Yang pertama hilang adalah motor di bawah pohon asam.
Kalila baru menyadarinya pada hari kesembilan. Ia bangun, berjalan ke jendela lebih dulu sebelum ke kamar mandi, seperti yang sudah bertahun-tahun ia lakukan, dan menemukan seberang jalan itu kosong. Cuma pohon asam, daun-daun kecilnya, dan bekas oli di tanah yang mulai tertutup debu.
Ia berdiri di situ lama sekali dengan gorden di tangan.
"Kakak kenapa?" Rania lewat di lorong.
"Tidak apa-apa."
"Kakak berdiri di jendela sepuluh menit untuk tidak apa-apa?"
Kalila menutup gorden. "Ken pindah."
"Iya. Sudah dua minggu." Rania memiringkan kepala. "Kamu baru tahu?"
Kalila menoleh cepat. "Kamu tahu dari kapan?"
"Dari dia sendiri. Dia pamit ke aku, ke pak Adi, ke Bapak, dan ke tukang bakso di ujung." Rania mengangkat bahu. "Semua orang di rumah ini dipamiti, Kak. Kecuali satu."
Sore itu Kalila menyeberang jalan.
Kamar kontrakan itu di lantai dua, di atas toko fotokopi. Ibu pemilik rumah membukakan pintu sambil mengunyah.
"Sudah kosong, Neng. Dibersihkan sendiri sama yang punya. Lantainya sampai dipel." Perempuan itu mendorong pintu lebih lebar. "Mau lihat? Silakan saja."
Kamar itu kecil. Bau kapur dan sabun cuci. Tidak ada apa-apa lagi kecuali satu kursi kayu yang ditinggal, menghadap jendela.
Kalila duduk di kursi itu.
Dari situ, rumahnya kelihatan seluruhnya. Pagar. Teras. Jendela kamarnya sendiri di lantai dua, dengan gorden yang warnanya sudah pudar. Ia bisa melihat kapan lampu menyala. Ia bisa melihat siapa yang berhenti di depan.
Di kusen jendela ada bekas gelap, memanjang, sebesar dua lengan. Cat kayunya terkikis sampai warnanya beda.
Kalila menyentuh bekas itu dengan telapak tangan. Ia membayangkan berapa ribu jam siku seseorang harus bertumpu di satu tempat sampai catnya habis.
Sesuatu di dadanya naik dan tidak bisa turun lagi.
"Bayarnya selalu tepat waktu, Neng," kata ibu kos dari ambang pintu, tanpa diminta. "Tujuh tahun. Tidak pernah telat sehari. Kalau pas hujan besar dia pinjam ember saya, katanya buat naruh di bawah jendela biar bisa dibuka terus."
Kalila menoleh. "Jendelanya dibuka terus?"
"Iya. Kaca kalau ditutup ada bayangannya, katanya. Jadi tidak kelihatan jelas." Perempuan itu menggeleng-geleng. "Saya sudah lama mau tanya dia jaga apa. Tapi tidak enak."
"Ibu tidak pernah tanya?"
"Tidak. Orangnya sopan, sudah cukup." Ibu kos itu mengunyah lagi. "Waktu pindah, dia bersih-bersih sampai dua jam. Kursinya ditinggal. Katanya kursinya sudah lebih pantas di sini daripada di tempat lain."
Kebun mangga itu dua jam dari kota, lewat jalan yang di kilometer terakhir cuma cukup untuk satu mobil. Kalila datang pukul lima sore, waktu matahari sudah rendah dan cahayanya masuk mendatar di antara batang-batang pohon.
Baunya yang pertama menyambut. Bunga mangga yang manis dan agak berdebu. Lalu asap daun kering yang dibakar di ujung kebun, tipis, menempel di baju.
Anak-anak Bibi Mai berlari duluan.
"Bu Kalila! Bu Kalila!"
"Om Ken di mana?"
"Di drum!"
Ken sedang mencuci tangan di drum air di samping gudang, menggulung lengan sampai siku. Ia mendengar suara dan menoleh, dan untuk seperempat detik wajahnya terbuka lebar sekali, sebelum ia menutupnya lagi seperti orang menutup laci.
"Kok ke sini," katanya.
"Kok pindah," kata Kalila.
Ken mengeringkan tangan di celana. "Sudah tidak ada yang perlu dijaga."
