Rania sudah siap jam setengah enam pagi, lengkap dengan jaket dan topi.
"Kamu yakin?" tanya Kalila.
"Aku yang tanya kamu itu," kata Rania. "Kamu yakin bisa angkat kursi ini naik angkot?"
"Tidak."
"Bagus. Aku sudah pesan mobil bak terbuka punya Pak Yatno. Empat puluh ribu pulang pergi. Aku sudah nego kemarin sore lewat telepon."
Kalila menatap adiknya. "Kamu ini kalau lagi mau sesuatu, cepat sekali."
"Aku selalu begini," kata Rania. "Cuma biasanya tidak ada yang mengajak."
Kalimat itu masuk ke dada Kalila dan tinggal di sana sepanjang perjalanan.
Jalan tanah itu ternyata mustahil untuk kursi roda. Rodanya masuk ke lumpur sepuluh senti pertama dan berhenti. Rania mencoba mendorong, sekali, dua kali, dan Kalila melihat urat di leher adiknya menegang.
"Kak, jangan dorong."
"Rania—"
"Jangan dorong dulu. Aku mau lihat kenapa nyangkut."
Rania membungkuk, memeriksa roda depannya yang kecil. "Ini masalahnya. Roda depan cuma sebesar gelas. Ketemu tanah gembur, langsung tenggelam. Yang butuh diubah bukan aku. Yang butuh diubah rodanya, atau tanahnya."
Ken datang setengah berlari dari arah kebun, diikuti Bibi Mai dan dua anaknya. Ia berhenti tiga langkah dari Rania dan, Kalila memperhatikan ini, tidak langsung memegang kursi itu.
"Boleh saya bantu?" tanya Ken.
"Boleh," kata Rania. "Tapi jangan angkat. Ambil papan. Yang lebar, dua, panjangnya dua meter. Taruh di tanah, aku jalan di atasnya."
Ken menoleh ke anak-anak Bibi Mai. "Papan cor yang di belakang kandang."
"Ada empat, Pak."
"Bawa semua."
Butuh empat puluh menit. Papan pertama, roda naik, jalan tiga meter. Papan kedua dipindah ke depan. Begitu terus, papan lompat papan, sampai lapangan kecil di depan ruang kaca. Bibi Mai berjalan di samping sambil menahan tawa dan mengomel bergantian.
"Kayak bikin jembatan buat ratu," katanya.
"Bukan ratu," kata Rania, napasnya masih naik turun. "Cuma orang yang mau lihat kebun."
Waktu roda kursinya akhirnya menyentuh tanah keras di depan ruang kaca, Rania mendongak, dan wajahnya berubah.
Kalila melihatnya dan langsung tahu apa yang sedang terjadi di kepala adiknya, karena wajah itu sama persis dengan wajah Rania waktu umur tujuh, di depan akuarium.
"Kak," kata Rania pelan. "Itu bagus sekali."
Kaca-kaca itu berembun lagi pagi ini. Cahaya masuk dan jadi hijau. Di dalamnya bibit-bibit berdiri rapi seperti barisan anak sekolah.
"Aku boleh masuk?"
Ken membuka pintunya lebar-lebar. Lalu berhenti.
Ada tinggian di ambang. Batu bata, satu lapis, setinggi kira-kira sepuluh senti, dipasang supaya air hujan tidak masuk.
Semua orang melihatnya bersamaan.
"Ah," kata Bibi Mai.
Rania mengeluarkan penggaris lipat dari tasnya. Kalila tidak tahu sejak kapan adiknya membawa penggaris lipat ke mana-mana.
"Lebar pintunya delapan puluh dua senti," kata Rania sesudah mengukur. "Cukup. Kursi ini enam puluh lima. Yang tidak cukup cuma batanya." Ia mendongak ke Ken. "Kalau di depan bata ini ditumpuk tanah, dipadatkan, dikasih papan miring sepanjang satu setengah meter, kemiringannya sekitar satu banding lima belas. Aku bisa naik sendiri. Tidak usah didorong."
Ken memandanginya. "Kamu tahu angka-angka itu dari mana?"
"Dari sepuluh tahun mentok di depan pintu orang," kata Rania. "Orang pikir aku cuma duduk. Padahal aku mengukur."
