Rumah itu belum punya bau sendiri. Yang tercium cuma cat, lem karpet, dan sesuatu yang manis dari pengharum ruangan yang dipasang orang lain sebelum mereka datang. Kalila berdiri di ruang tamu dengan sandal masih di tangan, menatap lantai marmer yang memantulkan lampu seperti air.
"Dingin," katanya.
"Marmernya memang begitu," kata Devan. Ia menaruh dua koper di dekat tangga. Kemejanya masih kemeja akad, hanya dasinya sudah masuk saku. "Nanti kalau sudah ada karpet, hangat."
"Bukan lantainya."
Devan menoleh. Ia mengerti, dan karena ia mengerti, ia tidak menjawab.
Sutini masuk membawa kardus berisi peralatan dapur, punggungnya bungkuk sedikit karena berat. "Taruh di mana, Non?"
"Dapur, Bi. Tapi jangan ditata dulu."
"Kenapa jangan ditata?"
Kalila tidak tahu kenapa. Ada rasa di dadanya bahwa menata berarti menerima, dan ia belum mau menerima apa pun di rumah yang bukan ia yang memilih. Ia menggeleng saja. Sutini menaruh kardus di lantai dapur, lalu kembali dengan kardus kedua tanpa bertanya lagi. Sutini sudah lama tahu kapan pertanyaan berguna dan kapan tidak.
Kalila mulai berjalan. Ia melewati ruang makan, dapur, gudang kecil di belakang, kamar mandi tamu. Ia menghitung sambil jalan. Satu di sudut ruang tamu, di atas rak, menghadap pintu depan. Dua di koridor lantai satu. Tiga di tangga. Empat di ujung koridor lantai dua, menghadap pintu kamar mereka.
"Empat," katanya ketika Devan naik menyusulnya.
"Empat apa?"
"Kamera. Di rumah sebesar ini, empat kamera semuanya menghadap ke dalam. Tidak ada satu pun yang menghadap pagar."
Devan berhenti di anak tangga terakhir. Kalila melihat rahangnya bergerak sedikit, seperti orang yang menelan kata sebelum kata itu sempat keluar.
"Siapa yang memilih rumah ini, Van?"
"Ayahmu yang membayar."
"Aku tidak tanya siapa yang membayar."
Devan menarik napas. "Pak Elo yang mencarikan. Katanya lingkungannya aman, satu jalan dengan rumah dinas, dekat pos."
"Dekat pos," ulang Kalila. Ia tertawa satu kali, pendek, tanpa senang sedikit pun. "Semua yang dia lakukan selalu punya nama baik. Keamanan. Perhatian. Kekeluargaan."
"Kalila."
"Aku tidak bilang apa-apa yang tidak benar."
Devan turun satu anak tangga supaya matanya sejajar dengan mata Kalila. "Aku tahu. Cuma di rumah ini, tolong, kalau kau mau bilang sesuatu tentang dia, bilangnya di kamar mandi dengan keran menyala."
Kalila mengira Devan bercanda. Wajah Devan tidak sedang bercanda.
Pak Adi datang sore itu, memakai kemeja lengan panjang yang disetrika terlalu rapi untuk hari sepanas itu, membawa satu tas ransel dan sepucuk surat dari kantor. Ia menyerahkan surat itu kepada Devan dengan dua tangan.
"Saya dipindah, Mas," katanya. "Ke gudang Cikarang. Mulai Senin."
"Siapa yang memindahkan?"
"Suratnya dari personalia. Yang tanda tangan Pak Elo." Pak Adi diam sebentar. "Saya sudah dua kali ditegur Tuan Husain. Yang ketiga saya tidak menunggu."
Kalila merasa ada yang jatuh di dalam dirinya, pelan, seperti gelas yang digeser sedikit demi sedikit ke pinggir meja selama berminggu-minggu dan akhirnya sampai di ujung. Pak Adi yang dulu tidur di kursi depan kamarnya. Pak Adi yang tidak pernah bertanya apa-apa dan tidak pernah benar-benar tidur.
"Pak Adi," katanya. "Terima kasih."
"Belum ada yang perlu diterimakasihi, Non." Pak Adi memandang lantai. "Saya cuma duduk."
"Bapak duduk di tempat yang benar."
