Jam empat pagi, dapur belakang rumah Husain adalah tempat paling jujur di seluruh bangunan itu.
Sutini duduk di bangku kayu dekat tungku, memegang gelas kopi yang sudah dingin dari kemarin. Lampu neon di atas kepalanya berkedip dua kali sebelum menyala penuh. Di luar, ayam tetangga sudah mulai. Bau kompor, bau kain pel yang belum kering, bau bawang yang ia kupas semalam dan lupa dibuang kulitnya.
Ia belum tidur.
Kemarin sore, sopir kantor datang membawa pesan. Bukan surat. Cuma mulut.
"Kata Pak Elo," kata sopir itu sambil melihat ke arah lain, "Ipul mulai minggu depan pindah ke gudang tiga."
Sutini mengangguk waktu itu. Baru setelah sopir itu pergi ia sadar apa artinya. Gudang tiga itu tempat barang keluar-masuk tanpa surat jalan yang benar. Semua orang tahu. Kalau ada yang hilang dari gudang tiga, yang dicari bukan yang menyuruh, tapi yang jaga malam. Dan Ipul, keponakannya, anak almarhum kakaknya, umur sembilan belas, baru tiga bulan kerja, senang sekali waktu diterima sampai menelepon dari wartel dan menangis.
Elo tidak mengancam. Elo tidak pernah mengancam. Elo memindahkan orang.
Pukul setengah enam, sepatu itu terdengar di lorong. Bunyinya pelan, teratur, dan Sutini tahu persis siapa sebelum bayangan itu jatuh di lantai dapur.
"Masih gelap sudah bangun," kata Elo.
"Kebiasaan, Pak."
Elo menarik bangku, duduk, dan menyilangkan kaki seperti orang yang sedang di kantornya sendiri. Ia meletakkan sesuatu di meja. Amplop cokelat, tipis.
"Ipul anak baik," katanya. "Saya lihat catatan absennya. Tidak pernah telat."
Sutini menatap amplop itu. Tangannya ingin mengambil dan ingin menjauh pada saat yang sama.
"Saya cuma mau tahu hal kecil-kecil," kata Elo. "Bukan rahasia. Siapa yang datang. Jam berapa Non Kalila keluar. Kalau dia bawa tas, tas yang mana. Itu saja. Bukan pekerjaan berat untuk orang yang memang tinggal di rumah ini."
"Pak," kata Sutini. Suaranya keluar lebih kecil daripada yang ia mau. "Saya ini cuma tukang masak."
"Justru," kata Elo. "Tukang masak melihat semuanya dan tidak ada yang curiga. Itu kelebihan, Bu Tini. Jangan dibuang."
Ia berdiri, mendorong amplop itu dengan dua jari sejauh sepuluh sentimeter ke arah Sutini, lalu keluar tanpa menunggu jawaban. Karena tidak perlu. Orang seperti Elo tidak menunggu jawaban. Ia menaruh pilihan di meja lalu pergi, dan membiarkan lapar dan takut yang menyelesaikan sisanya.
Sutini duduk sampai matahari masuk lewat lubang angin. Lalu ia mengambil amplop itu dan menyimpannya di kaleng biskuit di bawah rak bumbu.
Jam tujuh pagi ia ke warung ujung gang, pura-pura beli kerupuk, lalu menelepon dari wartel sebelahnya. Ipul mengangkat di dering ketujuh, suaranya masih ngantuk.
"Bibi?"
"Kamu sudah makan?"
"Belum, Bi. Nanti di kantin."
"Pul," kata Sutini, dan tenggorokannya seret. "Kamu di gudang tiga jangan pegang barang."
"Ya kerjanya pegang barang, Bi."
"Maksud Bibi jangan tanda tangan apa-apa. Kalau disuruh tanda tangan, bilang tanya Bibi dulu."
Ipul tertawa. Anak itu tertawa, dan tawanya masih tawa anak-anak. "Bibi ini kayak Emak. Sudah ya, Bi, absen jam setengah delapan."
Sutini berdiri memegang gagang telepon yang sudah mati sampai penjaga wartel menegurnya.
Hari itu ia mulai.