Ken mengangguk pelan, satu kali, sikap yang Kalila kenal: sikap orang yang baru saja mengubah penilaiannya terhadap seseorang, dan mengakuinya tanpa berisik.
"Kang Ujang," panggilnya. "Tanah merah di belakang. Satu gerobak. Sama papan yang tadi."
Siang itu Kalila melihat sesuatu yang membuat matanya panas berkali-kali dan ia harus pura-pura silau: Rania di tengah kebun, dikelilingi orang-orang yang bertanya kepadanya, bukan tentang dia.
"Neng, kalau pintu kandang bagaimana? Di depannya ada parit kecil."
"Ditutup papan. Tapi papannya jangan cuma ditaruh, dipaku ke dua balok, biar tidak geser waktu kena roda."
"Kalau tanahnya turun waktu hujan?"
"Berarti itu sementara. Yang benar dicor. Tapi papan dulu tidak apa-apa," kata Rania. "Yang penting hari ini bisa lewat."
Bibi Mai berkacak pinggang. "Neng ini kerjanya apa di kota?"
"Belum kerja," kata Rania. "Saya baru mau daftar kuliah."
"Ambil apa?"
Rania diam sebentar. Kalila melihat adiknya menoleh ke papan-papan yang berjajar di lumpur, ke jalur sepanjang tiga puluh meter yang tadi mereka buat sendiri dari nol.
"Belum tahu," kata Rania akhirnya. "Tapi kayaknya baru mulai tahu."
Sore, langit menggelap lebih cepat dari kemarin.
Bibi Mai membawa Rania ke belakang untuk melihat tempat memeram mangga, dan tiba-tiba Kalila dan Ken tinggal berdua di dalam ruang kaca.
Hujan mulai turun. Pelan dulu. Bunyinya di atap kaca seperti orang mengetuk-ngetuk dengan ujung jari, lalu makin banyak jari, lalu jadi satu bunyi panjang yang menutup semua bunyi lain. Kaca berembun sampai kebun di luar tinggal warna hijau kabur.
Dunia mengecil jadi ruangan sebesar ruang tamu.
Kalila menggosok kaca dengan sisi telapak tangannya, membuat garis bening, lalu embunnya kembali menutup dalam sepuluh detik.
"Ken."
"Hm."
"Elo tidak akan berhenti," katanya. "Aku tahu itu sekarang. Bukan karena dia jatuh cinta lalu bingung. Dia tidak bingung sama sekali. Dia meminyaki engsel jendela seminggu sebelum masuk. Orang yang bingung tidak begitu."
Ken meletakkan pisau dempulnya.
"Betul," katanya. "Dia memilih. Tiap langkah dia pilih."
"Aku takut."
"Bagus. Yang tidak takut itu yang mati duluan."
Kalila tertawa, pendek dan basah. Ia menoleh, dan Ken sudah lebih dekat dari tadi, atau mungkin ia yang bergeser, ia tidak tahu.
"Janji sesuatu sama aku," kata Kalila.
"Apa?"
"Janji semuanya akan baik-baik saja."
"Tidak."
Kalila menatapnya. "Tidak?"
"Tidak," kata Ken. Suaranya tidak keras. Justru itu yang membuatnya sakit. "Aku tidak tahu semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak tahu bapakmu akan berubah pikiran. Aku tidak tahu aku menang. Kalau aku janji begitu sekarang, kamu akan tidur nyenyak malam ini, dan minggu depan kamu tahu aku bohong. Terus kamu tidak akan percaya apa pun lagi dari mulutku."
"Jadi kamu tidak mau janji apa-apa."
"Aku tidak bilang begitu."
Hujan bertambah keras. Ada air yang masuk lewat retak di sudut atap, menetes ke lantai tanah, tik, tik, tik.
"Aku janji satu hal," kata Ken. "Cuma satu. Yang aku yakin bisa aku pegang sampai tua."
Kalila menunggu.
Ken menatap matanya, dan mengucapkannya pelan-pelan, seperti orang yang sudah lama menyimpan kalimat itu dan baru sekarang berani mengeluarkannya.
"Aku tidak akan pergi tanpa memberitahumu ke mana."
Kalila membuka mulut untuk bilang itu terlalu kecil.
