Lantai empat gedung Husain Grup selalu berbau sama sesudah pukul sembilan malam: kopi yang sudah dingin di gelas kertas, karpet yang jarang dijemur, dan udara AC yang diputar terus sampai terasa seperti udara bekas.
Devan menaruh kacamatanya di meja dan menekan pangkal hidungnya. Di layar ada daftar pembayaran proyek Cikupa. Ia sudah membacanya empat kali. Yang membuatnya membaca untuk kelima kali bukan angkanya. Angkanya rapi. Justru itu.
"Mas Devan belum pulang?"
Ia menoleh. Dini berdiri di ujung meja, membawa map, kartu pegawainya masih menggantung di leher. Perempuan itu mungkin dua tahun lebih muda darinya, kacamatanya tebal, dan ia satu-satunya orang di keuangan yang masih mau menjawab telepon jam sebelas malam.
"Sebentar lagi." Devan menunjuk layar. "Dini, ini vendor apa? Wana Lestari Sejati."
"Vendor material."
"Sudah berapa lama jadi rekanan?"
Dini menarik kursi, duduk tanpa dipersilakan, dan itu justru membuat Devan lega. "Delapan bulan. Kenapa?"
"Karena dalam delapan bulan mereka menagih dua puluh sembilan kali, dan tidak ada satu pun tagihan yang ditolak. Nol. Vendor kaca di Bekasi itu ditolak enam kali cuma gara-gara ukuran palet."
Dini tidak langsung menjawab. Ia menarik map dari pangkuannya dan membukanya di meja Devan, dan Devan melihat bahwa map itu bukan map yang dibawa orang secara kebetulan. Kertasnya sudah diberi penanda warna. Sudah berminggu-minggu.
"Saya sudah lihat itu tiga bulan lalu," kata Dini pelan. "Lihat nomor fakturnya."
Devan melihat. Faktur bulan Maret: 0041. April: 0042. Mei: 0043.
"Vendor yang hidup tidak begitu, Mas," kata Dini. "Kalau mereka punya pelanggan lain, nomor fakturnya lompat. Punya kita berurutan terus. Artinya kita satu-satunya pelanggan mereka. Atau artinya semua faktur itu dicetak sekaligus di hari yang sama, lalu dibagi-bagi ke bulan."
Bulu tangan Devan berdiri. Ruangan tidak jadi lebih dingin, tapi tubuhnya merasa begitu.
"Ada lagi?"
"Ada." Dini membalik dua lembar. "Alamatnya. Wana Lestari Sejati, Bumi Anom Perkasa, sama Karya Tirta Nusa. Tiga perusahaan, tiga nama beda, satu alamat. Ruko di Jalan Kebon Jeruk Raya nomor tujuh belas, lantai dua."
"Satu gedung bisa saja."
"Satu ruangan, Mas. Nomor unitnya sama. Dua-A."
Devan menatap kertas itu lama. Di kepalanya ada suara yang sudah dua minggu ini tidak mau diam, suara Elo di teras rumah pada malam akad, pelan sekali, sopan sekali. Selamat, Nak Devan. Sekarang kamu bagian dari keluarga. Yang bagian dari keluarga itu enak. Cuma harus tahu apa yang boleh dilihat.
"Siapa yang menyetujui pembayarannya?" tanya Devan.
Dini menggeser jari ke kolom paling kanan. Di sana ada paraf, kecil, miring, sama di dua puluh sembilan baris.
"Pak Elo," katanya. "Sebagai kuasa direksi. Tuan Husain menandatangani limitnya sekali di awal tahun, dan sesudah itu semuanya lewat kuasa."
"Berapa totalnya?"
Dini menyebut angka. Devan menahan napas, lalu mengeluarkannya perlahan supaya tidak terdengar seperti orang yang baru ditinju.
"Itu bukan uang bocor," kata Devan. "Itu uang yang dialirkan."
"Iya, Mas."
"Kau sudah lapor?"
Untuk pertama kalinya malam itu, Dini kelihatan takut. Ia melepas kacamatanya dan menggosok kaca dengan ujung kemeja, gerakan orang yang butuh tangannya sibuk supaya suaranya tidak goyang.
