Ruang kerja tuan Husain menghadap timur, jadi jam delapan pagi ruangan itu selalu terlalu terang.
Kalila berdiri di depan meja kayu jati yang lebih tua dari dirinya sendiri. Dia sudah mandi, sudah mengganti kardigan dengan blus rapi, sudah menyisir rambut. Dia belajar sejak kecil bahwa di ruangan ini, orang yang terlihat berantakan otomatis dianggap salah, apa pun isi kalimatnya.
Di atas meja ada tiga benda yang dia bawa.
Kail kunci logam itu, dibungkus kantong plastik bening.
Ponselnya, dengan berkas rekaman empat belas menit yang sudah disalin Ken semalam.
Dan buku tulis Rania, terbuka di halaman bertanggal hari ini.
"Papa sudah dengar semuanya," kata Kalila. "Sekarang Kalila mau tanya. Papa percaya, tidak?"
Tuan Husain tidak langsung menjawab.
Laki-laki itu memutar cangkir tehnya perlahan di atas lepek. Bau tehnya melati, sama seperti tiga puluh tahun terakhir. Rambutnya sudah putih di pelipis. Ada kerut baru di antara alisnya yang enam bulan lalu belum ada.
"Papa percaya ada orang naik pagar," katanya akhirnya.
"Itu bukan pertanyaannya."
"Kalila."
"Papa percaya, tidak, bahwa orang itu dibayar dari kantor Papa sendiri?"
Tuan Husain meletakkan cangkirnya. Bunyinya kecil, tapi di ruangan itu terdengar seperti palu.
"Kamu punya rekaman orang harian yang ketakutan," katanya. "Ketakutan itu bilang apa saja. Dia bilang 'orang kantor'. Kantor mana? Kantor Papa punya dua ratus tiga puluh karyawan, Lila. Belum vendor. Belum kontraktor. Belum satpam kompleks."
"Dia bilang lantai tiga."
"Lantai tiga itu ada delapan ruangan."
"Papa—"
"Dan kamu bertanya dengan cara yang salah." Suara tuan Husain naik sedikit. "Kamu tidak tanya 'siapa'. Kamu tanya 'lantai berapa'. Orang setakut itu akan menjawab angka apa pun yang kamu sodorkan. Kalau kamu tanya lantai empat, dia jawab empat."
Kalila membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Karena bagian itu benar.
Dan itulah yang paling melelahkan: ayahnya tidak bodoh. Ayahnya justru terlalu terlatih. Seumur hidup laki-laki itu memimpin rapat, membaca laporan, mencari lubang di argumen orang lain. Sekarang keterampilan itu dipakai untuk melubangi anaknya sendiri.
"Lalu kail itu?" Kalila menunjuk kantong plastik. "Itu dibuat khusus untuk kait jendela model lama. Pak Adi yang pasang jendelanya. Artinya ada orang yang mengukur jendela kamar Kalila, Pa. Siang hari. Di dalam halaman ini."
"Atau tukang yang pernah servis jendela itu masih menyimpan ukurannya."
"Papa mencari alasan."
"Papa mencari bukti," kata tuan Husain tajam. "Itu bedanya kita."
Pintu ruang kerja diketuk dua kali.
Dan tanpa menunggu jawaban, pintu itu terbuka.
Elo masuk dengan map di tangan.
Kemejanya biru muda, lengan digulung dua lipat, tanpa dasi. Sepatunya hitam dan bersih sekali. Dia berhenti sejenak di ambang, seolah baru menyadari ada orang lain di ruangan, lalu wajahnya berubah jadi prihatin dengan kecepatan yang membuat perut Kalila mual.
"Maaf, Pak. Saya tidak tahu Mbak Kalila ada di sini." Dia menunduk sedikit ke arah Kalila. "Saya sudah dengar kejadian semalam. Saya turut prihatin sekali."
"Kamu dengar dari siapa?" tanya Kalila.
"Dari pos satpam kompleks, Mbak. Mereka lapor ke saya jam enam tadi." Elo tersenyum tipis. "Saya yang menandatangani kontrak keamanan kompleks tahun lalu. Jadi semua laporan masuk ke meja saya dulu."
Kalila menatapnya.
