Pintu itu akhirnya terbuka.
Brian melangkah masuk lebih dulu, disusul Nevan yang menutup pintu di belakangnya, kemudian bersandar di sana tanpa melangkah lebih jauh.
"Kalian kenapa? Wajah kalian jelek sekali." Ujar Darel sambil terkekeh.
Tidak ada yang membalas leluconnya.
Senyum Darel perlahan luruh.
"Kak?" Panggilnya.
Brian menarik kursi, menempatkan diri di sisi ranjang. Lelaki itu duduk dengan punggung yang membungkuk, kedua sikunya bertumpu pada lutut, dan kedua tangannya saling bertaut di depan.
"Darel."
"Ya, Kak?"
"Ada yang harus kusampaikan."
Darel meletakkan wadah buah yang sedari tadi berada di pangkuannya ke atas nakas. Wajahnya berubah serius.
"Ini tentang Kak Mirza?"
"Bukan."
"Lalu?"
Brian menarik napas panjang.
Di sudut ruangan, arwah Mirza berdiri diam dengan kedua tangan yang terkepal di sisi tubuhnya.
"Jangan, Kak." Bisik Mirza, meski ia tahu tak seorang pun bisa mendengarnya. "Belum. Beri dia waktu satu hari lagi."
"Semalam," ucap Brian, "Aksa mengalami kecelakaan."
Ruangan itu menjadi sangat sunyi.
"Kecelakaan?" Ulang Darel. "Di mana? Kenapa dia tidak dibawa kemari? Kamarnya sebelah mana? Apa dia—"
"Darel."
"Kalau dia sudah sadar aku mau menjenguknya sekarang. Aku sudah bisa berjalan, Kak. Kemarin aku bahkan sudah sampai ke koridor sana—"
"Darel, dengarkan aku."
"Kak Brian, kamarnya sebelah mana?!"
Suara Darel meninggi. Nevan yang bersandar di pintu memejamkan matanya rapat-rapat.
Brian mengangkat wajahnya, menatap tepat ke dalam dua manik rekan termudanya itu.
"Aksa tidak selamat."
Tiga kata.
Hanya tiga kata, dan seluruh warna di wajah Darel hilang dalam sekejap.
"Bohong."
"Darel—"
"Kau bohong, Kak."
"Aku yang mengidentifikasinya semalam."
"KAU BOHONG!"
Darel menghantam ranjangnya sendiri dengan kedua tangan. Selang infus yang menancap di punggung tangannya tertarik, membuat darah merembes sedikit di sekitarnya, tapi lelaki itu sama sekali tidak peduli.
"Dia baru saja ada di sini! Dia baru saja duduk di kursi itu dan mengomeliku karena aku tidak mau minum obat!" Teriak Darel sambil menunjuk kursi yang sedang diduduki Brian. "Dia bilang akan kembali! Dia bilang akan membawakanku s**u pisang!"
Nevan menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak yang sudah tak bisa lagi ia bendung.
"Dia bilang akan kembali…" Suara Darel akhirnya pecah. "Kak, dia bilang akan kembali…"
Brian bangkit dari kursinya, duduk di tepian ranjang, lalu menarik tubuh Darel ke dalam dekapannya.
Dan di sanalah, di dalam dekapan itu, tangis Darel akhirnya meledak.
***
Perawat sempat datang dua kali. Yang pertama untuk memperbaiki selang infus yang tertarik, yang kedua untuk memberi obat penenang yang akhirnya ditolak Brian dengan halus.
"Biarkan dia menangis dulu." Kata Brian. "Dia berhak."
Darel menangis sampai suaranya habis. Sampai bahunya tak lagi bergetar bukan karena sudah reda, melainkan karena sudah tak punya tenaga.
Di sudut ruangan, arwah Mirza terduduk di lantai sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Ini yang paling kubenci." Gumamnya. "Aku bisa melihat semuanya, aku bahkan tahu apa yang Kak Aksa katakan semalam, tapi aku tidak bisa memberitahu satu pun dari kalian."
Ia mendongak, menatap Darel yang kini terbaring lemas dengan mata yang membengkak.
"Darel," ucap Mirza. "Kak Aksa menitipkan pesan untukmu."
Tentu saja tidak ada jawaban.
"Dia bilang dia tidak pernah benar-benar menginginkan kau yang mati."
Darel hanya menatap langit-langit dengan pandangan kosong.
Mirza memukul lantai dengan kepalan tangannya, meski tak menimbulkan bunyi apa pun.
***
"Kapan pemakamannya?" Tanya Darel setelah cukup lama tak seorang pun bicara.
"Besok siang." Jawab Brian.
"Aku ikut."
"Tidak boleh."
"Kak—"
"Dokter belum mengizinkanmu keluar dari rumah sakit, Darel." Ujar Brian. "Kemarin kau berjalan sampai koridor saja sudah nyaris pingsan."
"Aku tidak peduli!"
"Aku peduli!"
Suara Brian menggema di ruangan itu. Nevan yang sedari tadi diam pun sampai tersentak.
Brian menutup matanya sejenak, mengatur napasnya, lalu melanjutkan dengan nada yang jauh lebih rendah.
"Aku sudah kehilangan Deon. Aku sudah kehilangan Arvin. Dan semalam aku kehilangan Aksa." Katanya. "Mirza masih terbaring di kamar sebelah. Kalau kau memaksakan diri lalu terjadi sesuatu padamu, aku…"
Brian tidak menyelesaikan kalimatnya.
