Minggu pagi, jalan ke atas masih basah.
Mobil berhenti di mulut jalan tanah karena selebihnya tidak muat. Kalila turun. Rania turun lebih dulu, dibantu Sutini memindahkan kursinya, lalu menolak dibantu untuk sisanya.
"Aku bisa," kata Rania.
"Tanahnya becek."
"Aku bisa," ulangnya, dan mendorong rodanya sendiri sampai roda depannya masuk lubang, lalu ia mengumpat pelan, mundur, cari jalur lain, dan lewat.
Kebun mangga Bibi Mai terbentang di lereng landai. Pohon-pohonnya tua, batangnya hitam, daunnya rapat. Bau daun mangga yang lembap, bau tanah, bau asap sisa bakaran ranting dari kemarin.
Bibi Mai menyambut di pondok, tangannya masih berkapur dari mengaduk semen.
"Masya Allah, cantiknya," katanya, memegang pipi Kalila dengan punggung tangan supaya tidak kena kapur. "Sudah makan? Ada nasi jagung."
"Belum, Bi."
"Nah. Makan dulu. Di sini tidak ada yang boleh kerja sebelum makan."
"Bibi yang punya kebun ini?"
"Yang punya itu mbahnya Ken, terus turun ke saya, terus nanti entah ke siapa." Bibi Mai menunjuk ke lereng dengan dagunya. "Pohon yang paling ujung itu umurnya lebih tua dari saya. Buahnya kecil-kecil, asam, tidak laku. Tapi tidak ada yang berani menebang."
"Kenapa?"
"Karena pohon itu yang dulu bikin keluarga ini makan." Ia tertawa. "Kalau ditebang, nanti dia marah."
Rania mendorong kursinya ke bawah pohon terdekat dan menengadah. Daun-daun bergerak. Ada bunyi burung yang Kalila tidak tahu namanya.
Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, Kalila menghirup udara sampai penuh dan tidak buru-buru mengeluarkannya.
Di ujung kebun, di tanah datar dekat mata air, ada rangka bangunan berdiri.
Kolomnya baja tipis, disusun kotak-kotak. Sebagian sudah terpasang kaca, sebagian masih kosong. Di sekelilingnya ada tumpukan kayu, ember, dan lembar-lembar kaca berdiri disandarkan di rak, ditutupi kain.
Bau di dekat situ berbeda: serbuk gergaji, dempul, dan aroma tajam bahan pengunci kaca.
Seorang lelaki jongkok di lantai beton, menggambar di kertas besar yang ditindih batu di empat sudutnya. Kemejanya digulung sampai siku. Ada pensil di belakang telinganya dan satu lagi di mulutnya.
Ia mengangkat wajah.
"Awas," katanya, buru-buru mengambil pensil dari mulutnya. "Jangan lewat kiri. Ada paku."
Kalila berhenti. "Terima kasih."
"Faris." Ia berdiri, membersihkan tangan di celana, lalu ragu, lalu menurunkan tangannya lagi karena tetap kotor. "Yang bikin ini."
"Kalila."
"Saya tahu." Ia menyeringai kecil. "Bukan karena saya kepo. Bibi Mai dari kemarin cerita, tamu Minggu, tamu Minggu."
Rania mendorong kursinya mendekat, roda depannya berbunyi di beton.
"Rania," katanya.
"Faris."
"Betonmu miring."
Faris mengerjap. "Apa?"
"Beton ini." Rania menunjuk ke lantai. "Dari pintu ke tengah, miring. Aku merasakannya di tangan. Kalau aku lepas rem, aku jalan sendiri."
Kalila menegur, "Rania."
"Tidak apa-apa," kata Faris cepat. Ia sudah jongkok lagi, tangannya menempel di lantai, mengukur dengan telapak. "Dia benar. Ini kemiringan buang air. Saya bikin satu persen supaya air tidak menggenang."
"Buat aku itu bukan satu persen," kata Rania. "Buat aku itu turunan."
Faris diam. Lalu ia mengambil pensil dari belakang telinganya dan menulis di pinggir gambarnya.
"Boleh saya tanya?"
