Brian menutup berkas yang sedang dibacanya, meletakkannya di atas meja, kemudian menepuk tempat kosong di sofa sebelahnya.
"Duduklah."
Nevan menurut. Lelaki itu menempatkan diri di ujung sofa, dengan sebundel kertas yang didekap erat di depan d**a, seakan takut ada angin yang tiba-tiba menerbangkannya.
"Apa itu?" Tanya Brian.
Nevan tidak langsung menjawab. Jemarinya mengetat pada tepian bundel itu sampai kertasnya sedikit terlipat.
"Ini tentang Kak Arvin."
Seketika Brian menegakkan punggungnya.
"Selama ini," Nevan menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. "Selama ini kau selalu bertanya padaku tentang penyakitnya. Berkali-kali. Dan berkali-kali pula aku menjawab bahwa aku tidak punya jawaban yang kau inginkan."
"Aku ingat."
"Aku berbohong, Kak."
Ruang tamu itu mendadak terasa sangat sunyi. Bahkan suara jam dinding pun seolah ikut menahan diri.
"Aku tahu penyakitnya. Aku tahu sejak awal. Aku yang membawanya ke rumah sakit pertama kali, aku yang menemui dokternya, aku yang menebus obatnya setiap bulan." Nevan menundukkan kepalanya semakin dalam. "Bahkan Kak Arvin sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia derita."
Brian tidak bergerak sedikit pun. Lelaki itu hanya menatap Nevan, dengan sorot mata yang sulit diterjemahkan.
"Kenapa?" Tanya Brian akhirnya. Suaranya rendah, dalam, tapi tidak marah.
"Karena aku pikir itu yang terbaik."
"Terbaik untuk siapa?"
"Untuk kalian semua." Nevan mengangkat wajahnya, dan kedua matanya sudah berkaca. "Kak Deon baru saja pergi. Kak Aksa mengurung diri. Mirza kabur dari rumah. Darel menyalahkan dirinya sendiri setiap hari. Dan kau…"
Nevan menghentikan kalimatnya sejenak.
"Kau menanggung semuanya sendirian, Kak. Setiap hari. Setiap pagi kau masak untuk kami, setiap siang kau mengurus perusahaan Kak Deon, setiap malam kau membawa makanan ke kamar orang yang tidak mau makan. Kalau aku menambahkan satu beban lagi ke atas bahumu, aku takut kau yang berikutnya ambruk."
"Jadi kau yang memikulnya sendirian."
"Iya."
"Selama satu tahun."
"Iya."
Brian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, kemudian bersandar ke punggung sofa sambil menengadah menatap langit-langit.
"Kau tahu apa yang paling membuatku kesal, Nevan?" Ujar Brian. "Bukan karena kau menyembunyikannya dariku. Melainkan karena kau berpikir bahwa aku terlalu rapuh untuk mendengarnya."
"Kak, aku tidak bermaksud—"
"Aku tahu." Potong Brian. "Aku tahu maksudmu baik. Justru itu yang membuatnya semakin menyakitkan."
Nevan menggigit bibir bawahnya. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya lolos juga, jatuh membasahi bundel kertas di pangkuannya.
"Maafkan aku, Kak."
Brian menoleh. Lelaki itu memandangi rekannya yang bertubuh mungil itu, yang kini bahunya bergetar hebat, yang selama satu tahun terakhir berjalan bolak-balik ke rumah sakit tanpa pernah sekali pun mengeluh di depan siapa pun.
Pun akhirnya Brian mengulurkan tangannya, menepuk-nepuk pelan puncak kepala Nevan.
"Sudah. Menangislah sekarang, sebab setelah ini kau harus mengulangnya lagi di depan yang lain."
Nevan mendongak, "di depan yang lain?"
"Darel berhak tahu. Aksa berhak tahu. Bahkan Mirza, kalau nanti dia sadar, dia juga berhak tahu." Kata Brian. "Arvin bukan hanya milikmu, Nevan. Dia milik kita semua."
Nevan terdiam cukup lama sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.
***
"Kapan?" Tanya Nevan setelah tangisnya mereda.
"Secepatnya. Tapi tidak sekarang." Jawab Brian sambil kembali meraih berkas perusahaannya. "Darel masih terlalu lemah. Biarkan dia pulih sedikit lagi."
"Lalu Kak Aksa?"
Brian melirik ke arah anak tangga, tepatnya ke arah lantai atas di mana kamar Aksa berada.
"Dia tidur sejak siang tadi dan belum keluar sama sekali."
"Sejak siang?" Nevan mengerutkan keningnya. "Ini sudah hampir tengah malam, Kak."
"Aku tahu."
"Apa dia baik-baik saja?"
Brian tidak langsung menjawab. Lelaki itu memijat pangkal hidungnya sendiri, tanda bahwa kepalanya sedang penuh.
"Nevan, apa kau tahu sesuatu tentang Aksa?"
Pertanyaan itu membuat Nevan tersentak. Bayangan bangunan bertingkat berlampu remang itu kembali muncul di kepalanya, beserta kalimat resepsionis dengan riasan tebal yang sampai sekarang masih terngiang.
"Tidak." Jawab Nevan cepat. Terlalu cepat.
Brian menatapnya lekat-lekat. "Nevan."
"Sungguh, Kak. Aku tidak tahu apa-apa."
