Ruang kerja tuan Husain di rumah besar itu berbau cerutu yang sudah lama tidak dinyalakan dan kayu jati yang dilap minyak. Jam dinding berdetak keras. Devan duduk di kursi tamu dengan map cokelat di pangkuannya, dan selama tiga menit pertama tidak ada yang bicara.
"Kau minta waktu, katamu penting," tuan Husain akhirnya berkata. "Kalau ini soal jabatan, kau tidak perlu bawa map."
"Ini bukan soal jabatan, Yah."
Devan meletakkan map itu di meja dan membukanya. Ia sudah melatih urutannya semalaman. Vendor. Faktur berurutan. Satu alamat untuk tiga perusahaan. Nol penolakan dalam dua puluh sembilan tagihan. Paraf kuasa direksi di kolom paling kanan. Ia bicara pelan, tanpa menuduh, seperti orang membacakan hasil laboratorium.
Tuan Husain membaca dua lembar pertama. Lalu ia berhenti membaca. Ia menegakkan punggung, dan wajahnya berubah, dan Devan tahu perubahan itu bukan ke arah yang ia harapkan.
"Kau tahu berapa lama Elo bekerja untuk saya?"
"Yah—"
"Dua puluh dua tahun." Suaranya belum keras. Justru itu yang menakutkan. "Waktu pabrik kita terbakar tahun sembilan enam, yang tidur di gudang tiga malam itu dia. Waktu bank menarik plafon, yang keliling mencari penjamin itu dia. Kau menikahi anak saya dua bulan lalu."
"Saya tidak sedang membandingkan diri saya dengan beliau. Saya cuma minta ada yang memeriksa. Auditor luar. Siapa saja yang bukan orang dalam."
"Auditor luar." Tuan Husain tertawa satu kali, kering. "Kau tahu apa artinya kalau perusahaan seukuran kita tiba-tiba memanggil auditor luar di tengah tahun? Bank tahu dalam dua hari. Rekanan tahu dalam seminggu. Harga kita jatuh sebelum ada satu pun kesalahan terbukti."
"Kalau tidak ada kesalahan, tidak ada yang perlu ditakutkan."
"Yang saya takutkan bukan kesalahan. Yang saya takutkan omongan."
Tuan Husain berdiri, berjalan ke telepon di sudut meja, dan mengangkat gagangnya. Devan merasakan lantai seperti miring.
"Yah, jangan."
"Kenapa jangan? Kau menuduh orang. Orangnya berhak menjawab."
Elo datang dua puluh menit kemudian. Ia masuk tanpa mengetuk keras, membawa dua map dan wangi cendana yang samar. Ia menyalami Devan lebih dulu, dengan dua tangan, sopan sekali, dan menahan genggaman itu setengah detik lebih lama daripada perlu.
"Nak Devan," katanya. "Bagus. Anak muda memang harus bertanya."
Ia menjawab semuanya. Nomor faktur berurutan karena vendor itu memang baru dan Husain Grup pelanggan pertamanya; ia bahkan bangga karena ia yang membina mereka dari nol, itu program kemitraan usaha kecil yang sudah dilaporkan ke rapat tahunan. Alamat sama karena ketiganya satu grup keluarga, dan itu lazim. Nol penolakan karena ia sendiri yang memeriksa dokumen mereka sebelum masuk, supaya tidak merepotkan keuangan. Ia mengeluarkan dari mapnya sendiri: akta, NPWP, foto gudang, surat rekomendasi kelurahan.
Semua rapi. Semua ada tanggalnya. Semua dicetak dengan tinta yang masih terlalu hitam.
"Kapan surat-surat ini dikumpulkan, Pak?" tanya Devan.
"Sejak awal, dong."
"Kertasnya belum menguning."
Ada satu detik ketika ruangan itu betul-betul senyap, sampai detak jam dinding terdengar seperti orang mengetuk pintu. Elo tersenyum.
"Nak Devan," katanya, tetap ramah, "kalau kita mulai menilai kejujuran orang dari warna kertas, kantor ini tidak akan pernah selesai bekerja."
