Kamis malam itu panas sekali.
Kipas angin di kamar Kalila berputar dengan bunyi berdecit tiap kali kepalanya sampai ke ujung kanan. Di luar jendela, jangkrik. Di bawah, televisi ruang tengah masih menyala, suara pembawa berita, lalu iklan sabun, lalu suara tuan Husain berdehem dan mematikannya.
Kalila duduk di tepi ranjang dengan sandal masih di kaki.
Perjanjiannya sederhana. Faris masuk lokasi jam sembilan, sesudah tukang pulang. Dua jam. Jam sebelas ia keluar lewat pagar belakang, jalan ke wartel di seberang pom bensin, dan menelepon rumah satu kali. Berdering dua kali lalu ditutup. Itu artinya selesai, aman, pulang.
Jam sebelas lewat lima, telepon tidak berbunyi.
Jam sebelas lewat dua puluh, Kalila turun ke bawah dan berdiri di dekat telepon dinding sampai kakinya pegal.
Jam dua belas kurang sepuluh, Rania muncul dari lorong tanpa suara.
"Belum?"
"Belum."
"Mungkin dia menunggu satpam lewat."
"Mungkin."
Mereka menunggu bersama. Rania mengambil sarung dan menyelimuti kaki Kalila yang dingin padahal malamnya panas. Jam dinding di atas lemari berdetak, dan Kalila menyadari untuk pertama kalinya dalam hidupnya bahwa detik jam itu tidak rata; ada yang panjang dan ada yang pendek.
"Ka," kata Rania pelan. "Kalau sampai jam satu belum, kita ke sana."
"Kalau kita ke sana dan dia sedang berjongkok di dalam menunggu satpam lewat, kita yang membuatnya ketahuan."
"Aku tahu."
"Kalau kita tidak ke sana dan sesuatu terjadi—"
"Aku tahu itu juga," kata Rania. "Makanya jam satu. Bukan jam dua belas, bukan jam dua. Kita tentukan angkanya sekarang, waktu kepala kita masih jalan, supaya nanti kita tidak berdebat waktu kepala kita sudah tidak jalan."
Kalila menoleh kepada adiknya. Di lampu lorong yang kuning, wajah Rania kelihatan lebih tua daripada umurnya.
"Kapan kamu belajar berpikir begitu?"
"Sejak aku sadar tidak ada yang akan berpikir untukku."
Jam dua belas lewat, sirene.
Bukan satu. Tiga, empat, saling menimpa, dari arah utara. Lalu suara motor di jalan, banyak, orang-orang yang keluar rumah untuk melihat.
Kalila berdiri.
"Ka."
"Diam sebentar."
Ia berjalan ke pintu depan dan membukanya. Angin masuk, dan bersama angin itu datang baunya.
Bukan bau sampah dibakar. Lebih tajam. Ada karet di dalamnya, ada cat, ada sesuatu yang seperti plastik meleleh. Dan di ujung langit sebelah utara, di atas garis atap rumah-rumah, langit malam itu tidak hitam. Warnanya jingga kotor, berdenyut, seperti ada matahari yang salah tempat dan salah waktu.
Kalila lari ke pagar tanpa sadar sudah lari.
Motor berhenti di depan gerbang dengan rem mendadak sampai kerikil terlempar. Ken Arashi turun sebelum motornya benar-benar berhenti, dan wajahnya cukup untuk membuat Kalila berhenti bernapas.
"Bu Kalila—"
"Proyek Kirana?"
Ken mengangguk sekali.
"Antar aku."
"Bu—"
"Antar aku sekarang."
Rania sudah di teras. "Pak Adi! Mobil!"
"Neng, ini bahaya—"
"Pak Adi, mobil, sekarang, dan turunkan kursiku di depan supaya aku tidak perlu menunggu."
Mereka sampai dalam dua belas menit. Jalan masuk sudah ditutup orang. Ada tiga mobil pemadam, selang melintang di aspal seperti urat, dan air dari selang itu mengalir ke got membawa abu hitam. Lampu proyek mati semua; yang menyala cuma apinya sendiri.
