Pagi itu Kalila bangun dan tidak menangis.
Ia menyadarinya saat sedang mencuci muka. Air dari keran dingin, bau kaporit tipis, cermin berembun di pojok. Ia menunggu. Biasanya datangnya di sini, di depan cermin, tanpa aba-aba, tiba-tiba bahunya naik turun dan ia harus memegang wastafel supaya tidak jatuh.
Pagi itu tidak ada apa-apa. Cuma wajah perempuan berumur dua puluh enam tahun dengan mata bengkak yang sudah mulai kempis.
Ia berdiri lama di situ. Lalu rasa bersalah datang, dan itu jauh lebih buruk daripada tangis.
"Mbak, sarapannya sudah," Sutini memanggil dari bawah.
Kalila turun. Meja makan panjang itu cuma terisi dua orang: dirinya dan Rania. Kursi Tuan Husain kosong. Di piring ada nasi goreng dan telur mata sapi yang pinggirnya renyah. Uapnya naik lurus karena tidak ada angin.
"Bapak belum bangun?"
"Sudah, Mbak. Tapi sarapan di kamar."
"Sama siapa?"
Sutini menuang teh. Tangannya berhenti sedikit terlalu lama di atas gelas. "Sama Pak Elo."
Nasi goreng di sendok Kalila tetap di udara.
"Jam berapa dia datang?"
"Setengah tujuh."
"Catat, Sut."
"Apa?"
"Catat jamnya. Di mana saja. Di kertas belanja juga boleh."
Sutini menatapnya seperti orang menatap sungai yang tiba-tiba berubah arah. Lalu ia mengangguk dan pergi ke dapur. Kalila mendengar bunyi laci dibuka, dan bunyi pulpen diketuk-ketukkan supaya tintanya keluar.
Rania menyendok telurnya. "Mbak nggak nangis lagi," katanya, tanpa mengangkat kepala.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Cuma nyatetin."
"Kamu juga sekarang mencatat?"
"Aku duluan yang mulai," kata Rania. "Mbak yang baru ikut."
Kalila hampir tertawa. Suaranya keluar setengah, lalu tersangkut di tenggorokan dan berubah jadi sesuatu yang lain. Ia buru-buru minum teh.
Jam sembilan ia ke kantor.
Bukan kantor besar, cuma dua lantai di pinggir jalan Kartini dengan papan nama yang catnya sudah mengelupas di huruf terakhir. Bau di dalamnya selalu sama sejak Kalila kecil: kertas, tinta stensil, dan kopi tubruk yang dibiarkan dingin.
Ia naik ke lantai dua, ke bagian arsip. Petugasnya, Pak Sarno, sedang menyusun map di rak besi.
"Non Kalila." Lelaki itu berdiri terlalu cepat. "Ada apa?"
"Saya mau lihat berkas proyek Cempaka. Yang laporan pengiriman material tiga bulan terakhir."
Wajah Pak Sarno berubah. Perubahannya kecil, cuma di sekitar mata, tapi Kalila melihatnya.
"Berkasnya sudah diambil bagian umum, Non."
"Kapan?"
"Hari Senin."
"Senin pagi atau sore?"
"Sa-saya lupa."
Kalila mengeluarkan buku tulis bersampul biru dari tasnya. Ia membukanya. Ia menulis. Pak Sarno menatap tangan Kalila yang bergerak seperti menatap pisau.
"Non, saya cuma—"
"Saya tidak menulis nama Bapak," kata Kalila. Ia mengangkat buku itu supaya lelaki tua itu bisa melihat sendiri. "Lihat. Saya tulis: berkas Cempaka pindah hari Senin. Petugas arsip tidak ingat jamnya. Sudah. Nama Bapak tidak ada."
Pak Sarno menelan ludah. Lalu, sangat pelan, "Sore, Non. Jam empat lewat. Setelah orang-orang pulang."
"Siapa yang bawa?"
"Dua orang. Saya nggak kenal. Tapi surat perintahnya ada tanda tangan."
"Tanda tangan siapa?"
Lelaki itu menggeleng dan matanya basah. "Non, saya punya cucu tiga."
