Bau asap itu tidak mau pergi dari rumah.
Sudah tiga hari, tapi Kalila masih menciumnya di kerah baju, di rambut, bahkan di gorden ruang tamu yang tidak pernah ikut ke lokasi proyek. Mungkin memang bukan asap. Mungkin cuma ingatan yang menempel di hidung dan menolak dicuci. Ia sudah dua kali mengganti sarung bantal. Baunya tetap ada.
Malam itu rumah penuh orang. Kursi plastik hijau berjajar sampai ke teras. Kipas angin berdiri di sudut, berputar patah-patah, mendorong asap dupa dan wangi melati yang terlalu manis ke arah tamu. Suara pengajian naik turun seperti ombak yang lelah. Kalila duduk di barisan depan, kepala tertunduk, tangan meremas ujung mukena sampai kainnya kusut.
Ia tidak mendengar doanya. Ia mendengar yang lain.
Bisikan itu datang dari arah dapur. Dua suara perempuan, pelan, tapi rumah tua ini punya kebiasaan buruk: dindingnya meneruskan segala hal.
"Yang pertama truk. Yang kedua api."
"Dua kali, lho. Dua kali."
"Kasihan lelakinya. Bukan kasihan perempuannya."
Kalila menahan napas. Dadanya panas, tapi wajahnya tidak berubah. Ia sudah belajar hal itu sejak kecil: di rumah ini, wajah adalah pintu, dan pintu harus ditutup.
Sutini muncul dari dapur membawa nampan berisi gelas-gelas teh. Wajahnya merah, bukan karena uap. Ia meletakkan nampan terlalu keras di meja, sampai satu gelas berdenting.
"Mbak," katanya setengah berbisik, "jangan ke dapur dulu."
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan."
"Sutini."
Perempuan itu menunduk. Ujung jilbabnya basah kena keringat. "Mereka bilang Mbak pembawa sial," katanya akhirnya. "Katanya siapa pun yang menikah dengan Mbak, umurnya pendek."
Kalila mengangguk pelan. Aneh sekali. Kalimat itu seharusnya merobek sesuatu di dalam dadanya, tapi yang terasa cuma dingin, seperti air sumur yang disiramkan ke punggung.
"Aku sudah dengar," katanya.
"Saya usir saja, ya?"
"Jangan."
"Mbak—"
"Jangan," ulang Kalila. "Kalau kamu usir, mereka pindah tempat. Kalau di sini, aku bisa dengar."
Sutini menatapnya lama, tidak paham, lalu kembali ke dapur sambil menyeret sandal.
Doa selesai menjelang pukul sepuluh. Orang-orang berdiri, menyalami, mengucapkan kalimat yang sama dengan susunan yang sedikit berbeda. Sabar ya, Nak. Yang ikhlas. Sudah takdir. Kalila menyalami semuanya. Telapak tangannya mulai lengket. Ada yang meremas tangannya terlalu lama, ada yang melepasnya terlalu cepat, seolah takut ketularan.
Bu Ratmi, tetangga tiga rumah ke kanan, memegang lengannya dan tidak melepaskannya.
"Nduk," katanya, "kamu itu perlu diruwat."
"Diruwat?"
"Ada yang nempel. Dua suami, dua-duanya pergi. Itu bukan kebetulan."
Di dalam kepala Kalila, satu kalimat sudah tersusun rapi dan siap dilempar. Bu, suami saya mati karena api yang menyala di gudang yang pintunya terkunci dari luar. Tidak ada makhluk halus yang bisa memasang gembok.
Ia membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.
Karena ia tiba-tiba sadar sesuatu yang membuat tengkuknya dingin: kalau ia membantah, ia akan menghabiskan sisa hidupnya membantah. Satu orang, lalu sepuluh, lalu satu kampung. Dan selama ia sibuk membantah, tidak ada satu pun kertas yang berpindah tempat. Tidak ada satu pun nama yang tercatat.
"Terima kasih, Bu," katanya. Suaranya datar dan sopan. "Doakan saja."
Bu Ratmi tampak puas. Orang selalu puas kalau tidak dilawan.
