Mereka membawanya ke gudang belakang.
Bukan karena gudang itu tempat yang bagus, tapi karena gudang itu satu-satunya ruangan di rumah Husain yang jendelanya menghadap tembok. Tidak ada yang bisa melihat dari luar. Tidak ada yang bisa mendengar dari dalam rumah, kalau pintunya ditutup.
Bau gudang itu campuran karung goni, pupuk kandang kering, dan minyak mesin potong rumput. Di sudut ada tumpukan kursi plastik dan sepeda tua Rania yang sudah tujuh tahun tidak dipakai. Sutini menyalakan lampu neon yang berkedip dua kali sebelum menyala penuh.
Laki-laki itu duduk di kursi plastik. Ken menyodorkan segelas air. Laki-laki itu menerimanya dengan dua tangan dan meminumnya sampai habis dalam sekali tarikan.
"Namamu," kata Ken.
"Ju— Junaedi, Mas."
"Junaedi apa?"
"Junaedi saja."
Ken tidak mengejar. Dia menarik kursi plastik lain, membalikkannya, lalu duduk dengan tangan di sandaran. Ponselnya sudah ada di saku dada jaketnya sejak lima menit lalu, layar menghadap ke dalam, perekam suara menyala. Dia tidak memberi tahu siapa pun, bahkan Kalila. Bukan karena tidak percaya. Karena orang yang tahu sedang direkam selalu bicara seperti orang yang sedang direkam.
Pak Adi berdiri di depan pintu. Kalila bersandar di rak besi, tangan bersedekap. Rania memarkir kursinya di bawah lampu, buku tulis di pangkuan, pensil sudah di tangan.
"Kamu nulis?" tanya Junaedi, gugup.
"Aku nulis," jawab Rania. "Jam, tanggal, dan apa yang kamu bilang. Kalau besok kamu bilang tidak pernah bilang, aku punya catatannya."
"Ran," kata Kalila pelan.
"Apa? Aku duduk di sini dan aku menulis. Itu yang bisa kulakukan dan aku melakukannya." Rania tidak mengangkat kepala. "Lanjut, Mas Ken."
Ken hampir tersenyum. Hampir.
"Sudah berapa lama kamu kerja di gudang itu?" tanyanya.
"Dua tahun, Mas. Lebih." Junaedi memutar-mutar gelas kosong di tangannya. "Bongkar muat. Kadang antar galon ke kantor kalau supirnya libur."
"Siapa yang pertama kali mengajakmu bicara?"
"Tidak ada yang mengajak." Junaedi mengangkat bahu, dan gerakan itu terlihat sudah lama dia pakai untuk menjelaskan hidupnya. "Saya cuma dipanggil. Namanya juga harian, Mas. Kalau dipanggil, datang. Kalau tidak dipanggil, ya sudah."
"Dipanggil pakai apa? Telepon?"
"Telepon dari nomor yang tiap kali beda."
Ken menyimpan itu di kepalanya seperti orang memasukkan kunci ke saku.
"Kamu tidak curiga waktu disuruh datang jam dua pagi ke rumah orang?"
"Curiga." Junaedi menunduk. "Curiga sekali, Mas. Tapi kalau saya tanya, saya tidak dipanggil lagi. Itu aturannya. Tidak ada yang menuliskannya, tapi semua orang di gudang tahu."
Neon di atas mereka berkedip sekali. Bau pupuk kandang kering terasa lebih tajam di hidung Kalila, dan dia menyadari bahwa dia sedang menahan napas.
"Junaedi," kata Ken, "aku tidak akan menyerahkanmu ke polisi malam ini."
Junaedi mengangkat wajah, kaget.
"Bukan karena aku baik," lanjut Ken. "Karena kalau kamu kubawa ke pos sekarang, jam enam nanti ada pengacara datang, dan yang mengirim pengacara itu bukan keluargamu. Kamu akan bilang kamu maling, kamu dihukum tiga bulan, keluar, dan orang yang menyuruhmu bahkan tidak akan ingat namamu."
Junaedi menatap lantai semen.
"Bapak tahu dari mana," katanya lirih.
