Kamis pagi, Wisnu menelepon dan bilang ia demam.
"Tumben," kata Kalila.
"Sudah dua hari, Bu. Nanti sore saya kirim pengganti."
"Tidak usah."
"Prosedurnya harus ada pengganti, Bu."
"Tidak usah," ulang Kalila, dan ia menutup telepon lebih dulu, dan tangannya masih di gagang itu beberapa detik sesudahnya, karena ia tahu ia baru saja menang dalam hal yang terlalu kecil.
Devan pulang jam empat sore untuk berkemas. Tidak banyak yang dibawa. Satu ransel, satu map cokelat rangkap ketiga, paspor dengan kertas stempel nomor 517 terselip di dalamnya. Dua rangkap yang lain ia kunci di brankas kamar, dan sebelum menutup pintu besinya ia berhenti sebentar, seperti orang yang mau menambah sesuatu tapi tidak jadi.
"Yang buat Rania?" tanya Kalila.
"Aku kasih hari Sabtu. Setelah pulang." Devan memutar tuas. "Aku tidak mau tiga-tiganya di jalan malam ini."
Di halaman, mobil sudah menunggu. Sedan tua yang dipakai Devan sejak lajang, warnanya biru laut, catnya sudah kusam di kap. Kalila memutari mobil itu sekali, lalu berhenti di dekat spion.
"Ini apa?"
Di sudut kaca depan ada stiker kecil, masih baru, sudutnya rapi. Bengkel Prima Jaya, servis berkala, tanggalnya dua hari lalu.
Devan mengerutkan kening. "Aku tidak pernah bawa ke situ."
"Terus siapa?"
"Bagian umum." Ia mengeluarkan selembar kertas dari saku pintu. Formulir servis, kop perusahaan, kolom keterangan diketik: pemeriksaan rutin kendaraan dinas dan kendaraan pribadi pejabat, atas nama keamanan operasional. Di bawah, daftar pekerjaan. Ganti oli mesin. Setel kopling. Kuras dan ganti minyak rem.
Kalila membaca baris terakhir itu dua kali.
"Van."
"Aku tahu apa yang kau pikirkan."
"Kalau kau tahu, kenapa masih mau berangkat?"
"Karena kalau aku batal, mereka menang tanpa melakukan apa-apa." Devan membuka pintu, lalu menutupnya lagi tanpa masuk. Ia berdiri menghadap istrinya. "Dan karena aku sudah coba semua pintu yang sopan, Lila. Ayahmu menutupnya. Kepatuhan menutupnya. Buku agenda menutupnya. Yang tersisa cuma orang yang tidak makan dari uang ini."
Kalila menekan telapak tangannya ke dada suaminya, di tempat yang sama seperti malam pertama di kamar mandi. "Tes remnya di kompleks dulu. Bolak-balik. Sampai kau yakin."
Devan menurut. Ia menyetir pelan mengitari blok, mengerem keras tiga kali di jalan kosong. Ban berdecit. Mobil berhenti pendek dan patuh. Ia keluar, jongkok, melihat ke kolong. Kering. Tidak ada tetes.
"Menggigit," katanya. "Bagus, kok."
"Sumpah?"
"Sumpah." Ia mencium kening Kalila, lama, dan Kalila mencium balik di sudut bibirnya, dan mereka berdiri seperti itu di halaman sampai lampu jalan menyala dan serangga mulai berkerumun di bawahnya.
"Tiap satu jam," kata Kalila.
"Tiap satu jam."
Ia berangkat jam tujuh malam.
Telepon pertama datang jam delapan lewat sepuluh, dari sebuah pom bensin. Latarnya berisik: mesin diesel, orang berteriak memesan, lagu dangdut dari radio warung.
"Sudah di mana?"
"Baru masuk tol. Macet dari tadi. Kau sudah makan?"
"Belum."
"Makan."
"Nanti."
"Lila."
"Iya, iya. Aku makan." Kalila memindahkan gagang telepon ke bahu yang lain. Ia berdiri di dapur, dan Sutini pura-pura sibuk mengelap meja yang sudah bersih. "Van, di rumah tadi ada orang naik motor lewat dua kali. Pelan. Yang kedua dia berhenti di depan pagar."