Di teras, dua lelaki kantor berdiri sambil memegang piring. Kalila mengenal keduanya dari bagian pengadaan. Mereka berhenti bicara ketika ia lewat, lalu mulai lagi terlalu cepat setelah ia tiga langkah menjauh.
"Proyeknya jalan terus?"
"Jalan. Malah ditambah."
"Sudah ada penggantinya?"
"Sudah dari kemarin. Suratnya keluar sebelum tujuh harinya."
Kalila berhenti di tengah halaman.
Suratnya keluar sebelum tujuh hari. Sebelum tanah kuburnya kering. Sebelum ada satu pun rapat.
Ia berdiri di antara pot-pot, memegang piring kosong yang sudah lengket, dan menghitung dalam hati. Faris meninggal Kamis dini hari. Kalau lelaki tadi bilang dari kemarin, berarti hari keempat.
Empat hari untuk menyiapkan surat pengangkatan, di perusahaan yang butuh tiga minggu cuma untuk mengganti mesin tik rusak.
Sesuatu di dalam kepalanya bergeser tempat. Untuk pertama kalinya sejak Faris tidak pulang, yang ia rasakan bukan sedih. Yang ia rasakan seperti orang yang baru sadar sedang berdiri di dalam ruangan yang pintunya sudah dikunci sejak tadi, dan kuncinya diputar pelan-pelan supaya tidak terdengar.
Elo datang paling akhir, ketika kursi plastik sudah mulai ditumpuk.
Ia tidak pernah datang di tengah keramaian. Ia selalu datang di ujungnya, saat orang sudah capek dan tidak ada yang mengawasi. Kemejanya rapi, lengan digulung dua lipatan, sepatunya bersih padahal halaman becek. Ia membawa amplop putih dan meletakkannya di meja tanpa diminta.
"Untuk keperluan tujuh hari," katanya.
"Tidak perlu."
"Bukan dari saya pribadi. Dari kantor."
Kalila tidak menyentuh amplop itu. Elo tidak menariknya kembali. Amplop itu tinggal di meja di antara mereka seperti batu di tengah jalan.
"Saya sudah bicara dengan Tuan Husain," kata Elo. "Beliau setuju urusan proyek saya yang pegang dulu. Kondisi beliau sedang tidak baik. Tekanan darahnya naik."
"Saya belum bicara dengan Bapak."
"Besok pagi beliau akan bilang sendiri." Elo tersenyum tipis, senyum orang yang sudah tahu akhir dari percakapan sebelum percakapan itu dimulai. "Dan satu lagi. Sebaiknya kamu tidak ke lokasi lagi."
"Kenapa?"
"Puingnya belum aman. Lantai dua bisa runtuh. Apalagi sisi gudang belakang, yang pintunya dekat tangga besi itu."
Kalila mengangkat wajah.
Ada satu detik di mana ruangan itu terasa terlalu sunyi. Kipas angin masih berputar. Di luar, seseorang menyalakan motor. Wangi melati bercampur bau kopi tumpah.
Sisi gudang belakang. Pintu dekat tangga besi.
Polisi belum menyebut itu. Koran belum menyebut itu. Kalila sendiri baru tahu dari mandor kemarin sore, di tempat yang jauh dari siapa pun, dan mandor itu bicara sambil menoleh ke belakang tiap tiga kalimat.
"Iya," kata Kalila pelan. "Saya tidak akan ke sana."
Elo mengangguk, puas. Ia berdiri, merapikan lengan kemejanya yang sudah rapi.
"Kalau ada apa-apa, kamu tahu di mana saya."
"Saya tahu," kata Kalila.
Ia mengantar Elo sampai pintu. Ia bahkan tersenyum. Wajahnya adalah pintu, dan malam itu ia menutupnya rapat-rapat.
Dari seberang jalan, di bawah pohon asam yang daunnya menutupi lampu jalan, ada bayangan seseorang berdiri diam. Kalila tidak menoleh ke sana. Ia tahu siapa itu, dan ia tahu Elo juga bisa tahu kalau ia menoleh.
Ken Arashi masih di tempatnya. Sudah tiga malam.
Setelah semua orang pulang, rumah menjadi terlalu besar.
