Angkot pertama berangkat jam enam.
Kalila duduk di pojok, dekat jendela yang tidak ada kacanya, memeluk tasnya. Bau bensin, bau ikan asin dari keranjang ibu-ibu di depannya, bau embun yang belum kering di aspal. Kondektur meneriakkan nama-nama tempat yang tidak pernah ia dengar seumur hidupnya, padahal jaraknya cuma satu jam dari rumahnya.
Ia turun di kilometer tujuh, di samping warung yang catnya sudah pudar.
"Bu, kebunnya Bibi Mai di mana ya?"
Ibu warung menunjuk dengan bibir. "Lurus. Sesudah jembatan kecil, belok kanan, jalan tanah. Cari yang pagarnya bambu."
"Jauh, Bu?"
"Kalau jalan kaki dua puluh menit. Kalau pakai sandal bagus begitu, tiga puluh." Ibu itu tertawa, giginya kuning. "Neng cari siapa?"
"Cari orang."
"Ken?"
Kalila menoleh kaget.
"Ya siapa lagi," kata ibu warung sambil menuang kopi dari termos. "Neng dari kota, turun di sini pagi buta, mukanya seperti orang belum tidur semalaman. Kemarin dia beli rokok di sini, mukanya juga begitu." Gelas itu disodorkan. "Minum dulu. Gratis. Nanti di jalan tidak ada warung lagi."
Kalila minum sambil berdiri. Kopinya terlalu manis dan terlalu panas, dan entah kenapa ia hampir menangis di situ juga.
Jalan tanah itu becek di beberapa tempat. Sandal Kalila belepotan sebelum seratus meter. Kanan kiri sawah, lalu semak, lalu tiba-tiba pohon.
Banyak sekali pohon.
Kalila berhenti tanpa sadar.
Barisannya rapi, berjajar, tinggi-tinggi, daunnya rimbun gelap sampai cahaya matahari cuma turun berupa bulatan-bulatan kecil di tanah. Udaranya berubah begitu ia masuk: lebih dingin, lebih lembap, penuh bau yang bertumpuk-tumpuk. Bau daun busuk. Bau getah. Bau tanah basah. Dan di bawah semuanya, manis yang tajam itu, sama persis seperti mangga di meja kamarnya.
Ada bunyi burung prenjak, cerewet dan pendek-pendek. Ada bunyi sapu lidi di kejauhan.
"Cari siapa, Neng?"
Kalila menoleh cepat.
Seorang perempuan tua berdiri sepuluh langkah darinya, memakai caping, membawa sabit kecil dan bakul di pinggang. Kulitnya cokelat gelap, tangannya berurat, dan matanya menilai Kalila dari sandal sampai kerudung dalam waktu dua detik.
"Saya cari Pak Ken."
"Ken siapa?"
"Ken Arashi."
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, dan sekarang Kalila bisa mencium bau tembakau dan minyak kelapa dari bajunya.
"Neng dari kota?"
"Iya."
"Naik apa?"
"Angkot. Terus jalan kaki."
Ada sesuatu yang bergeser di wajah tua itu. Bukan senyum. Cuma tanda bahwa satu tes sudah lewat.
"Saya Mai," katanya. "Sini ikut. Tapi hati-hati, tanahnya licin. Kalau jatuh, saya yang kena marah."
Mereka berjalan di antara barisan pohon. Bibi Mai bicara sambil jalan, tidak menoleh.
"Ini arumanis. Yang di sana gedong gincu, yang merah-merah itu. Yang paling ujung manalagi, tapi itu bapaknya yang tanam, sudah tua, buahnya sedikit tapi tidak boleh ditebang."
"Bapaknya?"
"Bapaknya Ken." Bibi Mai menunjuk dengan sabitnya. "Kebun ini punya bapaknya. Sudah sepuluh tahun bapaknya tidak ada. Ken yang bayar pupuk, keluarga saya yang urus. Anak saya dua, mantu satu, semua di sini."
"Bibi kenal Pak Ken dari kecil?"
"Dari orok." Bibi Mai menyabet rumput di pinggir jalan tanpa berhenti berjalan. "Bapaknya tukang, ibunya jualan di pasar. Ken kecil itu tukang panjat. Sehari bisa lima pohon. Pernah jatuh dua kali, tangannya patah sekali, besoknya panjat lagi."
