Namanya disebut pertama kali di meja makan, di antara sup dan piring nasi, seperti nama merek pupuk.
"Devan," kata Tuan Husain. "Anak Pak Broto, yang punya pabrik kain di Bandung. Besok dia ke sini. Urusan pesanan seragam."
Kalila menuang air ke gelas Rania. "Terus?"
"Terus tidak apa-apa. Kamu ikut duduk saja."
Kalila menaruh kendi. Ia sudah cukup lama hidup di rumah ini untuk tahu bahwa kalimat tidak apa-apa dari ayahnya artinya ada apa-apa.
"Pak," katanya. "Kalau ini soal yang kemarin, saya tidak mau dipasang-pasangkan."
"Siapa yang memasangkan? Orang mau bicara seragam."
Rania menyendok kuah. Tanpa mengangkat kepala, ia berkata, "Seragam itu urusan bagian umum, Pak. Bukan urusan meja makan."
Tuan Husain mendengus. Tapi ia tidak membantah, dan itu pun jawaban.
Devan datang pukul sepuluh keesokan harinya, dan yang pertama diingat Kalila bukan wajahnya, melainkan sepatunya.
Sepatunya berdebu.
Semua orang yang datang ke rumah ini datang dengan sepatu mengilap. Elo, para kolega ayahnya, anak-anak kenalan yang tiba-tiba punya urusan penting di ruang tamu. Devan datang dengan sepatu kulit cokelat yang ujungnya berdebu jalan, dan begitu sampai di teras ia berhenti, mengetuk-ngetukkan sol sepatunya ke tepi undakan, dua kali, lalu berjongkok dan mengelap ujungnya dengan sapu tangan sendiri.
"Maaf," katanya waktu melihat Kalila memperhatikan. "Tadi turun di ujung jalan. Sopirnya salah belok, saya jalan kaki saja daripada muter."
"Bapak jalan kaki dari ujung jalan?"
"Cuma tiga ratus meter." Ia menyimpan sapu tangannya. "Saya Devan."
Ia tidak mengulurkan tangan. Ia menunggu.
Kalila mengulurkan lebih dulu. Devan menjabat cepat, kering, dan langsung melepas. Tidak ada jeda satu detik lebih lama yang biasanya dipakai laki-laki untuk menaruh tanda.
Baunya kain baru dan sedikit tinta. Kalila mengenali bau itu; sama seperti gudang mereka waktu kiriman kotak katun baru dibuka.
Di ruang tamu, Devan mengeluarkan buku catatan bersampul karton dari tasnya. Bukan map kulit. Buku catatan biasa, sudut-sudutnya sudah bulat karena sering keluar-masuk tas, dengan pensil terselip di spiralnya.
"Sebelum saya mulai," katanya kepada Tuan Husain, "boleh saya perbaiki satu angka?"
Tuan Husain mengangkat alis. "Angka apa?"
"Yang di surat penawaran kemarin. Bapak tulis dua ribu dua ratus potong. Yang benar dua ribu dua puluh." Devan membalik satu halaman. "Kalau saya diamkan, nanti Bapak bayar lebih. Saya yang untung, tapi setahun lagi Bapak tahu, dan setahun lagi Bapak tidak mau pesan lagi ke saya. Rugi saya lebih besar."
Kalila hampir tersenyum. Bukan karena angkanya. Karena laki-laki itu menjelaskan kejujurannya dengan hitungan, seolah takut disangka sedang berbuat baik.
"Kamu selalu begini?" tanya Tuan Husain.
"Begini bagaimana, Pak?"
"Membetulkan orang di rumah orang."
Devan diam sebentar. Telinganya memerah sedikit. "Iya," katanya akhirnya. "Kata ibu saya itu yang bikin saya susah punya teman."
Rania yang tertawa duluan. Suaranya pecah di ruangan itu, dan Kalila baru sadar sudah berapa lama rumah ini tidak kedatangan bunyi seperti itu.
Devan menoleh ke arah Rania. Dan inilah bagian yang kemudian selalu diingat Kalila, bertahun-tahun sesudahnya, waktu banyak hal lain sudah kabur.
