Seharian itu Kalila melihat jam.
Ia mencoba membaca buku tulis Devan lagi, tapi matanya tidak masuk ke barisnya. Angka-angka itu tidak berarti apa-apa untuknya. Tanggal, nomor, huruf singkatan, dan satu nama perempuan yang ditulis dengan pensil.
Jam empat, Rania mengetuk pintunya.
"Ayo turun."
"Ke mana?"
"Ke belakang. Aku sudah atur."
Kalila mengerutkan kening. "Atur apa?"
"Kamu pikir orang bisa masuk lewat pagar depan?" Rania memutar kursinya. "Ada pak Adi di dalam, ada satpam di pos, ada tukang kebun yang mulutnya bocor. Aku suruh Sutini bilang ke perempuan itu, lewat pintu samping, yang dekat kandang ayam bekas."
"Rania."
"Dan aku minta pak satpam benerin rantai kursiku di pos depan. Dia sedang di sana sekarang, membalikkan kursi cadangan. Lima belas menit dia tidak lihat pagar samping."
Kalila memandang adiknya, tujuh belas tahun, rambut diikat asal, dan merasa dirinya sendiri yang lebih muda.
"Kamu tidak takut?"
"Takut." Rania mendorong roda. "Tapi aku lebih tidak suka kalau ada yang mengurus hidupku sambil menyuruhku diam."
Mereka menunggu di belakang, di dekat pohon jambu, tempat cucian dijemur. Bau sabun dan bau tanah basah. Seekor kucing tidur di atas bak.
Pukul setengah lima, Sutini datang membawa seorang perempuan.
Umurnya mungkin tiga puluhan. Kerudungnya cokelat, bajunya seragam kantor yang sudah dilepas papan namanya, tinggal benang di dadanya. Tangannya memeluk map plastik bening ke dada seperti orang menahan angin.
"Ibu Kalila," katanya. Suaranya pelan, tapi tidak gemetar.
"Kalila saja."
"Nama saya Dini. Saya di bagian penerimaan barang. Gudang dua."
Kalila menahan napas.
"Devan menulis nama kamu di bukunya," katanya.
Wajah Dini berubah. Bibirnya menekan ke dalam. Matanya merah dalam dua detik, tapi ia tidak menangis.
"Bukunya masih ada?"
"Masih."
"Alhamdulillah." Dini menghela napas panjang, dan bahunya turun beberapa senti. "Saya kira semuanya sudah hilang."
Rania menunjuk bangku kayu di bawah jambu. "Duduk, Mbak. Berdiri begitu malah kelihatan dari jalan."
Dini duduk. Ia meletakkan map plastik itu di pangkuannya dan tidak melepasnya.
"Saya minta maaf datang begini," katanya. "Saya sudah tiga kali sampai depan pagar sejak pemakaman. Dua kali saya balik lagi."
"Kenapa?"
"Karena saya takut." Dini memandang tangannya sendiri. "Dan karena saya pikir, kalau saya cerita, jangan-jangan saya cuma menambah susah Ibu."
"Panggil Kalila."
"Iya."
Kalila duduk di ujung bangku yang lain. "Cerita saja dari awal. Saya tidak tahu apa-apa."
Dini mengangguk. Ia menarik napas seperti orang yang mau menyelam.
"Dua tahun lalu saya buat laporan," katanya. "Ada barang masuk yang tidak ada barangnya."
"Maksudnya?"
"Truk datang, surat jalan ada, tanda tangan ada, bayarannya keluar. Tapi bak truknya kosong. Saya yang menghitung di gudang, jadi saya yang tahu." Ia menggeleng pelan. "Awalnya saya kira salah tulis. Saya tanya ke atasan. Katanya sudah biasa, nanti disusulkan. Bulan depan begitu lagi. Bulan depannya lagi begitu lagi."
"Berapa banyak?"
"Kalau dikumpulkan setahun." Dini diam sebentak. "Bisa untuk beli rumah, Bu. Beberapa rumah."
Rania bersiul pelan. Kalila meliriknya.
"Saya tulis laporan," lanjut Dini. "Saya lampirkan foto bak truk. Saya kasih ke bagian kepatuhan. Saya tanda tangan pakai nama saya sendiri, karena saya pikir, kalau saya benar kenapa harus sembunyi."