Tuan Husain menutup map Devan dan mendorongnya kembali ke seberang meja.
"Cukup," katanya. "Kau kerja yang baik. Urus istrimu. Jangan mengurus hal yang bukan bagianmu."
"Yah, saya—"
"Devan." Sekarang suaranya keras. "Saya yang membangun ini dari satu truk. Saya tahu siapa yang setia dan siapa yang cari muka. Jangan buat saya menghitung ulang."
Devan keluar dari ruangan itu dengan map yang lebih ringan daripada waktu ia masuk, walaupun isinya sama.
Elo menyusulnya di carport, di antara dua mobil, di tempat yang tidak terlihat dari jendela mana pun.
"Nak Devan."
Devan berhenti. Bau di situ bau bensin dan daun kering.
"Saya tidak marah," kata Elo. Ia bahkan tersenyum. "Sungguh. Anak muda yang bawa map itu bagus. Artinya dia peduli. Cuma saya mau kasih tahu satu hal, sebagai orang yang lebih lama."
"Silakan, Pak."
"Perusahaan ini seperti tubuh." Elo merapikan kerah jas Devan, dua jari, pelan, dan Devan memaksa dirinya berdiri diam. "Kalau ada yang sakit, kita obati. Tapi kalau ada bagian yang bikin seluruh badan demam terus-terusan, dokter tidak mengobati. Dokter memotong. Bukan karena benci. Karena badannya harus hidup."
"Bapak sedang bicara tentang siapa?"
"Tentang tidak siapa-siapa." Elo menepuk bahunya sekali. "Salam untuk Kalila. Kasihan dia, baru saja senang."
Ia pergi tanpa menunggu jawaban, dan langkahnya tenang, dan itu yang paling lama menempel di kepala Devan: orang itu tidak sedang mengancam dengan marah. Orang itu sedang memberitahukan keputusan yang sudah diambil.
Kalila menunggunya di teras samping. Ia sudah tahu dari wajah suaminya sebelum Devan sempat membuka mulut.
"Ayah memanggil Elo," kata Kalila. Bukan pertanyaan.
"Iya."
Kalila menutup mata sebentar. "Sudah kuduga. Ayah tidak pernah memutuskan sendirian sejak Ibu meninggal. Dia selalu perlu satu orang yang bilang keputusannya benar. Sekarang orang itu satu-satunya."
Rania mendorong kursi rodanya keluar dari pintu dapur. Ia jelas sudah mendengar sebagian.
"Aku masuk," katanya.
"Ran."
"Aku masuk, Kak." Rania sudah berbelok ke koridor. "Kalau Ayah tidak mau dengar dari menantu, dia harus dengar dari anak."
Yang terjadi di dalam berlangsung sebelas menit. Kalila berdiri di luar pintu dan mendengar suara adiknya naik, tenang tapi naik, menyebut kabel yang isolasinya masih mengkilat, menyebut ruko Kebon Jeruk unit dua-A, menyebut satu kalimat yang membuat Kalila menutup mulutnya sendiri dengan tangan: "Ayah tidak sedang melindungi perusahaan. Ayah sedang melindungi perasaan Ayah sendiri, karena kalau ini benar, artinya Ayah dibodohi dua puluh dua tahun."
Lalu terdengar bunyi map dibanting ke meja, dan pintu terbuka, dan Rania keluar dengan wajah datar.
"Bagaimana?" tanya Kalila.
"Aku dibilang terlalu banyak membaca."
"Ran—"
"Aku tidak apa-apa." Rania menahan roda kursinya, dan baru di situ Kalila melihat tangannya gemetar sedikit. "Cuma aku baru sadar sesuatu. Ayah tidak menolak buktinya. Ayah menolak siapa yang membawanya."
Dini melakukan hal yang benar keesokan harinya, dan itu yang membuat semuanya menjadi lebih cepat.
