Sutini menyerahkannya tiga hari kemudian, di pagi hari, di dapur, dengan cara paling biasa yang bisa ia pikirkan.
Ia menaruh piring pisang goreng di pangkuan Rania. Di bawah piring, di antara alas kertas nasi dan dasar piring, ada amplop yang sudah dilipat dua.
"Panas," kata Sutini. "Hati-hati."
Rania melihat ke bawah piring, lalu ke wajah perempuan tua itu.
"Bibi masak lodeh nanti siang?"
"Iya."
"Yang labunya banyak."
"Iya."
Itu saja percakapan mereka. Sutini berbalik ke wastafel dan mulai mencuci panci yang sudah bersih.
Rania mendorong kursinya keluar, melewati ruang tengah, keluar lewat pintu samping, dan tidak berhenti sampai ia di gudang belakang tempat mereka menyimpan kursi rusak dan pot kosong. Gudang itu berbau kapur dan tikus. Ia menutup pintu dengan kakinya.
Baru di situ tangannya mulai gemetar.
Kalila datang setengah jam kemudian, masih memakai daster, rambut belum disisir, karena Rania menyuruh Mbak Yani memanggilnya dengan kalimat "Neng Rania jatuh" yang membuat Kalila lari tanpa sandal.
"Kamu jatuh?"
"Tidak. Maaf. Aku butuh kamu di sini cepat dan aku tidak mau meneriakkan alasannya."
"Rania—"
"Duduk."
Kalila duduk di atas kursi rotan yang jebol. Rania menyerahkan amplop itu.
Isinya empat lembar.
Yang pertama tagihan hotel. Kertas tipis, cetakan mesin ketik, dengan kop Hotel Pramesti dan nomor kamar yang dicoret. Bukan kamar. Ruang Anggrek, ruang rapat kecil di lantai dua. Tanggal empat belas Maret. Tiga tahun lalu.
Tiga hari sebelum mobil Devan masuk parit.
Yang kedua daftar pesanan: kopi dua, teh tawar satu, air mineral tiga, sewa ruang empat jam. Di bawah, kolom penanggung jawab, ada nama yang ditulis tangan dengan huruf tegak: Bpk. Elo — tagih ke kantor.
Yang ketiga kartu parkir. Karbon biru, tulisan tangan petugas, nomor pelat, dan di kolom keterangan: mobil bengkel.
Yang keempat foto.
Foto ukuran kartu pos, agak buram, hasil cetak studio hotel. Sebuah acara resepsi di lobi. Pengantin berdiri di tengah, tersenyum, tidak ada hubungannya dengan siapa pun di rumah ini. Tapi di belakang mereka, di kursi tunggu dekat pilar, dua laki-laki duduk berhadapan di meja kecil.
Yang satu memakai kemeja abu-abu, punggungnya lurus, tangannya di lutut.
Yang satu memakai baju kerja biru dengan bordir di dada. Bordirannya kecil, tapi masih bisa dibaca kalau kertasnya didekatkan ke lampu.
BENGKEL JAROT.
Kalila mendengar suaranya sendiri berkata, "Aku pernah lihat baju ini."
"Di mana?"
"Di rumah kita." Kalila tidak mengangkat mata dari foto. "Di halaman. Orang itu yang jemput mobil Devan. Devan bilang remnya dalam. Diinjak, turunnya jauh. Dia mau bawa ke bengkel biasa, di Jalan Ampera, langganan sejak kuliah."
"Terus?"
"Terus Elo bilang jangan." Suara Kalila datar, dan justru karena datar, terdengar mengerikan. "Elo bilang bengkel kantor lebih murah, sudah kerja sama, tinggal potong dari klaim. Aku ada di ruangan itu, Rania. Aku sedang menyetrika. Aku dengar sendiri. Aku bahkan bilang ke Devan, 'ya sudah, hemat.'"
Gudang itu sunyi. Di luar, tukang sayur lewat memukul-mukul panci.
"Ka."
"Aku yang bilang hemat."
"Ka, lihat aku."