"Tanya."
"Kalau miringnya saya buang ke satu sisi, jadi arah masuknya rata, tapi sisi kanannya yang miring. Itu lebih baik?"
"Lebih baik."
"Ambang pintunya?"
"Jangan ada."
"Sama sekali?"
"Sama sekali." Rania mendorong dirinya maju mundur sedikit, menunjukkan. "Dua senti pun aku harus angkat badan. Sepuluh kali sehari, itu dua puluh senti yang tidak perlu."
Faris menulis lagi. Cepat. Ia tidak menoleh ke Kalila untuk meminta izin, tidak tertawa kecil seperti orang dewasa yang sedang mengalah pada anak-anak. Ia mencatat seperti orang yang baru dikasih data.
"Ada lagi?"
Rania memandangnya, agak curiga. "Kamu benar-benar mau dengar?"
"Saya bayar tukang harian," kata Faris. "Kalau saya salah sekarang, saya bongkar minggu depan pakai uang saya sendiri. Jadi iya, saya benar-benar mau dengar."
Rania menyebut sembilan hal.
Kalila berdiri di samping dan mendengarkan adiknya bicara lebih banyak dalam sepuluh menit daripada di rumah selama sebulan. Lebar pintu. Arah putaran daun pintu. Tinggi gagang. Kenapa lantai kasar lebih baik dari lantai licin waktu hujan. Kenapa keran yang harus diputar itu menyusahkan, dan yang tinggal ditekan tidak.
Faris menulis semuanya. Kertasnya penuh di pinggir.
Kalila melihat ke arah pondok.
Ken berdiri di sana.
Ia bersandar di tiang, tangannya dilipat, memandang ke arah mereka. Ketika mata mereka bertemu, ia tidak melambai dan tidak mendekat. Ia hanya mengangguk sekali, lalu memalingkan wajah ke pohon-pohon, seperti orang yang tugasnya melihat ke arah lain.
Kalila menunggu. Ken tidak datang.
Sesuatu yang tidak enak melintas di dadanya, dan ia tidak tahu namanya, jadi ia mengabaikannya.
"Ini nanti jadi apa?" tanyanya kepada Faris.
"Ruang kaca."
"Iya, tapi buat apa?"
Faris berdiri, menepuk celananya. "Awalnya buat bibit. Bibi Mai mau semai mangga, tapi anginnya kencang di lereng ini, bibit kecil mati kena angin. Jadi saya bikin rumah kaca."
"Awalnya."
"Terus Mas Ken minta ditambah." Faris menunjuk ke sudut, ke bagian yang masih rangka. "Bagian ini dindingnya bukan kaca. Bata. Di bawahnya ada bak beton, kedap air, tutupnya di lantai."
"Untuk apa?"
Faris memandangnya. Ia tidak buru-buru menjawab.
"Dia bilang untuk menyimpan barang yang tidak boleh basah," katanya. "Saya tidak tanya lebih jauh."
"Kamu tidak penasaran?"
"Penasaran." Ia mengangkat bahu. "Tapi saya arsitek. Orang minta ruangan, saya tanya ruangan itu harus tahan apa. Bukan tanya isinya nanti apa. Kalau tiap klien saya interogasi, saya tidak punya klien."
Kalila melihat ke lantai, ke garis persegi samar yang menandai tutup bak itu.
Bukan brankas. Brankas bisa dibuka orang kantor jam sepuluh pagi.
Ini lubang di bawah kebun, di tanah orang lain, yang tidak ada dalam daftar mana pun.
"Boleh saya lihat dalamnya?"
"Belum ada dalamnya. Baru cor kemarin." Faris tersenyum. "Dua minggu lagi. Datang lagi saja."
Bibi Mai memanggil dari pondok. Mereka makan siang di sana, di tikar, di bawah pohon yang buahnya masih pentil. Nasi jagung, ikan asin, sambal terasi, lalap daun singkong. Bau asap dari tungku.
Ken makan di ujung, agak jauh, sambil bicara dengan tukang tentang harga pasir.
Kalila memperhatikannya sekali. Ken tidak pernah menatapnya lebih dari sedetik seharian itu.