Devan tidak menunduk lebih dalam dari yang wajar. Tidak melembutkan suara seperti orang bicara ke anak kecil. Tidak melirik kursi rodanya lalu buru-buru melirik ke tempat lain seolah kursi itu aib yang tidak boleh dilihat.
Ia menggeser kursinya sendiri, supaya sejajar, lalu berkata, "Ini bagian yang lucu atau saya baru saja bikin malu diri sendiri?"
"Dua-duanya," kata Rania.
"Berarti impas."
"Belum." Rania mendorong kursinya maju sedikit, ke arah meja. "Bapak bilang dua ribu dua puluh. Itu untuk seragam gudang saja atau termasuk yang kantor?"
Devan menoleh ke Tuan Husain, lalu kembali ke Rania. "Gudang saja."
"Kantor berapa?"
"Belum dihitung."
"Kenapa belum?"
"Karena saya belum tahu berapa orang yang kerjanya duduk dan berapa yang kerjanya panas." Devan membuka halaman baru. "Kainnya beda. Kalau saya samakan, yang di gudang kepanasan, dan tiga bulan lagi seragamnya dilepas, dan Bapak marah ke saya."
Rania mengangguk pelan. "Kalau begitu Bapak butuh daftar orangnya."
"Butuh."
"Saya yang pegang daftarnya."
Tuan Husain menoleh cepat. "Ran."
"Saya yang pegang, Pak," ulang Rania, tenang. "Sejak Februari. Bapak yang minta saya rapikan."
Hening sebentar. Lalu Devan menulis sesuatu di bukunya, dan tanpa mengangkat kepala ia berkata, "Kalau begitu saya minta waktu Mbak Rania setengah jam nanti. Setelah ini."
Bukan izin ke Tuan Husain. Bukan lewat Kalila. Langsung ke orangnya.
Kalila memandangi permukaan kopinya supaya tidak ada yang melihat wajahnya.
Siang itu mereka pindah ke ruang belakang, ke meja panjang tempat sampel kain dibentangkan. Devan membawa gulungan-gulungan kecil dari tasnya. Ada yang kasar seperti karung, ada yang halus dan dingin di kulit. Bau kanji dan bau matahari, karena kain-kain itu dijemur sebelum dikirim.
"Coba pegang yang ini," kata Devan kepada Kalila.
Kalila memegang. Kainnya berat.
"Sekarang yang ini."
Yang kedua lebih ringan, tapi kalau ditarik menyilang tidak mulur.
"Yang pertama kelihatan bagus, yang kedua tahan lama," kata Devan. "Orang biasanya pilih yang pertama, terus setahun lagi menyalahkan saya."
"Bapak selalu bicara begini di depan pembeli?"
"Iya."
"Tidak takut kehilangan pesanan?"
Devan mengangkat bahu sedikit. "Takut. Tapi kalau saya bohong sekali, saya harus ingat bohongnya seumur hidup. Saya tidak sepintar itu."
"Yang kedua," kata Kalila.
"Kenapa?"
"Karena yang pakai bukan saya. Yang pakai orang yang angkat karung delapan jam." Ia membalik kain itu, memeriksa jahitan pinggirnya. "Tahun lalu kami beli yang bagus. Bulan ketiga, mereka gulung lengannya sampai bahu. Bulan keenam, dipakai jadi lap."
Devan berhenti menulis. Ia mengangkat kepala, dan untuk pertama kalinya ia menatap Kalila agak lama.
"Ibu yang urus gudang?"
"Sebagian."
"Sebagian yang mana?"
"Stok, penerimaan barang, sama daftar hadir." Kalila menaruh kainnya. "Kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa." Devan menulis lagi. "Cuma biasanya kalau saya tanya begini, yang jawab bapaknya."
Kalila menaruh gulungan kain itu ke meja. Ia memandangi laki-laki di depannya. Rambutnya potongan biasa. Kacamatanya melorot sedikit dan didorong naik dengan buku jari, bukan ujung jari. Ia berdiri agak kaku, seperti orang yang tidak pernah tahu harus menaruh tangannya di mana kalau tidak sedang memegang sesuatu.
