Rania sudah bangun sejak pukul empat.
Bukan karena azan. Bukan karena nyamuk. Setiap kali ia memejamkan mata, yang muncul justru punggung Sutini di ruang kerja tadi malam. Tangan Sutini yang bergerak cepat di atas meja. Bunyi kertas yang bergeser dari map yang satu ke map yang lain. Ssrek. Pelan sekali. Tapi di kepala Rania, bunyi itu sebesar piring jatuh di lantai keramik.
Ia belum bilang siapa-siapa. Ia belum tahu harus bilang apa.
Pukul setengah enam rumah mulai hidup. Bau kopi tubruk naik dari dapur, pahit bercampur manis gula batu. Bau minyak kayu putih dari kamar bapak. Bau lantai yang baru dipel, air dan sedikit kapur. Rania mendorong roda kursinya keluar kamar, menyusuri koridor bawah, lalu berhenti di tempat yang sama seperti kemarin, dan kemarinnya lagi, dan sepanjang tahun sebelumnya.
Di kaki tangga.
Empat belas anak tangga. Kayu jati, ujungnya melengkung, dipoles sampai bisa memantulkan lampu. Rania menghitungnya pertama kali waktu umur dua belas, di bulan-bulan pertama setelah ia sakit, waktu ia masih yakin hitungan itu cuma sementara.
Kalila datang membawa dua gelas. Rambutnya masih basah, diikat asal-asalan. Ia menyodorkan satu gelas ke tangan adiknya tanpa bertanya.
"Teh," kata Kalila. "Kamu tidak tidur lagi?"
"Tidur," jawab Rania. "Setengah jam. Lumayan."
"Kamu bohong."
"Aku hemat kata."
Kalila duduk di anak tangga paling bawah supaya wajah mereka sejajar. Kebiasaan lama. Rania selalu diam-diam berterima kasih untuk itu, dan selalu tidak mengatakannya.
"Ada yang mau kamu ceritakan," kata Kalila. "Dari semalam mukamu begitu."
Rania membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Sutini yang menyuapinya waktu ia belum bisa duduk sendiri. Sutini yang mengangkatnya ke kamar mandi selama dua tahun. Menuduh orang seperti itu bukan perkara yang bisa dilempar sambil minum teh.
"Belum," kata Rania akhirnya. "Aku mau pastikan dulu. Kalau aku salah, ada orang yang rusak namanya seumur hidup."
Kalila menatapnya lama. "Kalau kamu sudah pasti, kamu bilang aku duluan. Jangan bapak."
"Kenapa jangan bapak?"
"Karena bapak sekarang cuma dengar satu suara."
Suara itu datang tepat waktu, seperti dipanggil.
"Selamat pagi, Nona."
Elo berdiri di ujung koridor, sudah rapi sejak jam segitu. Kemeja putih. Lengan digulung dua lipatan, bukan tiga. Sepatu hitam yang tidak pernah kotor walaupun jalan depan rumah masih becek sisa hujan semalam. Ia membawa map plastik biru di ketiak, dan senyum yang selalu sama ukurannya.
"Pagi," kata Kalila datar.
"Rapat jam sembilan dimajukan," kata Elo. "Dan dipindah. Ke ruang kerja atas."
Rania merasakan sesuatu turun di dadanya, dingin, seperti air es ditelan terlalu cepat.
"Rapat keluarga selalu di ruang makan," kata Kalila.
"Betul." Elo mengangguk sopan. "Tapi AC ruang makan mati sejak Sabtu. Tukangnya baru bisa Kamis. Kasihan Tuan Husain, beliau gampang sesak kalau kepanasan." Ia menoleh ke Rania, dan senyumnya melebar sedikit, cuma sedikit. "Nanti saya minta Pak Karyo sama sopir angkat kursi Nona Rania ke atas. Dua orang cukup, kok. Nona ringan."
Sunyi.
Rania menghitung sampai tiga di dalam kepalanya, karena kalau tidak, yang keluar dari mulutnya bukan kalimat.
"Terima kasih," kata Rania. "Tapi tidak."
"Kenapa? Tidak apa-apa. Sudah biasa."
"Justru itu." Rania menegakkan punggung. "Saya bukan lemari, Pak Elo. Saya tidak diangkat naik turun supaya orang lain tidak usah pindah ruangan."
Senyum Elo tidak hilang. Itu yang paling Kalila benci dari lelaki itu. Kalau Elo marah, mungkin masih ada manusianya di sana. Tapi Elo tidak pernah marah. Elo cuma menyesuaikan, seperti air yang mencari celah paling rendah.
