Ruang tunggu pengadilan itu berbau kopi sachet, rokok yang diisap di luar lalu dibawa masuk di baju, dan pengharum lantai yang wanginya terlalu manis.
Kursinya plastik hijau, disambung besi, empat-empat. Di dinding ada televisi menyala tanpa suara, memutar acara masak-masak. Di sebelahnya kalender dari bank, masih di bulan yang lalu. Kipas dinding berputar dan setiap kali sampai ke ujung kanan, ia berbunyi seperti orang berdeham.
Kalila datang satu jam lebih awal. Ia tidak tahu kenapa. Mungkin karena kalau ia datang tepat waktu, ia akan punya alasan untuk tidak jadi berangkat.
"Kakak sudah makan?" tanya Rania.
"Sudah."
"Bohong."
"Setengah."
Rania mengeluarkan roti dari tasnya dan menaruhnya di pangkuan Kalila tanpa berkata apa-apa lagi.
Kalila menggigit roti itu tanpa merasakan apa-apa dan memikirkan malam itu lagi. Malam waktu Sutini mengetuk pintu kamarnya pukul satu, tanpa lampu, dengan wajah yang sudah abu-abu.
Bangun, Non. Jangan lewat pintu samping.
Kalimat itu yang menyelamatkannya. Kalimat itu juga diucapkan oleh orang yang selama dua tahun mencatat jam berapa lampu kamarnya dimatikan. Kalila sudah mencoba memisahkan dua hal itu berkali-kali, seperti orang memisahkan garam dari air, dan tidak pernah bisa.
Di ujung deretan kursi ada anak muda duduk sendirian, memakai kemeja yang jelas milik orang lain, terlalu lebar di bahu. Ia memutar-mutar kunci motor di jari. Kalila mengenali garis dagunya.
Bagas melihat Kalila, lalu berdiri buru-buru, lalu bingung mau bagaimana.
"Duduk saja," kata Kalila.
Anak itu duduk. Ia tidak bicara sepanjang menunggu. Sekali ia mengusap wajah dengan telapak tangan, lama, seperti orang yang menghapus sesuatu yang tidak ada.
Perkara Sutini kecil. Nomornya di daftar urutan kelima, di antara perkara pencurian sepeda motor dan perkara tanah. Ruangannya bukan ruang besar yang berpanel kayu itu, cuma ruang biasa dengan meja yang catnya terkelupas di sudut.
Sutini masuk memakai kemeja lengan panjang yang kebesaran. Rambutnya diikat. Ia lebih kurus dari terakhir kali Kalila melihatnya, dan waktu ia menoleh ke bangku pengunjung, ia langsung menunduk lagi.
Semua sudah dibuka di sidang-sidang sebelumnya. Kalila sudah mendengarnya, tapi mendengar untuk kedua kalinya ternyata tidak lebih mudah.
Dua tahun. Selama dua tahun Sutini melaporkan jam. Jam Kalila pulang. Jam lampu kamar dimatikan. Hari-hari Tuan Husain ke luar kota. Ia juga pernah menyerahkan satu kunci cadangan pintu samping supaya dibuatkan duplikat, dan menerimanya kembali dalam dua jam.
Alasannya sudah dibacakan juga. Anaknya, Bagas, dituduh mengambil barang di gudang tempat ia bekerja. Berkasnya ada di tangan orang kantor. Orang kantor itu bilang berkas itu bisa diam di laci, atau bisa berjalan, tergantung.
"Saudari tahu perbuatan itu salah?" tanya hakim.
"Tahu, Pak."
"Kenapa tetap dilakukan?"
Sutini diam agak lama.
"Karena saya pikir yang saya kasih itu cuma jam, Pak," katanya. "Cuma jam berapa lampu mati. Saya pikir itu bukan apa-apa."
"Sekarang Saudari berpikir apa?"
"Sekarang saya tahu, jam itu yang paling mahal."
Hakim membaca sisanya dengan cepat. Hal yang meringankan: terdakwa berterus terang sejak pemeriksaan pertama, memberikan keterangan yang membantu membuka perkara pokok, belum pernah dihukum, dan pada akhirnya menghentikan sendiri perbuatannya lalu memperingatkan korban.
Hukumannya satu tahun enam bulan, dikurangi masa tahanan.
