Kata orang, kota Jakarta tidak pernah tidur. Apalagi saat waktu baru menunjukkan pukul lima sore, kendaraan begitu memenuhi jalanan. Suara klakson bersahutan seolah berlomba klakson siapa yang memiliki bunyi terkeras.
Tapi meskipun begitu, suasana hati dari dua orang yang berada dalam satu mobil itu begitu sangat baik. Musik yang keluar dari radio menemani keduanya.
"Mau makan dulu?" tawar Kiev pada Sydney yang sedang asyik dengan pikirannya.
"Kayaknya habis fitnes aja deh sekalian."
"Serius? Emang belum lapar?" tanya Kiev lagi.
"Belum terlalu sih." jawab Sydney lagi.
Hening kembali menyapa mereka. Hari ini memang mereka akan fitnes bersama seperti apa yang mereka rencanakan waktu itu. Setelah jam kerja selesai, Kiev menjemput Sydney ke perusahaan tempat gadis itu bekerja. Banyak karyawan yang berkusak-kusuk saat melihat bosnya yang dijemput oleh seorang pria tampan. Dan bisa dipastikan jika gosip akan beredar besok.
Setelah berkutat dengan jalanan yang begitu padat, akhirnya mereka sampai di tempat fitnes langganan Sydney. Mereka langsung masuk untuk bisa segera melakukan kegiatan olahraga mahal itu.
"Sydney!" seorang pelatih menyapa gadis cantik itu dengan ramah.
"Hai Bang."
"Wes.... Sama siapa tuh? Gebetan baru?" tanya pria itu dengan wajah menggodanya. Merasa aneh saat Sydney datang bersama seorang pria, pasalnya gadis itu memang selalu bersikap 'awas' ketika di dekati oleh seorang pria.
"Ada deh." jawabnya sok misterius dan langsung meninggalkan laki-laki tersebut begitu saja.
Sydney bisa melihat bagaimana tubuh Kiev yang begitu sexy saat keringat memenuhi tubuhnya. Banyak pasang mata yang diam-diam melirik kearah pria itu dengan wajah memuja, dan berjenis kelamin perempuan. Tapi, justru Kiev asyik sendiri dengan kegiatannya, sama sekali tidak mempedulikan sekitarnya.
Sydney pura-pura sibuk mengusap peluh yang ada di wajahnya saat Kiev menengokkan kepalanya kearahnya. Dalam hati merutuki dirinya karena begitu terpesona oleh pria yang ada disampingnya itu.
Kiev meneliti pakaian yang dipakai oleh Sydney. Celana ketat selutut dengan kaos oblong menutupi p****t. Bukan jenis pakaian olahraga seperti yang dipakai perempuan-perempuan yang berada satu ruangan dengannya, yang kebanyakan menggunakan pakaian serba ketat. Entah untuk menarik lawan jenis atau apa Kiev tidak paham.
Sydney tahu jika dirinya telah ditatap oleh Kiev. Tapi untuk menjaga detakan jantungnya yang begitu menggedor karena perpaduan efek lelah karena lari, dan efek tatapan Kiev, Sydney hanya berpura-pura fokus pada apa yang dikerjakannya saja.
"Ehem." Kiev mengarahkan tatapannya kearah kanannya saat mendengar deheman yang entah sengaja menarik perhatian Kiev atau memang benar-benar tenggorokannya sedang serak. Sydney ikut mengarahkan tatapannya kearah kanan Kiev.
Ada seorang perempuan dengan pakaian olahraga yang begitu memperlihatkan lekuk tubuhnya. Jujur saja, kalau Sydney diminta untuk menilai, perempuan itu cantik, dan terlihat sexy.
Apa Kiev akan terpesona? Batinnya bertanya. Ada perasaan tidak rela kalau sampai itu terjadi.
Perempuan tersebut tersenyum kearah Kiev. "Hai." katanya Menyapa. Kiev hanya membalas sapaan perempuan tersebut dengan balik tersenyum kemudian mengalihkan tatapannya kembali ke depan.
