Surat itu datang dalam amplop cokelat, dan Kalila tahu isinya bahkan sebelum membukanya, karena Sutini menyerahkannya dengan cara orang menyerahkan hasil rontgen.
"Dari kantor, Non. Diantar orang, bukan pos."
Ruang kerja ayahnya berbau kayu dan obat nyamuk bakar yang sudah lama padam. Di meja sudah ada tiga cangkir. Yang ketiga untuk Pak Rustam, pengacara keluarga, yang duduk dengan tas di pangkuan dan tidak menyentuh kopinya sama sekali.
"Duduk," kata Tuan Husain.
Devan datang tepat pukul dua. Sepatunya masih berdebu. Ia membawa buku catatan yang itu-itu juga.
"Selamat siang, Pak."
"Duduk, Nak Devan. Kita bicara terbuka saja."
Devan duduk. Ia menaruh bukunya di pangkuan, membukanya, lalu memegang pensil. Kalila melihat gerakan itu dan mengerti: laki-laki ini tidak bisa mendengarkan tanpa memegang sesuatu.
Pak Rustam mengeluarkan map plastik bening. Di dalamnya ada empat lembar kertas berkop perusahaan, bukan berkop kantor pengacara. Kalila mencatat itu di kepalanya.
"Ini bukan perjanjian resmi," kata Pak Rustam. "Ini kesepakatan awal. Nanti kalau semua setuju, baru saya buatkan yang benar."
"Boleh saya baca dulu?" tanya Devan.
"Silakan."
Ruangan itu diam sepuluh menit penuh. Yang terdengar cuma kipas angin berdiri di sudut, berputar dari kiri ke kanan lalu kembali lagi, dan bunyi kertas dibalik.
Kalila membaca versi salinannya. Pasal satu, dua, tiga: hal-hal biasa. Mas kawin. Tempat tinggal. Siapa menanggung apa.
Pasal empat membuat tangannya berhenti.
Ia membacanya sekali. Lalu membacanya lagi, pelan-pelan, seperti orang mengeja bahasa asing.
Pihak perempuan, setelah akad, tidak lagi memegang jabatan operasional maupun tanda tangan pada urusan perusahaan keluarga. Segala kewenangan yang selama ini dijalankan dialihkan kepada bagian yang ditunjuk direksi.
Bagian yang ditunjuk direksi.
Kalila mengangkat kepala. "Pak."
"Nanti," kata ayahnya.
"Pak, ini siapa yang menyusun?"
"Bagian legal."
"Bagian legal lantai berapa?"
Tuan Husain tidak menjawab. Pak Rustam berdeham dan merapikan letak mapnya, dan Kalila melihat, di pojok kanan bawah lembar itu, tiga huruf kecil kode penyusun yang biasa dipakai di kantor. Ia hafal kode itu. Ia pernah melihatnya di puluhan memo. Semua memo yang lewat meja Elo memakai kode itu.
Sesuatu yang dingin merambat naik dari perutnya.
Jadi begitu caranya, pikirnya. Elo tidak perlu jadi mempelai. Elo cuma perlu jadi orang yang memegang pena di lantai empat. Siapa pun yang menikahiku, yang ia ambil tetap sama: tanda tanganku.
"Nak Devan," kata Tuan Husain. "Bagaimana?"
Devan tidak langsung menjawab. Ia membalik ke halaman itu lagi. Ia meletakkan ujung pensilnya di bawah satu baris, menahannya di situ, seperti orang menandai tempat supaya tidak hilang.
"Pasal satu sampai tiga, saya setuju," katanya. "Nomor tiga malah saya minta ditambah. Kalau saya meninggal, rumahnya atas nama dia, bukan atas nama keluarga saya. Sekarang belum jelas."
Pak Rustam mengangkat alis. "Itu jarang diminta."
"Makanya saya minta."
"Baik. Lalu?"
"Pasal empat saya tidak tanda tangan."
Kipas angin berputar ke kiri. Tidak ada yang bicara.
"Nak Devan," kata Tuan Husain pelan, "kamu tahu ini bukan syarat saya sendiri."