Itu dia, pikirnya. Bukan bisikan. Bukan ancaman. Cuma satu kalimat administratif yang artinya: semua yang kamu laporkan tentang aku, laporannya lewat aku dulu.
"Duduk, Lo," kata tuan Husain.
Elo duduk. Dia meletakkan map di meja dan membukanya. Tiga lembar. Rapi. Sudah bertanda tanda-tangan di kolom kiri bawah, tinggal menunggu kolom kanan.
"Pak, saya justru mau bicara soal ini pagi ini," katanya. "Saya sudah siapkan sejak minggu lalu, sebelum kejadian semalam. Rumah Bapak titik lemahnya banyak."
"Sebutkan."
"Satu penjaga malam, umur lima puluh delapan, tanpa alat komunikasi terpusat." Elo membaca tanpa nada, seperti orang membaca daftar belanja. "Kamera cuma dua, dua-duanya di depan, dua-duanya menghadap gerbang, dan yang satu sudah rusak sejak Februari. Sisi timur rumah gelap total. Dan kamar Mbak Kalila ada di lantai satu, sisi timur, jendelanya menghadap taman yang dari luar bisa dipanjat dari tembok tetangga."
Ruangan itu hening.
Kalila merasakan sesuatu merambat naik dari tengkuknya.
Dia baru saja mendengar orang menyebutkan letak kamarnya, arah jendelanya, dan cara memanjatnya, dengan suara setenang orang membacakan notulen rapat.
"Usulan saya tiga," lanjut Elo. "Pertama, delapan kamera baru, terhubung ke satu server. Saya sudah minta penawaran dari vendor yang biasa kita pakai di gudang. Kedua, tenaga keamanan bersertifikat, dua orang, sif malam, dari agensi yang sama dengan yang jaga pabrik. Ketiga—"
Dia berhenti sepersekian detik. Dan Kalila tahu, dia berhenti supaya kalimat berikutnya terdengar seperti pemikiran yang baru muncul.
"—Mbak Kalila sebaiknya pindah ke kamar lantai dua. Yang di sayap barat. Jendelanya tinggi, tidak ada akses dari luar."
"Tidak," kata Kalila.
"Mbak—"
"Tidak," ulangnya, lebih keras. "Kamar Rania di lantai satu. Kalau saya pindah ke atas, saya tidak bisa mendengar dia."
"Ada interkom, Mbak."
"Saya tidak mau interkom. Saya mau dinding."
Elo mengangguk perlahan, sabar, seperti guru yang menghadapi murid keras kepala. Lalu dia menoleh ke tuan Husain, dan kesabarannya itu berubah bentuk jadi laporan.
"Pak, ini yang saya khawatirkan. Kejadian semalam jelas mengguncang. Wajar sekali. Tapi dalam keadaan terguncang, keputusan sering diambil dari perasaan."
"Saya di sini," kata Kalila. "Bicara ke saya, bukan tentang saya."
Untuk pertama kalinya pagi itu, Elo menatapnya lurus.
Dan di mata itu tidak ada apa-apa. Bukan benci. Bukan nafsu. Bukan bahkan kemarahan. Yang ada cuma perhitungan yang tenang, cara orang menatap pintu yang engselnya belum pas.
"Baik," kata Elo. "Mbak Kalila. Saya bicara ke Mbak. Semalam ada orang berhasil sampai ke jendela Mbak, dan orang yang seharusnya menjaga baru sadar setelah tangan orang itu masuk. Bukan sebelum. Sesudah."
Kalila tidak menjawab.
Karena bagian itu, juga, benar.
Dan itulah cara kerjanya, pikir Kalila. Orang ini tidak pernah berbohong. Dia cuma memilih kebenaran mana yang diletakkan di atas meja, dan urutannya diatur supaya semua kebenaran itu menunjuk ke satu pintu keluar yang sudah dia siapkan sejak semalam. Mungkin sejak minggu lalu. Dia sendiri yang bilang begitu tadi: sudah saya siapkan sejak minggu lalu.
Sebelum ada tangan di jendela.
"Pak Adi orang baik," lanjut Elo. "Saya tidak bilang dia jahat. Saya bilang dia lima puluh delapan tahun, sendirian, dan sudah dua kali ditegur karena berdiri di tempat yang tidak semestinya. Ini bukan soal orangnya. Ini soal sistemnya."