"Baru saja kau mengaku pernah berbohong padaku selama satu tahun, dan sekarang kau memakai kalimat yang sama persis." Ujar Brian dengan sudut bibir yang terangkat tipis.
Nevan membeku. Wajahnya memerah, sebagian karena malu, sebagian lagi karena tak tahu harus menjawab apa.
"A-aku hanya…" Lelaki itu bangkit sambil mendekap bundel berkasnya. "Aku mau tidur. Selamat malam, Kak!"
Dan Nevan langsung berlari menaiki anak tangga sebelum Brian sempat melempar pertanyaan berikutnya.
Brian hanya menggelengkan kepala sambil terkekeh pelan. Namun begitu suara langkah Nevan menghilang di lantai atas, senyum itu perlahan luntur dari wajahnya.
"Ada apa dengan kalian semua…" Gumamnya.
***
Nevan menutup pintu kamarnya, menyandarkan punggungnya di sana, kemudian membiarkan tubuhnya merosot sampai terduduk di lantai.
Bundel berkas itu masih dalam dekapannya.
Ada rasa lega yang aneh, seperti seseorang yang baru saja meletakkan karung beras yang sudah terlalu lama dipanggul. Bahunya terasa lebih ringan, tapi punggungnya justru terasa lebih nyeri sebab akhirnya menyadari betapa berat beban yang selama ini ia bawa.
"Kak Arvin," lirih Nevan. "Aku sudah mengatakannya kepada Kak Brian."
Ia menatap figura di atas nakas. Dari sana, wajah Arvin masih tersenyum lebar, sama seperti dua tahun yang lalu.
"Kau pasti akan marah kalau tahu. Kau pasti bilang, kenapa kau membuka mulut sekarang, dasar bocah cerewet." Nevan tertawa kecil, meski matanya kembali basah. "Tapi Kak Brian benar. Kau bukan hanya milikku."
Angin dari jendela yang tidak tertutup rapat masuk perlahan, menggerakkan ujung gorden putih di kamar Nevan.
Lelaki itu memejamkan matanya, dan ingatannya membawanya kembali ke satu tahun yang lalu.
Waktu itu Nevan pulang kerja lebih awal, dan mendapati kaki Arvin dibalut perban.
"Kau kenapa?" Tanyanya.
"Terjatuh di kamar mandi."
"Kemarin kau bilang terjepit pintu."
"Yang kemarin tangan. Ini kaki."
Nevan berdiri di ambang pintu kamar itu selama beberapa detik, memandangi rekannya yang tersenyum lebar seolah tidak terjadi apa-apa.
Lalu Arvin berkata sesuatu yang membuat seluruh isi perut Nevan terasa dingin.
"Aku sengaja membuat kakiku terluka seperti ini, jadi aku tidak mesti keluar kamar. Aku benci melihat situasi rumah tanpa hadirnya Deon, tapi aku juga masih ingin bertemu kalian. Dengan kakiku yang terluka begini, jadinya kalian akan rutin berkunjung ke kamarku dan aku bisa bertemu kalian tanpa melihat situasi rumah."
Ia mengatakannya dengan nada yang sama seperti ketika membicarakan cuaca.
Malam itu Nevan tidak tidur sama sekali. Dan keesokan paginya, dengan alasan mengantar Arvin untuk memeriksakan kakinya, ia membawa rekannya itu ke rumah sakit.
Dokter yang memeriksanya waktu itu bertanya banyak sekali hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan kaki.
Dan Nevan menjawab semuanya, satu persatu, sampai raut wajah dokter tersebut berubah.
"Saudara Nevan, boleh saya bicara berdua dengan Anda di luar?"
Kalimat itu.
Kalimat itulah yang mengubah satu tahun terakhir hidup Nevan.
Sebab setelah kalimat itu, ada nama penyakit yang disebutkan. Ada penjelasan tentang bagaimana penyakit itu bekerja. Ada penjelasan bahwa kesempatan sembuh totalnya sangat kecil. Dan ada satu pesan yang diulang berkali-kali oleh sang dokter.
Tolong jangan sampai pasien luput dari pengawasan.
Nevan membuka matanya kembali.
Gorden putih di kamarnya masih bergerak pelan diterpa angin.
"Aku sudah menjaganya, Dok." Lirihnya kepada langit-langit. "Setiap hari. Setiap jam. Aku bahkan memasang alarm di arloji."
Air matanya kembali jatuh.
"Lalu kenapa dia tetap pergi?"
***
Sementara di kamar yang lain, di ujung lorong yang berlawanan, Aksa masih terlelap dalam posisi telungkup di atas ranjangnya. Selimut sudah tersingkir entah ke mana, sebelah kakinya menggantung di tepian kasur, dan lengannya menindih ponselnya sendiri.
Layar ponsel itu sesekali menyala, lalu padam lagi.
Tidak ada panggilan. Tidak ada pesan.
Untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu, benda itu benar-benar diam.
Dan Aksa, yang biasanya terbangun oleh getaran sekecil apa pun, kali ini tidur begitu nyenyak sampai tidak menyadari apa-apa. Wajahnya yang biasanya datar dan tajam itu kini terlihat jauh lebih muda, jauh lebih tenang, seperti bocah kecil di panti asuhan yang dulu tidak mau membalas sapaan siapa pun.
Sebentar lagi semuanya akan selesai, begitu pikirnya sebelum tidur tadi.
Sebentar lagi ia hanya perlu menunggu.