"Lalu?"
"Saya masih ingat harinya," katanya. "Saya pakai baju paling rapi. Saya datang jam tujuh, padahal kantornya buka jam delapan. Saya duduk di kursi depan ruang kepatuhan, dan saya baca ulang laporan saya sampai hafal, takut ditanya."
"Ditanya apa?"
"Tidak ditanya apa-apa." Dini menggeleng. "Saya kasih map, mereka bilang terima kasih, saya pulang. Saya bahkan sempat senang, Bu. Saya telepon suami saya di jalan, saya bilang, sudah, sudah saya laporkan."
"Lalu?"
"Dua minggu kemudian saya dipindah. Dari penghitungan ke bagian kebersihan dokumen. Gaji sama, tapi tidak ada yang saya hitung lagi." Ia tersenyum tipis, senyum yang tidak ada lucunya. "Atasan saya bilang, ini bukan hukuman, ini penyegaran."
"Kamu protes?"
"Sekali. Saya tanya, apa ini ada hubungannya dengan laporan saya." Dini memegang lututnya sendiri. "Yang menjawab bilang, 'Jangan bikin hubungan yang tidak ada, Din. Nanti kamu sendiri yang capek.'"
Kalila merasakan sesuatu naik di tenggorokannya. Kalimat itu bentuknya nasihat. Isinya bukan.
"Siapa yang tanda tangan pemindahannya?"
Dini mengangkat wajah. Ia memandang Kalila lama sekali sebelum menjawab.
"Pak Elo."
Nama itu jatuh di halaman belakang, di antara jemuran dan bau sabun, dan tidak ada yang mengambilnya.
"Waktu itu dia masih kepala bagian umum," kata Dini. "Sekarang beliau lebih tinggi."
Kalila menatap tanah. Ada semut berbaris di dekat kakinya, rapi, tanpa ragu.
"Terus Devan?" tanyanya.
"Suami Ibu datang ke gudang delapan bulan lalu."
"Delapan bulan."
"Iya. Persis setelah menikah." Dini menunduk. "Beliau masuk daftar orang yang boleh lihat laporan lama, karena jabatannya berubah setelah menikah dengan Ibu. Beliau baca arsip kepatuhan. Beliau menemukan laporan saya di sana, masih ada nomornya, tapi tidak ada tindak lanjutnya. Kosong. Kolom tindak lanjutnya kosong."
Kalila menutup matanya sebentar.
Ia ingat Devan pulang malam-malam dalam bulan-bulan itu. Ia ingat menanyai suaminya, dan Devan menjawab, "kerjaan, biasa," lalu mengganti topik ke hal-hal kecil, ke bunga murah, ke jam dinding pasar loak.
Devan tahu. Devan tahu dan tidak memberitahunya.
Marah dan sedih datang bersamaan, saling mendorong di dadanya.
"Beliau memanggil saya," kata Dini. "Di kantin, jam satu, waktu orang sedikit. Beliau tanya, apa saya masih punya salinan foto truknya. Saya bilang masih. Beliau minta. Saya kasih."
"Kamu percaya sama dia?"
"Tidak juga," jawab Dini jujur. "Saya pikir dia menantu pemilik. Saya pikir dia mau menutup, bukan membuka."
"Lalu kenapa kamu kasih?"
Dini diam sebentar. Angin menggerakkan jemuran di belakang mereka.
"Karena beliau bilang satu kalimat," katanya. "Beliau bilang, 'Kalau nanti saya diam juga, tolong laporkan saya sekalian.'"
Kalila menekan dadanya dengan telapak tangan.
"Setelah itu?"
"Beliau bikin laporan baru. Laporan saya dijadikan lampiran. Dia tambah data pembayaran, yang saya tidak bisa akses. Dia daftarkan resmi. Ada nomor terimanya." Dini akhirnya membuka map plastiknya. Tangannya bergetar sedikit. "Ini."
Selembar kertas kecil. Bukti terima dokumen internal. Ada nomor, tanggal, stempel, dan tanda tangan petugas penerima.
Tanggal itu tiga minggu sebelum Devan meninggal.