"Saya nggak pernah lihat mas, fitnes di sini." mulainya berusaha. "Saya sering fitnes di sini, tapi baru lihat mas hari ini. Tapi kalau saya lihat, badan mas bagus banget, terlihat kalau sering banget fitnes. Mas dulunya fitnes di mana?" sejujurnya, Kiev sangat tidak nyaman jika kegiatannya diganggu, tapi mau bagaimana lagi. Dia tidak mungkin berpura-pura tidak mendengar padahal telinganya terpasang dengan baik kan.
"Saya fitnes di tempat lain." jawabnya singkat. Kemudian melihat kearah kirinya dimana Sydney berada. Melemparkan senyum kearah gadis itu yang sedang memperhatikan dirinya dan juga perempuan asing itu.
"Udah capek?" tanyanya saat Sydney balas tersenyum kearahnya.
"Belum. Keringatnya belum banyak yang keluar." jawab Sydney. Perempuan asing yang sedari tadi ingin menarik perhatian Kiev itu merasa sedikit jengkel karena pria itu malah beramah tamah dengan perempuan lain. Tapi justru dia tidak pergi dari sana dan memutar otaknya agar bisa berdekatan dengan Kiev.
°•°
Jam masih menunjukkan pukul 07 malam saat keduanya keluar dari tempat fitnes. Mereka sudah mengganti baju olahraga yang penuh dengan keringat yang tadi dipakainnya dengan pakaian santai. Jeans dan kaos panjang.
Jika dilihat, mereka seperti pasangan kekasih sungguhan.
"Mau makan dimana?" tanya Kiev saat sudah berada di samping mobilnya.
"Aku pengen makan nasi lalapan mas, kayaknya enak."
"Serius? Makanan itu banyak lemaknya loh." biasanya, banyak dari perempuan akan menghindari makanan berlemak. Apalagi saat makan malam seperti ini, terkadang mereka hanya akan makan buah-buahan saja.
Sydney mengernyit mendengar pernyataan Kiev, lalu kenapa? Batinnya.
"Emang kenapa mas? Mas sedang diet ya?"
"Enggak sih, tapi kamu?"
"Aku? Kenapa?" wajah Kiev memang terlihat biasa, tapi ada nada ragu dalam suaranya.
"Beneran nggak papa kalau kamu makanan berlemak di jam makan malam? Bukannya cewek biasanya menghindari itu ya?" tanya Kiev lagi dan masuk ke dalam mobil untuk bisa segera mengisi perut mereka.
"Oh... Maksud Mas itu? Aku sih nggak pernah ya yang kayak gitu-gitu, lagian kan aku olaharaga juga, jadi nggak terlalu mikirin lemak atau apalah itu." Sydney memang memiliki tubuh yang begitu ideal, tidak mudah gemuk meskipun kadang menelan makanan dengan porsi yang besar. Kiev mengangguk mendengar jawaban Sydney, tidak banyak perempuan yang memiliki pemikiran seperti Sydney. Bahkan semua perempuan yang dikenalkan oleh ibunya kepadanya, kebanyakan ribut hanya karena makanan.
Makanan ini banyak lemaknya, makanan ini bisa buat berjerawat, atau banyak komentar lain hanya karena makanan. Padahal mereka saja yang malas bergerak, tapi malah mengkambing hitamkan makanan yang bahkan tidak bersalah.
"Terima kasih Mas." makanan mereka datang dengan porsi yang terbilang besar. Ayam goreng, lele, dan beberapa makanan berlemak lainnya memenuhi meja mereka. Jangan kira mereka sekarang ada di tempat makan yang mahal, tidak. Tempat makan lesehan menjadi pilihan keduanya.
"Ini enak banget." komentar pertama Sydney saat satu suap makanan masuk ke dalam mulutnya. "Mas sering kesini?" tanyanya dengan mulut yang masih mengunyah makanan, benar-benar tidak jaim sama sekali.
"Ini yang pertama kali. Aku setuju sih, ini enak banget. Sambelnya apalagi." jawab Kiev seolah adalah host acara kuliner.
"Bener. Aku pernah loh kapan hari makan nasi lalapan juga, aku sampai kurang sambelnya gara-gara kasihnya cuma dikit."
"Makan di tempat juga?"
"Iya, makan di tempat. Tapi aku nggak mau lagi lah kesana, pelit sambel orangnya." Kiev tersenyum melihat Sydney yang begitu antusias hanya karena menceritakan tentang sambel.
"Berarti kamu Indonesia tulen ya?" komentar Kiev.
