Ada satu hal yang tidak pernah dipahami orang-orang di rumah ini, dan Rania sudah lama berhenti menjelaskannya.
Mereka pikir kursi roda itu membuatnya kurang hadir. Padahal yang terjadi sebaliknya. Karena dia tidak bisa cepat, dia jadi lama di satu tempat. Karena dia lama di satu tempat, orang berhenti melihatnya. Dan orang yang tidak dilihat adalah orang yang paling banyak melihat.
Sore itu Rania ada di ruang kerja tuan Husain sejak pukul empat.
Bukan diam-diam. Dia masuk lewat pintu depan, disaksikan Mbok Iyah, dan memarkir kursinya di sudut dekat jendela, di antara rak buku dan pot palem yang daunnya menjuntai sampai bahu. Di pangkuannya ada laptop dan sebuah buku katalog. Dia sedang mengerjakan sesuatu yang belum dia ceritakan kepada siapa pun: gambar denah rumah ini, diukur sendiri, dengan angka lebar tiap pintu ditulis di sebelahnya.
Delapan puluh dua sentimeter. Tujuh puluh enam. Tujuh puluh satu. Enam puluh delapan.
Kursinya butuh enam puluh tujuh.
Dia sudah tiga tahun menghitung ruangan mana di rumahnya sendiri yang masih boleh dia masuki.
Bukan untuk mengeluh. Rania sudah lama bosan mengeluh, karena mengeluh membuat orang menepuk bahunya dan menyebutnya kuat, lalu pulang tanpa mengubah apa pun. Dia menghitung karena angka tidak bisa disanggah. Kalau dia bilang "aku susah masuk", orang akan menjawab "nanti dibantu". Kalau dia bilang "pintunya enam puluh delapan, kursiku enam puluh tujuh, jadi aku masuk dengan menggores dinding tiap hari", orang harus diam.
Halaman terakhir di layarnya masih kosong. Judulnya sudah dia tulis: Ruangan yang Tidak Bisa Saya Masuki di Rumah Ini.
Ada sebelas baris di bawahnya. Ruang rapat lantai dua ada di urutan pertama, karena tangga rumah ini punya dua puluh anak tangga dan tidak ada satu pun pegangan di sisi kiri.
Dia belum tahu untuk apa daftar itu nantinya. Dia cuma tahu bahwa hal yang tidak dicatat akan selalu dianggap tidak pernah terjadi.
Bau ruangan itu kayu dan pengharum lemari, dan di sela-selanya ada bau tembakau tipis yang menempel di gorden sejak zaman kakeknya.
Pukul empat lewat dua puluh, teknisi kamera datang. Empat orang, membawa tangga alumunium dan gulungan kabel. Mereka bekerja di halaman, dan salah satu dari mereka masuk ke ruang kerja untuk mengukur sudut dinding tempat server akan dipasang.
Orang itu melihat Rania, mengangguk sopan sekali, lalu langsung lupa dia ada di situ.
Pukul lima, teknisi keluar. Ruangan sepi.
Pukul lima lewat sepuluh, pintu terbuka.
Sutini masuk membawa nampan berisi cangkir kosong dan lap. Perempuan itu memang selalu membereskan ruang kerja jam segitu, sudah bertahun-tahun. Dia mengambil cangkir teh tuan Husain yang tertinggal, mengelap meja, membuang serbuk gula dari lepek.
Lalu dia berhenti.
Rania mengangkat mata dari laptopnya.
Sutini sedang berdiri diam di depan meja, punggungnya kaku, kepalanya sedikit miring ke arah pintu. Mendengarkan. Bukan mendengarkan sesuatu. Mendengarkan apakah ada seseorang.
Dua detik. Tiga.
Lalu tangan Sutini bergerak cepat sekali.
