Toko alat tulis Pak Hanan buka jam delapan.
Kalila datang jam delapan lewat lima, dengan Rania di sampingnya, karena Rania menolak ditinggal. Toko itu sempit, berbau kertas baru dan lem, dan lampunya cuma satu neon panjang yang berkedip tiap beberapa menit. Rak-raknya penuh sampai langit-langit.
"Map yang tebal, Pak," kata Kalila. "Yang ada talinya."
"Berapa?"
Kalila diam sebentar. Ia belum menghitung.
"Enam," kata Rania dari bawah.
"Enam?"
"Satu untuk Mas Devan, satu untuk Mas Faris, satu untuk orang, satu untuk kendaraan, satu untuk kertas kantor, satu untuk cadangan." Rania mengangkat bahu. "Aku sudah mikir semalam."
Pak Hanan mengambilkan enam map karton cokelat, seikat kertas HVS, dua pulpen, satu spidol, dan sekotak penjepit kertas. Kalila menambahkan satu buku tulis lagi, sampul merah.
"Yang merah buat apa?" tanya Rania.
"Buat kamu."
"Aku sudah punya."
"Punyamu buku gambar. Kalau ada yang lihat isinya, mereka pikir itu coretan anak sekolah." Kalila membayar dan menerima kembalian yang lembab. "Yang merah ini buat menyalin. Yang gambar tetap kamu pakai seperti biasa."
Rania menerima buku itu dan membolak-balik halaman kosongnya dengan ibu jari, bunyinya seperti kartu dikocok.
"Buat apa banyak-banyak, Non?" tanya Pak Hanan sambil menghitung.
"Tugas," kata Rania cepat.
"Tugas apa?"
"Sejarah."
Di mobil, Kalila menoleh ke adiknya. "Sejarah?"
"Kan memang," kata Rania. Ia menatap lurus ke depan. "Yang kita tulis itu yang sudah terjadi. Itu namanya sejarah."
Mereka mulai siang itu, di kamar Rania, karena kamar Rania punya meja rendah dan lantainya luas.
Kalila membentangkan kertas di lantai. Ia menulis judul di atas tiap map dengan spidol, huruf besar-besar.
DEVAN. FARIS. ORANG. KENDARAAN. KERTAS. LAIN-LAIN.
"Aturannya," kata Kalila, "cuma satu. Kita cuma tulis yang kita lihat sendiri atau yang kita dengar sendiri. Kalau dengar dari orang lain, tulis siapa yang bilang."
"Kenapa?"
"Karena kalau bercampur, semuanya jadi tidak berguna. Satu kalimat karangan bisa membuat sembilan kalimat benar ikut dibuang."
Rania mengangguk pelan. "Kayak setetes tinta di air."
"Iya."
Mereka mulai dari yang paling mudah: kendaraan.
Rania mengeluarkan buku gambarnya. Bukan gambar. Di halaman-halaman belakang, di antara sketsa daun dan tangan, ada deretan angka. Kolom rapi. Tanggal, jam, warna mobil, plat nomor, kadang catatan kecil: sopirnya turun, sopirnya tidak turun, bunyi knalpotnya kasar.
Kalila membalik halaman demi halaman. Tangannya melambat.
"Ini sejak kapan?"
"Sejak Mas Devan meninggal." Rania memainkan ujung selimut di pangkuannya. "Waktu itu semua orang sibuk. Aku ditaruh di kamar depan biar nggak ngerepotin. Jendelanya persis ke jalan. Aku bosan. Jadi aku catat."
"Rania."
"Awalnya iseng, Mbak. Sumpah." Suaranya mengecil. "Terus lama-lama aku sadar ada satu mobil yang datang tiap kali ada hal buruk. Datangnya selalu dua hari sebelum. Bukan sesudah."
Kalila berhenti di satu halaman.
Di situ, dengan tulisan anak-anak yang miring, tertulis satu plat nomor. Angkanya berakhir dengan dua huruf yang aneh, gampang diingat. Di sampingnya: truk tangki, parkir depan gang, sopir turun ngobrol sama orang berkemeja.
Tanggalnya dua hari sebelum Devan mati.
