Kalila menekan tombol panggil dua ratus kali malam itu. Ia tahu jumlahnya karena Rania yang menghitung, dan Rania menghitung karena ia butuh sesuatu untuk dikerjakan tangannya.
Nada sambung. Nada sambung. Lalu, sesudah jam satu, tidak ada nada sambung lagi. Cuma suara perempuan rekaman yang mengatakan nomor yang dituju sedang tidak aktif, dengan sopan, berulang-ulang, seperti orang yang tidak tahu apa yang sedang ia katakan.
Mereka berangkat jam dua pagi dengan taksi yang dipesan Sutini dari wartel di ujung gang, bukan dari telepon rumah. Rania duduk di depan. Kursi rodanya dilipat di bagasi. Sepanjang jalan tidak ada yang bicara kecuali sopir taksi yang sekali bertanya apakah ada yang sakit, dan tidak ada yang menjawabnya, dan ia tidak bertanya lagi.
Mereka menemukan mobil biru itu di halaman belakang sebuah kantor polisi di Padalarang, jam setengah enam pagi, di bawah terpal yang tidak menutup semuanya.
Kalila melihat kap depannya. Setelah itu ia tidak melihat apa-apa lagi. Ada tangan Rania yang menahan pinggangnya dari kursi roda, kuat sekali untuk tangan sekurus itu, dan ada suara Sutini yang mengucap sesuatu berulang-ulang, dan ada bau yang tidak akan pernah Kalila lupakan seumur hidupnya: hujan semalam, tanah, oli, dan besi.
Di rumah sakit, seorang petugas membuka lipatan kain sampai sebatas dada, dan Kalila menunduk, dan yang ia kenali adalah tangan. Bekas luka kecil di buku jari kanan, dari pintu kulkas di rumah kontrakan lama, tiga tahun sebelum mereka menikah, waktu Devan tertawa dan bilang dapur itu memang tidak menyukainya.
Kalila memegang tangan itu. Dingin. Ia menahannya sampai petugas menyentuh bahunya dengan sangat pelan.
"Sudah, Bu."
"Sebentar."
"Bu—"
"Sebentar," kata Kalila, dan suaranya tidak keras sama sekali, dan petugas itu mundur.
Barang-barang dikembalikan pukul sembilan, di sebuah meja panjang, dengan buku tanda terima. Petugas membacakannya satu per satu. Satu jam tangan, kaca pecah. Satu dompet, isi uang delapan puluh tiga ribu. Satu ransel kain. Satu paspor. Satu kotak kacamata. Satu botol air mineral.
"Sudah, Bu. Tolong tanda tangan."
"Mapnya mana?"
Petugas itu mengangkat wajah. "Map apa, Bu?"
"Map cokelat. Tebal. Seratus dua puluh tujuh lembar, bernomor tangan di pojok kanan bawah tiap lembar." Kalila mendengar suaranya sendiri menyebut angka itu dengan tenang yang menakutkan. "Suami saya membawanya. Dia menaruhnya di jok belakang."
"Di daftar tidak ada, Bu."
"Saya tidak tanya daftar. Saya tanya mapnya."
Rania sudah menarik paspor itu dan membukanya di pangkuannya. Ia membalik halaman satu per satu, membalik sampul belakang, mengguncangnya pelan.
"Kak," katanya.
Kalila menoleh.
"Kertas stempelnya tidak ada."
Yang paling sering diingat Kalila dari hari-hari sesudahnya bukan kesedihannya. Kesedihan itu datang belakangan, berbulan-bulan kemudian, waktu ia menemukan sikat gigi Devan masih berdiri di gelas. Yang ia ingat dari hari-hari pertama adalah betapa cepat semuanya diurus.
Surat kematian keluar dalam sehari. Ambulans dari Bandung ke Jakarta disiapkan tanpa diminta. Tenda di halaman rumah ayahnya sudah berdiri sebelum jenazah sampai, lengkap dengan kursi lipat, karpet hijau, dan dua ratus botol air kemasan. Karangan bunga dari mitra, dari bank, dari asosiasi. Semua rapi.
