Matahari sudah mulai bersinar terang ketika Rara berdiri di depan pintu gerbang SD Cempaka Wangi, mengenakan seragam putih dan merah muda yang baru disetrika rapi oleh Ibunya. Tangannya masih erat menggenggam Boneka Kiki, yang juga sudah diberi seragam mini yang dibuat dengan cermat oleh neneknya dari potongan kain yang sama dengan seragam Rara.
“Tenang saja, Nak. Kamu pasti akan punya banyak teman di sini,” ucap Bu Sri sambil mengusap pipi Rara yang sedikit merah karena kegugupan. “Aku akan menjemput kamu jam tiga sore ya.”
Rara mengangguk dan kemudian melangkah masuk ke dalam halaman sekolah. Mata nya langsung mencari ke arah pohon beringin yang besar itu – dan seperti yang diharapkannya, ada sosok anak laki-laki yang sedang duduk di atas akar pohonnya, ember batu nya berada di sebelahnya sambil dia mengurut-urutkan koleksi batu nya dengan teliti. Bima segera melihat Rara dan langsung berdiri dengan wajah yang bersinar bahagia.
“Rara! Kamu benar-benar datang ya!” teriaknya dengan suara riang, membuat beberapa anak lain yang sedang bermain menoleh ke arah mereka.
Rara berjalan lebih cepat menghampiri Bima, dengan langkah yang semakin percaya diri. “Tentu aja, Bima. Kamu bilang akan tunjukkan batu paling cantik yang kamu punya kan?”
Bima mengangguk dengan bangga dan kemudian membuka ember nya dengan hati-hati, seolah sedang membuka kotak harta karun. Dia mengambil sebuah batu kecil yang berbentuk seperti bintang, dengan warna kuning keemasan yang berkilau ketika terkena sinar matahari. “Ini dia! Batu bintang emas – aku cari selama tiga hari di sungai sampai akhirnya ketemu di bawah akar pohon bambu yang tumbuh di tepi sungai.”
Rara menjulurkan tangan nya dengan hati-hati untuk menyentuh batu itu. Permukaannya yang halus dan dingin membuatnya merasa senang. “Cantik sekali Bima. Kayaknya bintang yang jatuh dari langit ya?”
“Kak Siti bilang batu ini sangat langka lho,” ucap Bima sambil menaruh batu itu kembali ke dalam ember dengan hati-hati. “Hanya ada satu di sungai.”
Tiba-tiba suara lonceng sekolah berbunyi, menandakan awal jam pelajaran. Anak-anak mulai berdesakan masuk ke dalam kelas masing-masing. Bima melihat ke arah kelas dua dan kemudian ke arah Rara. “Kamu masuk kelas berapa, Rara?”
“Kelas satu,” jawab Rara dengan suara sedikit kecewa karena menyadari mereka tidak akan berada di kelas yang sama.
“Gapapa, Nanti setelah jam istirahat kita bisa main lagi di bawah pohon ini,” ucap Bima dengan senyum hangat. “Aku akan tunggu kamu ya!”
Setelah satu jam pelajaran pertama yang diisi dengan pengenalan diri antar murid dan guru, lonceng istirahat akhirnya berbunyi. Rara segera keluar dari kelas dan berlari ke arah pohon beringin. Bima sudah ada di sana, dan kali ini dia tidak sendirian – ada tiga anak laki-laki lain yang sedang melihat koleksi batu nya dengan kagum.
“Eh, ini teman baru aku yang bilang akan tunjukkan batu bintang emas,” ucap Bima kepada teman-temannya yang bernama Joko, Ucok, dan Dedi.
Anak-anak itu melihat Rara dengan tatapan yang penuh penasaran. Joko, yang tampak sebagai pemimpin kelompok mereka, mendekat dan melihat Boneka Kiki yang masih dipegang Rara. “Bermain boneka ya? Itu namanya siapa?”
“Namanya Kiki,” jawab Rara dengan suara lembut tapi tegas. “Nenek ku yang buat dan kasih nama sama dia.”
Ucok tertawa pelan. “Boneka saja diberi nama. Kayaknya anak kecil banget ya?”
Rara merasa mata nya sedikit panas dan ingin menangis, tapi dia segera mengangkat dagunya. “Bukan anak kecil! Kiki punya cerita sendiri lho. Dia bisa berbicara dengan aku dan tahu banyak hal yang tidak kamu tahu.”