"Sayang sekali," kata Elo. "Padahal yang dibahas menyangkut bagian Nona juga."
Lalu ia pergi. Sepatunya tidak bersuara di lantai.
Kalila berdiri. "Aku bilang ke bapak."
"Kak."
"Aku bilang sekarang."
Ruang kerja bapak ada di lantai dua, di ujung, menghadap jalan. Kalila naik dua anak tangga sekaligus. Pintunya setengah terbuka. Tuan Husain sedang memasang jam tangan, dan di meja sudah tergeletak map plastik biru itu, terbuka rapi seperti sudah menunggu di sana sejak subuh.
"Pak, rapatnya turun ke bawah saja."
"AC-nya mati."
"Kipas ada empat di gudang."
Tuan Husain menghela napas panjang. Napas yang artinya: jangan mulai. "Kalila, ini rapat kerja. Bukan arisan."
"Rania punya bagian di perusahaan."
"Rania punya kamu. Kamu bisa ceritakan nanti."
"Itu bukan hal yang sama," kata Kalila, dan suaranya naik satu tingkat tanpa ia rencanakan. "Kalau aku yang ceritakan, dia dengar versi aku. Dia bukan penonton di rumahnya sendiri, Pak."
Bapaknya menoleh. Wajah lelaki itu tampak lebih tua daripada tiga bulan lalu. Ada urat halus baru di pelipisnya. Ada sesuatu yang capek di sana, dan Kalila membencinya, karena kelelahan itu selalu dipakai jadi tameng.
"Kamu tahu apa yang bikin bapak capek?" kata Tuan Husain pelan. "Bukan perusahaan. Tapi kalian berdua yang mengubah semua hal jadi perkara besar."
Kalila menelan sesuatu yang pahit. "Ya. Baik. Nanti Bapak lihat sendiri seberapa besar."
Ia keluar sebelum sempat menangis di depan orang.
Di bawah, Rania tidak ada lagi di kaki tangga.
Kalila mencarinya ke ruang tamu, ke teras, ke dapur. Baru di pantri ia menemukannya. Rania sedang menjulurkan badan ke dinding, membuka tutup kotak plastik krem yang menempel di sana. Kotak tua, sudah menguning. Interkom rumah, dipasang waktu rumah ini dibangun ulang belasan tahun lalu, dulu dipakai supaya orang dapur tidak usah bolak-balik dipanggil.
"Rania?"
"Ssst." Rania menekan satu tombol. Lalu tombol kedua. Ada bunyi kresek, lalu dengung rendah yang stabil. "Nyala. Kabelnya masih hidup."
"Kamu tahu dari mana masih hidup?"
"Aku sudah cek dua bulan lalu, Kak." Rania mendongak, dan untuk pertama kalinya pagi itu ia tersenyum, kecil dan miring. "Ini bukan pertama kali rapat dipindah ke atas. Ini yang kelima."
Kalila merasa lantai bergeser sedikit di bawah kakinya. "Kelima."
Rania mengeluarkan buku tulis bersampul cokelat dari tas kain yang tergantung di samping kursinya. Halamannya penuh tanggal. Tulisannya rapat, kecil, rapi.
"Empat belas Maret. Rapat soal gudang, dipindah ke atas, alasannya ruang bawah dipakai tamu. Dua April, soal kontrak baru, dipindah, alasannya plafon bocor. Sembilan Mei. Dua puluh satu Mei." Rania menutup bukunya. "Setiap kali yang dibahas menyangkut kamu, atau menyangkut aku, rapatnya naik. Setiap kali yang dibahas cuma harga semen sama solar, rapatnya di bawah."
"Kamu simpan ini sejak Maret dan tidak bilang siapa-siapa?"
"Aku bilang sekarang." Rania mengangkat bahu. "Kalau aku bilang bulan Maret, aku cuma adik yang ngambek karena tidak diajak. Sekarang aku punya lima tanggal. Lima tanggal itu bukan perasaan, Kak. Itu pola."
Kalila berjongkok di samping kursi adiknya. Bau sabun bayi dari rambut Rania, wangi yang tidak pernah berubah sejak dulu. Ada yang panas naik ke matanya.
"Kamu mau apa?"
"Aku mau rapat itu tetap jalan," kata Rania. "Biar mereka merasa aman. Terus aku dengar semuanya dari sini."
Pukul sembilan lewat empat menit, kotak krem di dinding pantri mulai bicara.
