Akadnya dimulai pukul delapan pagi, dan seluruh ruang tamu berbau melati yang baru dipetik semalam.
Kalila tidak mau gedung. Ayahnya sempat menyodorkan brosur hotel dengan lampu gantung di sampulnya, dan Kalila menggeleng sekali, dan anehnya ayahnya tidak memaksa.
Jadi mereka pakai rumah sendiri. Kursi lipat empat puluh biji, dipinjam dari masjid. Tenda terpal biru di halaman kalau-kalau hujan. Karpet hijau digelar dari teras sampai ruang tengah. Penghulu datang setengah jam lebih awal dan langsung minta air putih karena kepanasan.
Sutini bangun jam tiga. Waktu Kalila turun, perempuan itu sudah menata seratus dua puluh kotak kue di meja panjang, disusun tiga tingkat, dan tangannya bau kelapa parut.
"Non cantik," katanya, lalu langsung menoleh ke arah lain supaya tidak ketahuan matanya berair.
"Bu Sutini."
"Sudah, Non. Nanti bedaknya luntur."
Kebayanya putih tulang, bukan putih benar. Kainnya berat di pinggang. Kalila merasa seperti memakai badan orang lain.
Rania sudah di depan pintu sejak jam tujuh, dengan meja kecil di pangkuannya dan buku tamu terbuka.
"Aku yang pegang pintu," katanya waktu Kalila protes.
"Ran, kamu adik pengantin. Duduk di dalam."
"Aku duduk kok." Rania menepuk pegangan kursinya. "Aku duduk di sini. Ini posisi paling bagus di rumah ini hari ini."
"Kenapa?"
"Karena semua orang harus lewat aku." Rania membuka halaman baru buku tamunya dan meratakannya dengan telapak tangan. "Nama, dari mana, jam berapa. Aku tulis semua."
Kalila menatap adiknya. Ia mau bilang sesuatu, tapi Rania sudah menoleh ke tamu berikutnya dengan senyum yang sopan sekali dan sama sekali tidak lembut.
Akadnya berlangsung tujuh menit.
Devan memakai jas hitam yang jelas baru dijahit dan jelas terlalu tegak di bahunya. Ia berkeringat di pelipis. Waktu penghulu menyodorkan tangan, ia menggenggam terlalu kuat, dan waktu ia mengucapkan ijab kabul, suaranya keluar terlalu keras di kalimat pertama lalu terlalu pelan di kalimat terakhir.
Tapi ia tidak salah satu kata pun.
Para saksi mengangguk. Penghulu tersenyum. Seseorang di belakang mengucapkan alhamdulillah agak keras, dan ruangan itu pecah oleh suara kursi lipat yang bergeser bersamaan.
Kalila mendengar semuanya seperti dari balik kaca.
Ia sedang memikirkan hal yang tidak seharusnya dipikirkan orang di detik itu: bahwa tangan yang baru saja menjabat tangan penghulu itu adalah tangan yang tiga minggu lalu melewati satu baris tanda tangan dan membiarkannya kosong.
Ia menoleh. Devan menoleh juga. Laki-laki itu tampak seperti orang yang baru selesai mengangkat karung dan tidak tahu harus menaruhnya di mana.
"Sudah, ya," katanya pelan.
"Sudah," kata Kalila.
"Saya minta maaf duluan."
"Untuk apa?"
"Untuk yang belum saya lakukan." Devan melonggarkan kerahnya satu sentimeter. "Saya orangnya tidak enak diajak ngobrol pagi-pagi. Nanti Ibu tahu sendiri."
Kalila tertawa. Sungguhan. Dan tawanya sendiri mengagetkannya.
Elo datang pukul sepuluh, waktu tamu sudah ramai dan kue lapis tinggal setengah baki.
Kalila tahu ia datang sebelum melihatnya, karena tiba-tiba ada satu jalur kosong di antara kerumunan, seperti air yang membelah sendiri.
Ia memakai batik cokelat gelap. Rapi. Wangi. Di belakangnya, dua orang membawa kotak.
"Selamat, Kalila," katanya.
"Terima kasih sudah datang."