Kalila menutup bukunya. "Ya sudah, Pak. Terima kasih."
Ia turun lewat tangga belakang supaya tidak lewat ruang depan. Di lorong dekat pantry, seorang perempuan muda berdiri memegang gelas kosong. Rambutnya diikat, kacamatanya tebal, kartu pegawainya terbalik.
"Mbak Kalila."
Kalila berhenti. "Dini, ya?"
Perempuan itu tampak kaget namanya diingat. "Iya."
"Ada apa?"
Dini melirik ke ujung lorong. Kosong. Ia tetap menurunkan suaranya sampai hampir hilang.
"Saya pernah bikin laporan," katanya. "Bulan Februari. Tentang gudang belakang. Ventilasinya ditutup dan barang cepat kering itu ditumpuk dekat panel listrik. Saya tulis, saya kasih ke atasan saya, saya minta tanda terima."
"Dikasih tanda terimanya?"
"Dikasih. Fotokopinya saya simpan." Dini menelan ludah. "Dua minggu kemudian saya dipindah ke bagian umum. Katanya rotasi."
Bulu tangan Kalila berdiri.
"Laporan itu sekarang di mana?"
"Nggak tahu, Mbak. Saya cari di arsip, nomornya ada di buku agenda, tapi mapnya kosong." Dini menggigit bibir. "Saya nggak berani ngomong lagi. Saya cuma... saya cuma pengin ada satu orang yang tahu bahwa saya pernah nulis."
Kalila memegang lengan perempuan itu.
"Sekarang ada," katanya. "Saya tahu."
Dini menangis tanpa suara, cepat sekali, lalu mengelapnya dengan punggung tangan dan pergi seolah tidak terjadi apa-apa.
Kalila berdiri di lorong itu beberapa saat.
Bau pantry selalu sama di mana-mana: kopi bubuk, gula tumpah, dan lap basah yang tidak pernah benar-benar kering. Di dinding ada papan pengumuman dengan jadwal piket yang sudah tiga bulan tidak diganti. Nama Dini masih ada di kolom Kamis, dicoret dengan pulpen, ditimpa nama lain di atasnya.
Begitu caranya, pikir Kalila. Nama dicoret, ditimpa. Tidak ada yang berteriak. Tidak ada yang berdarah. Cuma satu nama pindah kolom, dan orangnya pindah lantai, dan laporannya pindah ke tempat yang tidak ada.
Ia mengeluarkan bukunya di situ juga, berdiri, menulis sambil menahan buku di dada.
Papan piket lantai dua. Nama Dini dicoret, ditimpa nama Purwadi.
Ia tidak tahu apakah itu penting. Ia menulisnya karena pagi tadi ia sudah memutuskan satu hal: ia tidak akan memilih-milih mana yang penting sebelum semuanya terkumpul. Orang yang memilih terlalu awal selalu membuang bagian yang nanti dicarinya sendiri.
Di mobil, Kalila membuka bukunya dan menulis: Dini, bagian umum. Laporan Februari. Tanda terima ada fotokopinya. Nomor agenda ada, isi map hilang.
Ia menatap kalimat itu. Tangannya tidak gemetar lagi.
Tuan Husain memanggilnya sore itu.
Ruang kerja ayahnya gelap, seperti biasa. Tirai tebal. Lampu meja hijau. Bau minyak angin dan tembakau lama yang sudah meresap ke kayu. Tuan Husain duduk dengan bantal kecil di punggung. Wajahnya kelabu.
"Duduk."
Kalila duduk.
"Kamu ke kantor tadi."
"Iya, Pak."
"Cari apa?"
"Berkas."
Tuan Husain menutup matanya sebentar. "Kalila. Suamimu baru empat hari."
"Saya tahu, Pak."
"Lalu kenapa kamu tidak di rumah? Kenapa kamu keliling seperti orang mencari perkara?"
Kalila menatap tangan ayahnya di atas meja. Jari-jari yang dulu besar sekali di ingatannya, sekarang kurus, dan kukunya kebiruan.
"Karena ada yang tidak beres, Pak."
"Yang tidak beres itu nasib."
"Nasib tidak memasang gembok."
