Mobil masuk pelan ke halaman, lalu berhenti. Mesin dimatikan. Beberapa saat tidak ada yang turun.
Kalila memandang pagar besi yang baru dicat hitam. Bau catnya masih tercium sampai ke dalam mobil, tajam, menusuk pangkal hidung.
"Sudah sampai, Non," kata pak sopir.
"Iya."
Ia tidak bergerak. Tangannya masih memegang tali tas yang sama, tas yang ia bawa waktu pergi dari rumah ini sebagai pengantin, delapan bulan yang lalu.
Delapan bulan. Ia menghitungnya lagi di kepala, seolah kalau dihitung ulang angkanya bisa berubah.
Pintu rumah terbuka. Sutini keluar setengah berlari, kain lapnya masih tersangkut di pinggang.
"Non Kalila."
Sutini membuka pintu mobil, menariknya keluar, memeluknya di halaman, di depan tukang kebun, di depan siapa saja. Bau Sutini seperti biasa: bawang goreng, minyak kelapa, sedikit sabun cuci.
Kalila tidak menangis. Ia sudah kehabisan itu di rumah Devan, di ruang tamu yang penuh orang, di antara karangan bunga yang tulisannya salah eja namanya.
"Ayah di dalam?" tanyanya.
"Di kantor. Nanti malam pulang."
"Rania?"
"Di kamarnya dari pagi. Tidak mau makan."
Kalila mengangguk. Ia melepaskan diri dari pelukan itu pelan-pelan, supaya tidak menyakiti.
"Barang saya?"
Sutini menunduk. "Sudah masuk semua, Non. Sudah dirapikan."
Ada sesuatu di cara Sutini menjawab. Terlalu cepat. Terlalu hafal.
Kalila naik ke lantai dua. Tangga kayu itu masih berbunyi di anak tangga kelima, seperti dulu. Koridornya masih berbau kayu dan kapur barus.
Ia membuka pintu kamarnya.
Lalu berhenti di ambang.
Kamarnya kembali seperti sebelum ia menikah. Persis. Tempat tidurnya digeser ke posisi lama, menempel dinding utara, di bawah jendela. Gorden kuning yang dulu ia pakai waktu SMA sudah dipasang lagi, disetrika, wangi pelembut. Rak bukunya diisi buku-buku sekolahnya, urut tinggi rendah. Boneka kelinci yang sudah kusam duduk di atas bantal.
Bau cat baru. Dindingnya dicat ulang. Warna krem yang sama, tapi baru.
Tidak ada foto pernikahan. Tidak ada kotak perhiasan pemberian Devan. Tidak ada jam dinding yang mereka beli berdua di pasar loak dekat stasiun, yang bunyinya kasar dan Devan bilang bunyinya seperti orang mengunyah.
Tidak ada apa-apa dari delapan bulan itu.
Kalila berjalan masuk. Ia membuka lemari. Baju-bajunya digantung menurut warna. Semua baju lamanya. Baju-baju yang ia pakai sebagai istri tidak ada di sana.
Ia menutup lemari itu pelan sekali, seakan kalau ditutup keras isinya akan tahu bahwa ia marah.
Ia berjalan ke meja belajar. Laci pertama: pensil, penghapus, rautan. Laci kedua: buku catatan sekolah. Laci ketiga, yang dulu ia pakai menyimpan surat-surat, kosong dan dilap sampai mengilap.
Dulu, di rumah Devan, laci itu ada padanannya. Devan yang membuatnya. Lelaki itu memasang sekat kayu di dalam laci meja rias, sendiri, pakai gergaji pinjaman, dan hasilnya miring. Kalila menertawakannya selama seminggu. Devan bilang, "Nanti kalau sudah tua, kamu akan kangen sama laci yang jelek ini."
Ia menekan gagang laci sampai jarinya putih.
"Sutini," panggilnya dari atas.
Sutini datang, berdiri di pintu, tangannya digenggam sendiri di depan perut.
"Siapa yang mengatur ini?"
"Tuan, Non."
"Ayah bilang apa?"
Sutini menelan ludah. "Tuan bilang, kembalikan seperti dulu. Supaya Non tidak sedih terus kalau lihat barang-barang itu."
"Barangnya ke mana?"
"Ada di gudang belakang. Sebagian." Sutini menunduk lagi. "Sebagian dibawa orang kantor."
"Orang kantor."
"Pak Elo yang urus."