"Saya tidak akan melewatkan ini." Ia tersenyum, dan senyum itu sempurna, dan kosong. "Mana suaminya?"
Kata suaminya diucapkan pelan, dengan jeda tipis sebelumnya, dan Kalila merasakan bulu tengkuknya berdiri.
Devan datang dari arah teras. Ia mengulurkan tangan lebih dulu, dan Kalila melihat Elo membiarkan tangan itu menggantung setengah detik lebih lama dari yang wajar sebelum menyambutnya.
"Devan."
"Elo."
"Saya bawa sedikit tanda selamat." Elo menoleh, dan kedua orangnya maju.
Kotak pertama besar, dibungkus kain beludru. Di dalamnya set peralatan makan perak, dua puluh empat potong, di kotak kayu berlapis kain. Orang-orang di sekitar bergumam. Salah satu tante Kalila menahan napas kecil.
Kotak kedua kecil. Amplop tebal, bukan amplop uang.
"Yang ini bukan barang," kata Elo. "Ini polis."
"Polis apa?" tanya Devan.
"Asuransi jiwa. Atas nama kamu." Elo menyerahkannya dengan dua tangan, sopan sekali. "Preminya sudah saya bayar lima tahun di depan. Penerima manfaatnya Kalila."
Ruangan itu tidak berubah. Musik gambus dari pengeras suara masih jalan. Orang-orang masih mengambil kue. Tapi Kalila merasa lantai di bawah kakinya turun beberapa senti.
"Ini terlalu banyak," katanya.
"Ini masuk akal." Elo menoleh kepadanya, wajahnya benar-benar tenang. "Kalian akan pindah rumah. Suamimu akan bolak-balik Bandung–Jakarta. Orang berumah tangga harus siap. Saya cuma menyiapkan yang orang lain malas siapkan."
"Terima kasih," kata Devan. Ia menerima amplop itu, dan Kalila melihat jari-jarinya menekan pinggiran amplop agak kuat.
"Boleh saya minta waktu sebentar?" kata Elo. "Di teras. Sebentar saja."
"Silakan."
Kalila hendak ikut. Elo menoleh, dan tanpa mengucapkan satu kata pun, dengan satu gerakan bahu yang nyaris tidak terlihat, ia menutup jalan itu.
"Urusan laki-laki, Kalila," katanya lembut. "Sepuluh menit."
Teras itu ada di sisi timur, dan pagi sudah cukup tinggi sehingga lantai keramiknya panas.
Kalila berdiri di dalam, dua meter dari jendela, memegang gelas air yang tidak ia minum. Kaca jendela tua. Bunyinya tembus kalau orang tidak sengaja menaikkan suara.
Mereka tidak menaikkan suara.
Yang sampai ke telinga Kalila cuma potongan-potongan, dan yang paling buruk adalah potongan-potongan itu semuanya terdengar sopan.
"...Bandung–Jakarta itu berapa jam sekarang?"
"Empat, kalau lancar."
"Malam lebih cepat, ya. Truk banyak, tapi jalannya lengang." Jeda. Bunyi gelas ditaruh. "Saya dulu sering lewat situ. Tikungan setelah jembatan itu tidak ada lampunya sampai sekarang."
"Saya biasanya berhenti dulu di rumah makan."
"Bagus. Berhenti itu penting." Jeda lagi. "Kontrak seragam kalian jadi berapa akhirnya?"
"Dua ribu dua puluh potong."
"Kecil, ya."
"Cukup buat pabrik saya."
"Saya tahu. Saya sudah lihat pabrik kamu." Bunyi kursi digeser sedikit. "Empat mesin, tiga di antaranya kredit. Karyawan tiga puluh satu, delapan belas harian. Bank kamu yang di Jalan Merdeka itu, kepala cabangnya teman saya waktu kuliah."
Hening.
"Saya tidak sedang mengancam kamu, Devan."
"Saya tidak bilang begitu."
"Saya cuma memberitahu apa yang saya tahu. Orang sering keliru mengira itu sama." Suara Elo makin pelan, dan Kalila harus menahan napas untuk menangkapnya. "Kamu tidak menandatangani satu pasal. Saya dengar. Semua orang di ruangan itu mengira kamu berani."