"Saya tahu, Pak."
"Terus?"
"Justru karena bukan syarat Bapak sendiri, saya makin tidak mau tanda tangan." Devan menutup bukunya. "Kalau ini syarat Bapak, saya bisa berdebat dengan Bapak. Saya tidak tahu harus berdebat dengan siapa untuk pasal ini."
Wajah Tuan Husain mengeras. "Kamu pikir saya boneka di perusahaan saya sendiri?"
"Tidak, Pak. Saya pikir Bapak capek."
Kalila menahan napas.
Tidak ada yang pernah bicara begitu kepada ayahnya. Bukan begitu caranya orang bicara di rumah ini. Orang memuji dulu, lalu menyelipkan yang sebenarnya di kalimat kelima.
Tuan Husain diam lama. Ia mengambil cangkirnya, minum, dan menaruhnya lagi dengan bunyi kecil.
"Teruskan," katanya.
"Pak, saya ini pedagang kain." Devan menegakkan punggung. "Saya tidak pintar bicara. Jadi saya bicara pakai barang saja, ya."
"Silakan."
"Kalau Bapak beli mesin, terus Bapak cabut satu bautnya karena kelihatannya tidak penting, mesinnya tetap jalan. Sebulan. Dua bulan. Terus suatu hari ada yang goyang, dan waktu Bapak cari sebabnya, Bapak sudah lupa pernah mencabut baut itu."
"Ini bukan mesin. Ini rumah tangga."
"Sama saja bautnya, Pak." Devan menunjuk halaman itu dengan pensilnya. "Pasal ini tidak menyuruh dia berhenti bekerja. Kalau bunyinya begitu, saya masih bisa tanya kenapa. Pasal ini menyuruh tanda tangannya pindah ke orang yang tidak disebut namanya. Saya tidak mau menikahi orang yang minggu depan tidak lagi boleh menandatangani apa pun."
"Kenapa kamu peduli?" tanya Tuan Husain. Suaranya keras, tapi bukan marah. Lebih seperti orang yang mencari pegangan.
Devan menoleh, sebentar, ke arah Kalila.
Sebentar saja. Lalu kembali ke ayahnya.
"Karena kalau dia tidak boleh tanda tangan apa-apa," katanya, "nanti kalau ada apa-apa dengan saya, dia tidak bisa apa-apa. Itu bukan melindungi dia, Pak. Itu melepas pegangannya."
Kalila merasa ada yang bergeser di dadanya, dan ia harus menunduk memandangi map di pangkuannya supaya tidak ada yang melihat matanya.
Bukan karena Devan membelanya.
Karena Devan membelanya tanpa menoleh dulu untuk memastikan Kalila melihat.
"Pak," kata Kalila. Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia mau, jadi ia mengulanginya. "Pak. Boleh saya bicara satu hal, terus saya diam."
Ayahnya mengangguk lelah.
"Bulan Maret kemarin, waktu Bapak dirawat sepuluh hari," kata Kalila, "yang menutup pembukuan siapa?"
"Kamu."
"Yang menahan kiriman semen yang timbangannya kurang?"
"Kamu."
"Kalau pasal ini jalan, kejadian yang sama tahun depan, yang menahan siapa?"
Tuan Husain membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.
"Saya tidak minta jabatan, Pak," kata Kalila. "Saya minta hak untuk menolak sesuatu. Itu saja isi tanda tangan."
Pak Rustam menyelipkan pena ke saku. "Pak Husain, kalau pasal empat dicoret, saya harus lapor ke direksi."
"Lapor ke siapa?" tanya Kalila.
"Ke bagian yang mengirim draf ini, Non."
"Namanya siapa, Pak Rustam?"
Pengacara itu memandanginya. Ia laki-laki tua yang sudah tiga puluh tahun di keluarga ini, yang dulu memberi Kalila permen di ruang tunggu. Sekarang ia tidak berani menyebut satu nama.
"Saya cuma pembawa berkas, Non," katanya.