Ia tidak mengirim nota dinas lewat surel. Ia mencetak laporannya, empat belas halaman, memberi nomor di tiap lembar, dan mengantarnya sendiri ke meja agenda di lantai dua, tempat semua surat masuk perusahaan dicatat di buku besar bersampul karton. Ia menunggu petugas menulis nomornya. Ia meminta tanda terima. Petugas itu menstempel selembar kertas kecil dan menyerahkannya. Dini melipat kertas itu dan memasukkannya ke dompet, di belakang foto ibunya.
Hari Rabu pagi, buku agenda itu masih ada. Nomor 517 atas nama Dini Rahayu, perihal temuan pembayaran vendor.
Hari Rabu sore, halaman itu sudah diganti. Kertasnya baru, tulisan tangannya lain, dan nomor 517 sekarang atas nama seseorang dari bagian umum, perihal permintaan perbaikan pendingin ruangan.
Devan menemui Dini di warung soto di belakang gedung, bukan di kantin. Bau kuah, bau minyak, kipas angin dinding yang berputar patah-patah. Dini tidak menyentuh mangkuknya.
"Laptop saya diambil pagi tadi," katanya. "Katanya audit rutin perangkat."
"Isinya?"
"Sudah saya kosongkan minggu lalu." Ia tersenyum tipis, tanpa kegembiraan. "Saya tidak sepintar itu, Mas. Saya cuma sudah sering melihat orang kehilangan barang di kantor ini."
"Mereka bilang apa lagi?"
"Bagian kepatuhan memanggil saya. Katanya ada laporan bahwa saya mengakses data di luar kewenangan, dan bahwa saya menyebarkan informasi rahasia keluar. Saya diskors dua minggu, digaji, tanpa akses gedung." Dini mengaduk sotonya, lalu berhenti. "Yang lucu, Mas, mereka bilang begitu tanpa sekali pun menyebut isi laporan saya. Seolah yang empat belas halaman itu tidak pernah ada."
"Kau punya tanda terimanya?"
Dini mengeluarkan dompetnya, mengambil kertas kecil dari belakang foto ibunya, dan meletakkannya di meja di antara mereka. Kertas itu sudah lecek. Ada stempel biru, tanggal, nomor 517, dan paraf petugas agenda.
"Bawa," katanya.
"Ini punyamu."
"Kalau ada di saya, minggu depan dia hilang bersama tas saya di angkot," kata Dini. "Saya sudah menghitung, Mas. Saya bukan orang berani. Saya cuma tidak mau jadi orang yang tahu lalu diam."
Devan mengambil kertas itu dan menyelipkannya ke dalam paspornya, karena paspor adalah satu-satunya benda yang tidak pernah ia tinggalkan di laci.
"Hari Kamis saya ke Bandung," katanya. "Ada pengacara. Bukan orang sini."
"Jangan bilang siapa-siapa di kantor."
"Tidak akan."
"Jangan juga bilang di telepon rumah," kata Dini, dan Devan menatapnya, dan Dini balas menatap tanpa berkedip. "Mas, mereka menaruh kabel di rumah saya juga. Bulan lalu. Ibu saya yang menyadari, karena ibu saya kira ada tikus."
Malam itu Devan pulang dan mendapati Kalila sedang melipat baju di kamar, padahal Sutini sudah melipat semuanya tadi sore. Kalila melipat lagi karena tangannya butuh kerja.
"Aku ikut," kata Kalila.
"Tidak."
"Van."
"Kalau kita berdua pergi malam-malam, Wisnu lapor sebelum mobil keluar kompleks." Devan duduk di tepi ranjang dan menarik tangan istrinya sampai perempuan itu berdiri di depannya. "Kalau aku sendirian, aku cuma menantu yang mabuk kerja dan pulang kampung sebentar. Kau tinggal, kau nyalakan lampu, kau bikin rumah ini kelihatan seperti biasa."
Kalila memandang wajahnya lama sekali, seperti orang yang mau membantah tapi tahu bantahannya tidak akan menang.
"Kamis," katanya akhirnya.
"Kamis."
"Berjanji satu hal."
"Apa?"
"Telepon aku dari jalan," kata Kalila. "Tiap satu jam. Aku tidak peduli kau bilang apa. Bilang saja kau sudah sampai mana."
Bersambung.