"Saya cuma tidak setuju."
"Iya. Itu yang menarik." Jeda. "Devan, saya bekerja tiga belas tahun untuk keluarga ini. Saya yang menyelamatkan gudang selatan waktu Pak Husain di rumah sakit. Saya yang menahan bank waktu semua orang panik. Perusahaan ini berdiri karena ada orang yang mau melakukan hal-hal yang tidak enak dilihat."
"Saya tidak meragukan itu."
"Bagus. Jadi kamu mengerti kenapa saya tidak akan melepasnya."
"Melepas perusahaannya?"
Jeda panjang.
"Melepas apa pun," kata Elo.
Bunyi kursi. Bunyi sepatu di keramik.
"Selamat, ya," kata Elo, dan nadanya berubah lagi, hangat, seperti orang lain sama sekali. "Kalian pindah ke rumah di Cipete itu, kan? Bagus. Daerahnya aman. Saya kenal orang keamanan di sana. Sopir kalian sudah ada?"
"Sudah."
"Nanti saya kirim satu lagi. Yang sekarang itu jam terbangnya kurang untuk jalan tol malam."
"Tidak usah repot."
"Tidak repot sama sekali."
Elo masuk kembali ke ruangan dengan wajah orang yang baru selesai membicarakan cuaca. Ia menyalami Tuan Husain, memuji kue lapis, dan menyempatkan berhenti di meja pintu tempat Rania duduk.
"Rania," katanya. "Rajin sekali."
"Buku tamu, Pak."
"Boleh saya lihat?"
"Boleh." Rania memutar buku itu ke arahnya, tapi tangannya tetap di atas halaman, menahan. "Bapak tanda tangan di baris tiga puluh dua. Yang bawa kotak dua orang, saya tulis juga. Yang nunggu di mobil satu orang. Namanya belum ada."
Elo memandangi halaman itu beberapa detik.
"Kamu teliti," katanya.
"Iya."
"Teliti itu bagus." Ia mengambil pena dari meja, menandatangani, dan menaruh penanya kembali persis di tempatnya semula. "Sampai batasnya."
Ia keluar. Mobilnya berangkat. Bau parfumnya masih tinggal di ruangan itu sampai lewat tengah hari.
Sore, waktu tenda mulai dibongkar dan kursi lipat ditumpuk sepuluh-sepuluh, Kalila menemukan Devan duduk sendirian di undakan teras. Jasnya sudah dilepas, disampirkan di lutut. Kemejanya basah di punggung.
Ia sedang memegang amplop polis itu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Kalila. Ia baru sadar itu pertama kalinya ia memanggil laki-laki itu dengan kamu.
Devan mengangkat kepala. Ia berusaha tersenyum, dan senyumnya berhasil setengah.
"Saya tidak akan pakai ini," katanya.
"Kenapa?"
"Karena saya tidak mau ada kertas yang harganya naik kalau saya mati." Ia melipat amplop itu dan memasukkannya ke saku dalam jasnya. "Besok saya batalkan."
Kalila duduk di sebelahnya. Undakan itu masih hangat dari matahari seharian.
"Dia bilang apa di teras?"
Devan memandangi halaman. Dua orang sedang menggulung karpet hijau, dan debu naik ke udara sore.
"Dia bilang jalan tol malam itu lengang," katanya.
"Itu saja?"
"Itu saja." Devan menoleh kepadanya. "Dan dia benar. Jalannya memang lengang."
Kalila membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Ada yang ingin ia katakan, dan ia tidak jadi mengatakannya, dan bertahun-tahun kemudian ia masih akan mengingat sore itu — bau debu karpet, bunyi kursi lipat ditumpuk, dan kalimat yang ia telan sendiri.
Malam itu mereka pulang ke rumah yang bukan rumah siapa-siapa dari keduanya. Kunci-kuncinya masih berlabel plastik dari tukang. Lampu terasnya belum dipasang. Di ruang depan sudah ada telepon baru, hitam, mengilap, dengan kabel yang digulung rapi oleh seseorang yang bukan mereka.
Bersambung.