Lantai ruang depan kontrakan Jalan Kenari hilang di bawah kertas.
Faris menyusunnya seperti orang menyusun ubin: gambar kerja di sebelah kiri, semua berukuran besar, dilipat empat dan sudah lecek di lipatannya. Di sebelah kanan, tumpukan fotokopi bon dan berita acara pembayaran, disatukan klip kawat. Di tengah, buku tulis bergaris dengan angka-angka yang ia tulis sendiri.
Ia bekerja tiga malam berturut-turut. Kalila duduk di lantai bersamanya, memegang senter waktu lampu mati, membuatkan kopi, dan sekali dua kali tertidur bersandar dinding lalu bangun dengan bekas anyaman tikar di pipinya.
Malam ketiga, jam setengah dua, Faris berkata, "Ketemu."
Kalila membuka mata. "Apa?"
"Kolom." Faris menggeser satu gambar ke tengah lantai. Di kertas itu ada kotak-kotak kecil bernomor. "Lihat. Di gambar kerja, lantai dua ada empat puluh kolom. Empat puluh."
"Ya."
"Di berita acara pembayaran, yang ditagih empat puluh." Ia mengangkat kertas kedua. "Tapi di gambar revisi terakhir yang dipakai orang lapangan, kolomnya tiga puluh satu. Sembilan kolom hilang di revisi, dan revisinya tidak pernah masuk ke bagian pembayaran."
Kalila mendekat, memicingkan mata. "Jadi mereka bayar sembilan kolom yang tidak ada?"
"Lebih buruk," kata Faris. "Bukan cuma tidak ada. Sembilan kolom itu dihapus supaya bangunannya bisa jalan lebih cepat. Sesudah dihapus, beban pindah ke kolom yang tersisa. Dan besi di kolom yang tersisa tidak dibesarkan. Malah dikecilkan."
"Dikecilkan?"
Faris membuka buku tulisnya. Angka-angka rapat, ditulis dengan pensil dan dihapus berkali-kali.
"Di gambar tertulis D16. Itu diameter besi, enam belas milimeter. Di bon, yang dibeli D16, harganya harga D16. Tapi di lapangan yang dipasang D13. Aku ukur sendiri di kolom lantai satu yang belum diplester, pakai jangka sorong, tiga titik. Tiga belas semua."
Kalila merasa dingin naik dari lantai ke betisnya.
"Selisih harganya ke mana?"
"Itu dia," kata Faris. "Selisihnya tidak masuk kantong satu orang sekaligus. Itu terlalu kelihatan. Selisihnya dipecah, keluar sebagai pembayaran ke tiga perusahaan kecil. Aku cek alamat ketiganya di berkas rekanan. Dua alamatnya sama. Ruko yang sama, nomor yang sama, cuma nama perusahaannya beda."
"Yang ketiga?"
Faris menyodorkan selembar. Jari Kalila berhenti di satu baris.
CV KARYA JAROT — jasa perawatan kendaraan operasional.
Ruangan itu terasa mengecil.
"Bengkel," bisik Kalila.
"Bengkel yang dibayar dari pos material," kata Faris. "Setiap kuartal. Jumlahnya rapi, selalu di bawah batas yang harus ditandatangani direksi."
"Siapa yang tanda tangan?"
"Kepala bagian pengadaan," kata Faris. "Dan yang merekomendasikan rekanan, dari tahun pertama, satu nama."
Ia tidak menyebutnya. Tidak perlu.
Kalila duduk kembali di lantai, memeluk lutut. Bau kertas, bau tinta fotokopi, bau kopi yang sudah dingin dan agak asam. Di luar ada suara kucing berkelahi lalu sunyi lagi.
"Masih ada satu yang kurang," kata Faris pelan.
"Apa?"
"Semua ini bisa dibilang salah administrasi. Kalau mau jadi kejahatan, harus ada bukti bahwa mereka tahu dan tetap jalan."
"Bagaimana caranya membuktikan orang tahu?"
Faris mengambil satu lembar terakhir dari map plastiknya. Fotokopi buku agenda arsip — kolom tanggal, nomor surat, perihal, penerima.