Bima segera melindungi Rara dengan berdiri di antara dia dan teman-temannya. "Jangan begitu dong, Ucok. Boneka itu sangat penting buat Rara. Kalian tidak boleh berkata-kata yang menyakitkan hati dan membuat dia menangis ya!"
ucok mengangkat kedua tangan nya sebagai tanda menyerah. “Oke-oke maaf ya Rara. Kalau begitu, boleh kan kita bermain sama kamu dan Kiki?”
Rara melihat ke arah Bima yang sedang memberikan tatapan mendukung, kemudian tersenyum. “Boleh aja. Nanti Kiki bisa jadi aktor dalam drama kita ya.”
Mereka semua duduk berkeliling di bawah pohon beringin, dengan Rara di tengah yang mulai menyusun Boneka Kiki seperti sedang mempersiapkannya untuk sebuah pertunjukan. “Kisahnya tentang seorang putri boneka yang mencari batu ajaib untuk menyelamatkan desa nya dari kekeringan,” cerita Rara dengan suara yang semakin lantang dan penuh semangat.
Bima mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian mengambil beberapa batu dari ember nya untuk menjadi properti dalam cerita tersebut. “Kalau begitu, batu ini bisa jadi batu ajaibnya ya Rara? Warnanya kuning keemasan kayak matahari yang bisa memberikan air.”
Anak-anak lain mulai ikut memberikan ide – Joko menawarkan untuk jadi raja yang sedang khawatir dengan desa nya, Ucok jadi pemburu yang membantu putri Kiki, dan Dedi jadi penyihir yang tahu rahasia batu ajaib. Mereka bermain dengan penuh semangat hingga lonceng masuk kelas berbunyi lagi.
Sebelum masuk kelas, Bima menarik lengan Rara dengan lembut. “Ceritamu sangat bagus lho Rara. Kamu benar-benar bisa membuat cerita yang menarik.”
Rara tersenyum dengan bangga. “Kalau kamu mau, besok kita bisa lanjutkan cerita nya ya Bima. Kali ini bisa tentang batu-batu kamu yang punya kekuatan khusus.”
“Bagus sekali!” ucap Bima dengan senyum lebar. “Aku akan cari batu baru untuk jadi karakter dalam cerita kita.”
Selama jam pelajaran kedua, Rara tidak bisa berhenti tersenyum. Dia merasa senang karena akhirnya punya teman di desa baru ini – terutama Bima yang selalu melindunginya dan menghargai Boneka Kiki dengan cara yang sama seperti dirinya. Ketika pulang sekolah dan ditemani oleh Ibunya, Rara berjalan menuju rumah sambil terus bercerita tentang Bima dan teman-temannya, serta cerita yang mereka mainkan di bawah pohon beringin.
“Kelihatannya kamu sudah menemukan teman baik ya, Nak,” ucap Bu Sri dengan senyum hangat.
“Ya Bu,” jawab Rara dengan penuh semangat. “Bima itu baik banget. Dia tidak mengejek aku anak kecil karena suka sama Kiki. Malahan dia mau bantu bikin cerita bareng.”
Ketika mereka melewati pohon beringin, Rara melihat Bima yang sedang membersihkan ember batu nya sebelum pulang ke rumah. Bima melihatnya dan mengangkat tangan sebagai sapaan. Rara mengangkat Boneka Kiki sebagai balasan, dengan hati yang penuh kebahagiaan.
Di kamar nya, Rara meletakkan Boneka Kiki di atas ranjang dan mulai memberinya cerita tentang hari pertama sekolah nya di desa Cempaka Wangi. “Kamu suka sama Bima kan, Kiki?” ucapnya sambil mengusap kepala boneka itu. “Dia adalah teman pertama kita di sini, dan aku rasa kita akan menjadi teman baik untuk selamanya.”
Saat matahari mulai meremang dan memberikan warna jingga pada langit desa, Rara melihat keluar dari jendela kamar nya ke arah pohon beringin yang sudah mulai terlindungi oleh kegelapan. Di sana, di bawah pohon yang besar itu, sudah terbentuk persahabatan yang akan tumbuh kuat seiring waktu – persahabatan yang akan membawa mereka melalui berbagai masa dalam hidupnya, dari masa kecil yang penuh dengan cerita dan batu unik hingga masa dewasa yang penuh dengan cinta dan harapan.