Tuan Husain menarik map itu mendekat. Dia membaca lembar pertama. Lalu lembar kedua.
"Berapa?" tanyanya.
"Empat puluh delapan juta untuk kamera. Agensi tujuh koma lima per bulan." Elo mengeluarkan pena dari saku dan meletakkannya di atas map, ujungnya menghadap tuan Husain. "Saya tidak minta Bapak putuskan sekarang."
Kalimat itu bohong, dan semua orang di ruangan itu tahu, karena penanya sudah ada di sana.
"Pa," kata Kalila. "Jangan tanda tangan."
"Kenapa?"
"Karena servernya di mana? Kameranya lihat ke mana? Siapa yang punya kata sandinya?" Kalila melangkah maju. "Papa mau pasang delapan mata di rumah ini, dan yang memegang matanya orang yang laporan keamanannya masuk ke mejanya sendiri dulu."
"KALILA."
Suara tuan Husain menghantam ruangan.
Kalila berhenti. Napasnya pendek. Telinganya berdenging.
Ayahnya berdiri. Dan untuk sesaat, laki-laki tua itu terlihat lebih lelah daripada marah.
"Kamu baru saja menuduh orang yang sepuluh tahun bekerja untuk keluarga ini," katanya pelan. "Di depan orangnya. Tanpa satu lembar bukti."
"Papa juga tidak punya bukti dia tidak melakukannya."
"Bukan begitu cara kerjanya."
"Kalau begitu ajari Kalila caranya!" Suara Kalila pecah, dan dia benci itu, benci sekali. "Ajari Kalila cara membuktikan sesuatu ke Papa. Karena semalam Kalila menyalakan semua lampu kamar jam empat pagi, Pa, dan Kalila tidak berani menoleh ke jendela."
Hening.
Di luar, tukang kebun menyalakan mesin pemotong rumput. Bunyinya masuk, kasar dan biasa saja, seperti dunia yang menolak ikut serius.
Tuan Husain duduk kembali. Dia menutup matanya sebentar, memijat pangkal hidung.
"Kamera dipasang," katanya. "Itu masuk akal, apa pun yang kalian berdua pikirkan tentang satu sama lain."
Elo menunduk sopan. "Terima kasih, Pak."
"Servernya di ruangan ini. Bukan di kantor." Tuan Husain menatap Elo tajam. "Kata sandinya saya."
Untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang bergerak di rahang Elo.
Lalu hilang.
"Tentu, Pak. Memang seharusnya begitu."
"Dan Pak Adi tetap." Tuan Husain mengangkat pena. "Tapi Lila. Sif malam di dalam rumah dihentikan. Dia jaga dari pos depan, seperti dulu."
"Pa, itu artinya—"
"Itu artinya di rumah ini tidak ada laki-laki yang duduk semalaman di depan pintu kamar anak gadis saya, dan besok tidak ada tetangga yang punya bahan omongan." Pena itu bergerak. Tanda tangan selesai dalam dua detik. "Papa sudah dengar apa yang orang bilang, Lila. Papa dengar dari empat orang."
Kalila menatap tanda tangan yang masih basah di kertas itu.
Dan dia mengerti, dengan jelas dan dingin, bahwa dia baru saja kalah bukan karena argumennya lemah, tapi karena ayahnya sedang menjaga hal yang berbeda dari yang dia jaga.
"Satu lagi," kata tuan Husain, menutup map. "Bulan depan keluarga Devan datang. Papa sudah janji."
Kalila mengangkat kepala. "Apa?"
"Nanti kita bicarakan."
"Pa—"
"Nanti," kata tuan Husain, dan itu berarti percakapan sudah selesai.
Elo berdiri, merapikan mapnya, dan berjalan ke pintu. Di ambang, dia berhenti tepat di samping Kalila. Cukup dekat untuk bicara pelan. Cukup jauh untuk terlihat sopan dari meja.
"Saya mengerti Mbak marah," katanya. "Tapi mulai malam ini Mbak akan tidur lebih tenang. Saya yang mengurus itu."
Lalu dia keluar, dan pintu tertutup pelan sekali di belakangnya.
Bersambung.