Musim semi 2018.
Pukul lima pagi, dan rumah tiga lantai itu sudah seperti pasar.
"Kartu ujiannya sudah?"
"Sudah, Kak."
"Pensilnya?"
"Sudah."
"Penghapusnya?"
"Sudah."
"Kartu identitas?"
"Sudah, Kak Deon!"
"Jangan membentakku! Aku bertanya karena kau ini pelupa!" Semprot Deon dari balik meja makan, dengan celemek merah muda yang masih melekat di tubuhnya.
Darel hanya bisa menggaruk tengkuknya sambil cengengesan. Di hadapannya sudah tersaji sepiring nasi lengkap dengan telur dadar dan sup hangat, porsinya jauh lebih banyak dari biasanya.
"Kak, ini terlalu banyak."
"Habiskan."
"Aku bisa mengantuk kalau kekenyangan."
"Kau akan lebih mengantuk kalau kelaparan." Balas Deon sambil menambahkan sepotong telur lagi ke atas piring Darel, membuat lelaki itu memasang wajah memelas.
Satu persatu penghuni rumah itu mulai berdatangan ke meja makan. Nevan dengan apron merah mudanya yang sudah terikat di pinggang sebab akan langsung berangkat kerja setelah ini. Mirza dengan rambut ikal yang masih basah. Aksa dengan kemeja rapi tapi mata yang belum terbuka sempurna. Arvin dengan setelan sporty dan handuk kecil yang tersampir di leher.
Dan Brian, yang muncul paling akhir dengan topi seragam pom bensin yang dipakainya terbalik.
"Kak, topimu." Tegur Darel.
Brian melepas topinya, memeriksanya sebentar, lalu memakainya kembali dengan posisi yang sama persis. "Ini memang sengaja."
"Sengaja apanya, jelas-jelas kau salah pakai." Cibir Aksa.
"Ini gaya."
"Itu kesalahan yang dipertahankan supaya tidak terlihat seperti kesalahan."
"Aksa, terlalu pagi untuk berfilsafat." Timpal Nevan sambil menyendok sup.
Ruang makan itu pun pecah oleh gelak tawa.
***
"Aku sudah izin sampai jam sembilan!" Seru Brian sambil melempar kunci mobil ke udara dan menangkapnya lagi.
"Aku izin setengah hari." Sahut Mirza.
"Aku juga." Kata Nevan.
"Aku baru ada jadwal mengajar siang." Tambah Arvin.
Semua mata lantas tertuju pada Aksa, yang sedari tadi hanya bersandar di kusen pintu dengan kedua tangan disembunyikan di balik saku.
"Apa?" Tanyanya ketus.
"Kau tidak izin?"
"Untuk apa? Kelasku baru dimulai jam sepuluh." Jawab Aksa. "Jadi aku bisa ikut tanpa harus kehilangan bayaran. Kalian semua bodoh."
"Sialan!" Umpat Nevan, yang seketika dibalas Aksa dengan seringai puas.
Sementara di ambang pintu, Deon sudah berdiri lengkap dengan setelan jas abu-abunya, menatap arloji di pergelangan tangan berkali-kali.
"Kak Deon tidak ikut?" Tanya Darel.
Ekspresi Deon seketika berubah. Lelaki itu menghela napas, lalu menghampiri rekan bungsunya dan meletakkan kedua tangan di bahu Darel.
"Maaf, Darel. Ada pertemuan dengan investor pagi ini, dan aku tidak bisa memindahkannya."
Darel tersenyum, senyum yang tulus, memamerkan gigi kelincinya. "Tidak apa, Kak. Aku mengerti."
"Aku akan menelepon begitu selesai."
"Tidak usah, nanti kau malah kena marah."
"Aku ini presiden direkturnya, Darel. Siapa yang berani memarahiku?"
"Sekretarismu."
Deon terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Benar juga."
Seluruh isi ruangan kembali tertawa. Deon mengacak rambut Darel, cukup keras sampai tatanannya hancur, kemudian bergegas menuju mobilnya.
"Darel!" Serunya sebelum masuk ke dalam mobil.
Darel menoleh.
"Jangan menjawab dengan menebak. Kalau kau tidak tahu, lewati saja. Mengerti?"
"Mengerti, Kak!"
"Dan jangan lupa berdoa!"
"Iya, Kak!"
"Dan jangan lupa sarapanmu tadi sudah kubuatkan, jadi jangan berani-berani jajan sembarangan di luar—"
"KAK DEON, KAU TERLAMBAT!" Teriak Nevan dan Mirza serentak.
Deon buru-buru masuk ke dalam mobilnya sambil menggerutu.
***
Perjalanan menuju lokasi ujian diwarnai kericuhan seperti biasa. Brian di kursi kemudi, Aksa di sebelahnya, sementara di barisan tengah ada Arvin dan Darel, dan di baris belakang ada Mirza dan Nevan yang sedari tadi berebut tempat paling dekat jendela.
"Darel," panggil Arvin.
"Ya, Kak?"
"Kau gugup?"
Darel mengangguk pelan, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan.
"Bagus. Berarti kau normal." Kata Arvin sambil menepuk paha Darel. "Kalau kau tidak gugup sama sekali, berarti kau tidak peduli. Dan orang yang tidak peduli tidak akan berhasil."
"Tapi kalau aku terlalu gugup sampai lupa semuanya bagaimana?"