Elo yang mengurus semuanya. Ia tidak tidur dua malam. Orang-orang menyalaminya dan bilang untung ada dia.
Kalila melihatnya dari kursi paling depan, memakai kerudung hitam, tangan di pangkuan. Ia melihat lelaki itu menyalami tamu, menepuk bahu ayahnya, menunduk di depan keranda. Dan ia mengerti sesuatu yang tidak bisa ia buktikan tetapi tidak bisa juga ia lepaskan: orang yang paling sibuk mengurus kematian adalah orang yang paling tahu kapan kematian itu akan terjadi.
Polisi datang hari ketiga. Dua orang, sopan, membawa map biru.
"Kesimpulan sementara, Bu, kegagalan sistem pengereman akibat panas berlebih pada turunan panjang," kata yang berpangkat lebih tinggi. "Ditambah kondisi hujan dan jam mengemudi yang sudah panjang. Ada saksi sopir truk, keterangannya sesuai."
"Minyak remnya baru diganti dua hari sebelumnya," kata Kalila. "Ada formulir servisnya. Bengkelnya Prima Jaya."
"Kami sudah cek, Bu. Bengkelnya menyatakan pekerjaan dilakukan sesuai standar."
"Siapa yang menyatakan?"
"Pemiliknya."
"Pemiliknya siapa?"
Ada jeda yang terlalu panjang. "Datanya di berkas, Bu."
Rania mendorong dirinya maju satu meter. "Boleh kami lihat berkasnya?"
"Nanti kalau sudah lengkap, Mbak."
"Nomor laporannya berapa?"
Petugas itu menyebutkannya. Rania menulis di buku catatannya, lalu mengulang angkanya keras-keras, dan menulis juga jam saat itu, dan nama kedua petugas, dan warna map yang mereka bawa. Petugas yang lebih muda memandanginya dengan tidak nyaman.
"Mobilnya sekarang di mana?" tanya Rania.
"Sudah dikeluarkan dari halaman, Mbak. Diambil pihak keluarga."
"Keluarga yang mana? Saya keluarganya. Kakak saya istrinya."
Petugas itu membuka mapnya, membaca, dan wajahnya berubah sedikit. "Diambil atas nama perusahaan. Ada surat kuasa."
Mobil itu tidak pernah ditemukan lagi. Dua minggu kemudian Rania melacaknya sampai ke sebuah tempat penampungan besi tua di Bekasi, dan yang tersisa di sana cuma catatan timbangan: satu unit sedan, tanpa nomor rangka, sudah dipotong.
Perkara dihentikan pada hari kesembilan. Alasannya tertulis dalam satu kalimat: tidak ditemukan unsur pidana.
Kalila membaca kalimat itu sambil berdiri di ruang tamu rumah ayahnya. Ia membacanya lagi. Kalimat itu tidak berubah.
"Yah," katanya. "Suamiku mati."
"Saya tahu, Nak." Tuan Husain kelihatan tua sepuluh tahun dalam sembilan hari. "Saya juga kehilangan."
"Sembilan hari sebelum dia mati, dia duduk di kursi itu dan memberi tahu Ayah."
Tuan Husain tidak menjawab. Ia memandang keluar jendela, ke tenda yang sudah dibongkar, ke rumput yang mati berbentuk persegi panjang di tempat karpet hijau tadi digelar.
"Jangan mulai," katanya akhirnya.
"Aku belum mulai apa-apa."
"Kalau kau mulai, kau akan menuduh orang yang tidak bisa kau buktikan bersalah, di depan orang-orang yang butuh perusahaan ini tetap berdiri." Ia menoleh, dan matanya merah. "Dan kau akan sendirian, Kalila. Saya tidak sanggup kehilangan dua orang dalam satu bulan."
"Ayah sudah kehilangan yang kedua," kata Kalila. "Ayah cuma belum sadar yang mana."
Ia pulang ke rumah baru itu sore harinya, dengan Rania dan Sutini, untuk mengambil pakaian.