"Saya tahu," kata Kalila. Dan ia benar-benar tahu, dan itulah yang paling membuatnya lelah. Orang-orang di sekelilingnya bukan jahat. Mereka cuma sudah lebih dulu menghitung siapa yang bisa mereka lawan dan siapa yang tidak.
Pintu ruang kerja terbuka. Rania mendorong kursinya masuk tanpa mengetuk.
"Rania," kata Tuan Husain. "Ini rapat."
"Iya, Pak. Saya bawa dokumen buat rapat." Ia menaruh sebuah map tipis di meja. "Ini daftar surat jalan tiga bulan terakhir. Yang tanda tangan siapa saja."
"Untuk apa?"
"Untuk Pak Rustam." Rania mendorong map itu maju. "Bapak Rustam bilang kewenangan Kak Kalila mau dialihkan ke bagian yang ditunjuk. Di daftar ini, dari seratus tiga puluh surat jalan, seratus sembilan yang tanda tangan Kak Kalila. Sisanya kepala gudang. Jadi kalau dialihkan, yang pindah bukan sedikit, Pak. Yang pindah hampir semuanya."
Ruangan itu benar-benar sunyi sekarang.
"Kamu dapat data ini dari mana?" tanya Tuan Husain.
"Dari arsip, Pak. Saya yang merapikan arsipnya sejak Februari. Bapak sendiri yang minta."
"Rania—"
"Aku tidak sedang membela Kakak," kata Rania, dan untuk pertama kalinya suaranya naik sedikit. "Aku sedang bilang angkanya. Kalau angkanya salah, tolong dibetulkan. Kalau angkanya benar, tolong jangan dibilang ini soal perasaan perempuan."
Tuan Husain memandangi anak bungsunya lama sekali. Sesuatu di wajahnya melunak, lalu mengeras lagi, lalu lelah.
Ia menarik lembar keempat dari mapnya. Ia memandanginya. Lalu ia menaruhnya terbalik di meja.
"Pasal empat ditunda," katanya.
"Ditunda atau dicoret, Pak?" tanya Devan.
"Ditunda."
"Kalau ditunda, saya tanda tangan yang tiga saja. Yang keempat kosong."
"Perjanjian setengah begitu tidak ada gunanya."
"Ada, Pak." Devan mengeluarkan pena dari sakunya. Pena murah, tutupnya sudah retak. "Gunanya nanti, kalau ada yang bilang saya pernah setuju, saya bisa tunjuk kertas ini dan bilang tidak."
Ia menandatangani tiga halaman. Ia melewati yang keempat, sengaja, membiarkan garis tanda tangan itu kosong dan putih di antara semua yang sudah terisi.
Lalu ia menutup penanya, dan bunyi klik kecil itu terdengar keras di ruangan yang sunyi.
Sore itu Kalila mengantar Devan sampai pagar. Langit di ujung jalan berwarna tembaga. Bau hujan yang belum turun.
"Kenapa Bapak lakukan itu?" tanyanya.
"Yang mana?"
"Yang tadi."
Devan memasukkan bukunya ke tas. Ia menutup ritsletingnya sampai mentok, memeriksa ujungnya, seperti biasa.
"Saya tidak melakukan apa-apa," katanya. "Saya cuma tidak menandatangani sesuatu."
"Itu ada risikonya buat pabrik Bapak."
"Ada."
"Bapak sudah hitung?"
"Sudah." Ia menyampirkan tas ke bahu. "Saya hitung tadi malam. Dua kontrak bisa lepas. Saya masih sanggup."
Kalila menatapnya. "Kenapa Bapak bilang itu ke saya?"
"Supaya Ibu tidak mengira saya berani karena tidak tahu harganya," kata Devan. "Saya tahu harganya. Saya tetap tidak mau."
Ia mengangguk sekali, seperti menutup rapat, lalu turun ke jalan.
Kalila berdiri di pagar sampai lampu belakang mobil itu hilang di tikungan.
Di seberang jalan, di bawah pohon asam, sepeda motor itu ada. Kalila tahu ia ada. Malam itu ia tidak menoleh ke arahnya, dan ia tidak tahu apakah itu karena tidak berani atau karena tidak sanggup.
Bersambung.