Lalu ia menutupnya lagi, karena tiba-tiba ia sadar bahwa itu justru satu-satunya hal yang selama ini tidak pernah ia dapat dari siapa pun. Bapaknya memindahkan rapat tanpa memberi tahu. Bapaknya memecat Ken sambil menyingkirkannya ke klinik. Elo tersenyum sambil menyiapkan jalan masuk lewat jendela. Semua orang di sekelilingnya bergerak diam-diam, dan ia selalu jadi orang terakhir yang tahu.
Matanya panas.
"Sekali lagi," katanya. "Pelan-pelan."
"Aku tidak akan pergi tanpa memberitahumu ke mana."
Kalila merogoh tasnya. Tidak ada buku. Yang ada cuma nota pembelian pupuk yang tadi ia ambil dari meja Bibi Mai, kertas kasar warna kuning, dan sebatang pensil tukang yang gepeng.
Ia menulis di baliknya. Tangannya bergetar, jadi hurufnya jelek.
Aku tidak akan pergi tanpa memberitahumu ke mana.
Di bawahnya ia tulis tanggalnya. Lalu ia berpikir sebentar, dan menambahkan satu kata lagi: Ken.
"Sekarang tanda tangan."
"Kalila—"
"Tanda tangan, Ken. Kalau kamu langgar, aku punya buktinya."
Ken mengambil pensil itu. Ia menandatanganinya, dan Kalila melihat lelaki itu tersenyum untuk pertama kalinya dalam dua hari.
Kalila melipat kertas itu jadi empat. Lalu jadi delapan. Ia memasukkannya ke lipatan paling dalam dompetnya, di belakang foto ibunya.
Ketika ia mendongak, jarak di antara mereka sudah tidak ada.
Ken mengangkat tangannya, berhenti setengah jalan, seperti minta izin tanpa suara. Kalila yang menutup sisa jaraknya. Telapak tangan lelaki itu kasar di pipinya, bau dempul dan tanah dan getah mangga. Napas Kalila tersangkut di tenggorokan. Ada bunyi hujan, ada bunyi jantung sendiri, ada satu detik yang panjang sekali di mana keduanya tahu persis apa yang sedang terjadi dan tidak satu pun mundur.
Embun di kaca menebal sampai ruang kaca itu tertutup seluruhnya dari luar, hijau, hangat, tidak kelihatan apa-apa dari mana pun orang berdiri.
Hujan berhenti dua puluh menit kemudian, mendadak, seperti keran ditutup.
Kalila keluar duluan. Udara di luar dingin dan bersih, bau tanah yang baru minum. Rania sedang menggambar di atas kardus bekas dengan pensil pendek, ditemani Bibi Mai yang memegangi kardusnya.
"Kak, lihat," kata Rania. "Ini kalau papannya diganti cor beton. Kemiringannya begini, ada pegangan di kanan. Ongkosnya paling dua ratus ribu."
"Kamu bikin ini dari tadi?"
"Aku bikin ini dari sepuluh tahun lalu," kata Rania. "Baru hari ini ada yang mau lihat."
Mereka pulang waktu langit oranye. Di bak belakang mobil Pak Yatno, kursi Rania diikat tali, dan Rania duduk di kabin depan sambil memangku kardusnya seperti orang memangku bayi.
Kalila menoleh ke belakang sekali. Ken berdiri di ujung jalan tanah, tangannya di saku, tidak melambai.
Rumah sudah terang semua waktu mereka sampai.
Terlalu terang. Lampu teras menyala, lampu taman menyala, dua lampu ruang tamu yang biasanya cuma dipakai kalau ada tamu penting juga menyala.
Dan di halaman, terparkir rapi menghadap keluar, ada sedan hitam yang Kalila kenal betul.
Sutini menyambut di pintu, wajahnya tegang.
"Non," bisiknya cepat. "Tuan cari Non dari jam empat. Besok malam ada makan malam. Tuan bilang Non harus di rumah, tidak boleh ke mana-mana, dan disuruh pakai yang bagus."
"Makan malam apa?"
Sutini melirik ke arah ruang tamu, lalu menunduk.
"Pak Elo yang minta, Non. Katanya beliau mau bicara resmi. Di depan Tuan."
Bersambung.