Kalila memutuskan pada hari Kamis, jam empat sore, di gudang, sambil memegang buku penerimaan barang yang sampulnya basah kena embun kaleng cat.
Tidak ada musik. Tidak ada apa-apa yang jatuh dari langit.
Ia cuma sedang menandatangani halaman ketiga puluh dua, dan tiba-tiba tangannya berhenti, dan ia memandangi tanda tangannya sendiri di kertas itu. Tanda tangan yang menurut pasal empat akan dialihkan kepada bagian yang ditunjuk direksi.
Dan ia berpikir: aku mau tetap bisa menulis ini.
Sesederhana itu.
Malam harinya ia turun ke dapur. Sutini sedang menggoreng tempe. Minyaknya berdesis, baunya penuh sampai ke lorong.
"Bu."
"Non belum tidur?"
"Bu, kalau Ibu jadi saya, Ibu pilih siapa?"
Sutini mengangkat tempe yang sudah cokelat, menaruhnya di saringan, dan mematikan api. Ia lap tangannya ke celemek sebelum menjawab.
"Saya tidak berhak, Non."
"Saya yang tanya."
"Non, saya ini cuma—"
"Bu Sutini." Kalila menarik bangku dan duduk. "Ibu yang tidur di depan kamar saya waktu saya umur sembilan tahun dan takut petir. Ibu berhak."
Perempuan itu diam sebentar. Lalu ia duduk juga, di seberang meja kayu yang permukaannya sudah cekung di tengah karena puluhan tahun diiris di situ.
"Yang dari Bandung itu," katanya akhirnya, "waktu masuk rumah, dia lepas sepatu tidak?"
"Tidak. Ada karpet, tidak ada yang lepas sepatu."
"Waktu keluar, dia bilang apa ke saya?"
Kalila mengingat. "Terima kasih kopinya, Bu. Dan dia sebut nama Ibu."
"Nah." Sutini mengangguk sekali. "Yang satu lagi sudah lima tahun ke rumah ini, Non. Sampai sekarang dia panggil saya bibi. Bukan nama saya. Bibi. Padahal papan nama saya digantung di dapur."
Kalila menunduk memandangi meja.
"Saya bukan bilang yang dari Bandung itu pasti benar," kata Sutini cepat. "Saya tidak tahu. Saya cuma tahu bedanya orang yang melihat saya sama yang tidak."
Kamar Rania masih menyala. Kalila mengetuk, lalu masuk tanpa menunggu.
Adiknya sedang menyusun kartu-kartu indeks di atas ranjang. Kartu-kartu itu penuh tulisan tangan kecil, dan sudah dikelompokkan pakai karet gelang warna-warni.
"Kamu bikin apa?"
"Arsip." Rania tidak mengangkat kepala. "Tanggal, jam, siapa datang, siapa yang bilang apa. Aku mulai dari bulan lalu."
"Ran."
"Kalau nanti ada yang bilang aku mengarang, aku mau bisa keluarkan kartunya."
Kalila duduk di tepi ranjang. Ia mengambil satu kartu. Di situ tertulis tanggal, jam, dan satu kalimat: draf pasal 4 diantar orang, bukan pos. amplop tidak ada nomor agenda.
"Kamu perhatikan sampai segini?"
"Aku duduk terus, Kak," kata Rania. "Orang yang duduk terus itu banyak yang lewat di depannya. Mereka pikir aku bagian dari perabot."
Kalila menaruh kartu itu kembali.
"Aku mau menikah dengan Devan," katanya.
Rania berhenti menyusun.
"Kenapa?"
"Kamu tidak tanya kapan?"
"Kapan itu urusan Bapak. Kenapa itu urusanmu." Rania menggeser kartu-kartunya ke samping supaya ada tempat. "Jawab."
Kalila menarik napas. Ia sudah menyiapkan jawaban di kepalanya sejak sore, tapi begitu harus diucapkan, jawabannya jadi terdengar terlalu kecil.
"Bukan karena aku jatuh cinta," katanya.
"Aku sudah tahu."
"Kok tahu?"
"Karena kalau iya, Kakak sudah cerita duluan sebelum aku tanya."
Kalila tertawa pendek. Matanya panas.