"Emang aku orang Indonesia kan?"
"Aku pikir kamu orang Ausi loh," Kiev terlihat serius saat mengatakan itu. Bahkan Sydney harus berpikir kenapa pria itu mengatakan yang menurutnya tidak masuk akal. "Soalnya nama kamu kan Ausi banget. Tapi aku beneran yakin sekarang kalau kamu made in Indonesia karena udah terlihat dari cara kamu makan sambel." Komentar Kiev mendapatkan respon tawa dari Sydney.
"Hahaha, Mas mah ada-ada aja. Kayak nama Mas nggak diambil dari nama kota aja." jawab Sydney balik 'mengolok' pria didepannya itu.
Keduanya hanya saling tertawa menyadari jika nama mereka yang sama-sama diambil dari nama kota dari negara lain. Berpikir, ini orang tuanya yang kurang kreatif tidak bisa membuat nama atau ada history sendiri di balik pembuatan nama mereka. Sepertinya mereka harus menanyakan kepada orang tua mereka masing-masing setelah pulang nanti.
°•°
"Nggak mampir dulu?" tawar Sydney saat mereka sudah sampai di depan rumah Sydney.
"Langsung aja ya, soalnya udah malam juga. Salam aja sama Om dan Tante." waktu memang belum terlalu malam, baru pukul sembilan malam. Tapi untuk sampai ke rumah Kiev nanti, bisa dipastikan jika malam akan semakin larut.
"Ok." sebenarnya, Sydney betah sekali kalau harus berlama-lama dengan Kiev. Tapi mau bagaimana lagi, jika waktu yang mengharuskan mereka untuk segera berpisah. "Masuk dulu ya." katanya lagi.
"Iya.... Oh, Sydney!" gadis itu urung membuka pintu mobil karena panggilan Kiev.
"Terima kasih untuk hari ini."
"Sama-sama." Sydney tersenyum saat Kiev memandanginya begitu dalam, hatinya begitu meronta-ronta karena efek dari tatapan Kiev yang terlihat lembut untuknya. "Mas hati-hati di jalan. Salam juga buat Om dan Tante." Kiev mengangguk dan membiarkan Sydney masuk ke rumahnya.
Pria itu memegangi dadanya yang begitu terasa melonjak-lonjak karena Sydney. Gadis itu sudah mampu menarik perhatiannya, dan mungkin sebentar lagi akan mengikatnya. Ternyata Sydney begitu mengerikan dengan caranya.
Sydney pun merasakan hal yang sama. Setelah gadis itu masuk ke dalam rumahnya, dia menyenderkan tubuhnya di balik pintu, tubuhnya terasa lemas. Ternyata terlalu lama berdekatan dengan Kiev sangat tidak baik dengan cara kerja jantungnya. Tapi meskipun begitu, dia begitu bahagia.
"Cie... Dianterin sama siapa sih anak mama?" ibunya muncul dari dinding pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga. Sydney terlonjak kaget karena ibunya yang muncul secara tiba-tiba, dan ternyata dibelakang ibunya juga ada ayahnya yang mengeluarkan cengiran menggoda.
"Kayaknya sih cowok Ma." jawab ayahnya yang terlihat pura-pura bodoh. Sydney hanya bisa menelan salivanya pelan mendengar kedua orang tuanya yang menggodanya.
"Cowok ya Pa? Siapa? Kok mama kayaknya pernah lihat mobilnya ya?"
"Mobilnya siapa Ma kira-kira?"
"Sebentar-sebentar, mama ingat-ingat dulu. Aduh, mama udah mulai pikun Pa ternyata, udah tua soalnya. Masa kaya gini aja nggak inget-inget sih."
Sydney benar-benar malu sekali rasanya. Karena tidak tahan, akhirnya dia meninggalkan kedua orang tuanya tanpa menanggapi godaan ala remaja yang dilayangkan kepadanya.
Seperti....
Suit-suit, anak mama dianterin cowok.
Sebentar lagi mantu kita ma.
Terus bisa cepet gendong cucu juga.
Seperti itulah kira-kira yang ditangkap oleh telinga Sydney ketika dia berjalan ke kamarnya. Sydney yakin, dia akan menjadi bulan-bulanan oleh orang tuanya. Pasti.
•°•