"Kau kunci semua?"
"Sudah. Bi Sutini tidur di kamar Rania malam ini."
"Bagus." Jeda. Suara Devan melunak. "Aku sayang kamu."
"Bilangnya jangan sekarang."
"Kenapa?"
"Karena kalau kau bilang begitu di telepon, aku jadi merasa kau sedang pamit."
Telepon kedua jam sembilan lewat lima. Suaranya lebih tenang, jalan tol sudah lancar. Telepon ketiga jam sepuluh lewat dua puluh, dan di telepon ketiga itu suaranya berubah.
"Tolnya ditutup," kata Devan. "Ada perbaikan jembatan. Semua kendaraan dibelokkan ke jalan lama."
"Jalan lama yang mana?"
"Lewat Cikalongwetan. Yang turunannya panjang itu."
Kalila memejamkan mata. Di kepalanya ada peta yang tidak ia hafal tapi ia rasakan: aspal sempit, tikungan patah, jurang di kiri, truk pasir yang naik dengan asap hitam.
"Menepi saja, Van. Tidur di masjid. Besok pagi lanjut."
"Aku sudah janji ketemu Pram jam tujuh pagi. Dia mau ke Jakarta jam sembilan."
"Van, dengar—"
"Aku pelan-pelan, ya." Suaranya nyaris ceria, dan justru itu yang membuat Kalila tahu suaminya juga takut. "Lima puluh saja. Kalau hujan, empat puluh."
Hujan turun waktu Devan melewati kilometer terakhir sebelum turunan. Ia menyalakan wiper. Karet wipernya sudah keras, jadi kaca depan tidak bersih benar, cuma berpindah-pindah kabur. Kabut naik dari sisi kiri jalan, tebal, putih, bergerak seperti sesuatu yang hidup. Bau di dalam mobil bau karet basah dan pengharum vanila murahan yang menggantung di spion.
Telepon genggamnya bergetar di jok penumpang. Ia melirik. Nama Rania.
Ia menepikan mobil di bahu jalan, di bawah papan penunjuk yang catnya mengelupas, dan mengangkat.
"Mas Devan, kau di jalan?"
"Iya. Kenapa, Ran?"
"Aku baru dari Kebon Jeruk lagi. Uda Rustam sudah tidak ada." Suara Rania cepat, kalimatnya rapat. "Kiosnya tutup. Digembok. Tetangganya bilang Senin kemarin ada orang datang, tiga orang, ngobrol lama, terus Selasa Uda Rustam pamit pulang kampung."
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa. Dengar dulu, ini yang penting. Aku minta tolong temanku di percetakan mengecek satu nama. Bengkel Prima Jaya."
Jantung Devan berhenti sepersekian detik.
"Kenapa Prima Jaya?"
"Karena namanya ada di daftar tagihan yang kau fotokopi, Mas. Lembar sembilan puluh empat. Bengkel itu ditagihkan lewat Karya Tirta Nusa." Rania menarik napas. "Alamatnya Kebon Jeruk unit dua-A."
Wiper menyapu dua kali. Hujan mengetuk atap. Di kejauhan ada suara truk mengerem panjang, bunyi yang bergema di lembah, bunyi yang seperti binatang besar.
"Mas Devan?"
"Aku dengar."
"Balik," kata Rania. "Sekarang. Aku tidak peduli soal janji jam tujuh."
"Aku sudah di atas turunan, Ran. Baliknya juga lewat sini."
Hening di telepon. Lalu Rania berkata, pelan sekali, "Nyalakan lampu hazard. Jalan di belakang truk. Jangan menyalip apa pun."
"Iya."
"Janji."
"Janji."
Devan menaruh telepon di pangkuannya. Ia menyalakan lampu hazard. Ia menunggu sampai ada truk pasir lewat, lalu masuk ke belakangnya, mengikuti dua lampu merah yang bergoyang di dalam hujan.
Turunan dimulai perlahan. Tiga persen, lalu lebih. Ia menurunkan gigi ke tiga. Mesin meraung tertahan, dan mobil melambat sendiri, dan untuk beberapa ratus meter semuanya terasa benar.