Bukan hal besar. Ia bilang Non Kalila keluar jam enam. Itu benar. Ia bilang Non Rania kontrol ke rumah sakit. Itu yang dikatakan Kalila sendiri di depan bapaknya, jadi bukan rahasia baru. Ia bilang tidak ada tamu. Itu juga benar.
Tapi tiap kali ia selesai bicara, ada rasa di mulutnya seperti sesudah menggigit lidah sendiri.
Ada yang tidak ia sangka: Elo tidak menagih tiap hari. Dua hari sekali, kadang tiga. Ia datang ke dapur seperti orang yang kebetulan lewat, bertanya satu-dua kalimat, mendengarkan, lalu pergi. Tidak pernah mencatat di depan Sutini. Justru itu yang membuat Sutini tidak bisa tidur — orang yang tidak mencatat berarti sudah punya tempat lain untuk menaruhnya.
Sekali, Elo berhenti di ambang pintu dan berkata, "Bu Tini, dapur ini bersih sekali. Bapak beruntung."
"Terima kasih, Pak."
"Sudah berapa tahun?"
"Dua puluh satu."
"Dua puluh satu," ulang Elo, seolah angka itu barang yang bisa ditimbang. "Lama sekali untuk orang yang tidak punya surat pengangkatan."
Ia pergi tanpa menunggu jawaban. Sutini berdiri memegang gagang panci sampai telapaknya sakit.
Yang paling berat adalah sarapan. Kalila turun jam tujuh, rambut diikat, dan berkata, "Bibi, kalau bikin teh jangan manis-manis. Bapak gulanya naik."
"Iya, Non."
"Bibi kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Bibi lihat aku."
Sutini menuang teh. Ia bisa merasakan tatapan Kalila di pipinya, dan ia tetap menuang, dan uapnya naik menghangatkan kelopak matanya, dan ia bersyukur pada uap itu.
"Nanti," kata Sutini, dan langsung menyesal karena kata itu terdengar seperti janji.
Sorenya, Elo memanggilnya ke ruang kerja. Di lantai ada dus kardus penuh kertas, map-map lama, bon, dan tumpukan amplop yang sudah menguning.
"Bakar," kata Elo. "Di belakang, yang jauh dari jendela. Jangan pakai minyak tanah banyak-banyak, nanti asapnya hitam."
"Semua, Pak?"
"Semua. Ini arsip lama. Bapak sudah setuju."
Sutini mengangkat dus itu ke halaman belakang, ke lubang bakar dekat pohon jambu. Baunya tanah dan daun busuk. Ia menyalakan koran, meletakkan kertas segenggam demi segenggam, dan api naik pelan-pelan.
Ia tidak berniat membaca apa pun. Sungguh. Ia membaca lambat, huruf demi huruf, dan sudah lama ia berhenti membaca apa pun selain kalender dan bungkus mi.
Tapi ada satu amplop yang beda. Kertasnya lebih tebal. Di pojok kiri atas ada gambar kecil, gedung dengan tiga bintang, dan tulisan Hotel Pramesti. Dan di pojok kanan bawah, dengan pulpen, ada tulisan tangan yang jelas sekali karena ditulis besar-besar:
pengantar — mobil Dvn
Sutini berhenti.
Ia duduk di atas tumitnya, api mengenai punggung tangannya, dan ia tidak merasakannya sampai beberapa detik kemudian.
Dvn.
Ia tahu tulisan itu. Anak-anak kantor suka menyingkat nama. Dan di rumah ini cuma ada satu nama yang dimulai begitu, satu laki-laki muda yang dulu memanggilnya "Bi Tin" dan selalu membawa gorengan kalau lewat pasar, yang meninggal di jalan tol tiga tahun lalu waktu mobilnya masuk parit dan semua orang bilang itu takdir.
Api sudah makan setengah tumpukan. Asapnya masuk mata Sutini dan membuatnya berair, dan ia bersyukur juga pada asap itu, karena kalau ada yang lihat dari jendela, itu cuma perempuan tua yang kena asap.