"Ini buku terima surat internal," katanya. "Nomor 214/QC/IV. Perihal: laporan ketidaksesuaian besi tulangan lantai dua. Penerima: bagian teknik. Tanggal, dua tahun lalu."
"Terus suratnya?"
"Hilang," kata Faris. "Aku sudah cari dua minggu. Map itu ada. Nomor 213 ada, 215 ada. 214 tidak ada. Yang tidak bisa dihapus cuma nomornya, karena buku agendanya dijilid dan dinomori dari percetakan."
"Siapa yang menulis surat itu?"
Faris menunjuk kolom paling kanan. Tulisan tangan kecil, miring.
Dini R. — QC
"Kamu ukur sendiri?" tanya Kalila. "Malam-malam? Sendirian?"
"Jam dua pagi, Selasa kemarin," kata Faris. "Aku bilang ke satpam ada tas ketinggalan. Jangka sorong aku bawa di kantong belakang, senter aku tutup pakai plastik merah supaya cahayanya tidak kelihatan dari jalan."
"Kalau ketahuan?"
"Kalau ketahuan, aku pegawai yang lembur. Itu masih bisa dijelaskan." Faris menggosok tengkuknya. "Yang tidak bisa dijelaskan itu kalau aku ketahuan sambil memfoto."
Kalila menarik tangan suaminya ke bawah lampu. Ada luka gores tipis di punggung tangan kanan, sudah mengering, memanjang dari buku jari sampai pergelangan.
"Ini apa?"
"Kawat bendrat. Sisa ikatan besi. Tajam."
"Kamu tidak cerita."
"Kalau aku cerita semua yang lecet, kamu akan menyuruhku berhenti."
"Aku memang mau menyuruhmu berhenti," kata Kalila. "Aku cuma tahu kamu tidak akan mau."
Faris memutar tangannya sehingga telapaknya menghadap ke atas, dan jari Kalila jatuh di situ.
"Kalau aku berhenti sekarang," katanya, "aku akan jadi orang yang tahu dan diam. Aku pernah jadi orang itu, Kalila. Waktu laporan Dini hilang, aku tanya sekali, dijawab 'sudah diurus', dan aku terima. Aku pulang, makan, tidur. Dua bulan kemudian Devan meninggal dan aku bahkan tidak menghubungkan apa-apa."
"Itu bukan salahmu."
"Bukan," kata Faris. "Tapi itu tetap aku."
Mereka bertemu Dini dua hari kemudian di warung soto dekat terminal, jam sebelas siang, waktu warung paling ramai sehingga tidak ada yang mendengarkan siapa pun. Dini perempuan kurus umur tiga puluhan, memakai jaket meski panas, dan matanya berkali-kali ke pintu.
"Saya cuma sepuluh menit," katanya. "Saya sekarang di gudang. Kalau saya telat, dicatat."
"Ibu yang menulis laporan 214?" tanya Faris.
Dini mengaduk sotonya dan tidak makan. "Saya ukur delapan kolom. Semuanya kurang. Saya foto, saya tulis, saya serahkan. Saya minta tanda terima, karena bapak saya dulu pegawai dan bapak saya selalu bilang minta tanda terima."
"Ibu punya tanda terimanya?"
Dini mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya ia menatap lurus.
"Punya."
Kalila menahan napas.
"Tapi saya tidak akan kasih hari ini," kata Dini cepat. "Saya punya anak dua. Suami saya sudah tidak ada. Kalau saya kasih ke orang yang salah, besok saya bukan cuma pindah ke gudang."
"Saya tidak akan memaksa," kata Faris.
"Bapak sudah memaksa dengan datang."
Faris diam. Lalu ia mengangguk. "Betul. Maaf."
Dini menarik napas panjang. "Waktu itu saya tunggu tiga minggu. Tidak ada jawaban. Saya tanya ke bagian teknik, katanya sudah diteruskan ke atas. Saya tanya ke atas, katanya belum pernah terima. Terus saya dipanggil, dibilang saya kurang teliti, disuruh istirahat, dan sesudah istirahat meja saya sudah dipakai orang lain."
"Ibu marah?" tanya Kalila.
Dini menoleh kepadanya. Ada sesuatu yang lelah sekali di mata perempuan itu.