"Sekarang tidak panjat?"
"Sekarang dia bayar orang buat panjat, terus dia yang berdiri di bawah pegang keranjang." Bibi Mai mendengus. "Anak itu sejak bapaknya meninggal jadi begitu. Selalu di bawah. Selalu siap-siap kalau ada yang jatuh."
Kalila tidak menjawab. Ada sesuatu di kalimat itu yang menempel di dadanya dan tidak mau lepas.
Mereka keluar dari barisan pohon ke tanah lapang kecil.
Dan di sana, di tengah tanah lapang itu, berdiri sebuah bangunan yang membuat Kalila berhenti untuk kedua kalinya pagi itu.
Bangunan kaca.
Tidak besar. Mungkin selebar ruang tamu rumahnya. Rangkanya besi yang sudah berkarat di beberapa sambungan, dicat hijau tua yang mengelupas. Dindingnya kaca, atapnya kaca, sebagian sudah retak dan ditambal dengan seng dan plastik. Di dalamnya penuh rak kayu, dan di rak-rak itu ada ratusan polybag hitam kecil berisi bibit setinggi jari.
Kaca-kacanya berembun dari dalam. Cahaya pagi masuk lewat sana dan berubah jadi hijau kekuningan.
"Ruang kaca," kata Bibi Mai. "Bapaknya bikin buat semai. Kalau hujan besar, bibit muda mati semua. Di dalam situ aman."
"Cantik," kata Kalila, dan langsung merasa bodoh karena itu kata yang salah.
Tapi Bibi Mai tertawa pendek. "Cantik. Baru sekali ini ada yang bilang begitu. Biasanya orang bilang, kok belum dibongkar."
Pintu ruang kaca terbuka.
Ken keluar sambil membawa selembar kaca dengan dua tangan.
Kalila belum pernah melihat lelaki itu seperti ini. Tidak ada jaket hitam. Kaus oblong kelabu, basah di punggung. Celana panjang digulung sampai betis. Kaki telanjang, penuh tanah. Rambutnya berantakan. Di tangan kirinya ada plester yang sudah kotor.
Ken melihatnya, dan berhenti.
Selembar kaca itu masih di tangannya, dan selama tiga detik penuh tidak ada yang bicara.
"Kamu naik apa ke sini?" tanya Ken akhirnya.
"Angkot."
"Sendirian."
"Sendirian."
Ken menaruh kaca itu bersandar ke dinding, hati-hati sekali, lalu mengusap tangan ke celananya.
"Bahaya," katanya.
"Lebih bahaya di rumahku," kata Kalila.
Bibi Mai berdehem. "Saya bikin teh," katanya, lalu pergi tanpa menunggu jawaban.
Mereka berdiri berhadapan di tanah lapang. Angin lewat, dan seluruh kebun bergemerisik sekaligus, bunyi seperti hujan padahal langit terang.
"Kenapa kamu tidak bilang apa-apa?" kata Kalila. Suaranya keluar lebih kecil dari yang ia mau. "Kamu pergi jam sebelas. Kamu tidak tinggalkan surat, tidak tinggalkan pesan, tidak apa-apa."
"Aku tinggalkan mangga."
"Itu bukan pesan, Ken."
"Itu alamat," kata Ken. "Kamu sampai di sini, kan?"
Kalila membuka mulut untuk marah, lalu sadar bahwa lelaki itu benar, dan kesadaran itu justru membuatnya makin ingin marah.
"Aku sempat mengira kamu menyerah," katanya.
Ken menatapnya. Matanya lelah, tapi tidak menyerah sedikit pun.
"Aku dipecat dari pekerjaan, Kalila," katanya. "Bukan dari kamu."
Sesuatu di dada Kalila berputar sekali, penuh, dan ia harus menunduk supaya wajahnya tidak dibaca.
Di dalam ruang kaca udaranya hangat dan berat. Bau tanah, bau pupuk kandang, bau daun muda. Kalila duduk di bangku panjang sementara Ken mengukur kaca dengan penggaris besi, menggores sekali dengan pemotong, lalu mematahkannya di tepi meja. Krek. Bunyinya bersih.
"Kamu bisa begini?"
"Bapakku tukang," kata Ken. "Kaca, kayu, pipa. Aku belajar sebelum bisa baca."
"Kenapa kamu jadi orang keamanan?"