Ia menyelipkan amplop itu ke balik celemeknya. Lalu ia membakar sisanya sampai habis, mengaduk baranya dengan kayu, memastikan tidak ada yang tersisa selain abu.
Malamnya ia tidak bisa makan.
Ia menaruh amplop itu di bawah tikar di kamarnya, di bawah bagian yang tidak diinjak. Ia salat isya lama sekali. Ia tidak tahu harus minta apa. Ampun tidak cukup, dan keberanian terasa terlalu mahal untuk diminta oleh orang yang sudah menerima amplop cokelat di kaleng biskuit.
Ada ketukan.
Tiga kali, pelan, di ketinggian yang salah — bukan setinggi tangan orang berdiri, tapi lebih rendah.
Sutini membuka pintu.
Rania ada di sana, sendirian, di lorong belakang yang lantainya tidak rata dan seharusnya susah dilalui kursi roda. Rambutnya diikat asal. Di pangkuannya ada senter kecil dan sesuatu yang lain: sepotong kertas hangus, sebesar telapak tangan, pinggirnya hitam melengkung.
"Bibi," kata Rania. "Boleh masuk?"
Sutini mundur. Kursi itu masuk, rodanya menggilas ambang pintu dengan bunyi tumpul.
"Sandal Bibi ada abunya," kata Rania tenang. "Dari tadi sore. Terus aku ke belakang, ke lubang bakar. Aku bawa penggaruk. Susah sih, aku harus turun ke tanah, dan sekarang celanaku kotor sekali dan aku belum tahu mau bilang apa ke Mbak Yani."
"Neng—"
"Ini kertasnya tinggal segini." Rania mengangkat potongan hangus itu. "Yang kebaca cuma dua: angka empat, dan huruf o besar. Tidak berguna."
Sutini berdiri kaku di tengah kamarnya sendiri.
"Bibi," kata Rania, dan suaranya berubah, lebih rendah, "aku tidak datang untuk memarahi Bibi. Aku tahu kenapa Bibi bakar. Bibi disuruh."
"Neng, Bibi—"
"Ipul, ya?"
Sutini menutup mulutnya dengan punggung tangan.
Rania menunggu. Ia tidak menghibur, tidak menyentuh, tidak berkata semua akan baik-baik saja. Ia menunggu seperti orang yang tahu bahwa tangis punya panjangnya sendiri dan tidak boleh dipotong.
"Aku juga takut," kata Rania akhirnya. "Setiap hari. Bedanya, aku takut sambil mencatat."
"Neng tidak ngerti," kata Sutini serak. "Kalau Bibi salah langkah, anak itu masuk penjara. Bibi sudah tua, Bibi tidak apa-apa, tapi anak itu—"
"Aku ngerti," potong Rania. "Makanya aku tidak akan minta Bibi jadi pahlawan. Aku cuma mau tanya satu hal, dan Bibi boleh jawab besok, boleh minggu depan."
Sutini menunggu.
"Waktu Bibi bakar," kata Rania pelan, "apa ada yang Bibi tahan?"
Kamar itu sunyi. Kipas di sudut berputar dan mengeluarkan bunyi tik tiap kali sampai ujung.
Sutini menoleh ke tikar. Cuma sekejap. Setengah detik. Ia langsung menoleh balik.
Tapi Rania melihatnya, dan Sutini tahu Rania melihatnya, dan keduanya tidak berkata apa-apa selama sepuluh hitungan.
"Ya sudah," kata Rania akhirnya, memutar kursinya ke arah pintu. "Bibi tidur. Besok masak lodeh, ya. Yang labunya banyak."
Di ambang pintu ia berhenti.
"Bi," katanya tanpa menoleh. "Kalau nanti Bibi mau kasih ke seseorang — jangan ke Kalila. Ke aku."
"Kenapa?"
"Karena kalau ketahuan, orang akan mencari yang paling mungkin. Dan tidak ada yang menyangka orang seperti aku bisa ke mana-mana."
Roda itu menjauh di lorong. Sutini menutup pintu, menyandarkan punggung ke daun pintu, lalu melorot pelan-pelan sampai duduk di lantai, di atas tikar, tepat di atas tempat amplop itu disembunyikan.
Bersambung.