"Tiga tahun aku pikir itu takdir." Tangan Kalila mulai bergetar dan kertas di tangannya ikut bergetar sehingga bunyinya terdengar. "Orang-orang bilang jalan tol itu memang licin kalau hujan. Bapak bilang sudah, ikhlaskan. Aku ikhlaskan. Aku benar-benar sudah ikhlaskan, Rania, aku sudah berhenti mimpi tentang dia, dan sekarang—"
"Sekarang kamu tahu," kata Rania. "Itu bukan langkah mundur. Itu langkah maju yang sakit."
Kalila menutup wajah dengan kedua tangan, dan menangis dengan cara yang tidak bersuara, bahunya naik turun, dan Rania mendekatkan kursinya lalu memegang lengan kakaknya, kuat, tidak menepuk-nepuk.
Sore harinya Rania menelepon dari telepon umum di depan apotek, karena telepon rumah bisa didengar dari ruang kerja.
"Selamat sore, Hotel Pramesti?" Suaranya berubah, lebih tinggi, lebih manis, suara anak orang berada yang tidak pernah ditolak. "Saya mau tanya, kalau menyewa ruang rapat kecil, yang seperti Ruang Anggrek, itu masih ada? Kantor kami dulu pernah pakai."
Kalila menahan pintu bilik telepon dengan bahu, mendengarkan.
"Oh, masih. Kalau saya mau kapasitas yang sama seperti dulu... sebentar, saya ada catatannya di sini. Empat belas Maret, tiga tahun lalu, atas nama kantor kami. Bisa dicek tidak, waktu itu berapa orang? Karena saya mau yang persis sama."
Jeda panjang. Rania mengetuk-ngetukkan jari ke gagang.
"Tiga orang," ulangnya. Matanya naik ke wajah Kalila. "Tiga. Baik, Mbak, terima kasih banyak. Nanti saya telepon lagi."
Ia menutup. Tangannya turun pelan ke pangkuan.
"Tiga," kata Kalila.
"Di foto cuma dua."
"Berarti ada satu lagi yang tidak sedang duduk di meja itu waktu fotonya diambil."
"Atau satu lagi yang tidak mau kena foto," kata Rania.
Mereka berhenti di trotoar dengan bau aspal panas dan asap knalpot, dan untuk beberapa saat tidak ada yang bicara. Seorang anak lewat mendorong gerobak es, membunyikan lonceng.
"Ka," kata Rania akhirnya. "Kamu masih ingat hari terakhir?"
Kalila mengangguk. Ia ingat semuanya, dan itu bagian yang paling melelahkan. Ia ingat Devan berdiri di dapur jam enam pagi memakai kemeja yang salah kancing. Ia ingat bau kopi dan bau semir sepatu. Ia ingat Devan berkata, "Remnya sudah enak, kok. Bengkel kantor cepat juga," lalu mencium keningnya dan mengambil kunci dari mangkuk di meja.
"Aku bilang hati-hati," kata Kalila. "Aku selalu bilang hati-hati. Aku pikir kata itu ada gunanya."
Faris datang malam itu ke kontrakan Jalan Kenari, dan Kalila sudah menunggu di sana sejak sore dengan empat lembar itu diletakkan di atas meja plastik.
Faris membacanya berdiri. Ia tidak berkomentar sampai lembar keempat. Lalu ia mengambil senter dari laci, menyalakannya dari samping foto, dan memiringkan kertas.
"Ini bukan bengkel kecil," katanya akhirnya.
"Kenapa?"
"Bordirnya rapi. Bengkel pinggir jalan tidak bikin seragam bordir. Ini bengkel rekanan. Yang punya kontrak."
"Kontrak dengan siapa?"
Faris meletakkan senter. "Dengan kantor kalian."
Kalila menatap meja. Di atas meja ada bekas lingkaran gelas, dan ia mengusapnya dengan ibu jari berkali-kali tanpa sadar.
"Kenapa kertas ini bisa sampai ke rumah?" tanyanya. "Kenapa tidak dibuang di kantor saja?"
"Karena ini tagihan yang salah alamat," kata Faris. "Hotel menagih ke kantor. Bagian keuangan tidak mau bayar karena tidak ada surat tugas. Jadi kertasnya balik ke orang yang memesan. Dan orang yang memesan tidak akan membuangnya di tempat sampah kantor."