Ken diam agak lama. Ia mengoles dempul dengan pisau kecil, rata, sabar.
"Karena ada orang yang tidak aku tolong waktu aku masih kecil," katanya. "Sudah, itu saja."
Kalila tidak bertanya lagi. Ada nada di kalimat itu yang menyuruh berhenti, dan ia menghormatinya.
Ia berdiri, berjalan pelan di antara rak. Polybag-polybag itu diberi label kayu kecil, ditulis dengan spidol yang tintanya sudah pudar jadi kelabu. Tanggal semai. Jenis. Nomor baris.
"Ini kamu yang tulis?"
"Bapakku."
"Sudah sepuluh tahun."
"Aku tulis ulang tiap tahun," kata Ken. "Sama persis, huruf per huruf. Kalau labelnya hilang, bibitnya jadi tidak punya nama. Nanti sepuluh tahun lagi orang cuma bilang, itu pohon apa ya, sudah lupa."
Kalila memegang salah satu label. Kayunya halus, sudutnya sudah tumpul kena tangan bertahun-tahun.
"Kamu ini orang yang tidak mau ada yang hilang, ya," katanya.
Ken berhenti mengoles dempul. Ia tidak menoleh.
"Iya," katanya. "Kira-kira begitu."
Di luar, seekor ayam berkokok terlambat. Bau tanah basah masuk lewat celah kaca yang belum ditambal.
Ia menyodorkan lembar kaca berikutnya. Jari mereka bersentuhan, sebentar, dan Kalila menarik tangannya lebih cepat dari yang perlu.
"Panas ya di sini," katanya.
"Iya," kata Ken, dan tidak menoleh.
Kalila memandangi tengkuk lelaki itu yang basah, lalu memaksa dirinya memandangi bibit-bibit di rak.
Siang mereka makan di bawah pohon manalagi tua. Nasi bungkus, ikan asin, sambal terasi, lalapan daun singkong. Teh tawar panas di gelas belimbing. Anak-anak Bibi Mai datang, dua laki-laki dewasa yang canggung dan tidak berani duduk terlalu dekat.
"Neng ini siapanya Ken?" tanya salah satunya.
"Bukan siapa-siapa," kata Kalila.
"Anak majikannya," kata Ken di saat yang sama.
Bibi Mai tertawa sampai terbatuk.
"Anak majikan," ulangnya sambil mengelap mata dengan ujung kain. "Ken, anak majikan itu tidak naik angkot subuh terus jalan kaki dua puluh menit lewat lumpur."
"Bibi."
"Saya cuma bilang."
Kalila menunduk ke bungkus nasinya. Telinganya panas. Ia menyendok sambal terlalu banyak, langsung tersedak, dan seluruh keluarga Bibi Mai tertawa sampai anjing di bawah pohon ikut bangun. Untuk beberapa menit tidak ada yang membicarakan rekaman, atau Elo, atau rumah yang lampunya selalu dinyalakan terlalu terang.
Sambil mengunyah, Kalila menyadari sesuatu: sudah tiga jam ia tidak sekali pun melirik ke arah pintu.
Sore, langit berubah kelabu di sebelah barat. Bibi Mai mendongak, mengendus.
"Hujan sejam lagi. Neng harus pulang sebelum magrib. Angkot terakhir jam lima."
Kalila berdiri. Kakinya pegal, kulitnya lengket, sandalnya rusak sebelah. Ia belum pernah merasa sebaik ini selama berminggu-minggu.
Ken mengantarnya sampai ujung jalan tanah.
"Ken."
"Hm."
"Bapakku tidak mau mendengar pitanya."
"Aku tahu."
"Terus kita apa sekarang?"
Ken berhenti berjalan. Di belakangnya, dua ratus pohon berdiri diam.
"Sekarang kita kumpulkan yang tidak bisa dibantah," katanya. "Rekaman bisa dibilang palsu. Tanggal tidak bisa. Kertas absen tidak bisa. Orang yang mau bersaksi tidak bisa."
"Aku punya Sutini. Rania punya buku tanggal."
"Simpan dua-duanya. Jangan di rumah."
Kalila mengangguk. Lalu ia berkata, tanpa merencanakannya sama sekali, "Besok aku ke sini lagi."
Ken menoleh cepat. "Kalila—"
"Besok," kata Kalila, "aku bawa Rania."
Bersambung.