Rumah duka itu tidak besar, dan hari itu tidak perlu besar.
Sebuah bingkai foto berukuran sedang diletakkan di depan, menampilkan seorang lelaki bertubuh mungil dengan kulit yang terlalu putih, mengenakan kemeja hitam, dengan wajah yang sama sekali tidak tersenyum.
"Tidak ada fotonya yang tersenyum." Kata Brian ketika Nevan bertanya semalam. "Aku sudah mencari di seluruh album. Tidak ada satu pun."
"Lalu bagaimana?"
"Ya sudah, pakai yang ini." Jawab Brian. "Toh kalau kita paksakan yang tersenyum, dia sendiri yang akan protes."
Dan benar saja. Setiap orang yang datang pagi itu, tanpa kecuali, tersenyum kecil ketika melihat foto tersebut.
***
Yang datang tidak banyak.
Beberapa rekan Brian dari kantor, yang sebenarnya datang untuk Brian dan bukan untuk Aksa. Ibu pemilik toko kue tempat Nevan bekerja, yang datang membawa sekotak besar kue kering meski tidak seorang pun berselera untuk memakannya. Serta beberapa orang yang tidak dikenal Brian sama sekali.
Salah satu dari mereka, seorang gadis muda dengan tas ransel di punggung, berdiri terlalu lama di depan bingkai foto itu.
"Maaf," sapa Brian. "Anda…"
"Saya muridnya." Jawab gadis itu. "Kelas piano hari Selasa."
"Ah."
"Apa benar Pak Aksa…"
Gadis itu tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Brian hanya mengangguk pelan.
Sang gadis menutup mulutnya dengan kedua tangan, dan bahunya mulai bergetar. Beberapa orang lain di belakangnya, yang ternyata juga murid-murid Aksa, satu persatu mulai menunduk.
"Dia guru yang menyebalkan." Ucap gadis itu di sela isaknya. "Dia tidak pernah memuji siapa pun. Kalau kami salah, dia hanya diam dan menyuruh kami mengulang dari awal. Berkali-kali. Sampai kami menangis sendiri."
Nevan yang duduk tak jauh dari sana mengangkat wajahnya.
"Tapi minggu lalu," lanjut gadis itu, "seorang teman saya bertanya bagaimana caranya memasukkan rasa ke dalam permainan, kalau perasaan kita sendiri sedang tidak sesuai dengan lagunya."
"Apa jawabnya?" Tanya Brian.
Gadis itu tersenyum di tengah tangisnya.
"Katanya, pinjam saja perasaan orang lain. Sebab kita hidup di dunia yang sama, jadi apa yang pernah dirasakan orang lain pasti pernah kita rasakan juga, hanya saja pada hari yang berbeda."
Brian terdiam.
Dan untuk beberapa detik, lelaki itu harus memalingkan wajahnya ke arah lain.
***
Arwah Mirza berdiri di sudut ruangan, memandangi seluruh isi rumah duka itu satu persatu.
Ia mencari.
Sejak semalam ia terus mencari, di koridor rumah sakit, di jalanan, di atap, di setiap sudut yang bisa ia datangi. Namun tidak ada. Tidak ada jubah, tidak ada topeng, tidak ada sosok bertubuh mungil dengan kedua tangan yang disembunyikan di balik saku.
Sama seperti ketika Arvin dulu.
"Berarti kau sudah benar-benar pergi." Gumam Mirza sambil menatap bingkai foto itu. "Cepat sekali. Kau bahkan tidak menunggu sampai pemakaman selesai."
Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di depan foto tersebut.
"Kak Aksa," ucapnya. "Kalau kau bertemu Kak Deon dan Kak Arvin di sana, tolong sampaikan sesuatu."
Mirza menarik napas yang sebenarnya tidak ia butuhkan lagi.
"Sampaikan bahwa aku sedang berusaha bangun."
***
Menjelang pukul sepuluh, ponsel Nevan bergetar di dalam saku jasnya.
Nama Darel tertera di layar.
Nevan melangkah keluar dari ruangan itu lebih dulu sebelum menjawabnya.
"Halo, Darel."
"Kak Nevan." Suara di seberang sana terdengar serak. "Sudah dimulai?"
"Belum. Sebentar lagi."
"Ramai tidak?"
Nevan menoleh ke dalam ruangan, memandangi beberapa orang yang duduk berjauhan di sana.
"Ramai." Jawabnya.
"Bohong."
"Darel—"
"Kak Aksa tidak punya banyak teman. Aku tahu itu." Ujar Darel. "Kau tidak perlu berbohong untuk membuatku merasa lebih baik."
Nevan memejamkan matanya, bersandar pada dinding koridor rumah duka itu.
"Maaf."
"Kak."
"Hm?"
"Bisa tolong kau dekatkan ponselmu ke sana?"
"Ke mana?"
"Ke tempat foto Kak Aksa berada." Kata Darel. "Aku ingin bicara sedikit. Tidak lama, sungguh."
Nevan menahan napasnya beberapa detik sebelum akhirnya menjawab.
"Baik. Tunggu sebentar."
Lelaki itu melangkah kembali ke dalam, berjalan sampai ke depan bingkai foto tersebut, lalu mengulurkan tangannya yang menggenggam ponsel, mendekatkannya ke arah wajah datar di dalam foto itu.
Dari seberang sana, terdengar suara yang tersendat.
"Kak Aksa, ini aku. Maaf aku tidak bisa datang."
Nevan menggigit bibir bawahnya.
"Aku sudah menghabiskan obatku setiap hari. Yang bulat itu juga. Yang pahit itu." Lanjut Darel. "Jadi kau harus datang lagi. Kau sudah berjanji."
Beberapa orang di ruangan itu menoleh. Beberapa lagi menundukkan kepala.
