikah rasanya orang jatuh cinta? Memang dia sudah jatuh cinta sama Kiev? Tanyanya pada dirinya sendiri. Entahlah, Kiev benar-benar bisa membuatnya nyaman, pria itu, yang kata ibunya lebih memilih berkencan dengan laptop dan dokumen bisa membuatnya kalang kabut begini.
Saat hari minggu ini dia habiskan bersama Kiev, dia merasa begitu ketagihan ingin merasakannya lagi untuk menghabiskan weekendnya bersama pria itu.
Dan hari ini adalah pertama kalinya, dia pulang diantarkan oleh seorang pria. Bukan tukang ojek atau sopir taksi. Benar-benar pria yang sedang 'dekat' dengannya.
Senyumnya mengembang saat mengingat Kiev yang mengajaknya melakukan hal-hal yang baru. Seperti, saat setelah selesai sholat ashar tadi, tidak jauh dari masjid yang mereka datangi ada sebuah taman yang ada sekitar tiga remaja yang sedang bermain basket. Kiev yang melihat itu menghentikan mobilnya dan menawarinya bergabung dengan remaja tersebut. Meskipun Sydney tidak bisa bermain basket, tapi pria itu berusaha mengajarinya. Bahkan setelah selesai pun, dia langsung mentraktir banyak makanan untuk remaja tersebut yang mendapatkan sorakan kegirangan dari ketiganya. Banyak tawa yang dia keluarkan hari ini saat bersama lelaki itu.
Kiev bukan lelaki yang kaku, dia bisa bergaul dengan siapa saja. Bukan juga tipe pria sombong dengan gengsi setinggi langit. Menurut Sydney, Kiev benar-benar berbeda.
Mas Kiev : terima kasih untuk hari ini, saya senang
Satu chat masuk ke dalam ponselnya dan seketika senyumnya merekah.
Sydney : saya juga seneng kok, terima kasih kembali
Sydney tidak pernah sesenang ini sebelumnya. Dia memang pernah beberapa kali jalan bersama pria, tapi dia merasa risih karena mereka yang sok peduli, sok posesif, sok asyik, dan sok-sok yang lain yang membuatnya merasa ilfil bukan main.
Mas Kiev : syukurlah, maaf kalau tadi buat kamu keringetan dan mainnya di tempat panas
Sydney menggelengkan kepalanya, bukan masalah kalau itu bersama Kiev. Pikirnya.
Sydney : nggak masalah kok, saya beneran nggak menyesal
Mas Kiev : ngomong-ngomong soal keringat, mau fitnes bareng?
Sydney menelungkupkan wajahnya di bantal dengan wajah yang merona tak terkendali, ya Tuhan, ini hanya lewat chat loh ngajakinnya, bagaimana kalau secara langsung.
Sydney : Boleh. Kapan jadwal Mas fitnes?
Mas Kiev : Hari selasa besok gimana? Biar saya jemput ke kantor Sydney.
"Mauuuuu." jeritnya, untung saja wajahnya yang masih setia merona masih dia tutupi bantal. Kalau tidak, mungkin ibunya akan mendengar jeritan alaynya.
Sydney : Boleh. Saya tunggu
Dan malam ini, tidak hanya Sydney yang merasa bahagia setengah mati, tapi Kiev juga. Keduanya memang dulu pernah merasakan bagaimana indahnya jatuh cinta, tapi itu dulu, saat mereka masih menggunakan seragam putih abu-abu. Karena setelah masa-masa itu telah lewat, mereka sibuk dengan karir dan pencapaiannya.
°•°
"Mama dulu deket banget ya sama tante Asti?" tanya Sydney yang tiduran di pangkuan ibunya, elusan di kepalanya membuatnya merasa nyaman. Seolah otaknya yang dibuat berfikir seharian ini, bisa langsung rileks.
"Ya. Kami memang sahabatan sejak kami satu kantor. Kenapa tiba-tiba nanyain tante Asti. Jangan-jangan ada udang dibalik bakwan ya?" usut ibu Sydney merasa aneh. Ya, beliau memang belum tahu perkembangan hubungan antara Sydney dan juga Kiev. Tepatnya belum sempat menanyakan.