"Jadi kamu di situ karena ada yang perlu dijaga?"
"Iya."
"Bohong."
Ken tidak menjawab. Ia mengambil dua bangku plastik dan menaruhnya di bawah pohon yang batangnya paling besar. Bunga mangga jatuh sedikit-sedikit, kuning kecokelatan, menempel di rambut.
Bibi Mai muncul membawa teh dalam gelas belimbing, meletakkannya di atas peti kayu, lalu pergi lagi tanpa banyak bicara, tapi Kalila melihat perempuan itu tersenyum ke arah punggungnya sendiri.
"Perkaranya sudah selesai," kata Ken.
"Banding."
"Bandingnya akan kalah." Ken menghirup tehnya. "Buku ekspedisi itu tidak bisa dibantah."
Mereka diam. Di kejauhan seseorang memukul pohon dengan galah dan buah jatuh dengan bunyi tumpul di tanah.
"Ken," kata Kalila.
"Hm."
"Menikah denganku."
Gelas di tangan laki-laki itu berhenti di tengah jalan menuju mulutnya. Ia menaruhnya kembali di peti dengan hati-hati sekali, seolah gelas itu bisa meledak.
"Kalila."
"Aku tidak sedang bertanya apakah kamu mau atau tidak. Maksudku, iya, itu juga." Kalila menarik napas. "Tapi aku tidak mau kamu menunggu aku memberi izin. Sudah bertahun-tahun kamu menunggu diizinkan. Jadi aku yang bilang duluan."
Ken memandang tanah cukup lama.
"Dua laki-laki menikahimu," katanya. "Dua-duanya tidak ada."
"Katakan sisanya."
"Aku tidak percaya kutukan."
"Bagus. Karena tidak ada." Suara Kalila naik sedikit, dan ia membiarkannya. "Mereka tidak mati karena menikah denganku. Mereka dibunuh. Ada orangnya. Ada namanya. Ada nomor perkaranya. Ada putusannya, dibacakan tiga hakim selama lima jam, dan aku duduk di situ mendengarkan sampai habis."
"Aku tahu."
"Kalau kamu tahu, jangan bicara seperti orang yang takut giliran." Kalila menunjuk dadanya sendiri. "Pernikahanku diblokir. Bukan dikutuk. Diblokir. Oleh orang yang memutuskan, yang punya rekening, yang punya sopir, yang punya kunci kantor. Orang itu sekarang di dalam."
Ken mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
"Bukan itu yang paling aku takutkan," katanya akhirnya.
"Lalu apa?"
Ia mengangkat kepala. Matanya lelah dan jujur, dan Kalila baru sadar laki-laki ini sudah beruban di pelipis.
"Aku takut kamu memilih aku karena aku yang paling lama berdiri di situ," katanya. "Karena aku kebiasaan. Karena selama tujuh tahun kalau kamu buka jendela, ada aku. Itu bukan cinta, Kalila. Itu cuma kehadiran yang tidak pernah pergi."
Kalila berdiri. Ia berjalan dua langkah, berhenti di depan bangku Ken.
"Aku datang ke kamarmu tadi sore," katanya.
Ken mengerjap.
"Kamu meninggalkan kursi menghadap jendela. Aku duduk di situ." Suaranya mulai bergetar dan ia tidak berusaha menahannya. "Ken, catnya habis. Di kusen. Bekas sikumu. Kayunya terkikis sampai warnanya beda."
Ken memandangnya, tidak bergerak.
"Aku tidak memilih kamu karena kamu ada," kata Kalila. "Aku memilih kamu karena aku tahu apa yang kamu bayar untuk ada. Tujuh tahun kamu tidak pernah sekali pun masuk lewat pintu itu tanpa dipanggil. Tidak pernah sekali pun kamu bilang, aku sudah begini-begitu untuk kamu, jadi sekarang giliranmu. Tidak pernah."
"Karena itu bukan urusan kamu."
"Nah." Kalila tertawa dan air matanya jatuh di saat yang sama. "Itu. Itu yang aku pilih."
Ken berdiri. Ia lebih tinggi darinya, dan dari dekat baunya sabun, tanah, dan asap daun.
"Kalau begitu ada syaratnya," katanya pelan.
"Sebutkan."
