Pukul sembilan pagi, rumah itu berbau lain.
Sutini sudah menyeduh kopi dua kali. Yang pertama dibuang karena keburu dingin. Yang kedua diletakkan di nampan kuningan, di atas taplak yang biasanya hanya dikeluarkan kalau ada tamu dari luar kota. Aroma kopi bercampur bau semir sepatu dan melati dari halaman depan. Kalila mencium semuanya dari anak tangga kelima, dan ada sesuatu di perutnya yang mengeras seperti batu kecil.
"Ada tamu?" tanyanya.
"Ada." Sutini tidak mengangkat wajah.
"Siapa?"
Sutini meletakkan sendok kecil di sisi cangkir. Pelan sekali. Seolah bunyi logam bisa membuat pagi itu lebih buruk daripada yang sudah.
"Pak Elo, Non. Bawa dua orang. Bawa map."
Kalila memegang pegangan tangga. Kayunya dingin di telapak tangannya. Ia sudah tahu bentuk pagi ini sebelum melihatnya. Ia sudah menduganya sejak seminggu lalu, waktu tukang kebun bilang ada orang menanyakan jadwal Kalila keluar rumah, dan orang itu memakai sepatu kantor.
"Bapak sudah bangun?"
"Sudah dari subuh. Beliau yang minta kursi rotan dikeluarkan."
Kalila menahan napas satu hitungan. Kursi rotan berarti resmi. Kursi rotan berarti ayahnya sudah tahu sejak semalam dan memilih tidak memberitahunya.
Ia naik lagi ke kamar. Ia tidak berganti baju bagus. Ia sengaja memakai blus katun yang sudah pudar warnanya di bagian bahu, yang biasa ia pakai kalau menghitung stok di gudang. Kalau pagi ini mau dijadikan panggung, ia tidak akan ikut menjadi properti.
Di lorong ia berpapasan dengan Rania.
Rania sudah rapi. Kursi rodanya sudah dilap sampai jari-jarinya berkilat. Di pangkuannya ada buku tulis bersampul plastik dan pulpen yang diikat karet ke sampulnya supaya tidak jatuh.
"Kamu mau ikut turun?" tanya Kalila.
"Aku sudah di bawah tadi." Rania menepuk buku tulisnya. "Aku catat pelat mobilnya. Dua mobil. Yang satu punya kantor, yang satu bukan. Yang bukan punya kantor itu isinya dua orang, dan yang duduk di depan tidak turun."
"Ran."
"Aku juga catat jamnya. Delapan lewat dua puluh." Rania mendongak. Matanya tenang, dan justru itu yang membuat Kalila ngilu. "Kak, kalau nanti ada yang bilang tidak ada apa-apa, aku punya tulisannya."
Kalila berjongkok supaya wajah mereka sejajar. Ia mencium bau sampo di rambut adiknya. Ia ingin sekali bilang jangan ikut campur, tapi ia tahu kalimat itu keliru, dan ia tahu Rania akan langsung tahu bahwa itu keliru.
"Kalau aku minta kamu tunggu di kamar?" tanyanya.
"Aku bilang tidak." Cepat. Tanpa marah. Seperti orang menyebut hari Selasa. "Aku bukan tamu di rumah ini, Kak."
Kalila mengangguk sekali, lalu berdiri.
Di ruang tamu, tiga laki-laki menunggu sambil berdiri. Itu selalu dilakukan Elo: berdiri lebih dulu, supaya orang yang datang merasa terlambat.
Elo memakai kemeja putih tanpa dasi. Rambutnya rapi, disisir ke belakang, masih basah di ujungnya. Ia tersenyum begitu Kalila masuk, dan senyum itu tidak sampai ke matanya. Tidak pernah sampai ke matanya. Kalila sudah lama berhenti mencarinya di sana.
"Kalila," katanya. "Kamu kelihatan sehat."
"Saya baru bangun."
"Justru itu yang saya suka. Belum ada yang disiapkan."
Tuan Husain sudah duduk di kursi rotan. Ada map kulit cokelat di atas meja, terbuka setengah, dan Kalila melihat kop surat perusahaan di lembar paling atas. Ia melihat juga deretan angkanya. Sudah tiga tahun ia ikut menutup pembukuan gudang; ia hafal bentuk angka yang berarti utang.
"Duduk, Nak," kata ayahnya.