"Ran, dua tahun ini setiap pintu di hidupku dikunci orang lain," katanya. "Aku mau keluar malam, sopirnya sudah diganti. Aku mau ambil kelas pembukuan, tiba-tiba jadwalnya bentrok sama acara kantor yang tidak pernah ada sebelumnya. Aku mau bicara di rapat, mikrofonku mati. Semua orang bilang itu kebetulan."
"Bukan kebetulan."
"Aku tahu." Kalila menggosok wajahnya dengan telapak tangan. "Terus datang orang ini. Dan dia disodori kertas yang isinya izin untuk mengunci pintuku juga. Dia boleh tanda tangan. Semua orang di ruangan itu menunggu dia tanda tangan. Bapak menunggu. Pak Rustam menunggu. Aku juga menunggu, Ran, jujur, aku menunggu karena aku sudah biasa."
"Terus dia tidak tanda tangan."
"Dia tidak tanda tangan." Kalila menoleh ke adiknya. "Dia biarkan pintuku tidak dikunci. Itu saja, Ran. Aku tidak minta lebih dari itu. Aku sudah terlalu capek untuk minta lebih dari itu."
Rania diam lama. Kipas kecil di meja berputar, meniup ujung-ujung kartu indeks itu supaya berdesir pelan.
"Kak," katanya akhirnya, "aku pernah bilang jangan ambil dia cuma karena dia bukan Elo."
"Aku ingat."
"Ini beda?"
"Ini beda." Kalila menegakkan punggung. "Kalau aku ambil dia karena dia bukan Elo, yang aku pilih Elo, cuma dari arah sebaliknya. Aku ambil dia karena dia satu-satunya orang yang pernah aku lihat menolak sesuatu yang menguntungkan dirinya, di depan orang yang bisa menghukumnya."
Rania mengangguk. Sekali. Pelan.
"Kalau begitu aku setuju."
"Kamu tidak harus setuju."
"Aku tahu aku tidak harus." Rania mengambil kartu kosong dan mulai menulis. "Tapi kalau aku diam, nanti sepuluh tahun lagi Kakak mengira aku cuma ikut. Aku mau ada tulisannya."
Kalila memandangi adiknya menulis. Tangan Rania cepat, hurufnya kecil dan rapat.
"Kak," kata Rania tanpa berhenti menulis, "satu hal."
"Apa?"
"Kalau nanti ada apa-apa, jangan pernah bilang Kakak melakukannya demi aku."
Kalila tertegun. "Ran—"
"Aku serius." Rania menaruh pulpennya dan menoleh. Wajahnya keras. "Aku bukan alasan. Aku bukan barang di lemari yang harus Kakak jaga sambil menyerahkan hidup Kakak sendiri. Kalau Kakak menikah, itu keputusan Kakak. Kalau nanti sakit, itu juga tanggungan Kakak. Aku punya kaki sendiri."
"Kamu—"
"Aku tahu apa yang aku punya dan tidak punya." Rania menepuk sandaran kursi rodanya, dua kali, tanpa pahit. "Yang aku maksud, aku punya kehendak sendiri. Jangan pakai aku jadi alasan. Itu tidak adil buat aku."
Kalila memeluknya. Rambut adiknya bau minyak kayu putih.
"Iya," bisiknya. "Iya, Ran."
Ayahnya diberitahu keesokan paginya, di ruang makan, sebelum ada orang lain bangun.
"Saya mau, Pak. Dengan Devan."
Tuan Husain meletakkan sendoknya. Ia tidak tersenyum, tidak juga marah. Ia cuma memandangi anak sulungnya lama sekali, dan Kalila melihat sesuatu yang jarang ia lihat di wajah ayahnya: takut.
"Kamu tahu kenapa saya bawa dia ke sini?" tanya ayahnya.
"Tahu."
"Bukan itu."
Kalila menunggu.
"Saya bawa dia ke sini karena orangnya jauh," kata Tuan Husain pelan. "Bandung. Bukan orang kantor. Bukan orang yang bisa dipanggil lewat telepon dalam." Ia menggeser cangkirnya. "Saya kira kalau ada yang dari luar, mereka tidak bisa masuk."
"Pak."
"Ternyata mereka kirim kertas duluan." Suaranya serak. "Sebelum orangnya sampai."