Nama itu masuk ke kamar dan duduk di sana.
Kalila memandang gorden kuning itu. Kain yang sama, jahitan yang sama, dan ia merasa seperti dipulangkan ke dalam badan yang sudah tidak muat.
"Terima kasih, Sutini. Tolong tinggalkan saya sebentar."
Sutini keluar. Pintu ditutup.
Kalila duduk di tepi tempat tidur. Kasurnya empuk di tempat yang salah. Ia tidak menangis. Ia hanya duduk, dan di kepalanya satu kalimat berputar terus: mereka menghapusnya.
Bukan menghapus Devan. Devan sudah dihapus lebih dulu, di jalan itu, dan polisi menutup perkaranya dalam sebelas hari.
Mereka menghapus bahwa Kalila pernah menjadi istri.
Ketukan di pintu. Bukan ketukan Sutini.
"Masuk."
Roda. Bunyi roda kursi Rania di lantai kayu, bunyi yang ia kenal sejak umur tujuh tahun.
Rania masuk, memutar kursinya dengan satu tangan, tangan yang lain memangku sesuatu yang dibungkus kain batik.
Adiknya memandang kamar itu sekali, cepat, seperti orang memeriksa.
"Sudah lihat?" tanya Rania.
"Sudah."
"Aku bilang ke ayah itu ide buruk. Ayah bilang aku tidak mengerti."
"Ayah selalu bilang begitu."
"Aku tahu." Rania mendorong kursinya lebih dekat. "Makanya aku tidak minta izin."
Ia meletakkan bungkusan batik itu di pangkuan Kalila.
Kalila membukanya.
Sebuah kemeja biru muda, dilipat rapi. Kerahnya sudah tipis. Di saku dadanya ada noda tinta kecil, bulat, yang tidak pernah hilang meski dicuci berapa kali.
Di bawah kemeja itu, buku tulis bersampul cokelat. Dan selembar kertas belanja: gula, telur, minyak, dan di bawahnya tulisan tangan Devan, miring dan buru-buru, "beli bunga juga, dia suka yang murah".
Kalila menutup mulutnya.
"Mereka datang jam sepuluh pagi," kata Rania tenang. "Empat orang. Bawa dus. Aku dengar dari kamarku. Aku masuk duluan ke gudang, ambil yang bisa kuambil, kutaruh di bawah kasurku."
"Rania."
"Kalau ketahuan, paling ayah marah." Rania mengangkat bahu. "Ayah marah ke aku itu tiga hari. Ke kamu bisa tiga tahun."
Kalila menekan kemeja itu ke wajahnya. Baunya sudah hampir hilang. Tinggal bau lemari dan sedikit sabun.
"Terima kasih," katanya, suaranya pecah di tengah.
"Jangan bilang terima kasih. Aku tidak melakukannya untuk kamu." Rania melihat ke jendela. "Aku suka Devan. Dia satu-satunya orang di rumah ini yang ngobrol sama aku, bukan sama kursiku."
Malam itu tuan Husain pulang jam delapan.
Mereka makan di meja panjang. Sup, ayam, sambal terasi yang wanginya memenuhi ruangan. Kalila menyuap tiga kali lalu berhenti.
"Kamu harus makan," kata ayahnya.
"Iya, Yah."
"Badanmu tinggal tulang."
"Iya, Yah."
Tuan Husain meletakkan sendoknya. "Ayah sudah pikirkan. Kamu tidak usah ke mana-mana dulu. Di rumah saja. Nanti kalau sudah setahun, kita lihat."
"Kita lihat apa?"
Ayahnya tidak menjawab langsung. Ia menyeka mulutnya dengan serbet.
"Kamu baru dua puluh tahun, Kalila. Dua puluh. Hidupmu belum apa-apa."
Di kepala Kalila muncul kata itu, kata yang orang-orang pakai di rumah duka dengan suara direndahkan, seolah kata itu penyakit. Janda. Dua puluh tahun.
"Jadi ayah mau bilang, aku masih bisa dinikahkan lagi."
"Ayah tidak bilang begitu."
"Tapi ayah pikir begitu."
Rania menusuk ayamnya dengan garpu, keras, sampai piringnya berbunyi.
Bel pagar berbunyi. Sutini keluar. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan wajah datar yang dipaksakan.
"Pak Elo, Tuan."
Elo masuk membawa map dan sekeranjang buah. Kemejanya rapi jam delapan malam. Ia selalu rapi di jam yang salah.