"Mama mah suudzhon aja. Sebenernya masih penasaran sama kelanjutan cerita mama yang waktu itu, soal keisengan tante Asti." jawab Sydney mengelak, padahal itu hanya pertanyaan pancingan agar ibunya juga menceritakan tentang bagaimana seorang Kiev di mata ibunya.
"Hahaha, itu. Beneran kamu masih penasaran?" Sydney bangun dari baringnya dan menatap ibunya penuh antusias.
"Iya Ma, kayaknya tante Asti itu asyik banget gitu orangnya."
"Emang. Tante Asti itu orangnya ceplas-ceplos, sering ngerjain orang pula. Tapi meskipun kayak gitu, nggak ada yang bisa marah sama dia." jelas ibu Sydney.
"Kok bisa?"
"Entahlah, mama juga nggak ngerti. Dia itu emang bisa banget narik perhatian orang. Bahkan Om Wisnu yang dikerjain kaya gitu aja nggak bisa marah lama-lama. Cuma dijitakin aja udah, habis itu malah ketawa-tawa nggak jelas." kedua ibu dan anak itu tertawa, sang ibu yang mengingat masa mudanya bersama ibu dari Kiev itu.
"Terus koka Mama bisa banget lost contact gitu sih? Gimana ceritanya?"
"Dulu, tante Asti sebelum nikah juga bilang ke mama. Waktu itu mama sempet pulang ke Makassar dulu sebelum nikahannya tante Asti, tapi karena nggak sengaja nomer rumah tante Asti hilang, dan pas mama balik ke Jakarta, ternyata tante Asti udah resign. Udah mama cari juga sih sampai ke rumahnya, ternyata mereka semua udah pindah."
"Jadi mama nggak dateng ke nikahannya tante Asti dong?"
"Enggak, karena kebetulan mama waktu itu sakit tifus. Jadi agak lama sembuhnya, untung aja perusahaan tempat mama kerja bisa ngerti. Tapi setelah mama balik, ternyata Asti udah resign dan semua akses seolah tertutup buat ketemu lagi."
"Tapi kan dulu kita juga pernah kok ketemu lagi waktu liburan, tapi saking sibuk ngobrol, kami lupa minta nomer telpon yang bisa dihubungi." ibu Sydney tersenyum sebelum melanjutkan. "Untung beberapa hari yang lalu, kita ketemu lagi. Dan ide buat kenalin kalian tiba-tiba muncul di kepala mama sama tante Asti."
"Kok tumben nggak lupa minta nomer telpon lagi Ma?"
"Hahaha, ya enggak lah. Mana ada lupa lagi. Dan ternyata emang takdir udah merencanakan untuk pertemuan ini sayang. Buktinya kan, kamu udah ketemu duluan sama tante Asti." Sydney mengangguk menyetujui, beruntung dia bertemu dengan tante Asti, lebih beruntung lagi, dia bertemu dengan Kiev.
Aduh, sepertinya otak Sydney benar-benar mulai mengukir nama Kiev di sana.
"Mama suka kok sama nak Kiev." ini dia batin Sydney girang. Ibunya yang mulai menceritakan Kiev membuatnya gugup. "Mama nggak tahu banyak tentang dia, tapi firasat mama mengatakan kalau anak itu bener-bener baik."
"Kok mama kayaknya yakin?" pancing Sydney lagi.
Ibu Sydney mengedikkan bahunya. "Tante Asti pernah bilang jika dia hampir menjedukkan kepalanya karena beberapa perempuan yang dikenalkannya untuk Kiev selalu di tolaknya dalam pertemuan pertama."
"Serius Ma?" Sydney kaget tentu saja, ini informasi baru baginya. Kenapa, apa alasan Kiev menolak para gadis itu, lalu bagaimana dengannya, apa dia juga akan ditolah pria itu. Pikiran buruk tentu saja memenuhi otaknya.
"Dan kamu adalah satu-satunya gadis yang kayaknya bisa menarik perhatian nak Kiev." ucapan ibunya membuatnya merona, iyakah seperti itu.
Dia hanya takut jika dia akan kecewa karena sebuah penolakan.
•°•