Dan sepanjang setengah jam itu, satu kali pun, ia tidak menatap Kalila lebih lama dari yang perlu.
Itulah yang membuat sesuatu di dada Kalila melonggar.
Selama tiga tahun terakhir, setiap laki-laki yang masuk ke rumah ini masuk dengan satu pertanyaan tersembunyi di wajahnya: berapa lama sampai perempuan ini jadi milik saya. Ia sudah hafal bentuk pertanyaan itu. Ia bisa mencium bau pertanyaan itu dari seberang ruangan.
Devan tidak membawanya.
Devan membawa buku catatan, sepatu berdebu, dan angka yang harus dibetulkan.
"Bapak dari Bandung berangkat jam berapa?" tanya Kalila.
"Setengah lima."
"Pagi?"
"Kalau siang macet." Ia menutup bukunya. "Saya pulang nanti sore. Ada kiriman benang yang harus saya tanda tangani sendiri."
"Tidak bisa diwakilkan?"
"Bisa." Devan memasukkan gulungan kain ke tas. "Tapi kalau salah, yang salah tetap saya. Jadi saya suka melihat sendiri."
Kalila mengantar sampai teras. Angin sore membawa bau got yang baru disiram dan bau gorengan dari warung ujung gang. Pak Adi berdiri di dekat pagar, pura-pura mengikat tali sepatunya yang tidak bertali.
Di undakan, Devan berhenti.
"Boleh saya tanya sesuatu?" katanya.
Kalila menegang tanpa sadar. Ini dia, pikirnya. Selalu ada.
"Silakan."
"Kalau saya kirim contoh kain lagi minggu depan, saya kirimnya ke alamat rumah ini atau ke gudang?"
Kalila berkedip. "Ke gudang."
"Atas nama siapa?"
"Atas nama saya."
Devan mengeluarkan pensilnya lagi dan menulis di sampul dalam bukunya. "Kalila Husain," ucapnya sambil menulis, mengeja pelan, memastikan hurufnya benar. Lalu ia menutup bukunya, mengangguk sekali, dan turun ke halaman.
Itu saja.
Ia tidak menoleh lagi. Tidak menunggu apa pun. Mobilnya berangkat, dan bunyi mesinnya hilang di ujung jalan.
Kalila berdiri di teras lebih lama dari yang ia niatkan.
"Bagaimana?" Rania sudah di ambang pintu, entah sejak kapan.
"Bagaimana apanya?"
"Kakak senyum-senyum sendiri dari tadi."
"Aku tidak senyum."
"Aku punya mata, Kak."
Kalila duduk di undakan supaya sejajar dengan adiknya. Ia memandangi ujung jalan yang sudah kosong.
"Dia tidak melihat aku seperti barang," katanya pelan. "Itu saja. Sesederhana itu, Ran. Dan aku baru sadar sudah berapa lama aku tidak merasa begitu di rumah sendiri."
Rania diam sebentar.
"Dia juga tidak bicara ke atas kepalaku," kata Rania akhirnya. "Orang-orang itu biasanya ngomong ke Kakak padahal yang ditanya aku."
"Aku tahu."
"Aku tidak bilang dia orang baik," Rania menambahkan cepat, seperti takut disalahpahami. "Aku belum tahu. Aku cuma bilang dia tidak melakukan yang itu."
"Iya."
"Dan Kak," Rania menoleh, "kalau nanti Bapak mendorong-dorong, jangan ambil dia cuma karena dia bukan Elo. Itu bukan memilih. Itu cuma lari."
Kalila menatap adiknya lama sekali. Kadang ia lupa Rania lebih muda darinya.
"Iya," katanya. "Aku tahu."
Malam itu, sebelum tidur, Kalila membuka laci kecil di meja riasnya. Di dalamnya ada kertas terlipat empat, sudah agak lunak di garis lipatannya karena terlalu sering dibuka. Ia tidak membukanya malam itu. Ia cuma menyentuhnya dengan ujung jari, lalu menutup lacinya lagi.
Di seberang jalan, di bawah pohon asam, lampu motor menyala sebentar, lalu padam.
Bersambung.