Kalila duduk di ujung sofa. Rania mendorong kursinya sampai berhenti di sisi meja, tepat di tempat yang membuat siapa pun harus menggeser badan untuk lewat. Salah satu orang Elo melirik ke arah roda itu, lalu memutuskan untuk tidak bicara.
"Saya langsung saja," kata Elo. "Saya tidak suka basa-basi. Pak Husain sudah tahu itu."
"Silakan," kata Tuan Husain.
Elo menegakkan punggung. Ia bicara ke arah ayah Kalila, bukan ke arah Kalila. Itu saja sudah jawaban.
"Saya melamar Kalila. Resmi. Hari ini, di depan Bapak, di depan dua saksi. Saya tidak minta jawaban dari orang lain dulu. Saya minta izin Bapak, karena begitu urutannya."
Ruangan itu diam. Jam dinding berdetak. Di luar, tukang roti lewat dan membunyikan klaksonnya dua kali, dan bunyi itu terasa datang dari dunia yang lain sama sekali.
"Saya sudah bicara dengan Pak Husain soal yang lain-lain," lanjut Elo. Ia menyentuh map kulit itu dengan dua jari. Ringan sekali. Seperti orang menepuk kepala anjing yang sudah patuh. "Soal kontrak gudang selatan. Soal tagihan yang jatuh tempo Oktober. Itu urusan kantor. Tidak ada hubungannya dengan hari ini."
Kalila menatap dua jari itu.
Tidak ada hubungannya. Elo menaruh map itu di meja justru supaya semua orang tahu ada hubungannya. Ia sengaja mengucapkan kalimat yang tidak dipercayainya sendiri, di depan orang-orang yang tahu itu bohong, lalu tetap tersenyum. Kalila mengerti sesuatu dengan sangat jernih pagi itu, dan kejernihan itu membuatnya mual: ini bukan orang yang tersesat karena mencintai. Ini orang yang sudah selesai menghitung sebelum sepatunya menyentuh teras.
"Boleh saya jawab sekarang?" kata Kalila.
Tuan Husain mengangkat tangannya. "Kalila."
"Boleh, Pak?"
Elo menoleh. Untuk pertama kalinya pagi itu ia menatap Kalila lurus-lurus. "Silakan," katanya lembut.
"Tidak."
Satu kata. Kalila mendengar suaranya sendiri dan sedikit terkejut karena suaranya tidak gemetar.
"Tidak," ulangnya. "Saya tidak mau menikah dengan Bapak. Bukan nanti, bukan setelah dipikir dulu. Sekarang. Dan jawabannya tidak akan berubah kalau ditanya lagi bulan depan."
Sutini yang sedang menuang air berhenti menuang. Airnya meluber sedikit ke lepek. Tidak ada yang bergerak untuk membersihkannya.
"Kalila." Suara ayahnya rendah. "Bukan begini caranya."
"Ini caranya, Pak. Kalau saya diam sekarang, nanti diamnya saya yang dihitung sebagai iya."
Elo tidak marah.
Itu yang membuat tengkuk Kalila dingin. Laki-laki yang ditolak biasanya melakukan sesuatu dengan wajahnya. Elo tidak. Bahunya justru turun sedikit, seperti orang yang baru selesai berjalan pagi, lalu ia tersenyum.
"Bagus," katanya.
"Bagus?"
"Saya lebih suka jawaban yang jelas daripada yang manis." Ia merapikan lengan kemejanya. "Kamu tahu kenapa saya datang pagi-pagi, Kalila? Karena pagi itu jujur. Orang belum sempat berpura-pura."
"Kalau begitu Bapak sudah dapat jujurnya."
"Sudah." Elo mengangguk. Ia menutup map kulit itu perlahan, lalu menaruh telapak tangannya di atas sampulnya. "Dan saya tidak akan mengganggu Bapak dengan hal ini lagi hari ini."
"Hari ini," ulang Rania.
Semua kepala menoleh.
Rania menulis sesuatu di buku tulisnya, lalu mendongak dengan wajah polos yang sama sekali tidak polos. "Bapak bilang hari ini. Berarti besok masih boleh?"
Elo memandangi Rania beberapa detik. Kalila melihat sesuatu bergerak tipis di rahang laki-laki itu, lalu hilang lagi.
"Adikmu pandai, Kalila," katanya.