Dia membuka laci kedua di sisi kiri meja. Mengeluarkan map cokelat. Membalik halamannya sampai kira-kira tengah, menarik keluar beberapa lembar kertas, lalu memasukkan lembaran lain dari dalam lipatan kain lapnya sendiri ke tempat yang sama. Map ditutup. Laci didorong. Kertas yang ditarik keluar masuk ke balik kain lap, dan kain lap masuk ke bawah nampan.
Seluruhnya sembilan detik. Rania menghitungnya, karena dia selalu menghitung.
Sutini berbalik ke pintu.
"Bu Sutini."
Perempuan itu berhenti seperti disetrum. Nampan di tangannya bergoyang, cangkir berdenting.
"N-Non Rania." Wajahnya sepucat dinding. "Non... dari tadi di situ?"
"Dari jam empat."
"Ya Allah. Saya tidak lihat."
"Saya tahu," kata Rania. "Tidak ada yang lihat."
Dia mendorong roda kirinya setengah putaran, memutar badan supaya menghadap penuh ke arah Sutini. Cahaya sore masuk lewat jendela dan jatuh miring di lantai, membelah ruangan jadi dua bagian, terang dan bayangan.
"Duduk, Bu."
"Non, saya harus ke dapur—"
"Bu Sutini." Suara Rania tidak keras. Justru itu yang membuat Sutini berhenti. "Kalau Ibu keluar dari pintu itu sekarang, saya akan menceritakan sembilan detik tadi ke Papa malam ini juga. Kalau Ibu duduk, saya dengarkan dulu."
Sutini berdiri di tempat, dadanya naik-turun.
Lalu dia meletakkan nampan di kursi tamu dan duduk di ujung sofa, kaku, seperti orang yang tidak pernah duduk di ruangan itu seumur hidupnya. Memang tidak pernah.
"Kertas apa," kata Rania.
Sutini menggeleng.
"Bu."
"Non tidak akan mengerti."
"Coba dulu."
Sutini menarik kain lap dari bawah nampan. Tangannya gemetar. Dia membuka lipatannya dan menyodorkan lembaran itu ke pangkuan Rania seperti orang menyerahkan sesuatu yang panas.
Rania menegakkan laptopnya ke samping dan membaca.
Fotokopi. Buram di pinggir, seperti hasil salinan dari salinan. Kop suratnya kop perusahaan Husain. Tanggalnya delapan bulan lalu. Judulnya panjang dan membosankan, sesuatu tentang laporan pemeriksaan internal gudang logistik.
Di bawah, di kolom pelapor, ada satu nama.
Dini Prasetyaningrum. Staf administrasi gudang.
Rania membaca isinya. Dua paragraf saja, ditulis dengan bahasa orang yang berusaha sangat sopan. Tentang barang keluar tanpa surat jalan. Tentang tanda tangan penerima yang bentuknya berbeda-beda padahal namanya sama. Tentang tiga kali dia melaporkan lisan dan tidak ada jawaban, sehingga ia menulis surat ini.
Di sudut kanan atas ada tulisan tangan dengan pena biru, miring, cepat.
Tidak perlu ditindaklanjuti. Selesaikan internal.
Tidak ada nama di bawah tulisan itu. Cuma paraf. Satu coretan pendek yang tidak bisa dibaca siapa pun.
"Dini itu siapa?" tanya Rania.
"Anaknya tetangga saya di kampung." Suara Sutini tercekat. "Umurnya dua puluh empat. Dia yang bantu-bantu waktu bapak saya sakit."
"Sekarang dia di mana?"
"Tidak kerja lagi." Sutini menyeka mata dengan punggung tangan. "Bukan dipecat, Non. Tidak ada surat pemecatan. Dia cuma... tidak dipanggil lagi. Sudah enam bulan."
Rania merasakan sesuatu dingin turun ke perutnya.
Dia cuma tidak dipanggil lagi.
Kalimat itu. Persis kalimat itu. Dia menulisnya sendiri di buku tulisnya subuh tadi, di gudang belakang, dari mulut laki-laki bersandal jepit bernama Junaedi.
"Kenapa kertas ini ada di laci Papa?" tanyanya.