"Dia bawa pulang."
"Dia bawa ke rumah kalian," kata Faris, "karena rumah kalian sudah dia anggap kantornya sendiri."
Kalila menutup mata sebentar. Kipas angin meja di sudut berbunyi tik, tik, tik.
"Faris," katanya. "Katakan yang sebenarnya. Kamu insinyur. Apa rem mobil bisa dibikin gagal tanpa kelihatan?"
Faris duduk. Ia menggosok wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Bisa," katanya. "Tidak perlu dipotong. Cukup dilonggarkan sedikit di sambungan, atau selangnya digores tipis di bagian yang tertekuk. Minyaknya keluar pelan-pelan. Pedalnya masih terasa normal di kota. Baru habis waktu dipakai lama, waktu panas, waktu ngerem berkali-kali. Di tol."
"Jadi orang yang menyerahkan mobil pagi-pagi tidak akan curiga."
"Tidak akan," kata Faris. "Dan sesudah masuk parit, selangnya sudah sobek semua karena benturan. Tidak ada yang bisa dibedakan."
Kalila mengangguk pelan. Sekali. Dua kali. Lalu ia berdiri dan berjalan ke jendela dan berdiri di situ membelakangi Faris.
"Katakan," kata Faris hati-hati.
"Devan dibunuh," kata Kalila.
Kalimat itu keluar dan mengisi ruangan itu sampai ke sudut-sudutnya, dan sesudah keluar, tidak bisa dimasukkan lagi.
Faris berdiri di belakangnya, tidak menyentuh, memberi jarak selebar satu telapak tangan.
"Kalau kita bawa ini ke bapakmu sekarang," katanya, "apa yang terjadi?"
"Bapak akan panggil Elo," kata Kalila. "Bapak selalu panggil orangnya. Bapak akan bilang, 'Lo, ini apa?' Dan Elo akan bilang itu rapat biasa, orang bengkel memang sering diajak makan, dan besoknya semua kertas ini hilang dari mana pun kertas ini datang. Dan lusa Ipul masuk penjara."
"Berarti tidak sekarang."
"Tidak sekarang." Kalila membalikkan badan. Matanya merah tapi kering. "Faris, satu kertas hotel tidak bisa apa-apa. Ini cuma bukti dua orang minum kopi."
"Betul."
"Jadi kita butuh yang lain."
Faris diam lama. Di luar terdengar suara anak-anak main bola dan ibu-ibu memanggil pulang.
"Kertas ini cuma membuat orang bertanya," lanjut Kalila. "Dan orang seperti dia tidak takut pertanyaan. Dia sudah punya jawaban sebelum ditanya."
"Aku tahu di mana," katanya akhirnya. "Bukan di hotel. Di kantor. Uang tidak bisa jalan sendiri, Kalila. Kalau dia bayar orang, uangnya keluar dari suatu tempat, dan tempat itu harus punya nama. Di proyek, nama yang paling gampang dipakai untuk menyembunyikan uang adalah nama barang."
"Barang apa?"
"Besi," kata Faris. "Beton. Bekisting. Barang yang begitu sudah tertutup semen, tidak ada yang bisa menghitung ulang."
Kalila menatapnya. "Kamu sudah lihat sesuatu."
"Aku sudah lihat banyak," kata Faris pelan. "Aku cuma belum berani menaruhnya bersebelahan."
"Sekarang?"
Faris melihat empat lembar kertas di meja plastik itu, lalu melihat istrinya.
"Sekarang aku berani," katanya.
Kalila melangkah maju dan memeluknya. Wajahnya di leher Faris, dan tangan Faris naik ke punggungnya, dan mereka berdiri seperti itu lama sekali sampai lampu jalan menyala di luar dan cahayanya masuk lewat celah kain gorden.
"Jangan mati," kata Kalila ke kerah bajunya.
"Aku hati-hati."
"Aku tidak minta hati-hati. Aku minta jangan mati."
Faris tidak menjawab. Ia mencium pelipis Kalila, lama, dan tangannya tetap di punggung perempuan itu, dan gorden itu bergoyang pelan tertiup angin malam, menutup celah cahayanya sedikit demi sedikit.
Bersambung.