Kalila membalik ke belakang, ke halaman terakhir yang terisi.
Plat nomor yang sama. Tiga hari sebelum kebakaran. Catatannya: mobil bak terbuka, muat drum, lewat pelan dua kali.
Ruangan itu terasa menyempit. Kalila mendengar detak jantungnya sendiri di telinga.
"Mbak?"
"Ambilkan penjepit."
"Mbak kenapa?"
"Ambilkan penjepit, Ran."
Rania menyerahkannya. Kalila menyalin dua halaman itu ke kertas baru, dua kali, lalu memasukkan satu ke map KENDARAAN dan satu lagi ke map LAIN-LAIN.
"Kenapa dua?"
"Karena kalau satu hilang, masih ada satu."
"Kalau dua-duanya hilang?"
Kalila menatap adiknya. "Berarti kita butuh tiga."
Sutini masuk membawa nampan berisi teh dan pisang goreng. Ia melihat kertas berserakan di lantai dan hampir mundur.
"Sut, duduk," kata Kalila.
"Saya masih masak, Mbak."
"Sebentar saja. Catatan belanja kamu ada?"
Sutini menaruh nampan, mengelap tangan ke celemek, lalu mengeluarkan segepok kertas kecil dari saku. Nota pasar, kuitansi warung, kertas bungkus yang dipakai menulis di baliknya. Semuanya ditulis dengan pensil yang ujungnya tumpul.
Mereka menyusunnya berdasarkan tanggal. Butuh dua jam. Teh menjadi dingin. Pisang gorengnya habis, sebagian besar dimakan Rania.
Yang muncul dari tumpukan itu membuat mereka bertiga diam.
Tiap kali Elo datang ke rumah, gula pasir naik setengah kilo. Dan tiap kali gula naik setengah kilo, dalam tiga hari sesudahnya ada sesuatu di rumah ini yang berubah. Pak Adi ditegur. Sopir lama diganti. Telepon di ruang tamu dipindah ke ruang kerja Tuan Husain dan dikunci. Berkas dibawa keluar.
"Ya Allah," bisik Sutini. "Saya nggak nyangka gula bisa jadi begini."
"Gula tidak jadi apa-apa," kata Kalila. "Tanggalnya yang jadi."
Rania menarik nota yang paling lusuh dan mengangkatnya ke arah lampu.
"Sut, yang ini tulisannya apa? Aku nggak bisa baca."
"Yang mana?"
"Yang ada angka tiga ribu lima ratusnya."
Sutini menyipitkan mata. "Oh. Es batu."
"Es batu?"
"Iya. Beli banyak. Hari itu ada tamu ramai di ruang tengah, siang-siang, delapan orang. Bapak nggak ikut duduk. Saya cuma antar minum sampai pintu, terus disuruh keluar."
Kalila mengangkat kepala. "Delapan orang? Di rumah ini?"
"Iya, Mbak."
"Tanggal berapa?"
Sutini membalik notanya. Kalila menyalin angkanya, lalu membuka buku gambar Rania di tanggal yang sama.
Di halaman itu, dengan tulisan kecil di pinggir sketsa daun: empat mobil parkir sampai depan rumah Bu Ratmi. Yang satu plat merah.
Ketiganya diam.
"Plat merah," kata Kalila.
"Aku ingat karena aku kira ada pejabat," kata Rania. "Aku sempat mau lihat dari jendela depan, tapi Mbak Sutini nyuruh aku masuk kamar."
"Bukan saya yang nyuruh," kata Sutini pelan. "Saya yang disuruh nyuruh."
Kalila menulis kalimat itu apa adanya, lengkap dengan siapa yang mengucapkannya.
Pak Adi datang malam, setelah pagar dikunci.
Ia berdiri di ambang pintu kamar Rania dan tidak mau masuk sampai dipanggil dua kali. Dari saku bajunya ia mengeluarkan buku kecil, sampul plastik hitam, ukurannya cuma sebesar telapak tangan.
"Ini catatan jaga saya, Non."
Kalila membukanya. Tulisannya kecil, rapat, dengan huruf cetak yang tegak seperti orang yang belajar menulis dari buku latihan.