"Tidak ada. Itu yang saya masukkan."
Rania mengangkat kepala. "Ibu yang menaruhnya di situ?"
Sutini mengangguk, dan air matanya jatuh.
"Saya sudah tiga minggu mencoba, Non. Tiga minggu. Saya taruh di tumpukan surat masuk, hilang. Saya taruh di map yang dibawa Bapak ke kantor, hilang lagi. Kemarin saya lihat map yang di laci itu yang paling sering dibuka Bapak sebelum tidur." Bahunya berguncang. "Saya bukan mencuri, Non. Saya menyelipkan. Yang saya tarik keluar itu lembar kosong pembatas, biar tebalnya sama, biar tidak kelihatan ada yang ditambah."
Rania menatap perempuan di depannya. Perempuan yang sudah dua belas tahun mencuci piring di rumah ini, yang selalu berdiri kalau ada anggota keluarga masuk dapur, yang memanggilnya Non sejak dia masih bisa berlari.
"Kenapa Ibu tidak minta tolong Kak Lila?"
"Karena Non Kalila sudah punya masalah sendiri." Sutini menyeka wajahnya dengan ujung kerudung. "Dan karena kalau saya yang bicara, Non, saya cuma pembantu. Yang ditanya duluan bukan isi suratnya. Yang ditanya duluan: kamu dapat dari mana? Habis itu saya yang salah."
Ruangan itu diam lama sekali.
Di luar, teknisi kamera memanggil temannya dari atas tangga. Bunyi bor menembus dinding, pendek-pendek, lalu berhenti.
Rania menatap fotokopi di pangkuannya. Lalu menatap layar laptopnya, denah rumah dengan angka-angka lebar pintu itu.
Dan tiba-tiba dua hal itu terasa seperti satu hal.
Barang keluar tanpa surat jalan, dan tidak ada yang bertanya.
Orang berhenti kerja tanpa surat pemecatan, dan tidak ada yang bertanya.
Pintu yang terlalu sempit untuk dilewati, dan tidak ada yang bertanya.
Semuanya bekerja dengan cara yang sama: bukan dilarang, cuma dibuat tidak mungkin. Tidak ada yang bisa ditunjuk. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada bukti. Cuma orang yang tiba-tiba tidak ada di dalam ruangan, dan semua orang mengira itu kebetulan.
Rania melipat kertas itu dan memasukkannya ke tas samping kursinya.
"Bu Sutini."
"Non."
"Jangan taruh apa-apa lagi di laci itu."
Sutini menunduk. "Baik, Non. Maaf."
"Saya belum selesai." Rania mengunci roda kursinya, dan bunyi kliknya tegas di ruangan sepi itu. "Jangan taruh apa-apa lagi di laci itu, karena mulai sekarang saya yang membawanya. Bukan diselipkan. Saya kasih ke tangan Papa, di depan mata Papa, dan saya berdiri di situ sampai dia baca sampai habis."
Sutini mengangkat wajah, kaget. "Non tidak takut?"
"Takut," kata Rania jujur. "Tapi saya sudah menghitung. Kalau Ibu yang bawa, Ibu bisa dipecat besok pagi. Kalau Kak Lila yang bawa, dia akan dibilang berlebihan, sudah dua kali begitu. Kalau saya yang bawa..."
Dia berhenti. Sudut bibirnya naik sedikit, dan senyum itu sama sekali tidak lucu.
"Papa tidak bisa memecat saya."
Pintu ruang kerja terbuka.
Mbok Iyah melongok, membawa selembar kertas kecil di tangan, dan bicara dengan nada orang yang menyampaikan hal paling biasa di dunia.
"Non Rania, ini titipan dari Pak Elo. Katanya rapat keluarga besok pagi jadi dimajukan jam sembilan."
"Ya, saya tahu."
"Terus tempatnya pindah, Non." Mbok Iyah membaca kertas itu, mengeja pelan. "Bukan di ruang makan. Di ruang rapat atas. Lantai dua."
Bersambung.