Lalu truk di depan berbelok masuk ke tempat penimbangan, dan jalan di depan Devan tiba-tiba kosong, dan turunannya menjadi curam.
Ia menginjak rem.
Pedal turun lebih dalam daripada biasa. Bukan blong. Cuma dalam. Mobil melambat, tapi setengah hati, seperti orang yang menahan pintu dengan satu jari.
"Ayo," kata Devan. Ia bicara kepada mobilnya sendiri. Suaranya sendiri terdengar asing di kabin. "Ayo, dong."
Ia mengangkat kaki, menginjak lagi. Kali ini pedalnya turun lebih dalam lagi. Ada bunyi mendesis halus, dan bau. Bau logam panas dan sesuatu yang seperti kain terbakar, masuk dari ventilasi, tipis mula-mula, lalu jelas.
Jarum kecepatan naik. Enam puluh. Enam lima.
Ia menurunkan gigi ke dua. Mesin menjerit. Mobil tersentak, melambat sebentar, dan hatinya sempat naik, lalu turunannya makin curam dan jarum itu naik lagi.
Tujuh puluh.
Di pinggir jalan lewat sebuah papan putih dengan panah ke bawah dan tulisan yang sudah dimakan lumut. TANJAKAN PENYELAMAT 800 M. Devan membacanya dan berpegang pada angka itu seperti orang berpegang pada tali. Delapan ratus meter. Dua puluh detik. Dia sanggup dua puluh detik.
Wiper menyapu. Kabut membuka sedikit, lalu menutup lagi. Di kaca spion, tidak ada lampu siapa pun di belakangnya. Jalan itu tiba-tiba terasa seperti tempat yang tidak dihuni manusia mana pun.
Yang muncul di kepalanya bukan hidupnya. Yang muncul cuma potongan-potongan kecil dan tidak penting: Kalila melipat baju yang sudah dilipat, bau bawang di tangan istrinya, tanggal akad yang ia jadikan kombinasi brankas, suara Rania mengatakan yang tidak bisa berbohong itu tanggal.
Ia menarik rem tangan pelan-pelan, sedikit demi sedikit, seperti yang dulu diajarkan pamannya. Bagian belakang mobil bergeser. Ban belakang kehilangan aspal di air, dan buritan mobil melintir ke kanan, dan Devan melepasnya cepat-cepat, dan mobil menegak lagi dengan hantaman yang membuat ranselnya jatuh dari jok ke lantai.
Telepon di pangkuannya bergetar dan menyala. Nama Kalila.
Ia mengangkat dengan bahu, menekan gagangnya ke telinga dengan pipi, dua tangan tetap di setir.
"Van! Sudah sampai mana?"
"Lila." Ia berusaha membuat suaranya biasa dan gagal total. "Lila, dengar aku baik-baik."
"Kenapa? Kenapa suaramu—"
"Remnya tidak menggigit."
Sepersekian detik senyap, dan di dalam sepersekian detik itu Kalila di dapur rumah baru yang berbau cat merasakan lantai marmer menjadi es di bawah kakinya.
"Devan."
"Aku di turunan Cikalongwetan. Ada tikungan panjang ke kiri di depan. Aku mau cari tanjakan penyelamat, biasanya ada di bawah—"
"Devan, tolong—"
"Kalau aku tidak sempat," katanya cepat, "brankas. Angkanya tanggal akad kita. Kau ingat, kan? Kau ingat?"
"Aku ingat! Van, kau jangan—"
Tikungan itu datang. Pagar pembatas di sisi kiri hilang untuk beberapa meter, cuma ada tiang-tiang yang patah dan tanah gelap. Dari arah bawah, dua lampu putih membelah hujan, naik, besar, makin besar, dan klakson panjang bergema di lembah.
Devan membanting setir.
Telepon di tangan Kalila mengeluarkan bunyi gesekan yang keras sekali, lalu bunyi seperti sesuatu yang sangat berat menghantam sesuatu yang sangat keras, lalu tidak ada apa-apa.
"Van?"
Tidak ada apa-apa.
"Van!"
Bersambung.