"Saya sudah lewat marah, Bu," katanya. "Sekarang saya cuma ingin ada yang mengaku bahwa surat itu pernah ada."
Ia berdiri, meninggalkan sotonya, dan pergi.
Malam itu Faris memfotokopi semuanya di tiga tempat berbeda supaya tidak ada satu tukang fotokopi pun yang melihat seluruhnya. Ia pulang jam sepuluh dengan tiga bundel yang sudah dijilid lakban.
Kalila dan Rania sudah menunggu di kontrakan.
"Tiga," kata Faris, meletakkannya di meja. "Satu ke notaris, Bu Ratih, disimpan sebagai titipan tertutup. Satu ke kebun Bibi Mai, di kaleng, di bawah rak pot di ruang kaca — tempat itu kering dan tidak ada yang pernah masuk kecuali Ujang."
"Yang ketiga?" tanya Rania.
Faris ragu.
"Yang ketiga," katanya, "sebenarnya aku mau titipkan ke Paman Rusdi."
"Kenapa berubah?"
"Aku belum berubah."
"Faris." Rania mendorong kursinya sampai ke sisi meja. "Katakan alasannya sekalian."
"Karena kalau ini ketahuan, orang yang memegangnya akan dicari." Faris menatapnya. "Dan aku tidak mau kamu yang dicari."
"Aku sudah dicari," kata Rania. "Sejak Elo mulai masuk rumah ini, semua orang di rumah itu dihitung. Bedanya, aku dihitung sebagai barang. Orang seperti dia tidak pernah membayangkan barang bisa menyimpan sesuatu."
"Rania—"
"Dan aku bukan lemari," potong Rania, suaranya naik satu tingkat. "Aku tidak minta dititipi. Aku minta membaca. Aku sudah baca dua malam ini kertasmu diam-diam waktu kalian tidur, dan aku menemukan satu hal yang kamu lewat."
Faris terdiam. "Apa?"
Rania mengeluarkan kertas dari tas yang tergantung di sandaran kursinya. "Tanggal. Pembayaran ke CV Karya Jarot yang paling besar, bukan di kuartal. Ada satu tambahan di luar jadwal. Tanggal delapan belas Maret."
Faris mengambil kertas itu. Wajahnya berubah.
"Sehari sesudah Devan," kata Kalila.
Tidak ada yang bicara selama beberapa detik.
"Kamu betul," kata Faris akhirnya, dan suaranya kecil. "Aku lewat."
"Makanya," kata Rania, "yang ketiga aku."
Faris menyerahkannya. Rania menerimanya dengan dua tangan, meletakkannya di pangkuan, lalu menutupinya dengan selimut tipis yang selalu ada di kursinya.
"Kalau satu hilang," kata Faris, "dua sisanya masih bicara. Kalau dua hilang, satu masih bicara. Yang tidak boleh terjadi cuma satu: ketiganya di satu ruangan."
"Ketiganya sedang di satu ruangan sekarang," kata Kalila.
"Makanya besok pagi dipisah."
Telepon di dinding berdering jam sebelas lewat. Faris mengangkat, mendengarkan, menjawab dua kata, lalu menutup.
"Siapa?" tanya Kalila.
"Pak Herman. Mandor." Faris tidak langsung menoleh. "Kamis malam ada inspeksi pemilik. Sebelum itu mereka mau plester kolom lantai tiga. Semuanya. Malam ini juga bahan sudah datang."
Kalila berdiri. "Kalau diplester?"
"Kalau diplester, besinya hilang selamanya," kata Faris. "Tidak ada jangka sorong yang bisa masuk semen."
"Jadi?"
"Jadi Kamis malam aku naik ke lantai tiga," katanya. "Sebelum mereka mulai. Aku cuma butuh dua jam dan satu rol film."
"Faris."
"Dua jam, Kalila."
Kalila menatap suaminya. Lampu bohlam di atas mereka bergoyang sedikit, dan bayangan di dinding ikut bergoyang.
"Aku ikut," katanya.
"Tidak."
"Faris—"
"Kalau kita berdua di sana dan sesuatu terjadi," kata Faris pelan, "tidak ada yang tersisa untuk membawa kertasnya."
Bersambung.