Kalila menaruh tangannya di atas tangan ayahnya. Untuk pertama kalinya sejak lama, ayahnya tidak menariknya.
Kabar itu sampai ke seberang jalan tiga hari kemudian, dan bukan dari Kalila.
Ken sedang di kebun waktu pak Adi datang. Sore, jam setengah lima, waktu matahari sudah miring dan daun-daun mangga berbau manis panas. Bibi Mai baru selesai menyapu pelataran, dan sapu lidinya masih bersandar di pintu ruang kaca.
Pak Adi berdiri di ujung jalan setapak dan tidak maju-maju.
"Kenapa berdiri di situ?" tanya Ken.
"Saya bawa kabar, Mas."
"Ya, bawa ke sini."
"Nanti Mas marah."
Ken meletakkan gunting pangkas di atas bangku kayu. "Saya tidak pernah marah sama orang yang bawa kabar. Saya cuma marah sama yang menyimpannya."
Pak Adi maju. Ia melepas topinya dan memelintirnya.
"Non Kalila mau menikah, Mas. Sama yang dari Bandung. Bulan depan."
Angin lewat. Daun-daun bergerak semua sekaligus, lalu diam lagi.
Ken tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.
Yang ia lakukan cuma mengambil gunting pangkasnya lagi, memutar batangnya di tangan, lalu menaruhnya kembali, lebih rapi dari sebelumnya, sejajar dengan tepi bangku.
"Bulan depan," ulangnya.
"Iya, Mas."
"Orangnya bagaimana?"
Pak Adi mengerutkan kening. "Mas tidak tanya kenapa?"
"Tidak." Ken menoleh ke arah pohon-pohon. "Kalau saya tanya kenapa, artinya saya merasa berhak dijawab. Saya tidak berhak."
"Mas—"
"Orangnya bagaimana, Pak Adi."
Pak Adi menghela napas. "Kaku. Tidak pintar ngomong. Sepatunya kotor." Ia berpikir sebentar. "Tapi waktu di ruang kerja, dia tidak mau tanda tangan satu pasal. Yang isinya Non Kalila tidak boleh pegang apa-apa lagi di perusahaan. Semua orang sudah siap, Mas. Dia tinggal coret nama. Dia tidak mau."
Ken diam.
Lalu ia mengangguk. Satu kali. Pelan.
"Bagus," katanya, dan suaranya rata, dan Bibi Mai yang berdiri di ambang ruang kaca menunduk memandangi lantai, pura-pura tidak mendengar.
"Mas mau saya sampaikan sesuatu?" tanya pak Adi.
"Tidak."
"Sama sekali?"
"Sama sekali." Ken mengambil ember dan mulai mengisinya di keran. Airnya menghantam seng, keras, dan bunyinya mengisi seluruh pelataran. "Pak Adi, satu saja."
"Iya, Mas?"
"Bapak tetap di rumah itu."
"Tuan Husain sudah dua kali menegur saya, Mas."
"Saya tahu." Ken menutup keran. "Kalau ditegur ketiga kali dan Bapak dipecat, kabari saya hari itu juga. Jangan besoknya."
Pak Adi memakai topinya lagi. "Baik, Mas."
Malam itu Ken duduk sendirian di ruang kaca sampai lewat tengah malam. Kacanya berembun dari dalam. Di luar, gelap, dan cuma ada bunyi jangkrik dan sesekali buah yang jatuh ke tanah dengan bunyi tumpul.
Ia tidak menulis surat. Ia tidak menelepon siapa pun.
Di sisi lain kota, di laci kecil meja rias, ada kertas terlipat empat yang di dalamnya cuma ada satu baris kalimat, ditulis tangan, tanpa tanggal.
Kalila membukanya malam itu. Ia membacanya sekali. Lalu ia melipatnya lagi, empat, di garis yang sama, dan memasukkannya ke kotak kayu tempat ia menyimpan surat-surat yang tidak dibuang.
Ia tidak menangis. Ia cuma duduk lama sekali di depan cermin, memandangi perempuan di dalamnya, dan berpikir bahwa memilih itu ternyata tidak terasa seperti kemenangan.
Terasa seperti menutup satu pintu supaya pintu yang lain tidak dikunci orang.
Bersambung.