Gedung itu delapan lantai belum jadi. Api ada di tengah — lantai tiga dan empat — keluar dari bukaan jendela yang belum berkaca, menjilat ke atas, memakan bekisting kayu dan jaring pengaman yang meleleh dan jatuh berupa titik-titik menyala.
Suaranya yang paling tidak diduga Kalila. Api ternyata berisik. Bunyinya seperti kain robek terus-menerus, ditambah letupan kecil setiap kali sesuatu pecah di dalam.
Kalila menerobos garis orang. Ada tangan yang menahannya, tangan Ken, dan ia menepisnya.
"Faris!"
Angin membalikkan asap ke arah mereka dan matanya langsung perih. Ia batuk sampai membungkuk.
Pak Herman, mandor itu, berdiri di dekat pos satpam dengan helm masih di kepala dan muka hitam. Ken menariknya mendekat.
"Berapa orang di dalam?" tanya Ken.
"Sudah keluar semua," kata Pak Herman. Suaranya bergetar. "Tukang sudah pulang jam delapan. Satpam dua orang, di bawah, selamat."
"Ada satu lagi," kata Kalila. "Faris. Faris Ramadhan. Dia naik ke lantai tiga jam sembilan."
Pak Herman menoleh cepat ke arahnya. "Pak Faris?"
"Iya."
"Pak Faris tidak keluar," kata satpam yang berdiri di sebelahnya, anak muda yang bibirnya pucat. "Saya lihat dia naik. Saya tidak lihat dia turun. Saya kira sudah lewat pagar belakang seperti biasa."
Kalila mendengar suaranya sendiri berkata, "Kalau begitu ambil dia," dan tidak tahu bagaimana suaranya bisa setenang itu.
Petugas pemadam berteriak sesuatu tentang tangga. Ken sudah bergerak. Ia menyambar karung basah dari genangan, melilitkannya ke kepala, dan lari ke arah tangga darurat sisi timur sebelum ada yang sempat menghalangi. Dua petugas mengejarnya.
Kalila berdiri di tempatnya dan menghitung. Ia tidak tahu kenapa ia menghitung. Satu, dua, tiga. Sampai delapan puluh sekian, ia lupa.
Ken keluar lagi empat menit kemudian, dibopong dua orang, batuk sampai muntah air di pinggir jalan. Alisnya sebelah hangus. Ia mengangkat wajah ke arah Kalila dan menggeleng, dan gelengan itu adalah hal paling kejam yang pernah dilakukan siapa pun kepadanya.
"Tangganya," kata Ken serak, "tangganya masih bisa."
"Kenapa tidak naik?"
"Pintunya."
"Pintu apa?"
Ken batuk lagi. Seorang petugas menyorongkan botol air.
"Pintu lantai tiga," kata Ken. "Dari tangga darurat ke dalam. Tidak bisa dibuka."
"Macet?"
Ken menatapnya, dan matanya merah bukan cuma karena asap.
"Bukan macet, Bu."
Petugas naik lewat tangga sisi barat sambil menarik selang. Kalila melihat helm-helm itu bergerak di balik lubang jendela lantai dua, lalu berhenti, lalu turun lagi. Seseorang berteriak bahwa koridornya tertutup bekisting yang jatuh.
Seorang perempuan tua penjual nasi bungkus menyorongkan botol air ke tangan Kalila. Kalila memegangnya sampai airnya hangat, dan tidak minum.
"Bu," kata satpam muda itu, mendekat dengan mata basah. "Saya minta maaf."
"Kenapa?"
"Jam sepuluh saya keliling. Saya sampai lantai dua. Saya panggil, tidak ada yang jawab, saya pikir sudah kosong." Anak itu menyeka hidungnya dengan lengan. "Kalau saya naik satu lantai lagi—"
"Jangan," kata Kalila. Suaranya keluar sendiri, dan anehnya, lembut. "Jangan simpan itu. Bukan kamu."
Api baru betul-betul mati jam empat pagi. Langit sudah abu-abu di timur waktu petugas mengizinkan orang mendekat sampai batas pagar. Bau yang tertinggal berubah: tidak lagi tajam, tapi basah, pahit, bau arang yang disiram. Semua yang hitam meneteskan air.