Sutini mengangguk waktu putusan dibacakan. Ia tidak menangis. Ia bahkan sempat membetulkan letak kerah kemejanya yang kebesaran, seperti orang yang mau difoto.
Di luar, di ruang tunggu, mereka menunggu mobil tahanan. Petugas mengizinkan lima menit karena Kalila membawa surat dan karena petugas itu sedang makan siang.
Sutini duduk di kursi plastik hijau. Kalila duduk di kursi seberangnya, satu meja pendek di antara mereka. Di atas meja itu ada asbak kaca yang isinya bukan abu, melainkan tiga tutup botol.
"Non," kata Sutini.
"Bu Sutini."
"Non kurus."
"Ibu juga."
Sutini tertawa pendek. Tawa itu berhenti di tengah, seperti terpotong.
Kalila mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Kaleng biskuit bulat, seng, penyok di satu sisi. Ia menaruhnya di meja.
"Ini barang Ibu," katanya. "Dari kamar belakang. Saya tidak buka lama-lama, cuma memastikan tidak ada yang basah. Ada kacamata baca, sisir, foto Bagas waktu wisuda SMA, sama sarung bantal batik yang Ibu jahit sendiri."
Sutini menyentuh tutup kaleng itu dengan dua jari.
"Dan ini," Kalila menaruh amplop cokelat. "Gaji Ibu bulan terakhir dan uang lembur Lebaran yang belum sempat dibayar. Sudah saya hitung dua kali."
Sutini menggeleng cepat. "Non, jangan."
"Ini bukan pemberian." Suara Kalila datar. "Ini upah kerja yang sudah Ibu kerjakan. Tidak ada hubungannya dengan yang lain. Kalau saya tahan, saya yang salah."
Sutini menarik amplop itu dengan tangan gemetar, lalu menaruhnya di atas kaleng, lalu menaruh kedua tangannya di atas keduanya seperti menahan supaya tidak terbang.
"Non," katanya. "Saya minta maaf."
Ruangan itu tidak berubah. Televisi masih memutar acara masak tanpa suara. Kipas masih berdeham di ujung kanan.
Kalila memandang buku jari perempuan itu. Kasar, pecah-pecah, sama seperti dulu waktu tangan itu menyisir rambutnya sebelum berangkat sekolah.
"Saya tidak bisa bilang tidak apa-apa," katanya akhirnya. "Kalau saya bilang begitu, saya berbohong, dan saya sudah capek sama kebohongan."
Sutini menunduk lebih dalam.
"Devan meninggal," kata Kalila pelan. "Faris meninggal. Saya tidak bilang Ibu yang membunuh mereka. Hakim juga tidak bilang begitu. Tapi orang itu tahu rumah saya dari jam-jam yang Ibu tulis."
"Iya, Non."
"Jadi saya tidak memaafkan Ibu." Kalila menelan ludah. "Bukan hari ini. Mungkin bukan tahun ini. Saya tidak mau janji sesuatu yang belum ada di dada saya."
Sutini mengangguk berkali-kali, cepat-cepat, seperti orang yang sudah menyiapkan diri untuk kalimat yang lebih buruk.
"Tapi saya juga tidak akan mengejar Ibu," kata Kalila. "Saya tidak menuntut lebih dari yang sudah dijatuhkan. Saya tidak akan menghubungi tempat kerja Ibu nanti. Saya tidak akan menyusahkan Bagas. Kalau ada orang yang datang ke saya mau memakai nama saya untuk menyusahkan Ibu, saya bilang tidak."
Sutini mengangkat wajah. Matanya basah dan merah dan bingung.
"Kenapa, Non?"
"Karena kalau saya balas, saya jadi orang yang memakai kekuasaan ke orang yang lebih lemah." Kalila memandangnya lurus. "Saya sudah lihat orang seperti itu dari dekat. Saya tidak mau berdiri di sebelahnya."
Sutini menangis tanpa suara, cara orang menangis yang seumur hidup dilatih supaya tidak mengganggu majikan. Bahunya naik turun, tapi tidak ada bunyi sama sekali. Kalila memberikan sapu tangan dan tidak menyentuhnya.