"Karena aku sudah melihatnya terjadi." Ken menegakkan punggung. "Sekarang jawab. Siapa yang membayarmu?"
Diam. Panjang.
Di luar, adzan subuh mulai terdengar dari mushola dua blok jauhnya. Suaranya tipis, dibawa angin, masuk lewat celah atap seng.
Junaedi menunduk lebih dalam.
"Orang kantor," katanya.
Kalila merasakan jantungnya sekali menghantam tulang rusuk.
"Kantor mana?" tanya Ken, hati-hati, seperti orang menuang air ke gelas yang sudah penuh.
"Kantornya... Bapak." Junaedi menggerakkan dagunya ke arah rumah. "Bapak yang punya rumah ini."
"Perusahaan Husain," kata Kalila.
Junaedi mengangguk sekali, cepat, seperti menyesal sudah mengangguk.
"Siapa namanya?" tanya Ken.
"Saya tidak tahu namanya."
"Junaedi."
"Sumpah, Mas. Saya tidak tahu namanya." Suaranya naik, panik. "Saya tidak pernah dipanggil ke ruangannya. Saya dipanggil ke parkiran, lantai basement, dekat pos satpam yang lampunya mati. Yang ketemu saya itu bukan beliau. Yang ketemu saya orang lain."
"Orang lain siapa?"
"Yang bawa amplop."
"Cirinya."
Junaedi berpikir. Matanya bergerak, mencari.
"Rambutnya rapi. Pakai kemeja, tidak pakai dasi. Sepatunya bersih sekali, Mas. Bersih sekali, padahal parkiran itu becek." Dia menelan ludah. "Dia tidak turun dari mobilnya. Dia buka kaca separuh saja. Amplopnya dikasih lewat situ."
"Berapa?"
"Tiga."
"Tiga juta?"
"Tiga ratus, Mas." Junaedi menyeka hidung dengan punggung tangan. "Tiga ratus ribu buat buka jendela. Dijanjikan dua juta kalau berhasil."
Kalila menutup mulutnya dengan tangan. Bukan karena angka itu besar. Karena angka itu kecil.
Segitu, pikirnya. Segitu harga untuk membuka jendela kamarku.
Tiga ratus ribu. Lebih murah daripada tas yang dia pakai ke kantor kemarin. Lebih murah daripada satu kali makan malam keluarga di restoran yang dipesan ayahnya tiap ulang tahun perusahaan.
Dan yang membuatnya paling ngilu bukan angkanya. Yang membuatnya ngilu adalah bahwa angka itu berarti orang di lantai tiga sudah menghitung. Sudah menimbang. Sudah memutuskan berapa yang pantas dikeluarkan untuk sebuah pintu masuk ke dalam hidupnya, seperti orang menyetujui anggaran pembelian kertas.
Tidak ada nafsu di angka itu. Tidak ada gairah, tidak ada kegilaan cinta yang sering diceritakan orang di sinetron. Yang ada cuma pembukuan.
Itu jauh lebih menakutkan, dan Kalila baru menyadarinya pagi itu.
Rania berhenti menulis sebentar, lalu menulis lagi, lebih keras, sampai ujung pensilnya menggores kertas.
"Siapa yang menyuruh orang bersepatu bersih itu?" tanya Ken.
Junaedi menggeleng. Menggeleng lagi. Lalu menggeleng untuk ketiga kalinya, dan gelengan ketiga itu terlalu keras.
"Kamu tahu," kata Ken.
"Saya tidak tahu."
"Kamu tahu, tapi kamu tidak berani."
Junaedi mulai menangis. Tidak bersuara, cuma bahunya yang naik-turun, dan itu justru membuat gudang itu terasa lebih sempit.
"Mas, saya ini cuma bantu-bantu di gudang logistik. Harian. Tidak ada kontrak, tidak ada apa-apa. Kalau saya sebut satu nama, besok saya tidak dipanggil kerja lagi, dan bukan cuma di situ. Di semua gudang di kompleks itu." Dia mengusap wajah dengan telapak tangan yang gemetar. "Bapak tahu tidak rasanya? Nama saya bukan dicoret. Nama saya cuma... tidak pernah dipanggil lagi. Tidak ada suratnya. Tidak ada buktinya. Saya cuma tidak dipanggil."