Selesai makan, ia sengaja berdiri waktu Ken berdiri, dan mengikutinya ke belakang pondok, ke tempat cucian piring.
"Mas Ken."
Ken menaruh piringnya di ember. "Iya."
"Terima kasih."
"Tidak usah."
"Kenapa Mas tidak bilang sendiri? Kenapa lewat Sutini?"
Ken menyiram tangannya dengan air dari gayung. Air itu berbunyi di ember seng.
"Karena orang di seberang rumahmu itu diperhatikan," katanya. "Kalau saya berhenti diperhatikan, itu justru buruk. Selama mereka sibuk melihat saya, mereka tidak melihat Sutini."
Kalila terdiam.
"Itu bukan alasan yang sebenarnya," katanya kemudian.
Ken mengibaskan tangannya sampai kering. Untuk pertama kalinya hari itu ia menatapnya lebih dari sedetik.
"Bukan," akunya.
Lalu ia mengambil sandalnya dan pergi ke arah tukang, dan tidak menjelaskan apa-apa.
"Mas Ken kenapa?" tanya Rania pelan, waktu Kalila kembali ke tikar.
"Tidak tahu."
"Dia yang menyuruh kita ke sini."
"Aku tahu."
Sore, waktu mobil sudah menunggu di bawah, Faris mengantar sampai mulut jalan tanah, membawakan gambar gulung Rania yang tadi ia sobek dari buku sketsanya.
"Ini punyamu," katanya kepada Rania.
Rania membukanya. Gambar denah, dengan garis-garis jalur kursi roda, ditandai panah dan angka.
"Kenapa dikasih ke aku?"
"Karena itu ide kamu. Saya cuma yang gambar." Faris menggaruk lehernya. "Dan kalau ada yang salah nanti, saya mau bisa bilang, 'konsultannya yang salah.'"
Rania tertawa. Suara tawa itu asing di telinga Kalila, karena sudah lama tidak terdengar.
Lalu tinggal mereka berdua sebentar di jalan tanah, Kalila dan Faris, sementara Sutini membantu Rania ke mobil.
"Saya turut berduka," kata Faris. "Saya belum bilang dari tadi."
"Kenapa belum?"
"Karena tadi kamu sedang senang lihat adikmu ngomel soal beton." Ia memandang ke bawah, ke sepatunya yang berlumpur. "Saya pikir sayang kalau dipotong."
Kalila menahan sesuatu di tenggorokannya.
Sudah lima puluh hari orang menyapanya dengan wajah yang disetel. Sudah lima puluh hari kalimat pertama yang ia terima selalu tentang kematian.
"Terima kasih," katanya.
"Boleh saya tanya satu hal?" katanya.
"Boleh."
"Adikmu itu, dari mana dia belajar semua tadi?"
"Dari hidupnya."
Faris mengangguk, lama. "Saya empat tahun kuliah. Ada mata kuliah tentang itu. Dua pertemuan. Dua." Ia mendengus pada dirinya sendiri. "Dan tadi saya dikoreksi sembilan kali dalam sepuluh menit oleh anak yang tidak pernah masuk kelas saya."
"Kamu tersinggung?"
"Malu," katanya jujur. "Tersinggung itu kalau saya benar. Saya tidak benar."
Kalila memandanginya sebentar lebih lama dari yang ia niatkan.
"Datang lagi kalau dua minggu lagi," kata Faris. "Kacanya sudah dipasang semua. Kalau sore, matahari masuk dari barat, seluruh ruangan jadi oranye. Saya sudah lihat waktu ngecek kaca contoh. Bagus sekali. Saya berdiri di situ sepuluh menit sendirian seperti orang bodoh."
Kalila tertawa kecil. Kaget sendiri karena bisa.
Di dalam mobil, ia menoleh ke belakang sekali.
Faris sudah kembali naik ke kebun. Dan di antara pohon-pohon, Ken berdiri, memandang ke arah mobil, tangannya di saku, tidak bergerak, sampai jalan itu berbelok dan pohon-pohon menutupnya.
Bersambung.