Rumah itu masih berbau cat. Kertas jadwal masih menempel di kulkas, dan di sebelahnya catatan tangan Rania, dan tanggal di pojok atas sudah mulai pudar karena pensil.
Kalila naik ke lantai dua. Ia berlutut di depan brankas. Tangannya gemetar sehingga ia salah memutar dua kali, dan pada kali ketiga tuas itu turun dan pintu besi terbuka.
Sertifikat rumah ada. Buku nikah ada. Kotak beludru berisi kalung pemberian ibunya ada. Amplop berisi uang tunai ada, utuh, tidak berkurang selembar pun.
Dua rangkap map cokelat itu tidak ada.
Kalila duduk di lantai kamar dan menatap ke dalam kotak besi yang terbuka itu untuk waktu yang sangat lama. Sutini berdiri di ambang pintu dengan tangan menutup mulut. Rania yang pertama bicara, dari kursi rodanya di koridor, dan suaranya rata seperti orang membaca hasil hitungan.
"Mereka tidak mengambil uangnya, Kak."
"Iya."
"Pencuri mengambil uang. Yang mengambil cuma kertas itu tahu persis kertas itu ada, tahu di mana, dan tahu angkanya."
Kalila menutup pintu brankas. Bunyinya berat dan pendek.
"Dia tahu angkanya," katanya, "karena Devan menyebutnya di telepon rumah. Malam sebelum berangkat."
Ia mengucapkannya tanpa air mata. Air matanya baru datang malam itu, jam tiga pagi, dan datang seperti sesuatu yang jebol.
Kalila mencoba menghubungi Dini pada hari keenam. Nomornya tidak aktif. Ia menyuruh Sutini bertanya ke warung soto di belakang gedung, dan pemilik warung bilang mbak berkacamata itu sudah lama tidak kelihatan.
Rania yang menemukan sisanya, dua minggu kemudian, dari daftar pegawai yang ia minta lewat teman lamanya di bagian umum. Di kolom keterangan tertulis: mengundurkan diri atas permintaan sendiri, dengan kompensasi.
"Dia menandatangani sesuatu," kata Rania.
"Kau tahu dari mana?"
"Karena kompensasinya tiga kali lipat dari yang wajar, Kak. Orang tidak dibayar semahal itu untuk pergi. Orang dibayar semahal itu untuk diam."
Kalila menyimpan nama Dini Rahayu di halaman pertama buku catatan Rania, di bawah tanggal, dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa suatu hari ia akan mengetuk pintu perempuan itu bukan untuk meminta apa-apa, cuma untuk bilang bahwa laporannya pernah ada.
Hujan turun waktu mereka menutup makam. Tanah merah menempel di sandal semua orang. Kalila berdiri paling akhir, sampai penggali kubur selesai, sampai payung-payung mulai bergerak menjauh.
Dari balik pagar pemakaman, di bawah pohon kamboja yang basah, ada seorang laki-laki berdiri sendirian. Tidak memakai payung. Tidak mendekat. Ia berdiri sampai Kalila menoleh, dan ketika Kalila menoleh, ia menunduk sedikit — bukan sapaan, lebih seperti permintaan maaf karena berada di sana — lalu berbalik dan pergi.
Kalila tidak memanggil. Ia tidak punya tenaga untuk memanggil siapa pun.
Ketika mereka sampai kembali di rumah baru itu, sudah ada dua mobil bak terbuka di halaman. Orang-orang bergerak masuk keluar, membawa kardus, membungkus lampu, menggulung karpet yang belum sempat dipakai.
Wisnu berdiri di teras dengan papan jalan di tangan, sehat walafiat, tidak demam sama sekali.
"Sudah kami siapkan, Bu," katanya. "Barang Ibu diantar ke rumah Bapak sore ini. Kamar Ibu sudah dirapikan seperti dulu."
Kalila berhenti di tengah halaman. Hujan sudah berhenti, dan aspal mengeluarkan uap.
"Siapa yang menyuruh?" tanyanya.
Wisnu tersenyum, dan senyumnya tetap tidak sampai ke mata.
"Keluarga, Bu."
Bersambung.