"Kalau suatu hari kamu mau pergi, kamu pergi." Ia menahan pandangan Kalila. "Tidak aku halangi. Tidak aku kunci. Tidak aku bikin susah. Aku tidak mau jadi versi sopan dari orang itu."
Kalila menutup jarak yang tersisa dan menaruh dua telapak tangannya di dada Ken, tepat di tempat jantung yang detaknya terlalu cepat untuk orang yang kelihatan setenang itu.
"Kamu tidak akan pernah jadi seperti dia," katanya. "Kamu bahkan tidak tahu caranya."
Ia menariknya turun dan menciumnya di bawah pohon mangga, dengan bunga jatuh di rambut mereka dan asap tipis lewat di antara batang-batang. Tangan Ken naik ke tengkuknya, lalu berhenti, seluruh tubuhnya menegang seperti orang menahan pintu yang didorong dari dalam.
Lalu ia mundur satu langkah. Napasnya berantakan.
"Ken."
"Yang ini," katanya serak, "aku mau urut. Dari awal sampai akhir. Aku sudah menunggu tujuh tahun, aku bisa menunggu tiga minggu."
Kalila menyandarkan dahi ke bahunya dan tertawa pendek, dan tawa itu bergetar.
"Tiga minggu," katanya. "Kamu sudah menghitung."
"Sudah dari tadi malam," kata Ken. "Sebelum kamu datang."
Di rumah, Rania mendengarkan dengan wajah datar, lalu menutup buku tulisnya, lalu meninju bahu kakaknya cukup keras.
"Akhirnya," katanya. "Sinta sampai bertaruh sama aku bulan lalu. Aku bilang Kakak yang duluan. Aku menang."
"Sinta siapa?"
"Yang bantu aku bikin gambar ramnya. Nanti aku kenalkan." Rania mengibaskan tangan. "Sekarang jangan alihkan pembicaraan. Di mana akadnya?"
"Di kebun," kata Kalila. "Di ruang kaca."
Rania mengangkat alis. "Yang dibangun Faris?"
"Iya."
"Kamu yakin?"
"Belum," kata Kalila jujur. "Tapi aku yakin aku tidak mau menikah di tempat yang pura-pura tidak punya sejarah."
Ken menelepon malamnya, dan suaranya hati-hati.
"Bibi Mai bilang kamu mau di ruang kaca."
"Iya."
"Kalila." Ada jeda panjang di ujung sana. "Itu bangunan Faris. Kalau kamu berdiri di situ nanti, kamu akan ingat dia."
"Aku akan ingat dia di mana pun aku berdiri," kata Kalila. "Bedanya, di situ aku ingat dia sedang mengerjakan sesuatu yang bagus. Bukan ingat bengkelnya, bukan ingat malam itu. Ingat dia memasang kaca dan mengomel karena ukurannya meleset satu senti."
Ken diam lagi. Lalu terdengar ia menarik napas.
"Atapnya bocor di sudut timur," katanya akhirnya. "Aku perbaiki dulu."
"Jangan diganti semua kacanya."
"Tidak," kata Ken. "Cuma yang pecah."
Tuan Husain menerima kabar itu di ruang tengah, dengan koran di pangkuan yang sudah lima menit tidak dibaliknya.
"Ken itu tidak punya perusahaan," katanya.
"Tidak," kata Kalila. "Dia punya kebun."
"Bapak belum bilang tidak setuju."
"Saya juga tidak sedang minta izin, Pak," kata Kalila, tanpa nada melawan, cuma jelas. "Saya memberi tahu."
Tuan Husain melipat korannya. Tangannya bergetar sedikit di lipatan terakhir.
"Dulu Bapak memilihkan," katanya. "Dua kali. Dua-duanya Bapak pilih karena Bapak pikir Bapak tahu. Dan Bapak dengar orang yang salah tentang orang yang benar." Ia menaruh koran itu. "Sekarang kamu yang pilih. Bapak cuma datang."
Malam itu Kalila membuka laci kecil di meja riasnya.
Kertas itu masih di sana. Terlipat empat, sudah lunak di garis lipatannya karena terlalu sering dibuka, dengan satu sudut yang menguning.
Ia mengeluarkannya, memegangnya di telapak tangan, dan tidak membukanya.
"Nanti," katanya pada kamarnya yang sepi. "Di depan orang. Baru aku baca."
Bersambung.