Darel menatap rekan tertuanya itu lama sekali. Lelaki yang selalu berdiri paling depan. Lelaki yang selalu mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lelaki yang sekarang duduk di hadapannya dengan tangan yang gemetar dan tidak sanggup menyelesaikan satu kalimat pun.
"Baiklah, Kak." Ucap Darel akhirnya.
"Darel—"
"Aku tidak akan memaksa." Lanjutnya. "Tapi aku minta satu hal."
"Apa?"
"Ceritakan padaku nanti. Semuanya. Siapa saja yang datang, apa saja yang dikatakan orang-orang, bagaimana cuacanya." Suara Darel bergetar lagi. "Aku ingin tetap tahu, meskipun aku tidak ada di sana."
Brian mengangguk. "Akan kuceritakan semuanya."
"Satu lagi, Kak."
"Apa?"
"Barang-barangnya." Ucap Darel. "Petugas pasti menyerahkan barang-barangnya padamu, bukan?"
Brian sempat terdiam sebelum akhirnya mengangguk.
"Boleh aku melihatnya?"
"Darel—"
"Sebentar saja."
Brian menghela napas panjang. Kemudian lelaki itu merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah dompet yang sudah usang, dan meletakkannya di atas selimut Darel.
Darel meraihnya dengan kedua tangan, seolah benda itu terbuat dari kaca.
Ia membukanya perlahan.
Kosong. Tidak ada uang sama sekali, tidak ada kartu apa pun selain kartu identitas.
"Kenapa kosong?" Tanya Darel.
"Aku juga tidak tahu."
Darel menelusuri setiap lipatan dompet itu, sampai jemarinya menemukan sesuatu yang terselip di bagian paling dalam.
Selembar foto yang dilipat menjadi empat.
Perlahan Darel membuka lipatannya.
Tujuh lelaki. Rona bahagia. Pose konyol. Hari kelulusannya, dua tahun yang lalu.
Garis-garis lipatan itu membelah wajah beberapa orang di dalamnya, tanda bahwa foto tersebut sudah terlalu sering dibuka dan dilipat kembali.
Darel menatapnya lama sekali.
"Kak," ucapnya, tanpa mengalihkan pandangan dari foto tersebut. "Dia selalu bilang dia paling benci foto bersama."
"Aku tahu."
"Dia selalu berdiri paling ujung dan memasang wajah datar."
"Aku tahu."
Darel menutup matanya, dan air matanya kembali jatuh menimpa foto itu.
"Bohong sekali orang ini." Lirihnya.
***
Sore harinya, ketika langit di luar jendela mulai berubah jingga, Nevan akhirnya berani mendekat ke sisi ranjang.
Lelaki itu duduk di kursi yang sejak tadi kosong, memandangi Darel yang sudah kembali diam sejak beberapa jam terakhir.
"Darel."
"Hm."
"Aku ingin minta maaf."
Darel menoleh perlahan.
"Untuk apa?"
Nevan menundukkan kepalanya, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan.
"Sehari sebelum ini, aku bertengkar dengannya." Katanya. "Aku menuduhnya menyembunyikan sesuatu. Aku bahkan menuduhnya di depan kalian semua."
Bibir Nevan bergetar.
"Kalimat terakhirku kepadanya adalah tuduhan, Darel." Lanjutnya. "Kalimat terakhir yang kudengar darinya adalah bantahan. Itu saja. Tidak ada yang lain."
Darel tidak menjawab. Lelaki itu justru mengulurkan tangannya yang masih tertancap jarum infus, dan meraih tangan Nevan.
"Kak Nevan."
"Hm?"
"Kak Aksa tidak sepicik itu."
Nevan mengangkat wajahnya.
"Dia orang yang menghitung segalanya, dari mana harus duduk sampai berapa lama harus tidur." Kata Darel. "Kalau dia benar-benar membencimu, dia sudah pergi dari rumah itu sejak dua tahun lalu."
Untuk beberapa detik, Nevan hanya bisa terpaku.
Kemudian air matanya kembali jatuh, kali ini tanpa suara sama sekali.
Dan di sudut ruangan, arwah Mirza yang menyaksikan semuanya itu tersenyum tipis di sela isak yang tidak menghasilkan air mata.
"Persis." Gumamnya. "Persis seperti yang dititipkan Kak Aksa. Ternyata kau tidak perlu diberitahu, ya, Darel."
***
Malam itu, sebelum meninggalkan rumah sakit, Brian sempat berdiri sendirian di depan kamar Mirza.
Lelaki itu memandangi jendela kecil di sisi pintu, ke arah tubuh yang terbaring diam di dalam sana.
"Satu lagi, Mirza." Ucapnya pelan. "Sekarang kita tinggal empat."
Ia meletakkan telapak tangannya di permukaan pintu.
"Jadi tolong. Jangan kau jadikan tiga."
Kaca kecil di sisi pintu itu memantulkan wajahnya sendiri. Wajah yang sudah tidak ia kenali lagi sejak entah kapan.
Brian menatap pantulan itu sebentar, lalu memalingkan wajahnya.
Kemudian Brian menarik tangannya kembali, membalikkan badan, dan melangkah menyusuri koridor menuju pintu keluar.
Di luar, langit sudah mulai mendung.