"Kak, aku tunggu."
Kemudian panggilan itu terputus.
Nevan menarik kembali tangannya, menatap layar ponselnya yang sudah kembali gelap, dan berdiri di sana tanpa bisa bergerak selama beberapa saat.
***
Prosesi pemakaman berlangsung menjelang siang.
Langit hari itu mendung sejak pagi, dan udaranya lembap seperti sedang menahan sesuatu yang sebentar lagi akan tumpah.
Brian berdiri paling depan. Nevan berdiri di sebelahnya, dengan setelan hitam yang sama dengan yang ia kenakan beberapa minggu lalu untuk Arvin. Setelan yang sebenarnya sudah ia gantung rapat-rapat di dalam lemari, dengan harapan tidak akan pernah dipakai lagi.
Ternyata harapan memang barang yang paling murah dan paling cepat rusak.
Ketika liang itu mulai ditutup, Nevan merasakan kakinya sendiri melemas. Ia sempat oleng, dan Brian dengan sigap menahan lengannya.
"Berdirilah." Bisik Brian.
"Kak…"
"Berdirilah, Nevan. Sebentar lagi."
Nevan menggigit bibirnya sampai berdarah, dan tetap berdiri sampai semuanya selesai.
***
Rintik pertama jatuh tepat ketika orang-orang mulai membubarkan diri.
Beberapa membuka payung, beberapa berlari kecil menuju kendaraan masing-masing, dan dalam hitungan menit, tempat itu sudah nyaris kosong.
Brian dan Nevan masih berdiri di sana.
"Kau ingat apa yang dikatakannya di panti dulu?" Tanya Brian tiba-tiba.
"Yang mana?"
"Waktu Darel pertama kali datang. Aksa satu-satunya yang tidak mau membalas sapaannya."
Nevan menyimpulkan senyum tipis. "Aku ingat."
"Aku sempat bilang pada Darel bahwa Aksa sebenarnya baik." Brian mendongak, membiarkan rintik hujan jatuh di wajahnya. "Waktu itu aku hanya asal bicara agar anak itu berhenti menangis."
"Ternyata kau benar, Kak."
"Ya." Brian mengembuskan napasnya panjang. "Sialnya aku benar."
Keduanya terdiam cukup lama.
"Kak," panggil Nevan. "Apa kau sudah menyiapkan apa yang akan kau ceritakan pada Darel?"
Brian mengeluarkan secarik kertas kecil dari saku jasnya, memperlihatkannya sekilas kepada Nevan. Di sana ada beberapa baris tulisan tangan yang sudah sedikit basah oleh gerimis.
"Siapa saja yang datang. Apa yang mereka katakan. Bagaimana cuacanya." Kata Brian. "Aku menulisnya sejak tadi pagi. Aku takut lupa."
Nevan menatap kertas itu, lalu menatap Brian, dan entah kenapa dadanya kembali terasa sesak.
"Kau memang menyebalkan, Kak."
"Kenapa?"
"Kau selalu melakukan hal-hal seperti ini, dan membuat kami semua merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apa-apa untukmu."
Brian terkekeh pelan, kekehan yang sama sekali tidak terdengar seperti tawa.
"Pulanglah duluan." Katanya sambil memasukkan kembali kertas itu ke dalam saku. "Aku masih ada urusan."
"Urusan apa?"
"Ada beberapa berkas yang harus kuselesaikan."
"Kak Brian."
"Pulanglah, Nevan."
Nevan menatap punggung rekannya itu, ingin membantah, ingin memaksa, ingin mengatakan bahwa mereka sebaiknya pulang bersama saja hari ini.
Namun pada akhirnya lelaki itu hanya mengangguk.
"Baik. Aku duluan."
***
Hujan sudah benar-benar deras ketika taksi yang ditumpangi Nevan berhenti di depan rumah.
Lelaki itu berlari kecil menuju teras, tapi tetap saja bahu dan punggungnya sudah basah sepenuhnya. Ia mengeluarkan kunci dari saku, membuka pintu, lalu melangkah masuk.
"Aku pulang."
Suaranya menggema di ruang tengah yang gelap.
Nevan berdiri di sana untuk beberapa saat, dengan air yang menetes dari ujung jaketnya membentuk genangan kecil di lantai.
Rumah tiga lantai ini dulu selalu berisik.
Dulu, kalau ada yang pulang dalam keadaan basah kuyup begini, pasti akan ada yang berteriak dari dapur menyuruhnya segera mandi air hangat. Pasti akan ada yang tertawa mengejek. Pasti akan ada yang melempar handuk dari lantai atas.
Sekarang tidak ada apa-apa.
Nevan menyalakan lampu, dan cahaya itu justru membuat rumah tersebut terlihat semakin kosong.
Ia melangkah menaiki anak tangga.
Kamar Arvin di sebelah kanan, pintunya tertutup rapat.
Kamar Aksa di ujung lorong, dengan kertas bergambar kucing mengacungkan jari tengah yang masih tertempel di pintunya. Tulisan "go away!" itu sudah mulai memudar di bagian sudutnya.
Nevan berhenti di depan pintu itu.
Ia mengangkat tangannya, hendak mengetuk, seperti yang biasa ia lakukan setiap kali hendak memanggil Aksa untuk makan.
Tangan itu berhenti di udara.
"Kebiasaan." Gumam Nevan sambil menurunkannya kembali.
Kemudian ia melanjutkan langkah, melewati satu pintu lagi, sampai akhirnya tiba di kamarnya sendiri di ujung lorong.
Nevan menutup pintu di belakangnya, melepas jaketnya yang basah, dan melemparkannya asal ke atas kursi.
Di luar, suara hujan semakin keras menghantam atap.