Kalila naik ke kamarnya. Pak Adi duduk di kursi rotan di ujung lorong, punggung tegak, termos di sampingnya. Ia berdiri saat Kalila lewat.
"Non belum tidur?"
"Belum. Pak Adi juga."
"Saya memang tidak untuk tidur."
Kalila berhenti. "Bapak masih ditegur Bapak saya?"
Pak Adi diam sebentar. Lalu, "Sudah tiga kali sekarang."
"Maaf."
"Bukan salah Non."
"Tetap saya yang minta maaf." Kalila menunduk. "Pak, Bapak catat tidak, siapa saja yang datang ke rumah ini malam-malam?"
Pak Adi mengerutkan kening. "Catat?"
"Iya. Jam berapa, siapa, naik apa."
"Di kepala saya, catat."
"Bisa dipindah ke kertas?"
Lelaki itu menatapnya lama. Lalu ia mengangguk, satu kali, pelan. "Bisa."
Di kamar, Kalila menyalakan lampu meja. Cahayanya kuning dan bulat, cuma cukup untuk satu buku.
Ia membuka laci. Di dalamnya ada buku tulis bergaris, sampul biru, milik Rania, yang baru terpakai empat halaman untuk daftar warna cat air. Kalila merobek empat halaman itu hati-hati dan menyimpannya di laci lain. Ia tidak mau membuang apa pun yang ditulis adiknya.
Lalu ia membuka halaman kosong pertama.
Tangannya gemetar. Bukan karena sedih. Karena ini terasa seperti membuka pintu yang tidak bisa ditutup lagi.
Ia menulis tanggal di pojok kiri atas. Lalu jam. Lalu satu baris:
Elo tahu pintu mana yang terkunci. Belum ada yang memberi tahu dia.
Ia menatap kalimat itu lama sekali. Tulisannya miring, agak berantakan, tinta biru yang menembus tipis ke halaman berikutnya.
Di bawahnya ia menulis lagi:
Bu Ratmi bilang saya perlu diruwat. Saya tidak membantah. Membantah tidak memindahkan kertas.
"Mbak nulis apa?"
Kalila hampir menjatuhkan pulpennya.
Rania ada di ambang pintu. Kursi rodanya berhenti tepat di garis cahaya, roda kanannya masih berdecit pelan seperti biasa karena belum sempat diminyaki. Rambutnya dikuncir asal. Matanya merah, tapi kering.
"Kamu belum tidur."
"Mbak juga belum." Rania mendorong dirinya masuk. "Aku tanya nulis apa."
Kalila hampir berbohong. Kebiasaan lama: lindungi Rania, sembunyikan yang berat, biarkan adiknya punya satu ruangan yang tidak bau asap.
Tapi Rania sudah membaca dari samping. Ia membaca cepat. Ia selalu bisa membaca terbalik sejak umur tujuh tahun.
"Elo tahu pintu mana yang terkunci," bacanya keras-keras. Lalu ia mengangkat wajah. "Aku juga dengar dia bilang itu."
"Kamu di mana tadi?"
"Di balik lemari pajangan. Aku selalu di situ kalau ada tamu banyak. Tidak ada yang lihat orang duduk." Rania menunjuk buku itu dengan dagunya. "Tulis juga: dia datang jam sepuluh lewat dua puluh. Turun dari mobil abu-abu. Yang nyetir bukan dia."
Kalila menatap adiknya.
"Kamu ingat itu?"
"Aku ingat semua mobil yang parkir di depan rumah kita sejak Mas Devan meninggal," kata Rania tenang. "Aku duduk di jendela tiap sore. Mbak pikir aku ngapain?"
Sesuatu di dada Kalila bergeser. Bukan lega. Lebih seperti takut yang berganti bentuk.
"Rania—"
"Tulis," kata adiknya. "Nanti kita ributnya belakangan."
Kalila menunduk. Ia menulis jam. Ia menulis warna mobil. Ia menulis bukan dia yang menyetir.
Di luar jendela, angin membawa bau melati yang sudah mulai layu, dan di bawah pohon asam, bayangan itu belum juga pergi.
Bersambung.