"Saya kirim nota dinas bulan April. Ke bagian kepatuhan." Ia memakai kacamatanya lagi. "Dua minggu kemudian saya dipanggil, dikasih tahu bahwa temuan saya sudah ditindaklanjuti secara internal, dan saya diminta tidak membicarakannya lagi karena menyangkut nama baik. Bulan Mei saya buka arsip, nota dinas saya tidak ada di sistem. Nomor agendanya loncat. Tiga ratus dua belas, tiga ratus empat belas. Yang tiga ratus tiga belas itu punya saya."
"Kau simpan salinannya?"
"Satu. Di rumah ibu saya."
Devan mengangguk pelan. "Jangan pernah bawa ke sini."
Mereka bekerja sampai jam satu pagi. Devan tidak memakai jaringan kantor. Ia menyalin dengan mesin fotokopi tua di sudut ruang arsip, yang lampunya menyapu di balik tutup dan mengeluarkan bau ozon tiap kali menyala. Seratus dua puluh tujuh lembar. Ia menyusunnya tiga rangkap, memberi nomor tangan di pojok kanan bawah setiap lembar, karena Dini bilang berkas yang tidak bernomor paling gampang dicabut satu-satu tanpa ketahuan.
Di lembar sembilan puluh empat ada foto gudang vendor itu, dicetak di kertas biasa, buram. Devan mengangkatnya ke bawah lampu neon.
"Dini, sini sebentar."
"Kenapa, Mas?"
"Truk yang parkir di belakang gudang ini." Ia menunjuk sudut foto. "Pelatnya kelihatan setengah. Coba ingat-ingat, kita punya truk dengan tiga huruf belakang ini, tidak?"
Dini memicingkan mata. Lalu ia duduk perlahan, seperti orang yang lututnya tiba-tiba tidak mau dipakai.
"Itu truk kita, Mas."
"Yakin?"
"Nomor lambungnya juga kelihatan di pintu. Yang dicat putih itu." Ia menelan ludah. "Jadi vendor yang menjual material ke kita, memotret gudangnya, dan yang ada di foto itu truk kita sendiri."
Devan menaruh lembar itu di tumpukan dan menekan tumpukan itu dengan telapak tangan, seperti menahan sesuatu supaya tidak terbang. Di kepalanya ada bapaknya sendiri, penjual beras di Cirebon, yang dulu menghitung untung dengan pensil di balik kalender dan tidak pernah sekali pun menyuruhnya jadi orang besar. Cuma satu pesan yang ia ingat betul: jangan makan dari piring yang kamu tahu isinya curian.
Ia bisa berhenti malam ini. Ia bisa menutup map ini, pulang, tidur, dan besok pagi jadi menantu yang manis di perusahaan mertuanya seumur hidup. Tidak ada yang akan tahu.
Masalahnya cuma satu: dia akan tahu.
"Kita lanjut," katanya.
Waktu mereka keluar, petugas kebersihan sedang mengepel lorong. Baunya karbol jeruk. Devan menyapa, dan orang itu membalas dengan sopan, dan Devan tidak memikirkan apa-apa tentang itu sampai keesokan sorenya, ketika ia lewat ruang arsip dan mendengar Elo bertanya kepada petugas yang sama, dengan nada seramah orang bertanya soal cuaca.
"Mesin fotokopi yang di arsip berapa hitungannya sekarang, Pak? Bulan lalu berapa?"
Devan tidak berhenti berjalan. Ia terus melangkah, punggungnya lurus, sampai masuk lift. Di dalam lift ia melihat pantulan wajahnya sendiri di pintu baja, dan wajah itu putih.
Ia pulang lebih cepat malam itu. Kalila sedang di dapur, rambutnya diikat asal, tangannya bau bawang. Devan tidak bicara di ruang tamu. Ia mengajak istrinya keluar, ke mobil, menyalakan mesin, menyalakan radio, dan baru bicara ketika ada suara penyiar yang menutupi suaranya.
"Aku menemukan sesuatu," katanya.
Kalila mendengarkan sampai habis. Ia tidak memotong. Ketika Devan selesai, ia diam beberapa detik, dan yang keluar pertama kali dari mulutnya bukan pertanyaan tentang uang.
"Perempuan yang namanya Dini itu," katanya. "Dia sendirian?"