"Namanya Rania," kata Kalila.
"Rania," ulang Elo, dan cara ia mengucapkan nama itu membuat Kalila ingin berdiri di depan kursi roda adiknya. Ia menahan diri. Rania tidak butuh badan orang lain di depannya. Rania akan marah kalau ia melakukannya.
"Saya sabar," kata Elo akhirnya. Ia berdiri. "Itu saja yang mau saya tinggalkan di rumah ini. Bukan ancaman. Saya tidak pernah mengancam, Pak Husain tahu itu."
"Saya tahu," kata Tuan Husain, dan suaranya terdengar seperti orang yang sedang meyakinkan dirinya sendiri.
"Saya sabar," ulang Elo. "Saya bisa menunggu setahun. Dua tahun. Saya bisa menunggu sampai keadaan yang menjawab, bukan orangnya." Ia mengangkat map kulit itu dari meja. "Keadaan selalu berubah, Kalila. Cuma orang yang mengira dirinya tetap."
Ia menyalami Tuan Husain. Ia tidak mengulurkan tangan kepada Kalila, dan itu disengaja, karena tidak mengulurkan tangan justru lebih terasa daripada mengulurkan.
Di ambang pintu ia berhenti.
"Oh, satu lagi." Ia menoleh ke arah Sutini yang masih memegang teko. "Bu, air di lepek itu dilap ya. Nanti licin. Rumah ini banyak yang bisa terpeleset."
Lalu ia keluar.
Suara mobil menjauh. Sutini meletakkan teko, lalu duduk di kursi dapur tanpa ada yang menyuruhnya, dan tangannya gemetar di pangkuan.
Tuan Husain tidak menoleh ke arah Kalila. Ia memandangi permukaan meja yang sekarang kosong, tempat map itu tadi berada.
"Kamu tahu gudang selatan itu apa?" tanyanya.
"Tahu, Pak."
"Kalau kontraknya lepas, delapan puluh orang berhenti kerja."
"Saya tahu, Pak."
"Dan kamu tetap bilang tidak."
Kalila menelan ludah. Tenggorokannya kering seperti habis berjalan siang-siang.
"Kalau saya bilang iya, delapan puluh orang itu memang tetap kerja," katanya. "Tapi mereka kerja untuk orang yang sudah membuktikan bahwa manusia bisa ditukar dengan kontrak. Tahun depan dia tukar yang lain. Saya cuma yang pertama, Pak."
Ayahnya tidak menjawab. Ia bangkit dari kursi rotan, dan untuk pertama kalinya Kalila menyadari betapa lama ayahnya sekarang butuh waktu untuk berdiri.
Kalila menyusul ke dapur. Sutini masih duduk. Di depannya, teko itu mengepul sia-sia.
"Bu," kata Kalila.
"Saya tidak apa-apa, Non."
"Bu Sutini."
Perempuan itu akhirnya mengangkat wajah. Matanya merah di pinggir. "Waktu dia bilang soal lepek itu," bisiknya, "dia tidak lihat lepeknya, Non. Dia lihat saya."
Kalila menarik kursi dan duduk di sebelahnya. Ia menaruh tangannya di atas tangan Sutini. Kulit perempuan itu kasar di bagian buku jari, dingin di ujung jari.
"Saya tahu," kata Kalila.
"Dulu waktu Non masih kecil, saya kira orang jahat itu kelihatan dari mukanya." Sutini tertawa pendek, tanpa senang sedikit pun. "Ternyata yang paling repot itu yang sopan."
Di halaman, pak Adi sedang menyapu daun kering. Kalila tahu itu bukan menyapu. Sapu itu cuma alasan supaya ia bisa berdiri lama di dekat pagar. Di seberang jalan, di bawah pohon asam, sebuah motor terparkir dengan spion diputar menghadap rumah, dan Kalila tidak perlu melihat orangnya untuk tahu siapa yang duduk di sana sejak subuh.
Rania mendorong kursinya sampai ke sisi kakaknya. Ia membuka buku tulis itu dan menunjukkan satu baris.
Di situ tertulis: 09.14 — dia bilang saya sabar, dua kali.
"Kenapa kamu tulis dua kali?" tanya Kalila.
"Karena yang pertama untuk Bapak," kata Rania. "Yang kedua untuk kita."
Bersambung.