Suaranya cempreng dan jauh, seperti radio yang tidak pas gelombangnya, tapi cukup jelas. Kursi digeser. Tuan Husain berdehem dua kali. Map dibuka. Kalila berdiri bersandar di kusen dapur, tangan melipat di dada, sementara Rania menaruh buku cokelatnya di pangkuan dan mulai menulis dengan pensil.
Elo bicara soal setoran gudang. Soal dua sopir yang mau dirumahkan. Soal biaya listrik.
Lalu suaranya melembut, dan Kalila langsung tahu bahwa bagian yang sebenarnya baru dimulai.
"Satu lagi, Tuan. Soal keamanan rumah."
"Kenapa lagi?"
"Pak Adi masih jaga di dalam, dekat kamar Nona Kalila." Jeda pendek yang dipasang dengan sangat rapi. "Saya sudah dua kali mengingatkan Tuan. Bukan soal orangnya. Orangnya baik. Tapi orang luar tidur di dalam rumah, dekat kamar anak gadis. Kalau nanti ada yang hilang, kita mau menuduh siapa?"
Pensil Rania berhenti bergerak.
"Terus maunya bagaimana?" suara bapak.
"Dikembalikan ke pos depan saja. Seperti dulu. Dan barang-barang pribadinya jangan dibawa masuk rumah. Ada yang bawa alat perekam segala, Tuan. Anak buah Ken Arashi itu."
Kalila menegakkan badan.
"Perekam?" kata Tuan Husain.
"Katanya buat catatan jaga. Tapi ya, Tuan. Rumah orang direkam-rekam."
Rania menoleh ke kakaknya. Kalila menggeleng pelan, satu kali. Jangan sekarang.
Tapi Rania sudah meletakkan pensilnya. Ia mendorong kursinya mendekat ke dinding, lalu menekan tombol bicara.
"Pak Elo."
Di lantai atas terdengar bunyi kursi terdorong keras. Lalu sunyi yang aneh, sunyi yang tebal, seperti satu ruangan menahan napas bersamaan.
"Ini Rania," kata Rania, tenang sekali, mulutnya sepuluh senti dari kotak krem itu. "Saya dengar semuanya dari bawah. Saya tidak naik bukan karena saya tidak mau. Bapak tahu itu."
"Rania," suara bapaknya, kaget dan pelan.
"Pak, saya minta satu hal saja," kata Rania. "Rapat berikutnya di bawah. Bukan buat saya. Buat siapa pun yang nanti mau membaca notulennya. Karena kalau setiap kali nama saya disebut ruangannya pindah ke tempat yang tidak bisa saya datangi, itu bukan kebetulan lagi."
Kresek. Dengung.
"Dan Pak Elo," Rania menambahkan, "saya memang ringan. Tapi saya tidak diangkat."
Ia melepas tombolnya.
Kalila memandangi adiknya, dan untuk beberapa detik tidak sanggup bilang apa-apa. Di atas terdengar langkah kaki berat menuju tangga. Bapak. Turun.
"Kak," kata Rania, matanya lurus ke depan, dagunya sedikit gemetar tapi tetap terangkat. "Aku belum selesai."
"Aku tahu."
"Yang aku lihat semalam. Nanti malam aku ceritakan. Setelah aku pastikan satu hal."
Sore itu Kalila berdiri di pagar depan, pura-pura menyiram melati yang sebenarnya tidak butuh disiram. Bau tanah panas yang kena air naik ke hidungnya. Di seberang jalan, di bawah pohon asam, Ken Arashi bersandar pada motor bututnya, membaca koran yang halamannya tidak pernah berganti.
"Elo bilang orangmu bawa perekam," kata Kalila, tanpa menoleh.
Ken melipat korannya. "Betul."
"Kamu tahu?"
"Aku yang suruh," kata Ken. "Semua yang terdengar di lorong itu direkam. Sudah dua minggu. Ada suara Elo di situ, Kalila. Bukan gosip orang dapur. Suaranya sendiri, kalimatnya sendiri."
Jantung Kalila memukul sekali, keras.
"Di mana barangnya?"
"Di laci meja gudang belakang. Terkunci."
Kalila menoleh, dan melihat sesuatu di wajah lelaki itu yang jarang sekali muncul. Ragu. Tipis. Cuma sekejap.
"Kenapa?" tanya Kalila.
"Tidak apa-apa," kata Ken. "Cuma aku baru sadar satu hal. Sekarang mereka sudah tahu barang itu ada."
Bersambung.