Devan menoleh, sedikit terkejut. "Iya."
"Kalau begitu jangan biarkan sendirian." Kalila menatap lurus ke kaca depan. "Van, orang seperti Elo tidak pernah menyerang berkasnya duluan. Dia menyerang orangnya. Dia bikin orangnya kelihatan bermasalah, lalu berkasnya ikut kelihatan bermasalah. Aku sudah melihat dia melakukan itu ke pak Adi cuma dengan dua kali bisik ke telinga ayahku."
"Kau tahu betul cara kerjanya."
"Aku tumbuh di dalamnya."
Rania datang dua hari kemudian, dan setelah mendengar cerita itu di halaman belakang, dekat keran, ia melakukan hal yang tidak diminta siapa pun. Ia pergi ke Jalan Kebon Jeruk Raya nomor tujuh belas.
"Ran, kau tidak bilang apa-apa," kata Kalila di telepon genggam Rania, malam itu, suaranya menahan marah.
"Kalau aku bilang, kau melarang."
"Iya, aku melarang."
"Makanya aku tidak bilang." Terdengar bunyi rem taksi di belakang suara adiknya. "Kak, dengar dulu. Unit dua-A itu ada. Pintunya ada. Cuma di baliknya kios fotokopi punya orang Padang, sudah empat tahun. Namanya Uda Rustam. Dia tidak pernah dengar nama Wana Lestari Sejati. Tapi tiap tiga bulan ada orang datang ambil surat-surat yang dikirim ke unit itu, dan dia dikasih uang rokok supaya menyimpankan."
Kalila menutup mata. "Kau tanya nama orangnya?"
"Uda Rustam tidak tahu namanya. Tapi dia ingat mobilnya, dan dia ingat orang itu selalu datang hari Kamis." Rania berhenti sebentar. "Aku foto pintunya, Kak. Ada nomornya, ada tanggal di jam tangan aku yang ikut kefoto. Aku juga minta Uda Rustam menulis satu paragraf, dia yang menulis, aku yang menyaksikan. Dia mau. Dia bilang dia sudah lama merasa aneh."
"Kenapa kau lakukan itu?"
"Karena tidak ada yang menyuruh," kata Rania. "Karena kalau semua orang menunggu disuruh, tidak akan ada yang punya tanggal."
Malam itu Devan berlutut di depan brankas kecil di kamar, brankas yang diberikan ayah Kalila sebagai kado dan sekarang dipakai untuk hal yang tidak pernah ayahnya bayangkan. Ia memutar tombolnya. Tiga angka. Tanggal akad mereka.
"Gantilah," kata Kalila dari tepi ranjang. "Terlalu gampang ditebak."
"Justru itu." Devan menaruh map cokelat yang tebal ke dalam, menutup pintu besi, memutar tuas. "Kalau aku kenapa-kenapa, kau tidak akan pernah lupa angka ini."
"Jangan bicara begitu."
"Aku serius."
"Aku juga serius. Jangan bicara begitu."
Devan berdiri, dan Kalila menariknya duduk di sebelahnya. Lampu kamar cuma satu yang menyala, yang di meja, dan cahayanya kuning. Devan meletakkan kepalanya di bahu istrinya. Ia bau kertas, bau tinta fotokopi, bau lelah.
"Besok aku titipkan satu rangkap ke Rania," katanya. "Satu lagi mau aku bawa ke Bandung, ke pengacara temanku waktu kuliah. Namanya Pram. Dia bukan orang perusahaan, bukan orang ayahmu, bukan siapa-siapa di sini. Itu bagusnya."
"Kapan?"
"Kamis."
Kalila menoleh. "Kenapa Kamis?"
"Karena Kamis kantor tutup lebih cepat," kata Devan. Lalu ia tertawa kecil, dan tawanya berhenti di tengah, karena mereka berdua ingat bersamaan apa yang tadi dikatakan Rania tentang hari Kamis.
Kalila tidak menjawab. Ia memutar tubuh, memegang wajah suaminya dengan dua tangan, dan menciumnya seperti orang yang sedang menghafal sesuatu. Lampu meja masih menyala waktu Devan mengulurkan tangan dan mematikannya.
Bersambung.