Sopir baru datang keesokan paginya. Namanya Wisnu, umurnya mungkin tiga puluh lima, rambutnya rapi, sepatunya lebih mahal daripada sepatu sopir mana pun yang pernah Kalila lihat. Ia menyebut dirinya petugas, bukan sopir.
"Ibu mau ke mana hari ini?"
"Belum tahu."
"Kalau Ibu sudah tahu, tolong kabari satu jam sebelumnya. Supaya rutenya bisa disiapkan."
"Rute ke pasar perlu disiapkan?"
Wisnu tersenyum. Senyumnya tidak sampai ke mata. "Semua rute perlu disiapkan, Bu. Itu prosedur dari Pak Elo."
Prosedur. Kata itu menempel di kepala Kalila sepanjang hari seperti bau cat.
Rania menelepon malamnya. Suara adiknya masuk dengan jeda setengah detik yang aneh, seperti orang bicara di dalam kaleng.
"Kak, dengar aku?"
"Dengar."
"Diam sebentar."
Kalila diam. Di dalam diam itu ada bunyi. Bukan dengung. Klik kecil, lalu ruang yang terasa lebih luas daripada seharusnya, seolah ada orang lain yang sedang menahan napas di sana.
"Kau dengar itu?" kata Rania.
"Iya."
"Aku sudah dengar itu tiga malam. Kupikir teleponku yang rusak. Ternyata cuma kalau aku menelepon nomor rumahmu."
"Ran."
"Jangan bilang apa-apa lagi lewat ini. Besok aku datang."
Rania datang pukul sepuluh pagi, diantar taksi, memaksa sopir taksi menurunkan kursi rodanya karena Wisnu berdiri di teras tanpa bergerak sedikit pun. Kalila melihat itu dari jendela dan sesuatu di lehernya memanas.
"Kau tidak bantu adikku?" tanya Kalila di teras.
"Saya tidak diinstruksikan menyentuh tamu, Bu."
"Dia bukan tamu. Dia adikku."
"Semua yang bukan penghuni tercatat sebagai tamu."
Rania mendorong dirinya melewati mereka berdua dan berkata, tanpa menoleh, "Aku bisa naik teras sendiri sejak umur dua belas, Kak. Yang aku tidak bisa cuma diam."
Di dalam, Rania tidak minta minum, tidak duduk lama, tidak menanyakan bagaimana rasanya jadi orang menikah. Ia langsung berkeliling. Ia memeriksa dudukan telepon di ruang tamu, mengangkat gagangnya, mendengarkan, menaruhnya lagi. Ia menyuruh Kalila mengangkat gagang di dapur dan mendengarkan bersamaan.
"Kabelnya lewat mana?" tanyanya.
"Aku tidak tahu."
"Bi Sutini tahu."
Sutini memang tahu. Ia menunjuk gudang kecil di belakang, di sebelah tempat jemuran, tempat yang sudah dikunci sejak hari pertama dan kuncinya tidak ada di gantungan mana pun.
Rania memandang gembok itu lama sekali. Bau di sudut itu bau semen basah dan kain lap yang tidak kering benar. Ada kotak abu-abu menempel di dinding luar gudang, dan dari kotak itu keluar dua kabel, bukan satu. Yang satu turun ke tanah. Yang satu naik, isolasinya masih mengkilat, tidak berdebu seperti tetangganya.
"Kabel itu dipasang belakangan," kata Rania.
"Kau tahu dari mana?"
"Dari debunya. Kak, rumah ini baru sebulan. Semua kabel harusnya sama bersihnya. Yang satu ini lebih bersih daripada yang lain, artinya dia dipasang paling akhir. Setelah kalian tanda tangan."
Kalila menatap adiknya. Rania duduk di kursi rodanya di bawah jemuran, kepalanya mendongak ke kotak abu-abu itu, dan wajahnya sama sekali tidak takut. Wajahnya wajah orang yang sedang menghitung.
"Jangan lapor ke Ayah," kata Rania.
"Kenapa?"
"Karena yang akan Ayah lakukan adalah menelepon Elo dan bertanya. Besok kabelnya hilang, dan kita jadi dua perempuan yang mengarang cerita." Rania mengeluarkan buku catatan kecil dari tas di pangkuannya, dan sebatang pensil. "Aku gambar dulu. Tanggal, jam, posisi. Kalau nanti hilang, gambarnya tetap ada."