Kalila memegang kertas itu dengan dua tangan. Tipis sekali. Rasanya tidak masuk akal bahwa benda setipis ini bisa membunuh orang.
"Aslinya di mana?"
"Laporannya masuk brankas kepatuhan," kata Dini. "Devan bilang, satu salinan beliau simpan sendiri."
"Brankas kosong," kata Kalila.
Dini mengangguk pelan. "Saya dengar."
"Salinan yang di rumah kami juga tidak ada. Rumah itu diberesi orang kantor sebelum saya kembali."
Rania mengangkat kepala. "Berarti tinggal satu tempat."
Dini melihat ke arah Rania, agak kaget, seperti baru sadar bahwa gadis di kursi roda itu ikut berpikir, bukan sekadar duduk.
"Betul, Dik," katanya. "Kalau dokumen didaftarkan, nomornya masuk buku induk. Bukunya tidak bisa dibuang, karena itu dipakai audit tiap tahun. Yang bisa hilang isinya. Nomornya susah hilang."
"Buku induk di mana?" tanya Kalila.
"Di arsip. Lantai bawah gedung lama. Yang lembap itu."
"Siapa yang boleh masuk?"
"Orang arsip. Auditor kalau ada surat." Dini menutup map plastiknya. "Dan orang yang kerja di sana."
Kalila memandang kertas bukti terima di tangannya.
Di kepalanya, sesuatu bergeser. Bukan rencana. Belum. Cuma satu pintu yang tadinya tidak terlihat, sekarang terlihat.
"Kenapa kamu datang ke saya?" tanyanya. "Kenapa bukan ke polisi?"
"Sudah," kata Dini.
Kalila mengangkat wajah.
"Saya ke polisi empat hari setelah Devan meninggal. Saya bilang saya punya keterangan. Saya duduk dua jam." Dini menatap lurus. "Yang mencatat keterangan saya baik. Dia nulis semua. Besoknya perkaranya ditutup. Katanya kecelakaan tunggal, rem blong."
"Kamu percaya itu?"
"Saya tidak tahu apa yang saya percaya, Bu." Suaranya akhirnya bergetar. "Saya cuma tahu, saya lapor dua kali dalam hidup saya. Yang pertama saya dipindah. Yang kedua orangnya mati."
Ia menutup wajahnya sebentar, lalu menurunkan tangan lagi, cepat, malu.
"Maaf."
Rania mendorong kursinya mendekat dan meletakkan tangan di lengan Dini. Tidak berkata apa-apa. Cuma ditaruh di situ.
Kalila menunggu sampai napas perempuan itu kembali.
"Dini," katanya. "Kalau saya minta kamu berhenti sekarang, kamu berhenti?"
Dini mengangkat kepala. "Ibu mau saya berhenti?"
"Saya tanya dulu."
"Tidak," kata Dini. "Saya tidak berhenti. Saya cuma jadi sendirian lagi."
Kalila mengangguk. Ia melipat kertas bukti terima itu dan memasukkannya ke saku dalam bajunya, bukan ke tas.
"Dini, dengar dulu," katanya. "Saya tidak mau kamu menganggap saya bisa apa-apa. Saya tidak punya jabatan. Saya tidak punya uang sendiri. Ayah saya pemilik, tapi ayah saya percaya sama orang itu lebih dari percaya sama saya."
"Saya tahu, Bu."
"Terus kenapa kamu tetap datang?"
Dini berpikir sebentar. Di kejauhan ada suara azan magrib mulai, dari masjid dua blok.
"Karena selama ini yang saya lawan itu kertas," katanya. "Kertas dibalas kertas. Kertas bisa hilang. Tapi Ibu bukan kertas. Ibu orang yang tidak bisa mereka pindahkan ke bagian lain."
Kalila menatapnya.
"Dan karena," Dini menambah, lebih pelan, "kalau saya diam sekarang, berarti benar bahwa yang perlu dilakukan cuma menunggu orangnya capek. Saya tidak mau itu yang benar."
Kalila menarik napas dalam-dalam. Udara sore terasa dingin di dadanya.
"Kalau begitu jangan sendirian," katanya.
Bersambung.