Tiap malam ada barisnya. Jam mulai. Jam selesai. Siapa lewat. Suara apa terdengar.
Dan di beberapa tanggal, ada tanda silang kecil di pinggir.
"Silang ini apa, Pak?"
"Malam yang ada orang di luar pagar," kata Pak Adi. "Berdiri saja. Tidak masuk. Tidak ngapa-ngapain. Cuma berdiri, sepuluh menit, lalu pergi."
Kalila menghitung silangnya. Sebelas.
"Bapak lihat wajahnya?"
"Tidak pernah. Tapi rokoknya sama tiap kali. Kretek, yang manis baunya. Puntungnya saya simpan."
Rania mengangkat kepala. "Bapak simpan puntung rokok?"
"Saya penjaga, Non," kata Pak Adi tenang. "Kalau saya cuma jaga, tidak ada gunanya. Yang berguna itu ingat."
Kalila menutup buku hitam itu dan meletakkannya di tengah lantai, di antara enam map cokelat.
Untuk pertama kalinya sejak kebakaran, ada sesuatu di dadanya yang bukan takut dan bukan sedih. Sesuatu yang lebih keras. Lebih tenang.
"Pak Adi," katanya, "boleh saya salin?"
"Boleh. Tapi jangan tulis nama saya."
Kalila menatapnya. "Kenapa?"
"Saya bukan takut, Non. Saya cuma tahu, kalau nama saya ada, Bapak Non punya alasan untuk mengusir saya. Dan kalau saya diusir, tidak ada yang duduk di lorong ini."
"Baik," kata Kalila pelan. "Saya tulis: penjaga malam."
Mereka bekerja sampai lewat tengah malam.
Kalila membuat halaman pertama untuk tiap map: daftar isi. Nomor. Tanggal. Isi satu baris. Sumber. Ia menomori tiap lembar di pojok kanan bawah dengan pulpen, kecil-kecil, dan menulis jumlah total di halaman depan supaya kalau ada yang hilang, langsung ketahuan.
Rania yang mengusulkan itu.
"Kalau nomornya lompat, berarti ada yang diambil," katanya. "Kayak buku perpustakaan."
Jam satu pagi, semuanya selesai. Enam map berdiri di lantai, tebalnya belum seberapa, tapi berdiri.
Kalila mengambil spidol dan menulis di map paling depan, di sudut atas, huruf kecil saja:
ARSIP 1.
Ia menatapnya lama.
"Kenapa satu?" tanya Rania.
"Karena akan ada dua."
"Terus?"
"Terus tiga."
Rania tersenyum. Senyum pertamanya dalam seminggu, miring dan capek. "Mbak, suatu hari ini harus boleh dibaca orang, ya. Bukan disimpan di bawah kasur."
"Nanti."
"Bukan nanti. Suatu hari."
Kalila tidak menjawab. Ia membungkus enam map itu dengan kain batik lama, mengikatnya, dan menaruhnya di dalam kotak jahit Sutini, di bawah gulungan benang dan kain perca, di lemari dapur yang engselnya berbunyi.
"Kenapa di dapur?" tanya Rania.
"Karena tidak ada laki-laki di rumah ini yang pernah membuka lemari dapur."
Rania tertawa. Suaranya pecah di ruangan yang sunyi, dan Kalila ikut tertawa, dan untuk beberapa detik rumah itu terasa seperti rumah lagi.
Lalu terdengar bunyi kerikil di jendela.
Tiga kali. Pelan. Berhenti. Tiga kali lagi.
Kalila membeku. Sutini memegang gagang wajan tanpa sadar. Rania mendorong kursinya mundur satu putaran.
Kalila mematikan lampu dapur. Ia berjalan ke jendela belakang, membuka kaitnya perlahan, dan mengintip lewat celah.
Di bawah, di halaman belakang yang gelap, seseorang berdiri di antara pot-pot. Tinggi. Diam. Membawa sesuatu di tangannya, kotak kecil persegi.
Bau yang naik ke jendela bukan bau rokok kretek.
Bau daun mangga.
Bersambung.