"Kau belajar itu dari mana?"
"Dari orang-orang yang selama sepuluh tahun bilang gedung mereka ramah kursi roda." Rania menggambar tanpa mengangkat kepala. "Semua orang bisa bilang apa saja, Kak. Yang tidak bisa berbohong itu tanggal."
Devan pulang jam sembilan malam. Ia melepas sepatu di teras, dan begitu melihat wajah Kalila, ia tidak jadi duduk. Ia menarik tangan istrinya ke kamar mandi lantai dua, memutar keran wastafel sampai deras, lalu menutup pintu.
Air jatuh ke porselen. Uapnya belum ada, tapi bunyinya cukup.
"Telepon disadap," kata Kalila.
"Aku tahu."
"Kau tahu?"
"Sejak hari kedua." Devan bersandar ke dinding, dan untuk pertama kalinya sejak akad, Kalila melihat lelah yang sebenarnya di wajah itu. "Ada yang lebih dari itu. Sopirmu bukan sopir. Dia orang bagian pengamanan aset. Aku pernah lihat namanya di daftar gaji."
"Kenapa kau tidak bilang?"
"Karena aku belum tahu harus bilang apa. Aku tidak mau kau hidup dengan takut kalau aku belum bisa memberimu jalan keluarnya."
Kalila melangkah maju. Ia berdiri sangat dekat, cukup dekat untuk mencium sisa parfum di kerah kemeja Devan yang bercampur asap jalanan. Ia meletakkan telapak tangannya di dada suaminya dan merasakan jantung orang itu berdetak terlalu cepat untuk seseorang yang baru pulang kerja.
"Aku sudah takut sejak umur tujuh belas," katanya pelan. "Yang aku tidak mau cuma satu. Takut sendirian."
Devan menunduk. Napasnya menyentuh pelipis Kalila. Tangannya naik ke belakang leher perempuan itu, ragu sebentar, lalu tidak ragu lagi. Keran masih menyala. Bunyi air menutupi banyak hal, dan malam itu ia menutupi juga suara mereka.
Nanti sekali, ketika Devan sudah tidur, Kalila turun sendirian dan berdiri di jendela ruang tamu. Ia menyibak gorden dua jari saja. Jalan di depan kosong. Lampu jalan yang satu mati, jadi ada bagian aspal yang gelap seperti lubang.
Dulu, di rumah ayahnya, ada mobil yang selalu berhenti di seberang. Ken tidak pernah masuk. Ken cuma duduk di sana sampai lampu kamar Kalila padam, lalu pergi. Kalila tidak pernah bilang bahwa ia tahu. Ken tidak pernah bilang bahwa ia tahu bahwa Kalila tahu.
Di jalan ini, di seberang, ada mobil juga. Warna gelap, kaca film pekat, mesin mati. Tapi mobil itu tidak menghadap jendela Kalila. Mobil itu menghadap pagar, seperti orang yang mengawasi siapa yang keluar, bukan siapa yang datang.
"Non," kata Sutini dari belakang, membawa teh yang tidak diminta. "Jangan lama-lama di jendela."
"Kenapa?"
"Karena kalau ada yang lihat Non berdiri di situ tiap malam, besok gordennya diganti yang tebal. Katanya biar Non nyaman."
Kalila menutup gorden. Tehnya panas, dan uapnya naik ke wajahnya seperti napas orang lain.
Pagi harinya, di pintu kulkas, sudah menempel selembar kertas yang tidak Kalila tempel. Judulnya diketik rapi, hurufnya besar-besar.
JADWAL KELUAR RUMAH. Izin diajukan H-1. Rute ditentukan petugas. Tamu dicatat di buku depan.
Kalila membaca kertas itu tiga kali. Ia tidak merobeknya. Ia justru menempelkan salinan catatan Rania di sebelahnya, yang ditulis tangan, dengan tanggal di pojok atas, supaya dua kertas itu bersebelahan setiap kali ada yang membuka kulkas.
"Rumahnya baru, Bi," katanya kepada Sutini. "Aturannya lama."
Sutini menuang teh tanpa menoleh. "Aturan memang begitu, Non. Dia yang paling gampang dipindahkan, dan dia yang paling susah dibuang."
Bersambung.