Ruangan itu diam.
Pak Adi menunduk. Rania berhenti menulis.
Kalila melangkah maju. Dia berjongkok, supaya matanya sejajar dengan mata laki-laki itu, dan tangannya bersandar di lutut sendiri supaya tidak terlihat gemetar.
"Junaedi," katanya.
Laki-laki itu tidak berani menatapnya.
"Saya tidak akan minta kamu sebut namanya," kata Kalila. "Saya cuma mau tanya satu hal. Jawab ya atau tidak."
Junaedi mengangguk kecil.
"Orang yang membayar kamu itu," kata Kalila, "duduknya di lantai berapa?"
Bahu Junaedi menegang.
Beberapa detik penuh, tidak ada yang bernapas.
"Tiga," katanya akhirnya. Hampir tidak terdengar.
Kalila menutup mata.
Lantai tiga. Ruang rapat direksi. Dan satu ruangan di ujung koridor dengan pintu kaca buram, yang tiga bulan terakhir pintunya makin sering tertutup.
Kalila mengenal koridor itu sampai ke bunyi lantainya. Dia pernah berlarian di sana waktu kecil sambil memegang tangan ibunya, waktu lantai tiga masih berupa ruang arsip dan bau kertas tua.
Sekarang di ujung koridor itu ada orang yang mengetahui kamar mana yang jendelanya menghadap taman.
"Terima kasih," katanya, dan berdiri.
Ken memperhatikan wajah Kalila, dan untuk sesaat dia lupa pada laki-laki di kursi plastik itu. Dia melihat rahang perempuan itu mengeras, melihat napasnya diatur ulang dua kali, melihat dia memilih untuk tidak menangis di ruangan yang isinya orang lain.
Ada dorongan di dada Ken untuk melangkah dan menahan bahunya. Satu langkah saja. Dia sudah mengangkat kaki setengah.
Lalu dia menurunkannya lagi.
Bukan di sini. Bukan sekarang. Bukan di depan orang yang akan pulang dan melapor.
"Pak Adi," kata Ken, suaranya kembali datar. "Antar dia ke gerbang depan. Lewat jalan setapak, jangan lewat samping."
"Dilepas, Mas?" Pak Adi terkejut. "Mas Ken, dia—"
"Kita tidak punya hak menahan orang, Pak. Dan kalau kita menahan dia sampai pagi, yang pertama datang ke rumah ini bukan polisi." Ken berdiri. "Dia dilepas. Tapi tidak kosong."
Ken merogoh saku belakang, mengeluarkan lembaran uang, dan menyodorkannya. Junaedi menatapnya, bingung, tidak berani menyentuh.
"Ambil. Buat rumah sakit anakmu." Ken menunggu sampai jari-jari itu bergerak. "Dan dengar baik-baik. Kalau kamu dipanggil lagi ke parkiran itu, kamu datang. Kamu terima amplopnya. Lalu kamu kirim satu pesan ke nomorku, isinya satu kata saja: mangga."
Junaedi mengerjap. "Mangga?"
"Mangga. Tidak ada orang yang curiga sama kata mangga."
Junaedi menerima uang itu dengan tangan gemetar dan memasukkannya ke saku celana tanpa menghitung.
Di ambang pintu gudang dia berhenti sebentar, punggungnya membungkuk, dan berbicara tanpa berbalik.
"Mbak Kalila."
Kalila menoleh.
"Kalau bukan saya," kata Junaedi, "besok orang lain."
Lalu dia keluar ke halaman yang sudah mulai biru oleh subuh, dan pak Adi mengantarnya ke gerbang.
Ken merogoh saku dadanya. Menekan tombol berhenti. Layar ponsel menyala di kegelapan gudang, memperlihatkan satu baris angka.
Empat belas menit dua puluh tiga detik.
"Kamu merekam," kata Rania dari kursinya. Bukan pertanyaan.
"Iya."
"Bagus." Rania menutup buku tulisnya. "Sekarang tinggal satu masalah."
"Apa?"
"Papa," kata Kalila, pelan. "Papa tidak akan percaya."
Bersambung.