"Maaf mengganggu makan malam." Suaranya lembut. "Saya cuma antar ini."
Ia meletakkan map itu di meja, di dekat tangan Kalila. Tidak di dekat tangan ayahnya.
"Surat-surat," katanya. "Klaim asuransi, penutupan rekening, balik nama. Sudah saya urus semua. Kalila tinggal tanda tangan di yang ada tandanya."
"Kamu mengurus rekening suami saya," kata Kalila.
"Almarhum," Elo mengoreksi, pelan, sopan, dan koreksi itu terasa seperti tangan yang menekan tengkuknya. "Iya. Supaya tidak merepotkan keluarga."
"Saya tidak minta."
"Saya tahu." Ia tersenyum. "Karena itu saya kerjakan duluan."
Tuan Husain mengangguk-angguk. "Bagus. Terima kasih, Lo. Kamu memang bisa diandalkan."
Kalila memandang map itu. Kertasnya rapi. Sudut-sudutnya disamakan. Ada orang yang menyusunnya dengan sabar, satu per satu.
Bukan cinta. Ia sudah lama berhenti menyebutnya begitu. Ini pekerjaan. Ada orang yang setiap pagi bangun, minum kopi, lalu memutuskan hal-hal tentang hidupnya, dan sore harinya memasukkan hasil keputusan itu ke dalam map.
"Saya baca dulu," kata Kalila.
Senyum Elo tidak berubah. "Silakan. Tidak buru-buru."
Ia pamit. Di pintu, ia berhenti sebentar.
"Kalila," katanya. "Rumah ini sepi sekarang. Kalau butuh apa-apa, bilang saja."
Setelah pintu tertutup, Rania berkata pelan, tanpa mengangkat kepala dari piringnya, "Dia yang menyuruh mereka mengecat kamarmu."
"Kamu tahu dari mana?"
"Aku dengar dia bilang ke Sutini di telepon. Warna krem. Dia sebut warnanya."
Malam itu Kalila tidak bisa tidur.
Di koridor, di kursi rotan dekat tangga, pak Adi duduk dengan senter di pangkuan. Ayahnya sudah dua kali menegur pak Adi karena hasutan Elo, tapi pak Adi masih di situ.
Kalila keluar sebentar, membawakan teh.
"Tidak usah repot, Non."
"Bapak masih di sini."
"Masih."
"Ayah marah dua kali."
Pak Adi menerima gelasnya dengan dua tangan. "Tiga, Non. Yang ketiga tadi sore."
"Terus kenapa Bapak masih di sini?"
Lelaki itu meniup tehnya. "Karena yang menyuruh saya pulang itu bukan yang jaga di koridor ini malam-malam."
Kalila tidak tahu harus menjawab apa. Ia kembali ke kamar.
Kalila membuka gorden kuning itu sedikit.
Di seberang jalan, di bawah pohon asam, ada motor berhenti. Lampunya mati. Seseorang duduk di atasnya, menghadap rumah, tidak bergerak.
Ken Arashi.
Ia sudah di sana sejak entah kapan. Mungkin sejak sore.
Kalila tidak melambai. Ken juga tidak. Tapi sosok itu mengangkat tangannya sedikit, setinggi dada, lalu menurunkannya lagi.
Kalila menutup gorden. Ia menyalakan lampu meja, dan membiarkannya menyala, supaya orang di seberang jalan tahu ia belum tidur.
Ia membuka buku tulis cokelat milik Devan. Halaman pertama kosong. Halaman kedua kosong.
Halaman ketiga ada angka-angka. Tanggal. Nama gudang. Dan satu kalimat di pinggir, ditulis dengan pensil, hampir terhapus: "tanya Dini lagi."
Kalila membaca nama itu tiga kali.
Ia tidak kenal siapa pun bernama Dini.
Pagi-pagi sekali, waktu ia turun, Sutini sedang menyapu teras.
"Non," kata Sutini, menoleh ke kiri kanan dulu. "Semalam ada yang datang ke pagar. Perempuan. Habis magrib."
"Siapa?"
"Tidak mau sebut nama. Katanya orang kantor. Katanya dia mau ketemu Non, tapi jangan sampai ada yang tahu."
Tangan Kalila mendingin.
"Dia bilang apa lagi?"
"Dia bilang nanti dia datang lagi. Sore ini."
Bersambung.