"Maka kau akan pulang, dan kami akan tetap menyambutmu di rumah." Sahut Brian dari depan tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. "Kau tidak akan diusir hanya karena satu lembar kertas, Darel."
Darel terdiam. Ada sesuatu yang terasa hangat menjalar di dadanya.
"Tapi kalau kau tidak lulus, jatah s**u strawberry-mu kupotong." Tambah Aksa datar.
"KAK AKSA!"
Tawa kembali pecah di dalam mobil itu.
***
Halaman kampus penuh sesak. Ratusan calon peserta ujian berjalan ke berbagai arah, sebagian besar diantar oleh kedua orang tuanya masing-masing.
Darel sempat berhenti melangkah, mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Ada seorang ibu yang membenarkan kerah baju anaknya. Ada seorang ayah yang menyodorkan sebotol air minum. Ada yang berpelukan, ada yang menangis, ada yang berfoto bersama.
Untuk sepersekian detik, dada Darel terasa sesak.
"Hey, bayi besar."
Darel menoleh, mendapati Mirza yang sudah mengarahkan kamera tepat ke wajahnya.
"Senyum!"
CEKREK!
"Kak Mirza! Aku belum siap!"
"Justru yang belum siap itu yang paling bagus."
Kemudian Nevan datang dari arah lain sambil menyodorkan sekotak s**u rasa strawberry yang sudah ditusuk sedotannya. "Minum. Otakmu butuh gula."
"Kak, kau membelikannya?"
"Jangan besar kepala. Aku hanya kebetulan lewat toko."
Arvin merangkul bahu Darel dari sisi kanan, Aksa berdiri di sisi kiri dengan tangan tetap di dalam saku, dan Brian berdiri di depan mereka semua sambil menyilangkan lengan.
"Sudah siap?" Tanya Brian.
Darel menatap keempat rekannya bergantian. Rasa sesak yang tadi menyelinap itu perlahan menghilang, digantikan sesuatu yang jauh lebih besar dan jauh lebih hangat.
Mereka memang bukan orang tuanya. Tapi mereka datang. Mereka semua datang.
"Sudah, Kak." Jawab Darel mantap.
***
Ujian berlangsung selama tiga jam.
Dan selama tiga jam itu, lima lelaki dewasa duduk berjejer di kursi tunggu depan gedung, dengan tingkah yang lebih gelisah daripada pesertanya sendiri.
Mirza bolak-balik memeriksa jam tangannya. Arvin membeli tiga jenis camilan yang tak satu pun ia habiskan. Nevan tertidur, terbangun, lalu tertidur lagi. Aksa akhirnya pergi ke kelasnya pada pukul sepuluh, tapi mengirim pesan setiap dua puluh menit untuk bertanya apakah sudah selesai. Sedang Brian, lelaki itu berdiri dan duduk berkali-kali tanpa alasan yang jelas.
Ponsel Brian berdering tepat di menit ketujuh puluh.
"Ya, Kak?"
"Bagaimana? Sudah selesai?"
"Baru satu jam, Kak Deon."
"Baru satu jam?! Kenapa lama sekali?!"
"Karena namanya ujian, bukan lomba lari."
Terdengar helaan napas panjang dari seberang sana. "Ya sudah. Kabari aku kalau sudah keluar. Jangan sampai anak itu pulang sendirian."
"Kau ini benar-benar seperti ibu-ibu."
"Tutup mulutmu, Brian."
***
Pintu gedung akhirnya terbuka. Peserta ujian berhamburan keluar, dan di antara kerumunan itu, sosok jangkung dengan ransel hitam berjalan menghampiri mereka dengan langkah yang terlihat berat.
Wajahnya tertunduk.
Seketika keempat rekannya saling melempar tatap dengan cemas.
"Bagaimana?" Tanya Arvin hati-hati.
Darel mengangkat wajahnya perlahan.
Lalu menyeringai lebar.
"Ada dua soal matematika yang bentuknya persis seperti yang diajarkan Kak Brian semalam!"
"YA!" Seru Brian sambil melompat dan mengepalkan tangan ke udara, membuat beberapa orang tua di sekitar mereka menoleh dengan kening berkerut.
"Kak, malu!" Bisik Nevan.
"Aku tidak peduli!"
Mirza mengabadikan momen itu dengan kameranya. Arvin merangkul Darel dan mengacak rambutnya. Nevan melompat-lompat entah untuk apa.
Dan di kejauhan, langit musim semi hari itu terlihat sangat cerah, tanpa satu pun awan yang menandakan bahwa sesuatu sedang bersiap untuk datang.
***
Malam harinya, ketika seluruh rumah sudah terlelap, ada satu kamar yang lampunya masih menyala.
Deon duduk di tepian ranjangnya, dengan sebuah buku bersampul merah yang terbuka di pangkuan. Halaman demi halaman ia balik perlahan, dan semakin jauh ia membaca, semakin dalam pula kerutan di keningnya.
Lelaki itu berhenti pada satu halaman, membacanya berulang kali, lalu perlahan menutup buku tersebut.
"Tidak mungkin." Gumamnya. "Ini tidak mungkin benar."
Namun angin yang tiba-tiba berembus dari jendela, mengibarkan gorden kamarnya dengan gusar, seolah sedang menjawab sesuatu yang tidak ingin Deon dengar.