Rania mendorong kursinya mendekat. Ia berhenti di sisi meja, membuka buku tulisnya, dan menaruh pulpen di garis.
"Bu Sutini," katanya.
"Non Rania."
"Aku mau tanya satu hal. Bukan untuk pengadilan. Sudah selesai pengadilannya." Rania menatapnya. "Waktu Ibu mulai, tahun pertama itu, ada tidak orang lain di rumah yang Ibu tahu juga diminta hal yang sama?"
Sutini berpikir. "Tukang kebun yang lama, Non. Yang berhenti sebelum pak Adi datang. Dia diminta juga. Dia menolak, terus dia dipecat dua minggu kemudian. Katanya karena mencuri pupuk."
Rania menulis. Tanggal di pojok kiri. Jam di sebelahnya.
"Namanya?"
"Pak Omo."
"Terima kasih." Rania menutup bukunya. "Bu, aku belum bisa bicara seperti Kakak. Aku masih marah. Marahku belum selesai dan aku tidak mau berpura-pura selesai supaya suasananya enak."
"Iya, Non. Pantas."
"Tapi aku juga tidak mau Ibu berpikir aku menunggu di depan pintu penjara buat membalas." Rania memutar rodanya sedikit ke belakang. "Aku tidak menunggu. Aku sedang mengerjakan hal lain. Kalau nanti sudah selesai marahnya, aku kabari."
"Iya, Non," kata Sutini, dan untuk pertama kalinya suaranya terdengar seperti orang dewasa yang bicara dengan orang dewasa. "Saya tunggu, tidak apa-apa kalau tidak datang."
Petugas berdiri di ambang pintu dan mengetuk kusen dua kali dengan kunci.
Sutini bangkit. Ia memeluk kaleng biskuit itu ke dada dengan amplop di bawahnya. Di ambang pintu ia berhenti dan menoleh.
"Non."
"Iya."
"Yang laki-laki di seberang jalan itu," katanya. "Yang duduk di bawah pohon asam."
Kalila menegang. "Kenapa?"
"Saya pernah dimintai tahu tentang dia juga," kata Sutini. "Saya bilang saya tidak tahu apa-apa. Itu satu-satunya hal yang saya tahan, Non. Cuma satu itu. Saya cerita bukan supaya dihitung baik. Saya cuma mau Non tahu ada satu yang tidak saya kasih."
Lalu ia keluar.
Dari jendela ruang tunggu, Kalila melihat perempuan itu naik ke mobil tahanan, duduk di bangku besi, memangku kaleng biskuit di pahanya. Mobil itu berjalan pelan melewati polisi tidur, dan kepala Sutini terguncang sedikit di balik jeruji jendela.
Kalila berdiri di situ sampai mobilnya belok.
Bagas masih di kursi plastik, memandangi lantai. Kalila lewat di depannya dan berhenti.
"Berkas kamu yang di gudang itu," katanya. "Yang katanya kamu mengambil barang."
Anak itu mengangkat wajah, siap dimarahi.
"Sudah dicek pengacara kami waktu perkara kemarin," kata Kalila. "Tidak pernah ada laporan polisinya. Tidak pernah ada. Cuma map kosong yang dipegang orang, dipakai untuk menakut-nakuti ibumu selama dua tahun."
Bagas membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar.
"Saya bilang bukan supaya kamu berterima kasih," kata Kalila. "Saya bilang supaya kamu tahu barang yang dipakai untuk memeras ibumu itu tidak ada isinya. Itu saja."
Ia berjalan keluar, dan di belakangnya terdengar anak itu menarik napas panjang sekali, patah di tengah.
"Kakak baik-baik saja?" tanya Rania.
"Tidak," kata Kalila. "Tapi tidak apa-apa tidak baik-baik saja."
Malam itu di rumah, ia berdiri lama di depan rak dapur. Cangkir Sutini masih di rak kedua, di tempat yang sama, dengan gagang yang dulu pernah patah lalu dilem sendiri oleh pemiliknya.
Kalila mengambil cangkir itu. Ia tidak membuangnya. Ia juga tidak mengembalikannya ke rak.
Ia membungkusnya dengan koran, menaruhnya di dalam kardus di gudang, lalu menutup kardus itu dan menulis satu kata di sisinya dengan spidol: nanti.
Bersambung.