Kalila tidak duduk sejak turun dari mobil. Rania di sampingnya sejak jam satu, roda kursinya penuh lumpur abu, dan tidak sekali pun mengeluh.
Seorang petugas dengan seragam berbeda datang membawa buku catatan, ditemani dua orang dari kantor.
"Ibu keluarga?"
"Istri," kata Kalila.
Petugas itu mencatat. Lalu ia melihat ke atas, ke lantai tiga yang sekarang menganga hitam.
"Kami belum bisa memastikan apa pun sebelum siang," katanya. "Tapi ada dua hal yang perlu Ibu tahu, karena nanti akan ada yang bilang macam-macam."
"Katakan."
"Yang pertama, pompa hidran di lantai dasar tidak tersambung. Pipanya sudah dipasang, tapi sambungan ke tandon belum. Di berita acara tertulis sudah."
Kalila merasa tanah bergerak sedikit. Rania memegang tangannya.
"Yang kedua?"
Petugas itu ragu setengah detik.
"Pintu tangga darurat lantai tiga," katanya. "Dari luar, di sisi tangga, ada kawat bendrat dililit di gagang, disatukan ke besi pegangan. Dililit rapi, Bu. Bukan kena panas, bukan meleleh. Dililit."
"Artinya?"
"Artinya orang yang di dalam bisa sampai ke pintu itu," kata petugas itu pelan, "tapi pintunya tidak akan terbuka."
Kalila tidak menjerit. Ia justru merasa sangat sunyi, seperti seluruh suara di dunia dipindahkan ke ruangan lain. Ia melihat selang di aspal. Ia melihat kaki-kaki orang. Ia melihat setetes air jatuh dari kabel di atas dan mendarat di punggung tangannya, hitam.
Mobil sedan masuk melewati garis polisi jam lima kurang seperempat.
Elo turun. Kemejanya biru muda, disetrika. Rambutnya masih basah, disisir rapi ke belakang. Sepatunya bersih sampai ke pinggirnya, dan ketika ia melangkah di aspal yang penuh abu basah, jejaknya tertinggal jelas karena sepatu itu satu-satunya yang bersih di seluruh tempat itu.
Ia berjalan lurus ke arah Kalila.
"Saya baru dengar," katanya. "Sopir bangunkan saya jam empat."
Kalila menatap sepatu itu.
"Saya sudah suruh bagian umum menyiapkan semuanya," lanjut Elo. "Ambulans, surat, apa pun. Kamu tidak usah mikir apa-apa."
"Kamu jam berapa tidur?" tanya Kalila.
Elo berhenti. "Apa?"
"Rambutmu basah."
"Saya mandi sebelum berangkat," katanya. "Kalila, kamu syok. Duduk dulu."
"Jangan sentuh dia," kata Rania.
Elo menoleh ke bawah, ke arah Rania, dan untuk seperempat detik ada sesuatu di wajahnya yang bukan duka dan bukan sopan. Lalu wajah itu kembali.
"Yang sabar, Rania," katanya. "Kakakmu butuh kalian sekarang."
Ia mundur, memberi ruang, dan mulai bicara dengan orang kantor dengan suara rendah yang efisien. Dua menit kemudian ia sudah mengatur di mana mobil parkir dan siapa yang mengurus apa, dan orang-orang menurut, karena orang selalu menurut kepada satu-satunya orang yang kelihatan tahu harus berbuat apa.
Matahari naik. Cahayanya masuk lewat lubang-lubang lantai tiga dan membuat asap tipis kelihatan seperti benang.
Di belakang Kalila, di antara kerumunan warga yang sejak subuh berdiri sambil memegang gelas kopi, ada dua perempuan bicara. Mereka tidak sedang berbisik. Mereka cuma tidak berpikir bahwa suara bisa sampai.
"Itu istrinya?"
"Iya. Yang dari keluarga Husain."
"Yang suaminya dulu mati di tol itu?"
"Iya, yang itu."
Jeda. Lalu:
"Ya Allah. Dua kali."
Kalila tidak menoleh.
Ia berdiri menghadap gedung hitam itu, dengan abu di rambutnya dan noda hitam di punggung tangannya, dan ia tidak menoleh sama sekali.
Bersambung.