Tuan Husain menggebrak meja. Suaranya tidak sekeras dulu, tapi cukup untuk membuat gelas bergetar. "Cukup!"
Kalila diam.
"Elo bilang kamu mulai bicara aneh-aneh ke orang kantor," lanjut ayahnya, lebih pelan, lebih lelah. "Dia bilang kamu masih guncang. Wajar. Tapi jangan sampai nama keluarga ini jadi bahan omongan."
"Nama keluarga ini sudah jadi bahan omongan sejak kemarin, Pak. Di dapur rumah kita sendiri."
"Kalila."
"Bu Ratmi bilang saya perlu diruwat."
Ayahnya memalingkan wajah.
Dan di situlah Kalila melihatnya: ayahnya tidak marah karena tidak percaya. Ayahnya marah karena takut. Takut yang sudah tua, yang sudah lama tinggal di rumah ini, yang diberi makan tiap hari oleh seseorang yang datang setengah tujuh pagi membawa teh dan angka-angka.
"Dan penjaga itu," kata Tuan Husain. "Adi. Saya sudah bilang tiga kali."
"Pak Adi tidak melakukan apa-apa."
"Dia orangnya Ken Arashi."
"Dia satu-satunya yang duduk di lorong saya semalaman."
Tuan Husain tidak menjawab. Ia mengambil gelasnya, tangannya bergetar, dan air tumpah sedikit ke berkas di meja. Kalila berdiri dan mengelapnya dengan tisu.
Saat mengelap, matanya jatuh ke lembar paling atas. Surat pengangkatan. Kop perusahaan. Tanggalnya empat hari setelah Faris meninggal, persis seperti kata dua lelaki di teras kemarin malam.
Di kolom mengetahui ada tanda tangan ayahnya. Garisnya miring dan melebar di ujung, tidak seperti tanda tangan Tuan Husain yang biasa, yang selalu tegak dan pendek dan berhenti tepat waktu.
Tangan yang bergetar tidak bisa membuat garis lurus.
Kalila meletakkan tisu basah itu di asbak dan tidak mengatakan apa-apa.
"Saya keluar dulu, Pak."
Malam itu ia duduk di kamar dan menunggu tangis.
Ia bahkan mengundangnya. Ia mengeluarkan kemeja Faris dari lemari dan mendekatkannya ke wajah. Baunya masih ada: keringat, semen, sabun murah yang selalu dipakai lelaki itu meski Kalila sudah tiga kali membelikan yang lain. Ia menahannya lama di depan hidung.
Dadanya sakit. Matanya panas. Tapi air itu berhenti di suatu tempat dan tidak mau keluar.
"Maaf," bisiknya ke kemeja itu.
Ia melipatnya dan mengembalikannya ke lemari.
Lalu ia duduk di meja, membuka buku biru, dan menyadari sesuatu yang membuatnya diam beberapa menit.
Menangis tidak mengubah isi berkas.
Ia sudah menangis empat malam untuk Devan, dulu. Air matanya cukup untuk mengisi ember. Dan berkas laporan kecelakaan Devan tetap berbunyi sama: rem blong, sopir kabur, perkara ditutup. Tidak ada satu huruf pun yang berubah karena ia menangis.
Yang mengubah isi berkas cuma satu: berkas lain.
Ia menulis di halaman baru, pelan-pelan, dengan huruf yang lebih rapi dari kemarin:
Saya berhenti menangis bukan karena saya kuat. Saya berhenti karena tidak ada gunanya. Air mata tidak dibaca siapa pun. Kertas dibaca.
Ketukan di pintu. Sutini masuk membawa selembar kertas belanja, dilipat empat, ujungnya kotor kena minyak.
"Mbak," katanya. "Ini catatan saya. Sejak bulan lalu, kapan saja Pak Elo datang. Saya ingat karena tiap dia datang saya harus bikin teh manis panas, dan gulanya cepat habis."
Kalila membuka kertas itu. Tanggal-tanggal berjajar dengan tulisan tangan yang besar dan miring.
Ia menatapnya lama.
"Sut."
"Iya, Mbak."
"Besok kita beli map."
Bersambung.